Rapat-Baleg-DPR-Menkumham-d
sumber foto : batampos.co.id

Selama ini saya hanya mendengar bagaimana humanisnya Pak Sigit sebagai Dirjen Pajak, walaupun hanya mendengar kisah tentang beliau lewat cerita teman atau orang-orang yang bersinggungan langsung dengan beliau. Cerita tersebut mengukuhkan tentang kejadian semalam yang menunjukkan kualitas kepemimpinan Pak Sigit.

Sesungguhnya sebelum Pak Sigit mundur sudah banyak hal yang dilakukan oleh Pak Sigit, iya memang target penerimaan yang harus dicapai itulah yang terus dikejar. Ada banyak cara, perubahan regulasi peraturan perpajakan, pemberian insentif bagi pegawai untuk penguatan kinerja, sampai dengan rencana pengampunan pajak untuk dunia usaha.

Realisasi penerimaan pajak memang dalam titik kritis, target penerimaan diramalkan tidak akan tercapai untuk kesekian kalinya. Kita tahu itu dan saya bahkan sudah menebak tidak akan tercapai sejak awal tahun 2015, saat target diumumkan oleh Presiden.

Barangkali memang Pak Sigit mundur karena itu.

Mari kita merenung sejenak tentang beban Pak Sigit yang berat, pada punggungnya ada beban berat porsi penerimaan negara untuk menghidupi negara ini. Beban yang tak akan bisa kita bayangkan beratnya. Dengan kinerja ekonomi nasional yang mengalami perlambatan, dengan pembangunan yang menyerap porsi belanja APBN, ditengah masifnya tekanan untuk mencapai target, Pak Sigit terus mengarahkan lebih dari tiga puluh ribu pegawai untuk terus fokus dengan target yang harus dicapai.

Pada tengah tahun, Pak Sigit memintanya bekerja lebih keras, Ia pun turut memberi contoh, kerap pulang begitu larut, sering menemui anak buahnya di daerah. Paket-paket peraturan juga dikeluarkan secara beruntun, program-program didorong dengan begitu cepat. Begitu Pak Sigit memimpin, gerbong organisasi bergerak begitu cepat bersama-sama.

Jika membuka data-data selama Pak Sigit sebagai pemimpin, ada banyak sekali inisiatif aturan, banyak sekali terobosan untuk mendorong penerimaan pajak. Hanya saja banyak sekali inisiatif tersebut tiba-tiba hilang beritanya, tiba-tiba tidak berlanjut tanpa alasan yang jelas.

Terkadang memang ada kekuatan yang tidak bisa dibendung, sekuat apapun manusia bertahan hanya ada dua pilihan, tenggelam dalam arus atau melepaskan.

Menghadapi pilihan tersebut Pak Sigit memilih untuk menjadi manusia, mengedepankan prinsip yang dipegang Pak Sigit memilih melepaskan, bukankah dalam hidup juga demikian? Kita harus rela melepaskan sesuatu walaupun sesuatu tersebut sebenarnya adalah sesuatu yang sangat ingin dipertahankan.

Tidak ada tanda, tidak isyarat, dalam sepi dari keriuhan Pak Sigit memilih mundur. Tanpa menyalahkan siapapun, tanpa membuat pembenaran, Pak Sigit hanya meminta maaf bahwa sebagai seorang pemimpin beliau gagal melakukan tugasnya. Sebuah pengakuan jujur dari diri pribadi bahwa Pak Sigit bukan orang yang tepat untuk melaksanakan tugas sebagai seorang pemimpin dan mempersilakan pemimpin yang lebih baik untuk maju ke gelanggang.

Ini bukan soal waktu yang tepat untuk mundur, ini isyarat, ini pesan.

Apakah sebagai manusia kita semua mampu mengakui kekalahan sekaligus mengakui kelemahan diri sendiri?

Pak Sigit tak pernah menyalahkan siapapun, kepada pegawainya selalu berpesan bekerjalah dengan benar, bekerjalah dengan baik, bekerjalah dengan jujur dan pada akhir kalimat selalu berkata, Tuhan bersama kita.

Saya pun percaya Tuhan menyertai langkah dan segala keputusan yang Pak Sigit buat.

Langkah Pak Sigit adalah madeg panditha, selesai dengan urusan dunia dan memasrahkan segala sesuatu yang terjadi padanya kepada Sang Pemilik Hidup.

Pak Sigit sudah selesai dengan urusannya, Pak Sigit barangkali berdamai dengan diri sendirinya, pada langkahnya Pak Sigit menatap bahwa dirinya memang tidak sanggup memenuhi janjinya, jika janji tidak dipenuhi maka diri sendirilah yang bertanggung jawab. Apa yang Pak Sigit lakukan bukan sikap untuk meninggalkan siapapun, ini murni tanggung jawab moral, murni sikap pengakuan atas ketidakmampuan diri.

Sebuah sikap yang menunjukkan jiwa Ksatria, jiwa seorang Pemenang.

Kita bisa saja berdebat, kenapa harus sekarang, kenapa tidak tiga puluh hari lagi. Tapi kita melupakan substansi, melupakan isi dari pesan Pak Sigit. Kita bisa saja bersilat lidah dengan bermacam-macam pelintiran kata, tapi kita bisa ingat satu hal.

Pak Sigit meninggalkan apapun sebagai bentuk tanggung jawabnya, jabatan yang hilang, sementara kita yang berkomentar bisa jadi masih takut kehilangan seperti yang Pak Sigit tinggalkan. Di luar sana masih banyak pemimpin pengecut yang tidak bersifat Ksatria, yang melakukan berbagai cara mempertahankan jabatannya, yang membuat berbagai pembenaran ketika gagal, yang melemparkan batu ke muka orang lain jika membuat kesalahan.

Apa justru kita menginginkan Pak Sigit seperti itu? Tidak, tidak, Pak Sigit bukan orang seperti itu. Pak Sigit adalah seorang yang putih ketika dunia semakin menghitam.

Sebulan yang lalu, Pak Sigit secara terbuka meminta maaf kepada seluruh pegawai, instruksi yang Ia lakukan gagal. Ia merasa salah telah menzalimi bawahannya. Bayangkan betapa mulianya hati Pak Sigit, ini pemimpin yang memimpin kita selama ini, pemimpin yang meletakkan kursinya ternyata pemimpin yang begitu memikirkan seluruh pegawainya.

Kita barangkali terlalu sibuk dengan kulit, terlalu sibuk dengan momentum, terlalu ramai meributkan tanggal untuk mundur. Tapi kita semua lupa Pak Sigit memberi pesan pada kita semua, pesan yang sejuk dan damai.

Berdamailah dengan kerjamu, Jabatan bukanlah segalanya, Kerja adalah utama, jika kerja tak usai, jika target tak sampai jangan salahkan siapapun, diri sendirilah yang bertanggung jawab.

Lalu kita letakkan pesan itu kepada diri kita masing-masing, apakah kita sanggup mengikuti jejak langkah Pak Sigit sebagai seorang yang mulia jika kita tidak mampu bekerja dengan benar? Apa kita sendiri sanggup mengikuti jejaknya? Mari bertanya lagi pada diri sendiri.

Dan tiba-tiba saya melihat bayangan Semar yang tersenyum ketika melihat foto Pak Sigit.

Selamat menempuh langkah baru Pak Sigit sang Pandhita, pada langkahmu akan terlintas kebaikan dan teladan.

Tabik.

20 KOMENTAR

  1. Jujur, saya belum mengenal beliau baik dari berita maupun secara pribadi. Namun membaca gambaran sikap beliau dari tulisan ini, saya memutuskan untuk hormat takzim kepada beliau.

    Karena zaman sekarang, tak semua orang mau bersifat kesatria…

  2. sangat sedikit pejabat negara yang mempunyai keberanian seperti pak Sigit, jikalau 10% saja pejabat kita meniru langkah pak Sigit, negeri ini akan sangat maju… salut dan salam hormat buat pak Sigit

  3. Udah share postingan ini ke WAG kantor karena lagi pada share mundurnya Dirjen Pajak. Saya bilang kalau saya mendapatkan insight dari pegawai dalam melalui tulisan ini. Semoga jadi balance informasinya

  4. Sedih bacanya, Mas Fachri. Baru tadi bahas ini sama beberapa temen wartawan, dan nulis sedikit kelanjutan berita pengunduran diri Pak Sigit. Semoga pesan moral dan etos kerja dari Pak Sigit bisa jadi salah satu karya Pak Sigit buat kita contoh. Izin share, Mas.

  5. Seribu satu mungkin pejabat seperti beliau mas. Saya setuju ama tulisan mas, tercebur ke birokrasi tuh ya kalo ngga tenggelam dalam arus ya lepaskan. Percuma punya ide bagus, keinginan untuk berubah tapi lingkungan dan sistem tidak mendukung.

  6. Harusnya saya bisa nemuin tulisan ini beberapa hari yg lalu ketika di kantor topik ini lagi hot-hotnya.
    Terima kasih mas, sudah menyinggung tentang “kenapa tidak 30 hari lagi”.
    Saya kebetulan pernah berinteraksi langsung dengan belio, dan belio salah satu pemimpin terbaik yg pernah saya kenal.
    Terlepas dari hiruk pikuk urusan ini, Semoga pak Sigit selalu diberikan kesehatan.

  7. beruntungnya kamu punya atasan seperti beliau mas :)..

    Tapi jujur ya, aku bukan org pajak.. jadi ga ngerti target kerja org2 pajak.. yg aku tau slama ini, aku kerja di bank asing, yg nth kenapa perhitungan pajak peghasilannya suka ga jelas :D.. kdg bulan ini pajakku gede, tp bln berikutnya balik ke normal… trs bbrp bln kemudian tiba2 dipotong gede lg, dgn alasan, ada kekurangan pajak yg dipotong bulan2 lalu -__-.. trus tiba2, blm lama ini, gaji yg aku trima agak lbh gede dr biasanya, dan katanya itu krn ada refund pajak nth apa itu ;p..

    hahahahaha, puyeng aku mas :D.. tp yo wislah… sukurin aja… masih mending ada gaji utk keperluan keluarga dan sedikit sisa utk traveling ;D

TINGGALKAN KOMENTAR