Mercak-mercik ombak kecil memecah
Gerlap-gerlip sri syamsu mengerling
Tenang-menyenang terang cuaca
Biru kemerahan pegunungan keliling

Berkawan-kawan perahu nelayan
Tinggalkan teluk masuk harungan
Merawan-rawan lagunya nelayan
Bayangan cinta kenang-kenangan

Syamsu mengintai di balik gunung
Bulan naik tersenyum simpul
Hati pengarang renung termenung
Memuji rasa-sajak terkumpul

Makin alam lengang dan sunyi
Makin merindu Sukma menyanyi

(J. E. Tatengkeng – Di Pantai, Waktu Petang : 1934)

Kiranya tak cukup kata demi kata yang dituliskan Tatengkeng untuk melukiskan pantai-pantai menawan di Nusantara. Guratan-guratan pasir pemisah darat-laut adalah karya seni Sang Maha Agung untuk dinikmati hamba-Nya, para hamba pecinta keindahan.

Rupanya Tuhan memang Maha Romantis. Dia mengabulkan bisik doa hamba-Nya bertahun-tahun silam, doa yang berupa harap dan janji seseorang pada kawannya untuk mengunjungi sebuah pantai di selatan Jawa Timur, Papuma.

Pada akhirnya Tuhan mengabulkannya bertahun-tahun kemudian, mempertemukan dengan kawannya setelah bertahun-tahun tak berjumpa, walau pertemuan itu hanya sekian menit. Kiranya cukup untuk melampiaskan rindu perkawanan bertahun-tahun lamanya. Walau tidak bisa ke Papuma bersama.

Di Papuma, saya berucap terima kasih pada Tuhan dengan segala karya seni agungnya, Papuma. Di Papuma saya berterima kasih pada Tuhan atas terpenuhnya janji.

*) Syamsu dalam sajak J.E Tatengkeng bukanlah nama orang, namun Syam = Matahari dalam bahasa arab.

*) Kawan yang saya maksud adalah MNCS Pambudi, teman kuliah, padanya bertahun-tahun silam saya sempat berkata bahwa saya akan mengunjungi Papuma.

Follow Efenerr on WordPress.com

4 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here