IMG_1511

 

Usai perang pasifik, serdadu Jepang yang bertempur di berbagai belahan dunia ditarik kembali ke Jepang. Dengan kapal-kapal perang, mereka pulang dengan kepala tertunduk, kalah perang. Sebagian memutuskan untuk harakiri dan menjaga kehormatan, sebagian menetap dan berbalik memihak pribumi dengan berbagai alasan. Serdadu yang menetap itu disebut  Zanryū Nipponhei, jika diindonesiakan adalah Serdadu Yang Tidak Pulang.

Sebutlah Kikuchi Surutake, kelahiran 1918. Wajib militer membuat dirinya menjadi serdadu dan ditugaskan ke Jakarta pada 1942, saat Jepang mulai menginvasi Jawa. 3 tahun berjuang di Jakarta, Kikuchi rupanya jatuh cinta pada Indonesia dan menikahi gadis cantik asal Manado. Pasca perang dunia, Kikuchi kembali ke Jepang sebagai serdadu yang sudah kalah perang. Hanya saja karena kecintaannya pada Indonesia sangat kuat, dia membuat restoran Indonesia di Roppongi bernama Bengawan Solo, dikatakan restoran Indonesia pertama di Jepang.

Entah apakah Kikuchi disebut Zanry Nipponhei atau tidak, akan tetapi kecintaannya pada Indonesia yang sangat kuat, membutnya dia kembali lagi ke Jakarta pada tahun 1960-an. Setelah menata hidup, kemudian pada tahun 1969 Kikuchi dan istrinya membuka restoran Jepang di Cikini, bernama Kikugawa. Nama Kikugawa ini sedikit unik, Kiku ini dari nama Kikuchi, sementara Gawa adalah sungai. Tak lain karena kecintaan Kikuchi pada lagu Bengawan Solo ciptaan Gesang, lagu yang memang banyak dicintai oleh Bangsa Jepang di era itu.

Kikugawa sejauh ini tercatat sebagai restoran Jepang pertama di Jakarta setelah era Perang Dunia II. Jauh sebelum kompleks Little Tokyo yang terkenal itu mulai ramai di awal 1980-an. Saat – saat berdirinya Kikugawa mungkin adalah saat yang tepat, mengingat saat itu Orde Baru masih bayi merah dan mulai membuka kran normalisasi hubungan dengan Jepang. Investasi dari Jepang mulai masuk ke Indonesia terutama di sektor otomotif, neraca perdagangan antara Indonesia dan Jepang mulai meningkat. Dan di Kikugawa-lah, bos-bos perusahaan Jepang di Indonesia menikmati sajian kuliner Jepang untuk memuaskan rasa kangen kampung halaman ataupun membuka peluang lobby-lobby bisnis di Indonesia.

IMG_1512

IMG_1510

Atas kronik sejarah yang menarik tentang restoran ini, saya mengajak Pacar saya untuk menikmati sajian di Kikugawa. Kebetulan lokasinya di Cikini, yang memang menjadi favorit kami berdua untuk mencari makanan lezat di Jakarta. Seusai maghrib kami datang, beruntung saat itu sepi. Kami berdua disambut nona cantik berkuncir yang mempersilakan kami masuk.

Kikugawa masih mempertahankan pakem restoran kuno. Dengan memberi jeda pada jam buka, Kikugawa hanya buka antara jam 11.30 – 15.00 kemudian istirahat dan tutup sebentar, kembali buka antara jam 17.30 sampai kemudian tutup kembali jam 22.00 malam. Hal yang mengesankan karena masih menganut sistem jeda jam buka, saya jadi teringat era 1990-an saat toko-toko dan restoran masih menganut sistem seperti ini. Menggunakan jeda waktu istirahat buka toko, sungguh mengingatkan pada suasana masa lalu.

Suasana masa lalu pun kental di interior Kikugawa. Tidak seperti restoran Jepang di mall-mall yang gemerlapan dan mengesankan nuansa Jepang. Di Kikugawa suasananya sungguh syahdu, musik intrumental mengalun lirih, sementara nuansa restorannya seperti rumah-rumah tradisional Jepang, dengan ornamen bambu, kaligrafi huruf Jepang, keramik, boneka Jepang dan asesoris-asesoris kecil berbau Jepang lainnya.

IMG_1508

IMG_1506

Kami disodori menu set, percayalah menu set disini tidak mewah dan penuh hiasan tapi justru membuat kagum. Hanya kertas berketik menu dan berlaminating, tapi sungguh ini seperti makan di restoran-restoran 1 dekade ke belakang. Para pramusaji akan dengan senang hati menerangkan jika ada pengunjung yang menanyakan tentang pesanan. Menunya hampir sama dengan restoran Jepang kebanyakan, ada sashimi, udon, ramen, sushi, tempura, tofu, teriyaki dan menu set.

Restoran ini tidak berusaha menjadi modern, tapi tetap bertahan dengan nuansa masa lalu. Menjaga romantisme kenangan untuk menikmati sajian. Toh, restoran ini tidak ditinggalkan pelanggannya, segera setelah kami memesan pesanan, pengunjung banyak yang datang, tak sampai setengah jam semua kursi di restoran sudah penuh pengunjung. Dan lalu pramusaji disini mendadak tampak sibuk melayani pengunjung.

Memang disaat-saat tertentu seperti akhir pekan, restoran ini akan penuh pengunjung dan sampai menolak pengunjung yang datang. Maka disarankan untuk melakukan reservasi sebelum datang. Kikugawa sepertinya tidak mementingkan berapa banyak pengunjung yang datang, tapi mementingkan pengunjung yang datang dan ingin menikmati sajian kuliner di Kikugawa. Satu nilai lebih dari Kikugawa menurut saya, disaat restoran lain ingin menjaring sebanyak-banyaknya pengunjung, Kikugawa sampai harus menolak pengunjung yang datang.

IMG_1517

IMG_1519

Pesanan datang. Pesanan kami adalah Kikugawa Set dan Sukiyaki Set. Rasanya, wah sulit dijelaskan dengan kata-kata. Pokoknya berkali lipat lebih lezat daripada restoran Jepang kebanyakan, apalagi restoran waralaba sok-sok Jepang. Kikugawa menjaga citarasa dengan baik, tak heran restoran ini terus bertahan sejak 1969 sampai sekarang. Menembus garis waktu sambil tetap menjaga kualitas.

Tahunya pulen sekali, empuk dan super lembut. Jika mungkin pernah mencoba Tahu Takwa, tahu khas Kediri yang berwarna kuning dan isi berwarne putih, tahu di Kikugawa ini setingkat diatasnya. Sangat lembut dan bumbunya merasuk sampai dalam. Kuahnya ringan tapi rasanya sangat dalam, asam dan manis berpadu menembus lidah sampai saya tidak bisa tidak bilang ini sangat enak. Memikat.

Di menu pacar saya ada tuna yang digoreng dengan bumbu sedikit manis. Bumbu manisnya entah kenapa bisa merasuk ke dalam tuna, entah bagaimana mengolahnya, tunanya sangat-sangat empuk ketika digigit dan rasanya begitu merasuk. Tambahannya berupa nasi putih, agak berbeda dengan nasi kebanyakan, bulirnya sedikit lebih besar dan lengket. Jikapun digigit polos rasanya lebih manis daripada nasi kebanyakan. Mungkin beras untuk nasinya memang sudah dipilih dengan benar oleh Kikugawa.

Jujur menu pesanan kami melebihi ekspektasi. Sebagai seorang yang buta dengan review restoran ini, saya sebenarnya tak berharap banyak dengan rasa di Kikugawa, mungkin akan sama dengan restoran Jepang kebanyakan. Tapi saya salah, Kikugawa ini ibarat bangsawan, rasanya bak raja, kualitasnya dijaga turun temurun serta masih memegang teguh prinsip dan idealisme yang ditanamkan Kikuchi, untuk terus memuaskan pelanggan.

Bagaimana soal harga? Untuk kelezatan seperti ini saya sebenarnya tidak berkeberatan membayar mahal, karena memang rasanya sesuai, persisi di Jepang. Makanan ini pula mungkin masih masakan dengan resep yang sama yang dinikmati bos Toyota Indonesia berpuluh tahun yang lalu saat istirahat makan siang disini, atau saat lobby dengan pengusaha Indonesia. Tapi tak usah khawatir, range harganya berkisar antara 40.000 – 80.000 per menu. Jauh lebih mahal daripada restoran Jepang waralaba, tapi tentunya jurang pemisah kelezatan makanannya pun sangat jauh bedanya.  Total jenderal pesanan kami berdua berikut pajak adalah 152.ooo rupiah, harga yang pantas untuk sajian yang menurut kami sangat lezat.

Mau tak mau saya akan merekomendasikan restoran ini bagi mereka yang ingin merasakan citarasa Jepang yang sebenarnya. Dan sekali lagi, Cikini membuktikan pada kami bahwa Cikini adalah pusat makanan lezat di Jakarta.

Idataikimas.

Tabik.

Post Scriptum :

Kikuchi sudah meninggal dunia pada usia 93 tahun di tahun 2011 lalu. Beritanya bisa dibaca disini.

Beberapa catatan lain tentang Kikugawa. disini dan disini.

Lokasi : 

Huruf A adalah lokasi, alamat tepatnya adalah Jalan Cikini IV.13. Untuk reservasi bisa menelepon di nomor 021-3150668.

Tangkapan layar penuh 03122013 200428.bmp

20 KOMENTAR

  1. Kikugawa memang restoran favorit saya sejak lama, apa lagi kantor saya dulu persis didepannya… jadi kami tidak cuma merayakan ulang tahun disitu, tapi juga menjamu tamu kantor apabila ada partner luar negeri datang, karena restoran ini lumayan, agak up-market dibandingkan restauran di Jl. Cikini yang lain.

    Nina

    ps. Cuma info saja, Speciality restaurant seperti Kikugawa (yang menyajikan makanan khas jepang) atau restaurant khusus masakan Itali misalnya yang independen (maksudnya tidak tergabung di dalam Mall) biasanya memang cuma buka pada saat makan siang (lunch) atau dinner saja, malah ada yang cuma bukan saat makan malam saja, dan ini berlaku di luar negeri juga. Itu sebabnya up market restauran kita harus melakukan reservasi dulu.

    • waah..menarik sekali Mbak Nina, dan terima kasih banyak info tambahannya, saya malah baru tahu hal itu dari Mbak Nina.
      dan mungkin ini perkembangan dari Siesta, kebiasaan orang Spanyol..

  2. mantap memang resto ini Chans.
    pertama kali mau masuk, saya dan pacar juga sempat ragu rasanya. mengingat saat kami datang, suasana sepi dan resto tampak seperti tempat makan yg kurang laku. kami pun menjadi pelanggan pertama sore itu. tapi saat kami pesan dan menyantapnya, astaga!! ini bahkan rasanya melebihi masakan jepang waralaba yg pernah kami rasakan. Rasa sushi salmon yg kami pesan membuat saya merubah mindset akan keenakan sushi (pernah trauma makan sushi karna saat pertama kali makan, rasanya mau muntah) hehe..
    restoran jepang yg harus dikunjungi apabila ke Jakarta. harga sedikit mahal, tapi rasanya memang sepadan. 🙂

  3. mas, sejarah restorannya dapet darimana ya informasinya? kebetulan saya anak sastra jepang yang mau penelitian kuliner hehe. mohon infonya ya mas, makasiih 🙂

  4. Wah ini tempat langganan keluarga gw makan sejak gw TK. Tapi terus terang semakin lama porsinya semakin mengecil dan harga semakin mahal. Tapi banyak banget kenangan di resto ini. Liat foto-fotonya jadi rindu makan di Kikugawa.

  5. ah saya baru tau kalo ada restoran ini berkat baca review mas. dari luar memang terlihat kurang meyakinkan ya, tapi kalo memang rasanya enak sih saya juga jadi pengen coba dan ajak pacar saya. oya, kalau bermobil, parkirnya susah kah?

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here