photo2

Apa yang kalian harapkan dari sebuah tempat makan yang dari luar tampak usang, beratap asbes, tanpa papan nama mentereng, kecuali tulisan putih a la kadarnya? Dari seberang jalan hanya tampak kursi-kursi tua, meja kasir jaman Belanda yang dibelakangnya ada lemari yang ditata sekenanya, menu yang masih dituliskan dengan Bahasa Indonesia Ejaan Soewandi dan pramusaji yang sudah setengah baya.

Tapi saya justru menyukai hal-hal seperti itu, datang, duduk di kursi yang saya kira berasal dari beberapa dekade yang lalu, pakunya tampak kukuh, kayunya kuat. Sementara mejanya hanya berlapis taplak plastik, sangat sederhana. Ruang yang redup, bahkan saat di luar mentari menyengat dengan sangat. Membuka menu yang sangat sederhana, melempar senyum kepada babah pemilik restoran dan menunggu pesanan datang.

Saya percaya ada hal-hal yang jujur dari tempat makan seperti ini, ada resep yang dijaga benar-benar selama puluhan tahun. Tempat makan seperti ini tidak menjunjung tinggi kuantitas pelanggan yang datang, tidak rakus mendatangkan pelanggan baru, tempat makan dengan prinsip yang sudah langka, menyajikan makanan enak dengan resep yang sudah ditakar tetap dan membuat pelanggan berpuluh-puluh tahun rutin datang, duduk dan memesan makanan yang sama.

Selamat datang di Restoran Trio Gondangdia. Restoran tua  yang terletak di kawasan yang dulu termasuk kawasan residensial ternama di pusat Jakarta. Tidak ada sambutan meriah dari pramusaji yang cantik dengan bedak tebal di pintu masuk, hanya senyum babah pemilik restoran dan pramusaji yang sudah setengah baya, berbaju batik seragam. Restoran ini bukan restoran dengan lampu terang benderang dan musik Sabrina, tapi restoran yang hanya mengandalkan sinar matahari untuk pencahayaannya, remang-remang. Tapi di dalam seolah waktu tergerak mundur ke belakang, seolah berada di era beberapa dekade lampau, ditemani musik stambul yang mengalun gemerisik.

7

 

photo

Saya duduk, diam, menikmati musik stambul sambil mereka-reka bagaimana menikmati restoran ini beberapa puluh tahun yang lalu, pastilah sangat menyenangkan. Resto ini sudah ada sejak 1947, hanya 2 tahun sejak republik ini masih bayi. Pergulatan waktu tidak membuat restoran ini tumbang, sudah generasi restoran ini terus bertahan, memberikan kenangan bagi mereka yang datang.

Lam Khai Tjioe duduk tenang dibalik meja kasir, sesekali Lam meminta ini itu pada pelayan, selebihnya dia duduk tenang, terkadang tak terlihat oleh pengunjung. Dia sibuk hitung-hitungan, mungkin. Lam generasi kedua Restoran Trio, orangtuanya Lam Hong Kie yang membuka restoran ini. Dulu, restoran ini ramai orang Belanda, maklum Gondangdia adalah kawasan orang-orang Belanda. Tak heran, restorannya langsung dikenal, dijadikan gunjingan karena ramai dan lezat, pembesar-pembesar mulai datang, termasuk Ali Sadikin, si Gubernur Koppig.

Restoran Trio menyajikan menu Kanton, leluhur Lam. Menunya tak jauh – jauh dari segala rupa yang dibumbui tauco, minyak wijen, dan aroma bawang. Samar-samar, bau tumisan bumbu itu tipis menghembus dari dapur. Sedap sekali sepertinya. Ada ratusan menu di buku menu, saya tak ingat saking banyaknya, tapi ada beberapa menu pilihan yang dipajang di papan besar dekat kasir tempat Lam duduk, tulisannya ejaan lama, Ejaan Soewandi. Rupa-rupanya itu adalah menu-menu paling populer dan paling banyak dipesan, menu favorit yang dicinta pengunjung.

photo3

photo4

Pesanan saya datang, Nasi Masak Ayam Bumbu Kari, sementara pesanan pacar saya adalah Nasi Goreng Teri. Pesanan yang pas untuk teman makan siang. Kami berdua memang tidak sarapan pagi itu, jadi sekalian saja makan siang lebih awal. 2 pesanan tadi sepertinya pas, tidak berat di perut dan cukup mengenyangkan. Sajiannya klasik, tidak disajikan dalam piring namun disajikan dalam piring oval alumunium, pacar saya berseloroh ini bukan piring, tapi nampan. Tapi saya suka, mengingatkan saat kecil dulu, dimana keluarga masih menggunakan piring dan cangkir aluminium.

Rupanya Nasi Masak Ayam itu agak mirip nasi tim. Dengan bumbu kental bertabur daun bawang, sementara irisan daging ayam terlihat penuh berbalut bumbu. Dagingnya super empuk, bumbunya menyusup sampai irisan daging paling dalam. Rasanya manis, asin, setengah-setengah. Terbau aroma rempah, namun saya tidak yakin rempah apa, mungkin rempahnya sudah direndamkan dalam bumbu sehingga menyatu. Ada niche rasa yang tidak bisa saya deskripsikan, seperti rasa pada kuah ramen namun lebih kental dan manis. Seperti itulah rasa pada pesanan saya.

Sementara pesanan satunya, nasi goreng, tampak sangat sederhana, tidak semewah nasi goreng di Magelang yang penuh bumbu, daging dan mie. Nasi gorengnya tampak datar, hanya berbalur acakan telur goreng dan terinya yang terkamuflase dengan bulir nasinya. Aromanya harum bawang, kuat sekali sampai-sampai air liur ini tak bisa ditahan-tahan lagi. Sampai pada suapan pertama, saya hanya bisa bilang “ini enak sekali!”. 

Tampilannya sederhana, tapi rasanya kuat. Bumbunya mungkin sederhana, tapi menancap di lidah. Aroma asinnya berpadu dengan bumbu bawang dan harum minyak wijen yang saya duga digunakan untuk menggoreng nasi goreng. Walaupun porsinya sebenarnya sangat banyak untuk ukuran pacar saya, bahkan untuk ukuran saya pun rasanya sangat banyak. Tapi sedapnya aroma dan lezatnya bumbu membuat sendok-demi sendok nasi goreng tak berhenti masuk ke mulut, sampai tandas.

Saya terkesan dengan pelayanan sederhana restoran ini, tiap-tiap makanan datang, disusul pramusaji yang memberikan secawan lilin aroma terapi di meja. Sangat berkelas. Seusai makan, langsung disodorkannya lap handuk panas dalam nampan kecil, lap untuk mengelap tangan kami sampai bersih. Sesungguhnya sigapnya pramusaji di Restoran Trio menandakan 1 hal, mereka tidak pernah lepas memperhatikan pengunjung, apa yang pengunjung mau disediakan bahkan sebelum pengunjung memintanya.

Restoran ini sederhana dalam tampilan, tapi kaya dalam rasa dan mewah dalam sikap. Tidak ada yang berlebihan dari restoran ini, tapi juga mata tidak boleh dipicingkan saat memandang restoran ini. Percayalah, restoran tua tidak pernah berkhianat soal rasa dan aroma, kelezatannya telah bertahan puluhan tahun dan bukankah mempertahankan sesuatu selama puluhan tahun itu tidak mudah?

Datanglah ke Gondangdia, jangan hanya lewat, mampirlah, sapalah Lam yang setia duduk di balik meja kasir, duduklah di kursi tuanya, bukalah buku menu yang tampak lusuh, pesanlah barang 1-2 yang ada di daftar menu. Lalu cobalah makanannya, nikmatilah pelayanannya, rasakanlah nostalgia yang menyesap di sudut-sudut restoran, niscaya restoran ini mengajarkan 1 hal, jangan pernah ragukan restoran tua, dia akan memberikan kelezatan yang sudah bertahan sekian lama.

Tabik

NB : Ada menu yang haram bagi umat muslim disajikan di restoran ini, pastikan anda bertanya tentang menu itu sebelum memesan.

Referensi tambahan : Kompas

Lokasi : Jl. RP Soeroso, persis sebelum layang rel Gondangdia, di seberang Hotel Godila.

Tangkapan layar penuh 11122013 195126.bmp

21 KOMENTAR

  1. Reviewnya bagus banget *kasih jempol*
    Seolah-olah aku juga berada disana, mencium wangi masakan dan mengecap makanan yang enak itu. Well done 😀
    Btw aku juga suka lho ke tempat makan yang masih pakai resep kuno. Jauh lebih enak daripada kebanyakan tempat makan modern yang mengandalkan bumbu instant

    • wuah! makasih kak deb sudah mampir. :)
      betul sekali, mungkin bumbu yang sudah bertahan sekian tahun itu tidak akan pernah tergantikan dengan bumbu instan, sampai kapanpun.

  2. coba makan tengah deh. yg kemarin aku coba dan paling suka: KODOK GORENG. itu enak bangeeeeet :9 ‘bumbu tambahannya’ yg seru: campuran garan dan lada. khas!

  3. Setuju sama komennya Debby. Review kali ini memang OK, cuma kalo boleh usul Chan, sebaiknya tidak menggunakan kata ‘enak’ untuk menilai sebuah makanan, cukup digiring dengan deskripsi yang mendorong orang seolah2 merasakannya, seperti misal “bau bawangnya menggugah selera sehingga membuat saya membuat pesanan kedua”.

    • makasih sudah mampir mas adie. :)
      wah masukannya ngena banget nih mas, aku baru nyoba bikin review2 makanan biar ga monoton, baik mas ke depannya akan aku buat pembaca makin penasaran. :)

  4. Ahhh…mas Farchan, saya jadi terkenang kakek dan nenek saya, dulu jika liburan dan saya bertandang ke rumah mereka yang kebetulan tidak jauh dari restoran Trio, mereka sering mengajak saya makan malam disana, lalu pulangnya kami beli es krim di toko kelontong sebelah restoran, menikmati es krim sambil berjalan kaki menuju rumah 😀

    • hai mas Adi. :)
      wah memorable sekali, daerah Gondangdia memang daerah tua dengan banyak pesona indah, seakan tidak bergerak maju digilas roda zaman.
      toko kelontong di sebelah restoran sepertinya sudah tidak ada ya? sekarang menjadi Bakmi Phoenix?

  5. Sangat kaget saya liat interiornya, saya sempat penasaran kenapa warung dicat beda, tetapi ketutup, mendadak pikiran bawah sadar, menyatakan mungkin ini warung remang-remang, hehehe. Ternyata disalamnya sangat resto.

  6. Karena kalau di Jakarta selalu nginapnya di daerah Menteng dan kelayapan di sekitaran Menteng-Cikini, biasanya disempatkan main ke Restoran Trio ini atau Restoran Miranda di Menteng. Keduanya ane hau chek!

TINGGALKAN KOMENTAR