IMG_2459
Jonker Walk

Datanglah saat akhir pekan ke Melaka. Kota bersejarah di tepi Selat Malaka ini akan sangat semarak, apalagi saat malam menjelang, mendadak kota akan hiruk pikuk dan penuh riuh. Panorama siang dan malam di Melaka akan meninggalkan kesan yang berbeda. Jika siang kita bisa menikmati bangunan bersejarah, maka di kala malam kita bisa menikmati Melaka sebagai bandar besar. Letaknya yang strategis membuat Melaka di masa lalu menjadi kota besar dan bandar tempat berlabuhnya kapal-kapal dagang. Sebagai pelabuhan besar, Melaka tak hanya tumbuh sebagai kota dagang, tapi juga tempat bertemunya bangsa-bangsa. Jadilah Melaka menjadi kota multietnis dengan berbagai ras suku bangsa yang lantas menetap.

Saya tentunya tak ingin melewatkan malam di Melaka dengan selintas lewat saja. Ada yang menarik di Melaka saat malam tiba, Pasar Malam. Sebagai seseorang yang gemar menyambangi pasar-pasar tradisional tentunya menikmati Pasar Malam di Melaka adalah agenda yang tak boleh terlewat. Semenjak tiba di Melaka saya sudah memasukkan pasar malam sebagai tempat wajib kunjung, keramaian, kultur dan manusia-manusia yang datang di pasar adalah daya tarik yang harus direkam dalam perjalanan.

IMG_2435
Jonker Walk
IMG_2464
Jonker Walk
IMG_2452
Jonker Walk

Pasar malam yang paling tersohor di Melaka ada di Jonker Walk. Sebenarnya sedikit tidak tepat jika disebut pasar malam, karena nyatanya saat siang pun lapak-lapak dagangan pun sudah menjamur di Jonker Walk. Tapi berbeda di malam hari, Jonker Walk ramai sesak, semua tumpah ruah menikmati pasar malam. Pasar malam Jonker Walk memang sudah jadi atraksi wisata utama di Melaka, pantas saja jika banjir manusia.

Dari ujung Jonker Walk saya masuk ke dalam, menyeruak  di tengah-tengah kerumunan manusia. Pembeli dan penjual saling sibuk tawar menawar, saling sibuk tarik ulur harga. Pembeli sibuk menarik hati pembeli, mata pembeli pun ke sana kemari melihat barang yang menarik hati. Karena Jonker Walk adalah kawasan pecinan, maka banyak barang yang dijual pun banyak barang-barang bernuasa Tionghoa.

Penjual – penjual di sini rata-rata peranakan. Beberapa ramai melayani pembeli, beberapa lagi termangu lapaknya sepi. Ada yang matanya berbinar dengan ringgit di tangan ada juga yang wajahnya sayu karena dagangannya belum terbeli. Dinamisnya pasar malam adalah dunia tersendiri, dunia yang penuh dengan cerita manusia di dalamnya. Terlintas iba saat melihat dagangan seorang oma yang terpekur sendirian menjaga dagangannya, saya akhirnya membeli sebotol air mineral padanya. Tapi di pasar malam saya juga berkeras menahan untuk tidak membeli kaos manis bertuliskan Melaka walaupun dirayu oleh penjual yang cantik molek.

“Nak berape?” Tanya seorang engkoh-engkoh penjual Pancake Durian, Saya jawab “Satu saje” dengan logat di-melayu-melayukan. Pancake durian di Melaka berbeda dengan di Medan, lebih mirip kue leker, duriannya dikukus langsung. Bayangkan hangatnya kue pancake bercampur dengan aroma durian yang semerbak, benar-benar menggoda lidah. Berikutnya saya melihat kue lapis, semacam bacang sampai kue apem. Dari sini saya punya catatan tersendiri, ternyata makanan yang selama ini saya kira makanan tradisional dari Jawa rupanya akarnya adalah makanan peranakan, saudara-saudara Tionghoa saya di Jonker Walk menyadarkannya.

IMG_2439
Jonker Walk
IMG_2460
Jonker Walk
IMG_2450
Jonker Walk
IMG_2455
Jonker Walk

Namun di Jonker Walk tak melulu soal kuliner atau jajanan yang unik dan nikmat, ada banyak juga selain itu seperti pernak-pernik, gantungan kunci, alat-alat elektronik sampai kaos-kaos khas Melaka untuk oleh-oleh. Pasar malam yang makin malam makin meriah ini adalah pertemuan berbagai macam suku bangsa, barat, melayu, peranakan tiongkok, india dan asia tengah sampai afrika. Sahut-sahutan antar bahasa terjadi di sini, sahut-sahutan bahasa tionghoa, melayu, inggris, india sampai lamat-lamat bahasa indonesia bercampur riuh jadi satu.

Saya melintaskan bayangan ratusan tahun ke belakang, pasar malam ini pasti ramai para pelaut yang turun jangkar di pelabuhan Melaka. Para pelaut dari tanah barat dan hendak ke timur, melepas lelah di Melaka atau saling bertukar barang di Melaka. Bisa jadi, pasar malam ini juga sudah berusia ratusan tahun sejak era Melaka menjadi pelabuhan besar dan di era sekarang, pasar malam di Melaka dikemas ulang menjadi atraksi wisata yang menarik banyak wisatawan.

Hampir tengah malam ketika saya tiba di penginapan dengan sekantung penuh barang bawaan. Saya merebahkan diri di sofa sebelum masuk ke kamar. Ketika tiba-tiba resepsionis menegur saya “Besok cuba pasar malam di dekat hotel”, katanya. “Lho ada?” Jawab saya, memang saya belum sempat berkeliling di sekitar hotel, jadi belum tahu bagaimana lingkungan sekitar hotel. “Ade, cuma nak tamai macam di Jonker”, jawabnya menerangkan. Bertambah lagi satu tempat yang harus dikunjungi esok hari.

IMG_2457
Jonker Walk
IMG_2462
Jonker Walk

Malam berikutnya saya sudah menuju pasar malam dekat penginapan sekalian cari makan malam. Untung Melaka cukup cerah, walaupun sepanjang siang terkurung mendung, siang sebelumnya saya yang menjalani ritual berjalan di Melaka Heritage Walk pun cukup was-was jika tiba-tiba Melaka dirundung hujan. Penginapan saya ada di ruko-ruko sekitar Jalan PM, persis di seberang Menara Tamingsari. Penginapannya kecil, kebanyakan diinapi oleh mahasiswa kursus kecantikan yang menginap sampai berbulan-bulan, baru para turis seperti saya dan beberapa lagi turis dari Eropa. Benar saja, pasar malamnya dekat dari hotel, hanya berjalan melintas beberapa blok.

Saya tak tahu apa nama pasar malamnya, mungkin Pasar Malam Jalan PM, mungkin Pasar Malam Seberang Tamingsari. Yang jelas pasar malam di sini tidak seramai dan selengkap di Jongker. Penjualnya pun kebanyakan orang-orang Melayu, demikian juga yang berbelanja di sini, kebanyakan orang-orang Melayu dan ada juga orang rantau dari Indonesia, saya sempat bercakap dengan salah satu dari mereka ketika mereka menegur saya yang sedang tawar menawar dengan bahasa Indonesia.

Di pasar malam ini yang dijual lebih banyak pakaian dan sepatu, lebih ke pasar malam gaya hidup. Ada beberapa kuliner, tapi tampaknya tak ada yang khas, hanya stand gorengan dan minuman. Yang saya coba di pasar malam di sini adalah Apam Balik Garing, saya kira jika di Indonesia ini diberi nama Kue Leker, dengan taburan coklat dan keju.

IMG_2191
Pasar Malam Jalan PM
IMG_2203
Pasar Malam Jalan PM
IMG_2192
Pasar Malam Jalan PM
IMG_2193
Pasar Malam Jalan PM

Saya merasa lebih nyaman berbelanja di sini, lebih lega tidak ramai sesak di Jonker Walk. Di dekat pasar malam ternyata juga ada toko oleh-oleh besar dan buka hampir 24 jam. Mungkin jika ingin berbelanja oleh-oleh seperti kaos atau jilbab di sini lebih nyaman daripada harus bersesak-sesak di Jonker Walk karena lebih lengang dan mungkin pembeli pun jadi bisa memiliki waktu untuk memilih barang yang diinginkan.

Ternyata setelah bertanya-tanya dan mencari sekeliling ada juga yang rasanya cukup khas di pasar malam Jalan PM ini, yaitu stand Nasi Lemak Kukus. Nasi Lemak Kukus ini jika di Indonesia adalah nasi uduk, lengkap dengan ayam gorengnya. Nama lengkapnya adalah Nasi Lemak Kukus Ayam Dara Berempah, sebenarnya nama ini bisa dijelaskan dengan menu yang tersaji, nasi uduk dengan ayam goreng bumbu rempah. Yang membedakan adalah aroma rempahnya lebih pekat dan menyeruak dibandingkan dengan nasi uduk dan ayam goreng di Indonesia, semisal di Nasi Uduk Kebon Kacang, Tanah Abang misalnya.

IMG_2187
Pasar Malam Jalan PM
IMG_2222
Pasar Malam Jalan PM

Tak perlu waktu lama untuk berkeliling di pasar malam ini karena memang pasar malam ini hanya saruas jalan kecil, beberapa blok ruko. Bukan pasar malam sepanjang jalan seperti di Jonker Walk. Tapi 2 malam di Melaka dengan 2 pasar malam yang berbeda membuat saya sedikit meraba bagaimana kehidupan Melaka yang ramai baik siang dan malamnya. Jika di Jonker kental dengan nuansa TIonghoa, maka di Pasar Malam Jalan PM kita bisa melihat bagaimana dinamisnya orang Melayu di Melaka.

Saya mencatat bagaimana interaksi berbagai suku bangsa dari pasar malam di Jonker Walk, tapi saya juga bisa merekam bagaimana gaya fashion orang – orang Melayu Malaysia di pasar malam Jalan PM. Tapi di balik riuh rendah pasar malam saya juga melihat bagaimana simpul-simpul tradisi tetap dijaga, simpul jual beli yang paling sederhana justru menjadi daya tarik. Bahkan ketika ditandingkan dengan pasar modern yang gedungnya besar dan jaraknya tak sampai sepuluh menit berjalan kaki, kedua pasar malam ini masih mampu menjadi magnet pengunjung. Itulah dinamisnya pasar malam yang tak akan gentar menghadapi serbuan pasar modern dengan berbagai sajian modern-nya.

Ada catatan bagus dari pasar malam di Melaka yang wakatunya sampai larut sekali, bahkan sampai menjelang pagi. Walau sampai menjelang pagi, namun saat saya melintas di pagi hari, kawasan yang malamnya adalah pasar malam sudah bersih sekali, rapi, hampir tidak ditemui sampah. Saya sempat melihat kantong-kantong plastik besar di stand-stan pasar malam malam harinya, mungkin tiap stand punya kesadaran untuk mengelola sampah masing-masing, jadi paginya petugas kebersihan tinggal mengumpulkan tak harus susah payah membersihkan ulang.

Mungkin memang benar bahwa pasar adalah cerminan masyarakat sebuah kota, sementara pasar malam adalah cerminan dinamisnya kota itu sendiri. Bagi saya pasar malam tak sesederhana tempat jual beli, pasar malam adalah ruang besar observasi kota itu sendiri. Atau pasar malam tak segampang melihat lalu-lalang pembeli dan teriakan lantang penjual, banyak kisah yang pasti terekam di pasar malam. Pamungkasnya, di Melaka saya merekam lakon hidup di Pasar Malam.

Tabik.

PS : Tiba-tiba terlintas menulis tentang pasar malam karena teringat novel Bukan Pasar Malam karya Pramoedya Ananta Toer. Tulisan ini juga sekedar memorial untuk mengenang Pram yang meninggal di tanggal ini delapan tahun silam. Simak sedikit kutipan dari Bukan Pasar Malam, Dan di dunia ini manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang, seperti dunia dalam pasar malam. Seorang-seorang mereka datang dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana. 

IMG_2201
Pasar Malam Jalan PM
IMG_2204
Pasar Malam Jalan PM
IMG_2205
Pasar Malam Jalan PM
IMG_2194
Pasar Malam Jalan PM
IMG_2190
Pasar Malam Jalan PM
Follow Efenerr on WordPress.com

16 KOMENTAR

  1. Ah, sebetulnya saya penasaran bagaimana pemerintah Malaysia mengelola pedagang kaki lima agar tak semerawut seperti di Indonesia sini. Jangankan pedagang kaki lima di pasar malam, yang tidak di pasar malam sekalipun kadang semerawut dan bikin pejalan kaki dan lalu lintas jadi tidak nyaman. 🙁

    Ah, kalau bicara tentang Bukan Pasar Malamnya Pramoedya saya jadi teringat ayah saya…

  2. Buat saya, pasar malam selalu menawarkan kejutan, selalu ada barang-barang yang sulit ditemukan di pasar siang. Sama seperti saat kuliah di jogja, saya selalu senang berkunjung ke pasar malam seperti klithikan dan semacamnya.

  3. sabtu kemaren ke jonker mas, penuh -_-, susah cari makanan halal ya

    tadinya mau ke pasar malam jalan PM, tp dah kemaleman, keburu ngantuk

    emang ga cukup ya ke melaka cuman 1 hari 1 malam (sedih)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here