IMG_0562

“Dab, nanti keluar Bandara langsung cari ojek, minta antar ke Pangkalan Panther. terus nanti tunggu Panther ke Bone”

Itu SMS yang saya terima ketika turun dari Pesawat. Saya sudah berada di Bandara Internasional Hasanuddin di siang yang super terik dan membuat kulit legam. Pesan datang dari Bakti, sahabat saya di Bone. Rute saya hari itu memang langsung menuju Bone, tidak mampir Makassar dulu atau ke Maros yang lebih dekat. Pokoknya dari bandara langsung ke Bone.

Begitu keluar pintu kedatangan saya bak artis ibukota. Disambut puluhan orang yang mendekat dan menawarkan jasa ojek, taksi atau carteran mobil dari Bandara. Duh, padahal saya berharap saya dimintai tanda tangan, berharap saya benar-benar artis yang datang lalu disoraki penggemar.

Lucunya adalah bandara yang katanya pernah jadi bandara termodern dan termegah se-Indonesia sebelum hadirnya Kuala Namu ini tidak begitu tegas mengatur pemberi jasa angkutan keluar dari bandara. Jadilah semrawut antara taksi, ojek, travel sampai bus Damri. Coba diberi peron dan pengaturan yang rapi, penumpang bisa memilih moda yang sesuai tanpa merasa diintimidasi.

Saya segera menyewa ojek untuk mengantar ke Pangkalan Panther seperti saran Bakti. Ongkosnya 20.ooo, tanpa tawar menawar, saya segera diantarkan ke Pangkalan Panther. Lokasinya sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi cukup melelahkan kalau berjalan kaki. Apalagi Sulawesi sedang panas-panasnya, lebih baik bayar 20.000 dan duduk manis dibonceng sampai tujuan.

Pangkalan Panther sendiri letaknya di depan pertigaan jalan masuk ke Bandara Internasional Hasanuddin. Persis setelah lampu merah ke arah Maros. Pangkalan Panther sebenarnya adalah semacam terminal liar, bentuknya pun hanya sepetak tanah dengan warung makan untuk istirahat. Disinilah Panther dari Makassar mampir sebelum berangkat ke kota-kota lain di penjuru Sulawesi Selatan.

Disini tidak ada yang resmi, hanya ada satu orang yang berperan sebagai timer yang mencarikan penumpang Panther dengan imbalan beberapa ribu rupiah dari sopir Panther. Beberapa memang mangkal menunggu penumpang disambi minum kopi. Mereka menawari saya untuk mencharter mobil mereka ke Bone, tarifnya 500.000,00. Tapi apalah daya karena saya sedang kere, saya tolak dengan senyum dan setia menunggu Panther ke Bone datang.

IMG_0561
suasana pangkalan Panther

Sebenarnya apa sih Panther itu? Panther adalah metonimia di Sulawesi Selatan untuk menyebut mobil angkutan antar kota yang merayapi jalanan seantero provinsi. Kondisi alam yang berbukit – bukit dan jalanan yang sempit membuat bus tidak menjadi angkutan antar kota yang menjadi pilihan utama disana, jadilah mobil-mobil pribadi yang menggantikan peran bus menjadi antar kota di Sulawesi Selatan.

Disebut Panther karena awalnya angkutan antar kota yang dipakai adalah Isuzu Panther. Saya rasa spesifikasi Isuzu Panther memang cocok untuk melibas jalan Sulawesi Selatan yang meliuk-liuk dan bergunung-gunung itu tadi. Mesinnya 2500 cc, tenaganya besar dan ground clearance tinggi.

Nah karena saking banyaknya yang menggunakan Isuzu Panther untuk sarana angkutan antar kota inilah lama-lama orang Sulawesi Selatan menyebut Panther untuk angkutan antar kota. Mau mobilnya pake Mitsubishi Kuda, atau Toyota Kijang, orang Sulawesi Selatan akan menyebutnya Panther.

Di Pangkalan Panther tempat saya menunggu Panther ke Bone sudah lalu lalang banyak Panther lain menuju kota-kota di Sulawesi Selatan, misal ke Barru, Parepare, Palopo, Masamba, Malili, Toraja, Pirang. Tak sampai disitu, jangkauan Panther ini bahkan lintas provinsi seperti ke Majene, Mamuju dan Polmas di Provisi Sulawesi Barat. Walaupun secara literal mobil-mobil antar kota bukanlah Panther, tapi ada juga Toyota Innova, Avanza sampai Kia Travello.

Panther memang sudah menjadi metonimia di seantero Sulawesi Selatan. Walaupun sekarang di beberapa tempat, istilah Panther sudah bergeser menjadi istilah Mobil Sewa. Ini karena rupanya Isuzu Panther sudah tidak banyak menjadi pilihan. Banyak yang sudah bergeser menjadi Toyota Avanza, Nissan Livina dan bahkan untuk ke Pare-pare mayoritas sudah bukan Panther lagi yang digunakan, tapi Toyota Innova. Jadi walaupun sebutan “Panther” masih melekat erat, tapi di beberapa tempat sebutan itu sudah berganti menjadi Mobil Sewa.

capture

Sejam menanti, Panther tujuan Bone datang, kali ini yang datang benar-benar Isuzu Panther. Tarifnya 70.000 rupiah, ini katanya tarif setelah kenaikan harga BBM. sebelumnya hanya 50.000 rupiah. Sopirnya orang Bone, Bugis tulen begitu katanya, berkumis melintang dan berbadan besar. Di Panther hanya ada 3 penumpang lain, syukurlah tidak penuh jadi saya bisa menyelonjorkan kaki. Begitu Panther melaju, bapak sopir langsung memakai kacamata hitam dan memutar musik dangdut Bugis.

Rute yang saya tempuh dari Makassar ke Bone adalah 173 kilometer. Perkiraan waktu tempuhnya sendiri adalah 4 jam perjalanan. Dimulai dari Maros, menembus Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung kemudian berakhir di Bone. Rute ini akrab dikenal dengan Poros Bone-Makassar. Akan menarik karena saya akan mengikuti jalur yang menembus Taman Nasional yang tersohor dengan gugusan karst tersebut. 

Poros Bone – Makassar sendiri merupakan salah satu jalur terpenting di Sulawesi Selatan. Jalur ini secara tidak langsung adalah jalur penghubung Makassar – Kendari. Jadi mereka yang akan dari Makassar ke Kendari kemudian akan melewati jalan poros ini dan menyeberang dari Pelabuhan Bajoe, Bone ke Kendari dan sebaliknya.

Maka sepanjang perjalanan dengan Panther, saya berpapasan dengan truk-truk besar pengangkut logistik maupun bis-bis AKAP Makassar – Kendari. Jangan bayangkan bis AKAP Makassar – Kendari itu bis besar ber-AC seperti di Jawa. Bis AKAP Makassar – Kendari adalah bis tiga perempat yang penuh penumpang, tidak ber-AC, sementara bagian atap dan belakang bis dijadikan tempat barang-barang yang kadang sampai membuat bis miring-miring tak keruan keberatan beban. Jadi bis AKAP ini pun bisa jadi multifungsi, bis AKAP sekaligus angkutan logistik.

Inilah asyiknya melakukan perjalanan jalur darat di daerah timur. Membuka mata melihat Indonesia yang sesungguhnya. Belum keluar Maros saja jalanan sudah buruk rupa, boncel-boncel disana sini. Tapi sopir sudah ahli, dengan lincah dia menggoyang-goyangkan Panther ke kanan dan kiri, macam penari Candoleng-ndoleng yang berjoget mengikuti irama house music.

Agak disayangkan kenapa jalur ini tidak dirawat dengan semestinya, padahal jalur ini poros penting, baik untuk menuju Bone atau menyeberang ke Kendari. Jalur ini jalur lama, konon dibuat pemerintah kolonial untuk memperpendek jarak dari Makassar ke Bone, itulah mengapa dibuat menembus area Taman Nasional. Jalur di dalam Taman Nasional cukup indah tapi menantang, berkelak-kelok mengikuti punggungan bukit, sementara di satu titik di ketinggian saya bisa mengintip bentangan daratan dibawah sana melalui sela-sela pohon besar di Taman Nasional.

IMG_0565

IMG_0566

IMG_0567

Selepas kawasan Taman Nasional, jalur disambut dengan area persawahan sejauh mata memandang dan kontur jalan mulai datar walaupun lubang di jalanan masih akrab jadi teman. Panther justru makin menggila, sopir makin berani di jalanan lurus, main hantam lubang bahkan sampai menyalip lewat bahu jalan di jalur yang berlawanan arah. Sementara saya sudah ketakutan dan merapal doa, si sopir malah tertawa – tawa sambil menggoyangkan kepala mengikuti irama musik Bugis yang diputar sepanjang jalan. Kondisi jalan rusak memang simalakama dan bermata dua. Satu sisi dia bisa membuat sopir berhati-hati, atau sebaliknya tambah menggila. Kebetulan saya mendapat sopir model kedua, yang justru makin menggila saat bertemu jalan rusak.

Poros Makassar – Bone bagaikan sirkuit jalanan karena saat saya mengintip jarum speedometer Panther yang saya tumpangi, jarumnya sudah hampir menyentuh angka 120 kilometer per jam. Wuih inilah roadtrip yang sesungguhnya batin saya, adrenaline rush. Tapi salut dengan penumpang Panther, mereka tidak mengeluh atau apa, bahkan lelap di kursinya masing-masing. Sementara si sopir justru makin gila dengan sesekali menelepon bahkan mengirim SMS dengan tangan kirinya, sementara tangan kanan memegang setir dan kecepatan Panther di atas 100 kilometer per jam. Gila!

Tak ingin jadi gila di jalan, saya hanya bisa pasrah lalu memejamkan mata. Akhirnya setelah 5 jam sampai juga di Bone, meleset 1 jam dari perkiraan waktu tempuh biasanya. Oia, jika kita naik Panther penumpang akan diantarkan sampai alamat tujuan tanpa perlu memberi tambahan uang, memang sudah begitu adat angkutan antar kota di Sulawesi Selatan.

Begitu turun dari Panther saya sudah disambut Bakti dengan senyum lebarnya, tidak ada salam hangat atau apa, hanya sebuah pertanyaan singkat “Piye dab rasane numpak Panther?” Saya jawab sambil ketawa miris “Wasyu dab, bokongku tepas..”. Lalu kami tertawa terbahak-bahak bersama. Haha.

Tabik.

Post Scriptum :

Sisi lain perjalanan dengan Panther ditulis oleh Pacar saya. Disini.

Tentang Candoleng-ndoleng, pentas musik yang kontroversial di Sulawesi Selatan. Bisa dibaca disini.

Follow Efenerr on WordPress.com

28 KOMENTAR

  1. Ada istilahnya Pan – Ter : Panggilan Terakhir….supirnya bawa mobilnya gila-gila ..ya begitulah disana… top

  2. seniorr,, ntar cobain juga bus2 malam di Sulsel,, rata2 bus di sulsel udah kelas “premium”,, gak kalah dengan bus2 di KL / Singapore,, contohnya kaya bus milik PO. Primadona, Bintang Prima, dll.. salam Bismania Sulsel 😀

  3. saya sudah hampir 15 tahun ngk ke bone, dulu sepi kotanya… saya kangen pulang kampung ke watampone depan korem , deket jalan Biru. tapi kalau ngebayangin jalan darat dari bandara …aduhhhhh lama nyaaaaaaaaa …sanggupkah aku?

    salam kangen buat watampone

  4. Dari makassar ke majene gmn mas? Dengan panther brapa lama ya? Tarif berapa skrg? Kebetulan saya landing di bandara makassar jam 14 an hari ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here