Tangkapan layar penuh 29102013 191036.bmp

 

2010, untuk pertama kali saya ke Sumatera Utara. Dalam hati sudah saya niatkan untuk merapat ke Parapat lalu segera ke Toba dan menyeberang ke Samosir. Tapi apa daya, karena waktu yang sempit dan agenda yang padat, alih-alih ke Toba saya malah berkutat ke Medan dan sekitarnya, bahkan rencana menyeberang ke Aceh pun gagal total. Akhirnya sampai sekarang saya hanya bisa memendam keinginan untuk ke Toba, sebuah mimpi yang belum kesampaian.

Kenapa saya ingin sekali ke Toba? Ada banyak hal yang melatarbelakangi. Danau ini konon adalah yang terluas di Asia Tenggara, luasnya saja melebihi negara Singapura. Danau ini kemudian menjadi simbol Sumatera Utara dan menjadi destinasi wisata paling utama di provinsi ini. Dan entah kenapa setiap mengingat Toba, saya mengecap sesal karena batal ke Toba 2010 silam.

parmalim-3 (2)

Kemudian saya berangan-angan suatu hari harus ke Toba. Menjadikannya salah satu wishlist yang setidaknya harus saya kunjungi nanti. Tentang Toba saya penasaran sekali dengan kultur budayanya. Soal kultur budaya, Toba dan sekitarnya memiliki root budaya suku bangsa Batak yang sangat kental.

Seperti Sipaha Lima, acara tahunan bagi penghayat Ugamo Malim, yang dikatakan sebagai agama asli suku Batak.  Setiap tahunnya upacara ini digelar di Laguboti, Toba Samosir dan dihadiri seluruh pengikut Parmalim dari seluruh Sumatera Utara, bahkan yang merantau pun sengaja pulang kampung untuk mengikuti upacara adat ini. Upacara ini semacam upacara untuk perwujudan rasa syukur mereka pada Tuhan.

7845066358_a11eabcf28_z

Tak hanya soal budaya dan kepercayaan, Toba dan sekitarnya juga memiliki bentang alam yang sangat cantik. Bisa berkeliling Danau, menyusuri jalanan dengan bukit-bukit hijau nan cantik. Atau bisa juga langsung menyeberang ke Pulau Samosir. Kemudian di Pulau Samosir bisa menikmati Aek Natonang dan Danau Sidihoni. Itulah uniknya Danau Toba, di tengah Danau ada pulau Samosir. Dan di tengah Pulau Samosir masih ada 2 danau juga. Unik dan mungkin satu-satunya di dunia.

Selain Danau Sidihoni dan Aek Natonang, ada lagi keunikan dari Pulau Samosir. Ada juga Batu Marhosa yang oleh penduduk setempat disebut batu bernafas. Kenapa disebut batu bernafas karena seolah di batu tersebut ada hembusan nafas. Padahal yang benar adalah ada aliran angin yang menembus celah-celah batuan dan membuat kesan seperti bernafas.

Oia adalagi, selain budaya dan alam. Toba juga memiliki kawasan wisata sejarah tentang Suku Batak. Yaitu di Desa Tomok di Pulau Samosir. Di desa tersebut kita bisa mengunjungi makam Raja Sidabutar, konon Raja Sidabutar adalah yang pertama menginjakkan kakinya di Pulau Samosir. Selain itu juga ada Batu Kursi yang merupakan tempat persidangan di jaman dulu, serta ada juga Museum Batak yang lokasinya berada tak jauh dari area Makam Raja Sidabutar.

RajaSidabutar

Nah cukup lengkap kan pesona wisata Danau Toba dan sekitarnya. Mulai dari alam, budaya, reliji sampai sejarah. Itulah mengapa saya menganggap Toba itu sepaket wisata yang hebat luarbiasa dan menjadikannya wishlist saya yang semoga segera bisa terwujud. Karena saya tak hanya ingin menikmati Toba saja, tapi juga menikmati apa yang ada di dalamnya.

Tabik.

Post Scriptum : Artikel ini dibuat untuk mengikuti Wonderful Indonesia Blogging Contest yang diadakan oleh Indonesia.Travel. Setelah menulis ini malah langsung kepikiran Toba Dream Cafe di Saharjo. ah.

Hint : Untuk ke Toba bisa dari Medan, bisa dengan bis atau taksi dari Medan menuju Parapat. Lengkapnya bisa dicek disini.

Sumber :

Foto dan artikel tentang Toba : Indonesia.Travel

Foto dan artikel Sipaha Lima disini.

Foto Sidihoni : Flickr, username Keussef.

Artikel Wisata Samosir : GoBatak.Com

Foto dan artikel tentang Makam Raja Sidabutar disini.

Follow Efenerr on WordPress.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here