DSC_0097
Dari Bone, rute saya berikut adalah menuju Soppeng, sebuah kota lain di Sulawesi Selatan yang masyhur dikenal dengan julukan Bandung van Celebes. Dari Watampone hari sudah siang, namun terik mentari masih sembunyi dibalik awan mendung yang merundung sejak pagi. Tak ayal keraguan sempat menyergap untuk menuju Soppeng, karena menurut Bakti, karib saya, jalan utama menuju Soppeng biasanya akan banjir jika hujan deras mendera. 

Tapi sekali lagi, perjalanan bukan soal prediksi, tapi adu nyali. Tak mau kalah dengan rasa khawatir dengan hujan dan banjir yang menunggu. Bakti memutuskan berangkat. Akhirnya saya, Bakti dan pacar saya Putri, bertiga satu mobil berangkat menuju Soppeng diiringi hujan gerimis dan awan yang terus menggelayut.

Bakti tidak mengajak saya melalui jalur Bone – Amali – Soppeng, jalur alternatif menuju Bone yang menurutnya bisa menghindari banjir. Jalurnya sepi, naik turun bukit, lebar jalan tak seberapa dan jika berpapasan dengan kendaraan lain maka harus mengalah satu sama lain. Yang menjadi hiburan adalah pemandangannya yang luar biasa, tampak dari jauh beberapa daerah Bone dari ketinggian.

Sepanjang jalur adalah daerah hijau, ladang di kanan kiri jalan, menghampar jauh sejauh mata memandang. Sebagian ladang jagung, sebagian kayu keras, bukti bahwa Sulawesi adalah tanah impian, ibarat kata Koes Plus, kayu pun bisa jadi tanaman. Hanya saja, kondisi jalan tidak bisa dibilang bagus. Hanya aspal tipis yang banyak mengelupas di beberapa bagian, meninggalkan batu-batu yang harus diterjang.

DSC_0063
Jalur Bone – Amali – Soppeng

Setengah perjalanan, kami tiba di Amali. Bakti membelokkan mobil ke pekarangan yang rimbun, beberapa bangunan sederhana dan 2-3 kolam air yang biru segar. Rupanya ini adalah kompleks PDAM Kabupaten Bone di Amali.

“Leren sik bro, kesel” Begitu kata Bakti.

Saya mengiyakan, namanya juga perjalanan santai. Kami bertiga tidak diburu waktu.

Kompleks PDAM ini sangat teduh, dengan pohon-pohon besar di halaman kompleks dengan beberapa bangunan sederhana yang menjadi kantor yang dikelilingi kolam-kolam air. Sementara di bagian belakang pemandangan menyejukkan mata terhampar. Sawah-sawah milik orang-orang Amali yang sudah mulai menguning. Ini memang bukan tempat wisata, tapi kolam air tempat pengolahan air bersih untuk beberapa daerah di Kabupaten Bone. Tapi bagi kami bertiga, ini sudah cukup jadi oase di tengah perjalanan. Tenang, teduh dan menyegarkan.

DSC_0091

 

Pinggir kolam berlumut hijau, dan di kolam lain tampak keramik-keramik sudah pecah disana-sini. Saya duga bangunan ini sudah dari tahun 70-80 an. Tidak ada petugas PDAM yang bisa ditanyai, hanya cicit burung yang menemani kami disini. Kadang anak-anak sekitar akan menceburkan diri di kolam, rekreasi gratis. Kata Bakti jika mau pun kita bisa berenang, tapi sayang tidak ada baju berenang yang kami bawa. Padahal tampaknya akan menyenangkan, airnya dingin segar, pun daerahnya sejuk.

Pusat mata air Amali ada di bawah pohon besar di pekarangan kantor. Tepat dibawah pohon ada ceruk kecil dibawah batuan, disitulah air memancar dari bawah tanah. Dari sinilah air yang konon tak pernah habis ini berasal, kemudian ditampung di kolam-kolam tadi, diolah dan disebarkan pada masyarakat yang membutuhkan air bersih di Bone. Masyarakat sekitar kompleks PDAM Amali sendiri memanfaatkan air dari mata air ini. Caranya mereka memasang pompa air di pinggir mata air dan kemudian dialirkan ke rumah-rumah. Di daerah tengah-tengah perbukitan ini, mungkin Amali adalah Oase dan mata air yang bisa dimanfaatkan bagi penduduk sekitar.

DSC_0073

DSC_0077

Kami tak lama disini, mungkin sekitar 40 menit. Bakti mengajak meneruskan perjalanan, tampaknya lelahnya sudah hilang tersapu segarnya pemandangan mata air Amali. Sebelum melanjutkan perjalanan, saya sempatkan membasuh muka. Segarnya menghilangkan lelah perjalanan.

Walau bukan tempat wisata, tapi kami beruntung berhenti dan menikmati Oase Kecil di Amali. Dan kami pun berlanjut ke Soppeng, yang masih harus ditempuh 1,5 jam perjalanan.

Tabik.

DSC_0085

DSC_0081

Follow Efenerr on WordPress.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here