DSC_0149

Bayangkan anda berada di kota-kota pegunungan di Eropa, mungkin di Swiss atau di deretan Kaukasia. Dengan bangunan-bangunan tua memenuhi kota, jalan-jalan mulus, lebar dan sepi, ada mobil tapi hanya lewat sekali dua kali. Ditambah dengan udaranya yang segar, embun pagi tersaji di pagi dan sore menjelang malam. Dengan ritme hidup yang menyenangkan, mengalur lambat dan santai, sempurna untuk menghabiskan masa tua. Itulah gambaran jika anda mengunjungi Watansoppeng, sebuah kota pegunungan di Sulawesi Selatan. 

Watansoppeng adalah rangkaian berikutnya dari ikhtisar perjalanan saya ke Sulawesi Selatan. Ini adalah kota kecil yang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Soppeng. Salah satu kabupaten di provinsi yang tidak memiliki laut biru, terkurung daratan. Keindahan Soppeng adalah kontur alam yang berbukit-bukit, dengan sawah hijau nan luas, gunung-gunung tinggi menjulang dan hutan-hutan yang tampak di kejauhan. Karena bentang alamnya dan udaranya yang sejuk, oleh Kolonial, Watansoppeng disebut sebagi Bandoeng van Celebes, Bandungnya Sulawesi. Mungkin karena konturnya dianggap mirip dengan Bandung.

Di sisi lain Watansoppeng adalah kota tua, dulu kisahnya di Soppeng pernah ada kerajaan dengan Watansoppeng adalah pusatnya. Berikutnya, Watansoppeng berkembang maju, menjadi kota para cendekia, para pahlawan dan para pembesar, begitu kisah menurut cerita setempat. Orang-orang Soppeng tentunya berbahasa Bugis, bahasa Bugis yang halus, sedikit berbeda dialeknya dengan Bahasa Bugis di pesisir.

DSC_0099
Jalan Masuk Kota Soppeng, Pohon Asam Jawa di kanan-kiri jalan.

Tata kotanya juga mengagumkan, sekilas sangat teratur, hampir tidak ada bagian kota yang berantakan. Tata kota ini warisan kolonial, jalan-jalan yang lebar, area kota dibagi dalam blok-blok yang rapi. Sebelum masuk kota, akan ditemui jalan lurus yang panjang dan dinaungi pohon asam jawa di kanan kirinya. Salah satu bukti pengaruh kolonial, membangun jalan dengan pohon peneduh adalah pohon asam jawa.

Lalu saya percaya untuk menikmati kota sampai ke urat nadinya adalah dengan menikmati bangunan tuanya. Menikmati bagaimana bangunan tua bertumbuh mengikuti zaman dan merekam rekam jejak perkembangan kota itu sendiri. Dan di Watansoppeng, bangunan-bangunan tua masih berserak dengan begitu manis, dari bangunan tua khas Bugis sampai bangunan tua peninggalan Kolonial.

Villa Yuliana adalah contoh bangunan tua yang masih bertahan di Watansoppeng. Letaknya ada di bukit tertinggi yang ada di kota, berseberangan dengan Masjid Raya  Soppeng. Dari halaman depan villa tampak seluruh area Watansoppeng dan juga bukit-bukit yang berbaris jauh di luar kota. Oleh sebab itu Villa Yuliana oleh orang-orang Watansoppeng diebut Mess Tinggi, mudah diartikan, yaitu Mess yang berada di ketinggian. Kenapa Mess? karena dulu di dekade 90-an, bangunan ini pernah dijadikan mess bagi pegawai pemerintahan Kabupaten Soppeng.

DSC_0170
Pemandangan dari depan Villa Juliana

Dahulu Villa Juliana dibangun di awal abad ke – 20 sebagai tempat tetirah pembesar-pembesar Kolonial, maka logis jika kemudian dibangun di puncak bukit dengan pemandangan yang super luas. Sumber di museum mengatakan Villa ini dibangun oleh C.A Krosen, pemangku kekuasaan kolonial di Sulawesi Selatan. Saya duga C.A Krosen merujuk pada Alexander Krosen, Gubernur Jenderal Hindia Belanda di Sulawesi Selatan, Alexander Krosen ini jugalah yang memimpin ekspedisi Sulawesi Selatan untuk mengambil alih kekuasaan seluruh Sulawesi Selatan di tangan kolonial.

Sayangnya tidak ada sumber tertulis yang mengatakan apa tujuan pembangunan Villa ini. Setidaknya ada versi yang dipercaya menjadi alasan pembangunan villa ini, yaitu untuk memperingati kedatangan Ratu Yuliana ke Sulawesi Selatan dan hendak singgah di Watansoppeng, walaupun kenyataannya Ratu Yuliana sendiri tidak jadi datang ke Sulawesi Selatan, apalagi ke Watansoppeng.

Versi kedua justru berbeda, Villa ini dibangun sebagai hadiah Ratu Wilhelmina bagi masyarakat Soppeng. Selain itu pembangunan villa ini adalah simbol berkuasanya pemerintahan kolonial setelah menyerahnya perlawanan Kerajaan Soppeng, dan dimulailah era dimana Soppeng diatur oleh hukum kolonial.

Arsitekturnya bergaya Indies, dengan memadukan ornamen-ornamen Bugis dengan bangunan gaya Eropa. Menara dengan atap runcing adalah kekhasan bangunan bangunan Eropa. Terdiri dari 2 lantai, bangunan ini berdiri kukuh, dengan kolom-kolom lengkung dan atap sirap. Di bagian belakang juga terdapat halaman luas dan bangunan tambahan berupa kamar-kamar, mungkin dulu difungsikan sebagai ruang-ruang bagi pengurus villa.

Sekarang Villa Yuliana berfungsi sebagai museum, nama resminya Museum La Temmamala, La Temmamala sendiri adalah Raja Soppeng di abad ke -13. Museum ini koleksinya  berisi barang-barang peninggalan masa lalu yang tersebar di daerah Soppeng. Koleksinya sedikit dan penataannya a la kadarnya. Barang-barangnya tampak usang, tampaknya sedikit sekali yang datang dan berkunjung sehingga dibiarkan begitu saja. Tiketnya 3.000 seorang, si petugas loket sendiri malah bingung ketika ada pengunjung yang datang, mungkin biasanya sepi. Padahal sebenarnya artefak-artefak di Villa ini cukup menarik, mulai dari fosil sejak zaman prasejarah sampai kronik sejarah saat Soppeng masih berbentuk Kerajaan Konfederasi. Sayang museum ini tampak belum diseriusi dengan benar.

DSC_0150

DSC_0166

Ada lagi idiom populer tentang Watansoppeng, Kota Kelelawar bahkan kelakar orang setempat menyebut Watansoppeng adalah Gotham City. Pasalnya ada koloni kelelawar yang bertengger di pohon-pohon besar Watansoppeng. Bukan kelelawar kecil, namun kelelawar besar seukuran kucing dengan bentangan sayap lebih dari 1 meter. Koloni kelelawar ini saat senja menjelang akan meninggalkan pohon pohon besar di tengah kota, menggelapkan langit dengan sayap dan kepaknya memenuhi kota. Uniknya hanya pohon-pohon besar di sekitar Masjid Raya Soppeng yang ditenggeri kelelawar ini, lainnya tidak.

Tidak ada yang tahu asal muasal kelelawar ini, katanya sudah ada sejak jaman kerajaan, kira-kira 400 tahun yang lalu. Tapi itu katanya, tidak ada catatan valid yang berkisah tentang kelelawar sebesar kucing di Watansoppeng ini. Keberadaan kelelawar ini bahkan menumbuhkan mitos-mitos di masyarakat. Dikatakan pernah kelelawar ini adalah penjaga kota dan bisa memberi pertanda baik buruk bagi kota. Bahkan di tahun 1990 santer cerita bahwa kebakaran Pasar Sentral Soppeng disebabkan ditebangnya pohon tempat kelelawar bertengger. Entah benar atau tidak.

Sayang saya tidak bisa menikmati gagahnya kelelawar-kelelawar ini terbang di kala senja. Karena saat saya ke Watansoppeng, hujan amat deras sedang mendera kota. Kelelawar-kelelawar hanya meringkuk kedinginan di puncak-puncak pohon. Saya hanya bisa melihat mereka bergelantungan dari puncak-puncak pohon. Tanpa sempat melihat mereka memenuhi langit Watansoppeng.

DSC_0102
Kelelawar di Puncak Pohon Watansoppeng.
kalong
Suasana saat senja tiba di Watansoppeng. Foto oleh Bakti Kurniawan.

Uniknya walaupun simbol kota yang terkenal adalah kelelawar, namun sebenarnya binatang yang menjadi simbol resmi Kota Watansoppeng adalah Kakatua. Kelelawar adalah simbol tidak resmi dan kakatua dipilih sebagai simbol karena kakatua adalah binatang dalam legenda Soppeng, dulu dikatakan kakatua adalah pembawa pesan dari langit untuk pemimping-pemimpin Soppeng saat memecahkan suatu masalah. Karena itulah Kakatua dihormati dan dijadikan simbol daerah.

Saya mengakhiri perjalanan di Soppeng di Masjid Raya Soppeng, masjid yang megah dan ramai dengan jamaah. Masjid ini masih terus dikembangkan dan renovasi masih terus berjalan. Dari tingkat 2 masjid, jamaah bisa melepas pandangan ke seluruh kota, maka tampaklah seantero Soppeng yang hijau dan berbukit bukit.

Tampaknya tepat pilihan saya untuk ke Soppeng, dimana kota terbekukan zaman dan masih cantik tertata rapi. Kota yang bagus sesungguhnya adalah kota yang masih merawat warisan masa lalu, bukan mengobrak-obriknya dengan bangunan baru. Dan di Watansoppeng saya melihat bagaimana sebuah kota tua bergerak maju tanpa meninggalkan masa lalu. Berbahagialah Watansoppeng, kota yang masih cantik sampai sekarang.

Tabik.

DSC_0116
Saya, Putri dan Bakti di dalam Villa Yuliana.

Referensi :

Tentang Ekspedisi Sulawesi Selatan. 

Watansoppeng versi Bakti Kurniawan.

Portal Bugis

Soppeng.org

Follow Efenerr on WordPress.com

76 KOMENTAR

  1. Deskripsinya detil dan lengkap mas. Saya sekarang kebetulan sedang menghirup udara malam yang segar di kota watansoppeng ini yang juga kampung kedua orang tua saya. Semua yang dijelasin ttg watansoppeng di blog ini memang benar adanya. Ditunggu kedatangannya kembali. Salam traveler 🙂

  2. Terima kasih tulisannya mengingatkan akan tanah kelahiran. Saya dilahirkan dan dibesarkan di Soppeng, memang sangat sayang jika ga tinggal disini. Sebenarnya masih banyak tempat wisata yang belum disinggahi Mas, Soppeng juga dikenal orang dengan Danau Tempenya, bukan cuma milik Kabupaten Wajo, ada lagi permandian air panas Lejja, dan permandian alam Citta yang mata airnya keluar dari sebuah terowongan yang diyakini bersambung ke Teluk Bone. Selain wisata alam tersebut, belum nyoba kulinernya, ada Lawa’bale (semacam Susi di Jepang), barongko, sanggara’ balanda, fallubutung, dll. Belum disaksikan tradisinya…..daur hidup itu penuh dengan aturan dan tatanan yang sangat mengutamakan hubungan yang serasi, seimbang, selaras antara manusia, alam dan penciptanya, Tuhan Yang Maha Esa. Seperti petuah dari lontara, mali si parappe, rebba si patokkong, artinya harus saling tolong menolong….

    • Halo Mas Rijal!

      Salam kenal. 🙂
      Iya mas, saya memang terbatas waktu untuk ke Soppeng. Terima kasih tambahan informasinya, semoga kita bisa bersua di Soppeng kapan-kapan ya mas.

      Saya belajar banyak tentang filosofi orang Bugis selama di Soppeng. 🙂 luar biasa bijaksana sekali.

  3. Soppeng tanah kelahiranku.tempat tinggalku.
    Sya fikir.bgai mna klw kalian coba mendatangi bukit”.ada bukit yg mna kita bisa melihat soppeng.ada jga gunung yg tinggi  Yg bisa melihat soppeng dri kejauhan.tempatnya bnyak pohon venus.dan msih seperti hutan yg liar.jika mencapai puncak kita akan berada disebuah desa yg suasananya dingin dan tenang.pokoknya enak.berada diatas gunung

  4. Terima Kasih Min sudah berkunjung ke Soppeng…
    Terima Kasih juga Atas Tulisannya Min sungguh tulisan yang sangat bermakna…
    Terima Kasih juga sudah promosiin Kota Kami min…

  5. Makasih min sudah mampir di kampung halaman saya wanua La Temmamala, kapan kapan boleh lah berkunjung lagi, msih bnyak tempat wisata yang belum admin liat.. Salam yassisoppengi hehehe

  6. Kayanya sekarang ga sesejuk dulu kota Soppeng ini.. Tata kotanya juga semberawut menurut aku.. Saya dulu pernah tinggal di Soppen. Sblom hijrah ke jakarta. Setelah sepuluh tahun, say. Ke soppeng jalan2 keadaannya sangat miris menurut aku, tdk sperti dulu.

  7. Suasana di kampung mmg sangat menyenangkan, jadi kepengen pulang kampung terutama ke soppeng menikmati sejuknya suasana di villa juliana…

  8. Soppeng, kampung halaman bapak mamakku. dan kebetulan rumah alm nenek pun tidak jauh dari masjid raya soppeng. Bikin nostalgia nih postingannya mas, secara terakhir ke sana waktu tahun 2007/2008.
    thank you postingannya… 😀

  9. Soppeng t4 aku dibesarkan…rindu masa2 dulu waktu sekolah…tp krn pekerjaan sekarang jadi jarang pulkam…paling ingat dulu sm tmn2 SMA tiap sore kita nongkrong di tangga dpn villa yuliana…miss u all

  10. Terima kasih postinganya mas luar biasa kami yg pergi meninggalkan kampung halaman tidak akan pernah bisa melupakan kampung halaman dimana tempat kami dilahirkan namun ada catatan kecil dari saya bahwa jangan sampai kita hanya bisa mengatakan “kota kami indah,cantik dengan segala pemandangan yg elok rupawan tapi justru malah ngga ada promosi tentang pariwisata……sayang bgt kalau kita tidak melestarikan keindahan alam kita karna kami yg ada diluar soppeng selalu bercerita tentang soppeng….

  11. Trim’s min sdh mngunjungi Soppeng bumi Latemmamala. Msih banyak keindahan alam lainnya min yg tdk kalah dari tempat lain. Air terjun di Gaatareng Toa, pegunungannya mencpai sudut 90 drajat sperti dinding di tengahnya perkampungan seperti kampung Konoha dlm serial movie Naruto… Hehehe kpan2 kalau ke soppeng lagi min jlan2 ke rumah mnikmati Tuak manis aren, madu asli dan gula merah… #LerengHijauBuluDua

  12. Saya punya CD lagu-lagu tentang Soppeng Wanua Latemmamala (bumi latemmamala), kalo mas mau nanti saya kirim 1 keping buat mas, pure karya anak wanua latemmamala, deskripsi mirip apa yang mas enerr gambarkan di atas, mudah2an bisa mnggelitik kerinduan untuk datang lagi disini.

  13. Jadi kangen tanah soppeng sulawesi selatan.. kota tempat kelahiranku.. sudah lama sekali tidak pulang ke soppeng

  14. Wah…..membaca artikel ini serasa berada di kampung halaman sendiri yg damai dan indah ini… Rasanya tidak ingin jauh2 dari kampung halaman… Terima kasih Mas atas meskipun hanya sebagian kecil sj informasi yg diberikan tp itu sudah lebih dari cukup dalam memberikan gambaran singkat ttg kota kelahiranku nan tercinta ini.. Moga suatu saat kita bisa bersua dan berbagi lebih banyak lagi ttg kota Watansoppeng.. Sukses slalu mas..

  15. thank you ya,,tulisannya bikin saya merinding,dan berpikir ahh,,bahkan org lain(bukan org daerah SOPPENG) bisa berpikir seperti ini,ini buat saya sadar kalo masih banyak yg bisa di kembangkan di soppeng,,pas saya baca kaliamat yg “Bayangkan anda berada di kota-kota pegunungan di Eropa, mungkin di Swiss atau di deretan Kaukasia” saya merasa sgt beruntung bisa dilahirkan dan menikmati keindahan SOPPENG sesuka saya,kapan pun saya mau, 🙂

  16. Makasih banyak min, sdh berkunjung dan menggambarkan keindahan yg dimiliki tanah kelahiran kedua orang tua saya.. Jadi pengen cepet2 lebaran rasanya dan balik lagi kesini.. (^-^)v

  17. Merindukan suasana soppeng tanah kelahiranku,2012 terakhir saya menginjakkan kaki ke tanah soppeng.

  18. Dari saya sekolah SD sampai SMA tiap tahun saya selalu pulkam ke tanah soppeng tempat nenek,tempat kelahiran ke dua ortu saya dan dimana saya juga dilahirkan.Semanjak lulus SMA 2003 lalu saya uda jarang balik ke kampung halaman di akibatkan karena tugas di kalimantan dan jakarta,salam kenal buat admin dan semua saudara/i yang ada di sini.

  19. Terima kasih mas atas tulisan yg memberikan info kpda masyarakt luas tntang Kab.Soppeng…ada sdkit keraguan yg mngatakan bahwa petugasnya saja bingung…mngkin sja wktu itu bukan saya yg memandu mas…mngkin sja pegawai baru…tp bolehhlah laen kali mas dtng k soppeng saya siap memandu mas k tmpat2 indh kab.soppeng…salam dri petugas museum Latemmamal#villa yuliana

  20. Sayangnya perhatian pemerintah terhadap potensi pariwisata ini masih sangat kurang. Ada kesan kurang dipelihara dan dirawat jika kita berkunjung ke tempat2 itu. Salam Yassisoppengi.

  21. Mlihat gedung tinggi yg megah bangunan Belanda, sy teringat masa kecil dithun 1952 tinggal digedung ini selama +- 2 thn. Waktu itu ditinggali HA Wana datu Soppeng sebagai penguasa pemerintahan swapraja saat itu. Sekarang dijadikam musium yg sebelumnya dijadikan Mess Pemda setelah datu (alm) pindah dirumah sekarang ini. Waktu itu banyak gadis-gadis anak raja-raja keluarga datu tinggal bersama. Tetapi krn sama2 masih anak2 belita (umur 4-8 th) blm ngerti namanya pacaran. Ini nostagia sy +- 65 th y.l

  22. Soppeng kalau hari2 biasa itu sepi, tapi kalau mau lebaran, langsung jadi ramai kayak jakarta, para perantau pulkam semua. saking sepinya, kota soppeng ngak ada lampu merah/ lalu lintas nya (atau sudah ada) ?

  23. Selain dipusat kota soppeng ,masih banyak daerah wisata dkabupaten soppeng salah satunya kampung saya yg terletak diDesa umpungeng,Dusun umpungeng,kec.lalabata .pusat pembuatan gula merah(aren),pemandangan alam yang indah yang masih alami.ditunggu kedatangannya mas bro n mbak bro…

  24. Komentar:sy sampai terharu membaca postinganx mas…sy tambah bangga dilahirkan disoppeng…ditunggu kedatanganx lg dikota soppeng dan jgn lupa berkunjung ke umpungeng kecamatan lalabata desa klahiranku…

  25. waaah soppeng luar biasa bangga jdi org soppeng. ada lagi keistimewaan soppeng. titik nol indonesia berada di dusun umpungeng. terima kasih telah berkunjung kak

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here