3-srikandiWARNING : SPOILER ALERT

Kudos untuk Iman Brotoseno sebagai sutradara film 3 Srikandi dan juga Swastika Nohara sebagai penulis naskah. Bagi saya 3 Srikandi adalah film dengan skenario dan eksekusi terbaik di antara film Indonesia yang tayang sampai paruh pertama 2016.

Film olahraga selalu memberikan alur yang menarik dan kisah perjuangan, walaupun klise tapi pasti selalu berhasil menggetarkan penonton. Genre film olahraga di Indonesia pun langka, kalah dengan film horor, komedi slapstik, drama menye-menye yang bertabur pesan sponsor. Sekalipun ada, sambutannya tidak terlalu meriah.

Beda dengan 3 Srikandi, film ini digarap dengan serius, tone warnanya enak, sudut pengambilan gambarnya bagus dan aktor-aktris yang menjiwai perannya. Siapa yang tidak kaget ketika Chelsea Islan tampil kenes dengan gaya suroboyo-an yang fasih?

Baca Juga : Resensi Film Everest

Soal sejarah dalam film ini saya tidak tahu akurat atau tidak, tapi saya yakin Iman Brotoseno pasti akan membuat alur sejarah dalam film ini seakurat mungkin. Iman Brotoseno selama ini dikenal sangat menggemari sejarah, tak mungkin tangannya membaut film yang alpa sejarah.

Well, di luar kesan bagus saya tentang film ini. Ada beberapa hal yang seharusnya dibenahi di film ini, terutama soal detail. Entah kenapa saya merasa film Indonesia selalu lemah dalam detail, maksud saya detail dalam film tersebut.

Saya pernah mengulas tentang betapa populernya film 5 cm dan betapa detail mereka sangat tidak cocok dengan dunia pendakian dan efek rentetan panjangnya. Saya juga menemukan kegelisahan yang sama, kegelisahan tentang detail pada film yang mengganggu.

Ini bukan tulisan tendensius, secara keseluruhan saya menganggap film ini bagus, saya mereferensikan ke teman-teman. Momen rilisnya pas pada saat Olimpiade dan booming olaharaga memanah di Indonesia. Saya hanya merasa, kesalahan-kesalahan pada film ini harus saya tulisan dengan demikian sang sutradara bisa berkarya dengan lebih baik lagi. Ya, tulisan ini dorongan agar para sineas di Indonesia lebih memperhatikan detail.

Hal pertama yang janggal adalah ketika pengambilan gambar di bengkel Donald Pandiangan. Kamera mengarah dari kiri-ke kanan dan saya menemukan ada 2 cakram modifikasi untuk rem sepeda motor modern di periode 1986 – 1987.

Era itu motor menggunakan rem cakram masih sedikit, mayoritas masih menggunakan teromol. Rem cakram mayoritas digunakan untuk motor laki seperti GL 100 atau RX K/King. Rem cakramnya pun sederhana sekali, belum ada alur atau lubang cakram yang rumit. Booming rem cakram modifikasi baru dimulai akhir tahun 1990-an di Indonesia.

Agak kontras dan janggal padahal Donald Pandiangan membuka bagian tersebut dengan memperbaiki sepeda motor BMW.

Kedua, soal kostum. Kostum para pemeran memang sudah sesuai dengan nuansa tahun 1980-an, yang banyak salah justru detail pemeran pendukung. Banyak sekali dan mudah ditemui, ibaratnya sudah susah-susah membangun feel tahun 1980-an oleh pemeran utama, tapi hancur dengan pemilihan kostum pemeran pendukung dan figuran yang tidak hati-hati.

Seperti misalnya ketika adegan Tiga Srikandi seleksi di Senayan. Ada atlet2 panahan yang menggunakan sepatu Adidas Running keluaran baru, seharusnya jika ingin feel 90-an bisa diganti dengan sepatu Kodachi, Butterfly atau Reebok classic. Sepatu Kodachi masih bisa ditemui di pasar tradisional lho, harganya 60 ribuan per pasang, murah.

Beberapa kali kesalahan ditemui di kostum Adang Ajiji, pelatih panahan yang cinta lokasi dengan Kusuma Wardhani ini tampak menggunakan kaos training keluaran terbaru, alih-alih kaos training klasik. Sepertinya untuk lain kali Iman bisa menggunakan penata kostum yang rajin meriset kostum-kostum era masa lalu.

Soal kostum ini blunder terbesar terjadi pada scene pasar malam. Tiba-tiba lewat cewe menggunakan sweater Lilo and Stitch berwarna ungu dan sangat mencolok. Saya tahu dalam berproduksi mengerahkan banyak figuran itu susah apalagi meminta mereka berkostum 1980-an, kecuali rumah produksi yang menyediakan kostum untuk para figuran tersebut.

Sayang seribu sayang, padahal kostum adalah hal yang paling mudah untuk membangun nuansa 1980-an, selain properti lain seperti kendaraan dan bangunan.

Ketika Tiga Srikandi dan Donald Pandiangan hendak naik kereta ke Sukabumi ada pemandangan menarik di depan Stasiun Kota, ada adegan bocor di mana ada sepeda motor yang saya duga mungkin Yamaha Jupiter Z berhenti di depan stasiun. Hanya beberapa detik memang, namun sepeda motor modern di tahun 1980-an?

Hal-hal kecil semacam itu jika bagi penggemar film yang menikmati alurnya secara keseluruhan mungkin tidak akan terasa. Tapi bagi saya yang kadang cerewet untuk setiap alur dan adegan, beberapa detik yang bocor tersebut ibarat nila bagi susu sebelanga.

Ada adegan menarik lainnya, ketika Tiga Srikandi bersama Donald Pandiangan berkumpul bersama orang kampung dan menonton pertandingan bulutangkis. Orang kampung berkumpul dan tersedia banyak jajanan.

Diperhatikan lagi lebih dekat ada tukang jajanan pikulan dan di pikulan tersebut di sebelah bawah ada plat nomor yang tahunnya habis di tahun 15, berarti tahun 2015. Jika setting film pada tahun 1987 maka seharusnya plat nomor tersebut maksimal bernomor 92 atau 1992. Kecil sekali memang, seolah tak sengaja terserot kamera karena fokus kamera lebih kepada Tiga Srikandi, tetapi tetap saja, gotcha!

Tampaknya penata artistik / set panggung lain kali juga harus lebih detail.

Selain soal plat nomor tadi, saya justru kagum benar dengan suasana yang dibangun Iman tentang Korea. Bangunan-bangunan yang dilengkapi petunjuk aksara Korea, scene pada saat Olimpiade, seolah-olah membawa saya ke Seoul pada waktu itu.

Apakah masih ada kesalahan detail? Masih. Beberapa lagi saya temukan sepanjang film. Seperti ketika adegan ibunda Lilis Handayani kecelakaan, tiba-tiba dalam waktu cepat Denny sudah tiba di Sukabumi/Jakarta padahal sebelumnya ada di Surabaya. Mungkin naik pesawat?

Keganjilan yang membuat saya penasaran sampai sekarang dan sampai bertanya kepada beberapa sumber adalah, apakah ada kereta langsung ke Sukabumi dari Stasiun Jakarta Kota pada tahun 1987? Dan dari beberapa sumber jawabannya adalah ada, namun harus transit dulu, tidak ada yang langsung. Atau mungkin justru saya yang kurang sumber?

Poin saya adalah, pada umumnya film Indonesia memang masih lemah pada detail. Tidak haram menggunakan setting tempat yang berbeda dengan aslinya, selama masih bisa membangun cerita tentunya dengan angle gambar yang tepat.

Seperti film AADC 2 misalnya yang menggunakan Gedung ICE BSD yang super besar sebagai latar bandara. Barangkali Riri Riza dan Mira Lesmana beranggapan lebih mudah dan murah syuting di ICE BSD daripada syuting di bandara.

Namun kalau anda bukan orang yang detail seperti saya, tidak ada masalah dengan film ini. Ceritanya bagus, less drama, sesuatu yang pernah dibilang oleh Iman Brotoseno sendiri kalau film ini 80 persen kisah sejarah, 20 persen drama.

Bagi saya, film ini menjadi salah satu film Indonesia terbaik di 2016. Tulisan ini semoga bisa menjadi saran bagi sineas-sineas lainnya untuk lebih merancang detailnya.

Akhir kata, tontonlah Tiga Srikandi sebelum turun layar.

Tabik.

57 KOMENTAR

  1. Pas nonton film MSB, liat iklan tiga srikandi dan pengeeen banget nonton. Belum terlaksana hingga kini. Wah, teliti banget masnya ya. Sipp, nambah ilmu saya, nih. Makasih.

  2. Bagus chaaaan. Aku juga ngeh yg Dennynya dateng cepet ke Jakarta. Trus aku rada aneh kok langsung dikuburin? Berarti ibunya dikubur di Jakarta dong bukan si SBY?

  3. Saya kurang peka sama detail, tapi saya nggak menganggap ini film yang bagus 😐 Untuk film olahraga, alurnya tidak seru. Film ini tidak terlalu membahas kegiatan memanah secara mendalam, sehingga kesan panahannya hanya tempelan. Momen olimpiade yang seharusnya klimaks hanya digambarkan lewat komentator saja. Sangat datar. Untuk film drama juga sangat klise. Momen-momen drama seperti lewat begitu saja. Dialog medioker dan hanya selamat berkat kualitas akting Chelsea Islan dan Reza Rahadian. Departemen art seperti dibahas oleh yg empunya blog banyak bolongnya. Musiknya mengganggu, bukan karena tidak bagus, tapi karena adegan yang diiringi kurang greget. Terlihat memang banyak nama-nama tenar jaminan mutu yang menangani film ini di setiap lini, tapi dilihat dari hasilnya, film ini jadi seperti salah satu proyek penyambung hidup pengepul dapur pembayar cicilan saja bagi mereka. Saya percaya mereka bisa membuat film yang jauh-jauh-jauh lebih baik dari film ini. Bahkan, saya curiga skenario draft awal film ini mungkin lebih bagus daripada hasil akhirnya. Mungkin.

  4. film2 hollywood yg pakai modal trilyunan saja ada “movie mistake”nya.. tp memang kita butuh yg care dgn hal2 detil, bisa jadi nanti ada film bagus, detail tp biayanya ga sampai trilyunan.. topp..

  5. Salut banget dengan pengamatanmu Chan, sampai segala cakram motor teramati. Tapi memang beberapa detail yang dirimu sebutkan juga aku amati dan bikin aku komen dalam hati pas nontonnya. Seperti misalnya pakaian di pasar malam, lalu kereta Jakarta- Sukabumi yang langsung itu. Setahuku sih belum ada yang langsung. Yang ada dari Jakarta ke Bogor pakai kereta Jabotabek (dulu) disambung kereta diesel ke Sukabumi ,,, yang dulu kondisinya parah banget. Kambing bisa masuk kereta dan keretanya bisa berhenti di sembarang tempat untuk menurunkan penumpang (ini fakta di tahun 90an lho, apalagi di tahun 80an). Lalu di Stasiun Kereta Sukabumi nya juga terlihat kalau settingannya baru, bukan gaya tahun 80an. Setidaknya jauh dari tahun 90an hehehe …

    Tapi ya memang detail-detail kecil itu hanya tertangkap oleh yang memang mengamati atau sehari-hari bergaul dengan keadaan aslinya. Kalau penonton yang kurang tau aslinya, mungkin sih akan luput dari pengamatan.

    Dan aku setuju secara film memang, ini tontonan yang bagus dan menarik. Walaupun secara pribadi ekspetasiku film ini lebih banyak memperlihatkan kondisi perjuangan mereka dibandingkan dramanya sih. Tapi jawaban mas Iman Brotoseno yang mengatakan bahwa film ini lebih ke drama daripada documenter olahraganya membuat aku memahami lah kenapa akhirnya film ini mengarah kemana.

    Seperti biasa Chan, artikelmu keren. Asik bacanya :-)

  6. Keren, itu jg yg sring muncul kesalahan d film yg tdk bgtu nampak bkn film indonesia aja produksi skaliber amrik aja msh dpt qta temui..

  7. Saya belum pernah menonton film ini, Mas. Tapi saya sepakat jika perfilman di Indonesia memiliki kelemahan dalam hal detail, yang artinya dapat dibilang kurang riset dan persiapan lebih dalam.

    Ah, tapi saya pun empat jempol pada ketelitian Mas Farchan dalam mengamati film ini. Semoga saya tak menonton film 3 Srikandi hanya karena sekadar mencoba mencocokkan kesalahan detail pada film tersebut hehehe.

  8. Mas farchan, ada juga adegan bang donald nendang galon aqu*, emang jaman ituh sdh ada galon? Sy jg bingung knapa denny sdh tiba2 d sukabumi, ttg bioskop jg, d sukabumi sblah mana yak? Trus klo setting tahun 87-90an setahu saya blum ada wartel loch…hehe..overall..bcl menghibur sih..tp lipstick nya jaman ituh,sdh bagus ajah..hehehe

  9. Awal dateng ke web ini, kirain bahas detail peralatan panahannya hehe…

    (banyak nyebut tipe, kalau penasaran bisa gugling :) )
    Yang pasti sih di sini pada pake busur baru, seperti Cartel Sirius atau SF Optimo. Ini busur pemula tapi setidaknya kayu solid ketimbang busur bahan alumunium bolong-bolong yang sering dipake olimpiade sekarang (contoh Hoyt GMX), jadi dicat sedikit udah lebih mirip sama busur olimpiade jaman dulu (Hoyt Gold Medalist) yang ga pake bolong-bolong.

    Yang ga enak lagi tuh waktu scene atlit negara lain nembak: pada ga diajarin megang busur lah figurannya, jadi aja beberapa figuran narik tali busurnya dengan siku di bawah, padahal kan harusnya sejajar atau lebih tinggi.

  10. udah lama gk komen hihi, keren sekali pengamatan njenengan mas farchan.. sampai nopol taun 15 dapet aja hahaha..
    salut lh.. maju terus perfilman indonesia!

TINGGALKAN KOMENTAR