DSC_0539

Losari dahulu dikenal sebagai pusat kuliner di Makassar, sepanjang garis pantai berjajar lapak-lapak makanan yang memenuhi jalanan. Bahkan saking terkenalnya kalau tidak salah dulu Losari pernah masuk ke dalam Buku Rekor Dunia sebagai tempat kuliner terpanjang di dunia. Tapi itu dulu, Makassar sudah berbenah, di Losari tidak ada lapak-lapak makanan kecuali garis pantai yang membentang dan dipercantik dengan ruang terbuka yang cantik.

Yang menarik dari Losari adalah masih bertahannya beberapa kios-kios tua yang berdiri di sepanjang jalan di garis pantai Losari. Banyak yang sudah tumbang karena modernisasi, tapi untunglah masih ada kios-kios yang berdiri tegak tanpa perubahan sejak berpuluh tahun yang lalu. Salah satunya adalah Kios Semarang Losari, salah satu restoran paling legendaris di Makassar, yang menjadi saksi bagaimana berkembangnya Losari sejak era 1970-an.

Entah kenapa rumah makan ini dinamai Kios Semarang, apakah ada kaitannya dengan Kota Semarang? Entah, sejak dulu sudah begini. Rumah makan ini diinisiasi oleh seorang Tionghoa yang akrab dipanggil Koh Aming sekitar tahun 1975. Kala itu tentunya Losari belum seramai sekarang dan pembangunan  di Makassar – yang dahulu disebut Ujung Pandang – sedang mulai menggeliat, kala itu Koh Aming mencoba menawarkan rumah makan dengan menu khas dataran Cina di Losari.

Bangunannya kotak biasa, seperti umumnya bangunan lawas. Kios ini terdiri dari 2 lantai, lantai 1 adalah toko kaset, lantai 2 dan 3 barulah ruang untuk tempat makan dan dapur. Saya sempat lama di lantai 1, disini adalah surga bagi pecinta rilisan fisik, ada banyak sekali kaset musik dan piringan hitam dari puluhan tahun ke belakang. Di era dimana semua karya musik tinggal unduh di internet, Kios Semarang memberikan setitik ruang untuk nostalgia dengan menjual keping kenangan berupa kaset dan piringan hitam.

DSC_0541

Awal Popularitas

Kios Semarang tumbuh di waktu tepat bersama dengan gairah pembangunan Ujung Pandang. Era 1970-an adalah era dimana dimulainya proyek pembangunan skala besar di daerah Sulawesi Selatan, walhasil Ujung Pandang menjadi tempat transit yang tepat dan mengalami perkembangan yang cukup pesat. Ini berdampak di Losari, dimana kawasan ini mulai ramai sebagai tempat pelesir bagi mereka yang datang ke Makassar atau hanya sekadar singgah mampir.

Di sebuah sudut Losari yang menghadap pantai, Kios Semarang turut menemani geliat pembangunan Sulawesi Selatan. Hal ini karena banyak proyek pembangunan di Indonesia bagian Timur kemudian mengundang banyak tenaga kerja asing di Ujung Pandang, mereka yang bekerja untuk proyek tersebut kemudian banyak yang singgah di Ujung Pandang. Di kala senggang mereka kemudian butuh tempat untuk sekedar nongkrong dan berbincang melepas lelah, dan di Kios Semarang inilah mereka melakukannya.

Kenapa para ekspatriat memilih Kios Semarang sebagai tempat bersantai? Teman saya, Mawar yang mengajak saya kesini mengajukan jawaban yang bisa jadi benar. Mawar bercerita bahwa di awal 1980-an di Ujung Pandang, hanya Kios Semarang-lah yang menjual bir, kala itu sedang ramai razia minuman beralkohol di Ujung Pandang. Para tenaga kerja asing suka dengan ini, mereka butuh minuman beralkohol untuk meredakan ketegangan sekaligus teman makan bercengkerama, seperti yang lazim mereka lakukan di negaranya. Ada seloroh, jika di Ujung Pandang tidak ada bir, maka di Kios Semarang bir tidak dirazia dan bebas dijualbelikan, tapi hanya khusus bule, maka mereka tak perlu khawatir minum-minum bir di Kios Semarang. Idiom tentang satu-satunya tempat nge-bir di Ujung Pandang ini sampai-sampai membuat Kios Semarang disponsori oleh sebuah produk bir lokal.

DSC_0545

Lambat-laun melalui cerita dari mulut ke mulut, Kios Semarang semakin ramai lantas populer di kalangan ekspatriat. Mereka menjadikan Kios Semarang sebagai tempat untuk bersantai, mungkin mereka rindu berkumpul di bar seperti di negara mereka, jadilah Kios Semarang dijadikan arena mirip bar, makan, minum, bersenda gurau sampai malam.

Namun kepopuleran ini rupanya tak hanya soal bir, ada hal yang lain yang kemudian mengangkat nama Kios Semarang, yaitu olahraga lari. Lho apa hubungannya? Rupanya ada seorang ekspatriat yang bernama Bill Bergquist yang sering nongkrong di Kios Semarang dan berinisiatif membentuk Makassar Hash House Harriers, semacam klub lari di kalangan ekspatriat. Hash mungkin salah satu klub lari yang paling tua di dunia, sudah ada sejak tahun 1930-an, jauh sebelum gegap gempita lari menjangkit bak virus bagi kelas menengah sekarang ini. Dipopulerkan oleh orang-orang Inggris di Malaysia kala itu yang butuh sarana pelepasan penat di akhir minggu. Akhirnya mereka kemudian membentuk klub lari dan rutin bersama-sama berlari setiap akhir minggu.

Hash sedikit berbeda dengan klub lari biasa, Hash menelusuri rute-rute lintas alam, terkadang sedikit ekstrim. Acara mingguannya dikenal sebagai Hash Run, pelarinya adalah Hasher, cara larinya adalah setiap Hasher diberi selembar kertas dan harus mengikuti rute tersebut dari awal sampai akhir, rutenya berbasis alam, masuk – keluar persawahan, naik turun perbukitan.

Bill Berquist yang kemudian akrab dengan panggilan Wings kemudian dianggap sebagai pendiri Makassar Hash House Harriers dan Kios Semarang ini menjadi markas bagi para Hasher di Ujung Pandang sejak 1980-an sampai sekarang. Setiap akhir pekan, Hasher akan berkumpul dan mulai berlari dari rumah makan ini dan kembali lagi setelah selesai hashing. Nama Kios Semarang pun makin populer di kalangan Hasher di seluruh dunia, mereka para hasher yang menyambangi Ujung Pandang pun pasti mampir di Kios Semarang.

Lama kelamaan Kios Semarang tak hanya popular di kalangan hasher atau tenaga kerja asing saja. Perlahan Kios Semarang menjadi tempat singgah para backpacker dari mancanegara yang datang ke Makassar. Ini tak lain adalah karena cerita dari para ekspatriat tentang Kios Semarang yang kemudian terdengar bagi para koleganya, pun dengan orang-orang Ujung Pandang pun sudah menganggap Kios Semarang adalah tempat bule berkumpul, jadilah jika ada bule datang ke Ujung Pandang hampir mayoritas orang Ujung Pandang akan mereferensikan Kios Semarang.

Tak heran Kios Semarang menjadi legenda kemudian. Di kalangan Backpacker terutama dari mancanegara, Kios Semarang menjadi bahan pembicaraan, mereka saling mereferensikan Kios Semarang pada sesama Backpacker. Tak heran namanya kemudian masuk Lonely Planet sebagai salah satu restoran yang wajib kunjung saat di Ujung Pandang, salah satu buku panduan perjalanan yang menjadi kitab wajib para pejalan. Dari sinilah nama Kios Semarang kemudian lekat dan menjadi legenda di kalangan backpacker mancanegara.

DSC_0578

DSC_0557

Sajian Nikmat Berteman Senja

Kala terbaik menikmati Kios Semarang adalah saat senja tiba, sama halnya saat yang tepat untuk menikmati Losari. Siapapun pun sepakat bahwa Losari adalah salah satu garis pantai dengan panorama senja terindah yang paling indah di Ujung Pandang. Saya menjadi saksinya, garis kuning mentari surup menyambar-nyambar bibir pantai lantas sebagian terpantul di bibir pantai, pecah semerbak. Tipe senja di Losari adalah senja yang menggetarkan, bukan senja yang mendayu-dayu. Senja dari Losari adalah senja yang penuh gelora dan semangat, bukan senja yang romantis dan puitis.

Mawar, kawan saya tadi biasanya menikmati senja dari lantai 3 Kios Semarang sembari menikmati senja Losari. Menurutnya yang lebih nikmat dibanding menikmati senja Losari dengan garis api yang menyala-nyala menyambar bibir pantai dengan segelas bir dingin dan mengudap Sayap Ayam Goreng khas Kios Semarang. Saya tidak bisa bilang tidak, pemandangan dari balkon lantai 3 memang memukau, dari kejauhan tampak garis pantai, sementara senja surup perlahan bisa dinikmati dengan begitu santai.

Bicara soal menu khas, Sayap Ayam Goreng memang salah satu yang menjadi favorit di sini. Digoreng biasa dan dicocol dengan sambal yang menurut saya cukup unik, sambalnya pedas dengan aroma agak asam namun juga ada harum rempah. Saya juga kesulitan mendeskripsikan bagaimana rasa Sayap Ayam Gorengnya, digoreng kering dengan lumuran bumbu di bagian luar, ada semacam aroma rempah semerbak pada kulit ayamnya, begitu digigit, bumbunya meresap baik sampai ke dalam. Tekstur dagingnya seolah diisi oleh bumbu yang meresap tadi, gurih-gurih harum, entah saya bingung mendeskripsikannya. Rasanya yang kaya ini mau tak mau memang membuat saya sepakat bahwa menu ini memang layak menjadi menu favorit.

DSC_0565

Menu lainnya adalah seperti umumnya restoran Cina, ada capcay dan fuyunghai, ada juga macam restoran seafood kebanyakan, seperti olahan udang dan cumi serta tak boleh lupa Cah Kangkung. Ada 1 lagi menu yang menjadi candu disini, yaitu Kodok Goreng dengan berbagai macam bumbu. Saya tak berani mencobanya karena tidak halal, mungkin akan mirip Swikee, entah, tapi menurut yang sudah mencobanya, rasa enaknya naik sampai ke ubun-ubun. Bumbunya memikat dan membuat orang tak berhenti mengudapnya.

Menjelang malam rumah makan tampak makin ramai, dan bisa ditebak, kemudian beberapa bule masuk dan duduk. Di depan saya ada serombongan turis membawa serta seluruh anggota keluarganya duduk di bagian tengah lantai 3, tampak ransel disandarkan pada kursi. Bagian tengah lantai 3 memang menjadi favorit pengunjung, areanya terbuka tanpa atap, dari tempat itu pandangan bisa langsung jauh ke lepas pantai Losari. Sementara pada bagian atas terdapat neon boar“Kios Semarang” masing-masing berwarna biru dan merah yang biasanya menjadi background populer untuk berfoto disini.

DSC_0572

Semakin malam Kios Semarang semakin riuh dan padat, pramusaji hilir mudik sementara enci pemilik restoran mengamati dengan senyum dari balik meja kasir. Saya menyudahi kunjungan seusai mengandaskan satu porsi Ayam Goreng. Tak butuh waktu lama bagi saya yang penggemar restoran tua menjadikan Kios Semarang menjadi restoran favorit di Makassar. Tak heran Kios Semarang masih bertahan dan tetap melegenda, di tengah riuh pembangunan yang begitu cepat di sekitar Losari, dimana bangunan modern terus berdiri menyingkirkan bangunan lama, Kios Semarang masih terus berdiri, melestarikan kenangan, menyimpan cerita bagi siapa saja, cerita tentang tumbuh kembang Pantai Losari.

Tabik.

Lokasi : Jl. Penghibur 20 A, Makassar (susuri saja garis pantai Losari)

List di Lonely Planet.

Referensi tambahan : 1 dan 2.

Follow Efenerr on WordPress.com

16 KOMENTAR

  1. waow, sepertinya saya melewatkan tempat yang menarik sewaktu saya singgah di Losari beberapa tahun lalu. Ah, ini pasti karena saya terlalu lama terbuai dengan Pisang Epe. >.<

  2. Wah saya kenal kios ini dari akhir tahun 70an tapi selalu menganggapnya sebagai restoran keluarga. Baru tau malah kalau itu tempat ngebir….soalnya saya sering datang kala sunset, saat orang belum mulai hedon:) ya, hampir tiap minggu selama 5 tahun di makassar saya ke kios ini dengan menu sama: nyuknyang dan es duren. Itu aja. Gak pernah nyoba yang lain.
    Jadi kios semarang buat saya, rasa kenangan…..dengan sunset yang nyaris gak pernah gagal….

    • haha.. 🙂
      sebenarnya mungkin restoran keluarga ya? sekarang pun banyak keluarga yang mampir kog mbak.
      benar, mungkin Kios Semarang akan menjadi tempat sentimentil bagi mereka yang memiliki kenangan bersamanya.

  3. Yahhhh, ketemu lagi. he he he. . . ternyata kita satu grup di Blogpacker yah? he he he. . .

    Foto neon board kios semarang merah biru itu lebih kuat om dari pada foto pembukanya. Kalaupun foto kios semarang di awal pembuka dipilih karena retronya. berarti angel fotonya nih yang perlu di eksplore. Bisa bangunannya. Atau mungkin hurufnya tapi dengan perspektif mata kucing, atau mata cacing. saya bukan ahlinya. saya nggak punya kamera malah 😛

    Baca artikelnya. Berasa kayak nongkrong seharian di tempat nongkrong yang cozy dan berkarakter kuat. artikelnya sukses ! cuma kalau saya, pilih judulnya untuk artikel semewah ini. Nggak akan pakai judul general seperti itu bung. mungkin saya utak-atik lagi judulnya. semisal “Kios Legendaris Dari Losari”, atau “Kios Semarang The Legend”, atau karena bang effener sudah punya nama. “The Legend” aja udah bikin pembaca WOW. kalau mau lebih Indonesia dan Dramatis “Legenda Di Bibir Senja Losari”.

    recently post. http://escaperrzz.blogspot.com/2014/01/wanita-di-mata-seorang-traveler.html

    • wow..makasih komen panjangnya. 🙂
      perspektif kenapa saya pasang cover foto yang bawah adalah karena saya ingin menangkap elemen art deco yang ada di bangunan tua, untuk menguatkan kesan bangunan tua untuk restoran tua. kalau neon board, sudah terlalu umum dan tidak ada nuansa bangunan tuanya. 🙂
      soal judul, saya awalnya mau memberi judul “bir dingin dan senja yang tak pernah gagal” 🙂

  4. Kemarin saya baru saja bertandang ke tempat ini. Melihat teman-teman menyantap kodok goreng dengan lahapnya. Saya memilih menghabiskan nasi plus sambal udang hahaha

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here