IMG_7241
Willy dan Jaket Abercrombie & Fitch

Baju bekas mungkin selalu diidentikkan kelas bawah, tapi siapa nyana di Gedebage baju bekas adalah berkah, baju bekas adalah komoditi laris dan paling dicari. Di sisi Jalan Soekarno-Hatta di belakang Pasar Gedebage, ada Cimol, rumah untuk baju-baju bekas di Bandung. Bagi urang Bandung siapa tidak kenal Cimol Gedebage? sentra baju bekas terbesar di Bandung dan bisa jadi se-Indonesia. Di sinilah ketika baju-baju bekas naik strata.

Sejarahnya melalui beberapa dekade. Dulu Cimol lokasinya tidak di Gedebage, tapi di Cibadak. Di emperan Jalan Cibadak pertama kalinya baju-baju bekas dijualbelikan di Bandung, sekitar awal tahun 90-an. Sebutan Cimol sebenarnya adalah plesetan dari Cibadak Mall, tentunya Mall yang lantas dibaca “Mol” menyesuaikan lidah urang Bandung. Cibadak kala itu memang dianggap mall-nya bagi baju-baju bekas di Bandung.

Tapi kemudian para penjual baju-baju bekas ini berpindah-pindah. Sempat di Kebon Kelapa sampai Tegallega, akhirnya Pemkot Bandung menyediakan tempat yang luas di Gedebage untuk melokalisir para pedagang baju bekas pada awal 2000-an, makaa sejak itulah Cimol identik dengan Gedebage. Walau sebenarnya pedagang baju bekas di Bandung menyebar di Cicadas, Kiaracondong, hari jumat di Pusdai dan minggu di Gasibu tapi di Gedebage-lah yang paling besar skalanya.

Di tempat ini, para pedagang baju bekas mendapat fasilitas yang sebenarnya cukup memadai. Bangunan pasar yang memuat ratusan los, tempat parkir yang luas sampai los-los makanan. Selain pedagang baju bekas, di Cimol Gedebage juga mudah dijumpai para tukang permak baju. Biasanya para pembeli yang kurang puas dengan ukuran baju yang dibeli akan langsung menyambangi para tukang permak untuk merombak bajunya.

IMG_7224
Konter jaket bekas

Saya sendiri memang pelanggan loyal di sini, pacar saya pun demikian. Walaupun untuk ke Gedebage saya butuh usaha lebih. Lokasinya yang sering diselorohi Bandung coret memang agak jauh dari pusat kota dan harus menempuhn banyak titik kemacetan. Beda dengan pacar saya yang memang rumahnya di seberang Gedebage, tinggal sekali naik angkot, pantas saja setiap mudik selalu cuci mata di Cimol.

Selama soal fashion, tidak ada yang tidak dijual di sini. Hampir semua jenis produk pakaian ada, hendak cari yang macam mana pasti ada. Jaket, t-shirt, kemeja, celana, jas, topi, tas, bahkan sleeping bag, jilbab sampai bed cover pun ada. Mayoritas bekas, beberapa memang ada barang baru karena para pedagang sudah mulai menambah koleksinya dengan barang baru.

Tapi sajian utamanya memang baju bekas dan segala macamnya. Tapi inilah spesialnya, baju-baju bekas yang dijual bukanlah baju bekas yang usang atau tak layak pakai, baju bekas di sini adalah baju bekas yang masih sangat mulus dan sangat layak dipakai, beberapa malah mirip sekali dengan barang baru.

Jika sudah beberapa kali ke pasar ini pasti akan mengerti bagaimana segmentasi para penjual baju bekas di Gedebage. Mereka masing-masing sudah punya pasar dan juga pelanggan masing-masing. Mungkin ada yang sedikit mengernyingkan mata ketika bicara baju bekas, ada yang berpikiran apakah bajunya bersih atau tidak, sebagian lain mungkin ragu-ragu dengan kualitasnya.

Buat saya sendiri hal-hal itu bukan masalah, musababnya baju-baju bekas di Cimol Gedebage, jika pandai memilih itu sama saja dengan baju-baju di Department Store ternama. Kalaupun dipakai juga tidak akan kentara mana yang baru mana yang bekas.

Di mata saya, Cimol Gedebage mengalahkan etalase ternama di mall paling besar ibukota. Apa yang saya temukan kadang adalah harta karun, merk-merk unik yang tidak masuk ke Indonesia. Saya jadi ingat ketika beberapa waktu lalu ada rilis brand Uniqlo di Indonesia yang cukup mengundang kehebohan khalayak. Lucunya di Cimol Gedebage, Uniqlo bahkan sudah menjadi brand favorit dan paling laris sejak bertahun-tahun sebelumnya.

IMG_7231
Parka

Penjual Langganan

Saya bahkan sampai punya langganan di sana, namanya Willy. Di los yang disewa Willy, dia menyediakan beraneka ragam jaket untuk para pembeli. Satu yang saya suka dari Willya adalah koleksi jaketnya yang rata-rata adalah brand terkenal dengan kondisinya yang masih sangat mulus.

Willy selalu mempunyai barang bagus dan saya tak hendaknya menyangkalnya. Bagi pelanggan tetapnya, Willy akan menyimpankan barang-barang terbaiknya.

Ini mas, Abercrombie, baru juga saya keluarin dari bal, buat mas 150 aja buka harga, boleh tawar lah.” Sambilmenyodorkan jaket Abercrombie warna cokelat pada saya.

Kata Willy ini koleksi terbaiknya saat saya datang ke sana. “mumpung belum dilirik orang, ini laris soalnya” lanjutnya.

Koleksi jaket yang dijual Willy beragam dan mengikuti zaman, Willy sendiri ikut mempelajari trend. Dia tahu apa-apa saja yang sedang trend di kalangan konsumen. “sekarang lagi pada suka parka mas, carinya yang Harrington, setiap saya keluarkan pasti ludes” 

“Ada juga pelanggan dari Jogja, anak hip-hop, setiap bulan dia ke sini. Dia carinya Abercrombie, Fubu, setiap ada barangnya pasti dia beli.”

Kejelian Willy membaca trend membuat losnya selalu ramai, ketika saya datang sedang ada beberapa pembeli yang sedang memilih jaket, saya terka mereka masih mahasiswa. Jaket-jaket yang dipajang Willy diatur sedemikian rupa, jaket dari brand-brand ternama ditaruh di bagian muka. Harganya murah-meriah, hampir tidak masuk akal. Harga yang diberikan Willy pun baru harga pembuka, masih bisa tawar menawar.

IMG_7236
Uniqlo, brand yang paling laris di los Willy
IMG_7233
Uniqlo, brand yang paling laris di los Willy

Willy pun memang selektif dalam memilih barang. Ini untuk menjamin barangnya adalah barang bagus dan pembeli pun loyal. Menurutnya ada dua jenis bal, Jepang dan non Jepang. Bal-bal dari Jepang itulah yang dipilih Willy karena barangnya bagus-bagus dan minim cacat.

Saya lantas ingat ketika ke Jepang tahun 2012, saya sempat mengunjungi Hard-Off, jejaring toko barang bekas paling besar di Jepang, barang bekas yang dijual nyaris sama dengan barang baru. Dan memang itu adalah budaya orang Jepang sendiri, mereka akan menyingkirkan barang yang sudah tak terpakai, walaupun barang itu masih dalam kondisi sangat bagus.

Berkeliling di los Willy itu seperti berbelanja di Mall ibukota, brand-brand ternama ada di Los Willy. Fila, Adidas, Nike, Reebok, Uniqlo, Columbia beberapa di antaranya. Jika di mall betulan harganya berkisar antara ratusan ribu sampai jutaan rupiah per pieces-nya, di los Willy harganya hanya puluhan ribu sampai seratusan ribu. Hampir sepersepuluh harga untuk merk yang sama yang dijual di mall-mall.

Selain soal koleksi, saya terkesan dengan pelayanan Willy. Dia selalu tersenyum pada pembeli dan diapun tidak menutupi kondisi barangnya, namanya barang bekas pasti ada cacatnya. Willy pasti akan memberi tahu di mana-mana cacatnya. Soal tawar menawar pun tidak memaksa, yang penting pembeli dan penjual sama-sama ada kata sepakat. Harga jualannya memang tidak tentu, tergantung kondisi, tapi menurut saya harga yang diberikan Willy sudah cukup objektif dan murah tentunya.

IMG_7225
Adidas

Perputaran Uang

Ribuan orang mungkin datang ke Cimol Gedebage setiap harinya, dari pagi buka sampai tutup. Di akhir pekan pengunjung menjadi dua kali lipat, pasar akan penuh sesak oleh pengunjung. Awalnya mayoritas pembeli yang datang adalah mahasiswa, mereka ingin tetap bergaya dengan budget yang minimalis. Tapi sekarang rupanya kalangan atas juga sering datang ke sini.

“Banyak mas, apalagi sabtu -minggu, mobil-mobil Plat B banyak ke sini, yang belanja justru orang-orang kaya, Orang berduit.”. Willy menegaskan.

Rupanya Cimol Gedebage telah merambah kalangan atas. Segmentasinya telah melebar, baju bekas tak hanya jadi pilihan mahasiswa atau masyarakat kelas bawah. Golongan menengah ke atas pun rupanya menjadi pelanggan di sini. Baju bekas yang awal mulanya dianggap miring sekarang rupanya sudah mulai menjadi pilihan.

Tapi itu memang benar adanya, beberapa los memiliki segmentasi untuk golongan menengah ke atas. Saya melihat ada los untuk jas dan blazer premium. Kemudian los yang menjual celana-celana dan kemeja brand papan atas, walau bekas tapi berkualitas. Ada juga los untuk hobiis baju-baju militer luar negeri, yang satu pieces-nya harganya bisa di atas setengah juta.

Gejala ini menarik, menurut Willy mereka, golongan menengah ke atas banyak mencari merk-merk premium yang jarang ada di Indonesia. Kalaupun ada, hanya di tempat-tempat tertentu dan belum tentu ada stok. Yang kedua, mereka ingin tampil unik karena barang-barang di Cimol Gedebage yang rata-rata barang dari luar negeri memang memiliki model yang berbeda dengan trend dalam negeri.

Selera konsumen memang sudah mulai bergeser, ini pun turut membuat mindset para pedagang baju bekas berubah. Di Gedebage saya masih bisa menemukan kaos seharga 15.000 atau jaket seharga 25.000 rupiah, tapi saya juga bisa menemukan jas seharga 700.000 atau celana seharga 600.000. Ini membuat segmentasi barang yang dijual makin luas dan stratanya naik, baju bekas sudah diminati kalangan atas.

IMG_7232
Canadian Club
IMG_7226
Fila dan Abercrombie
IMG_7227
Yonex dan Adidas

Ini baru bicara soal merek dan baju kalangan atas, bila bicara soal perputaran uang bisa lebih menarik. Untuk satu los seperti Willy saja bisa mendapatkan 2 sampai 3 juta seharinya. Katakanlah jika rata-rata satu los di atas satu juta, tinggal kalikan saja dengan total los yang jumlahnya ratusan dalam satu kompleks. Itu baru hitungan kasar, belum hitungan riil dan detail.

Tapi menurut Willy modal yang dikeluarkan juga besar, taksirannya mencapai 20 juta untuk satu los. Tapi jika omzetnya stabil seperti hitungan Willy, mungkin bisa impas dalam waktu beberapa bulan saja. Cimol Gedebage ini sebenarnya memiliki potensi ekonomi yang begitu besar dan seharusnya bisa dikembangkan lebih bagus lagi.

Masalah utama Cimol Gedebage adalah lokasinya yang begitu jauh dari pusat kota Bandung dan bukan kawasan yang familier dengan kawasan wisata. Masalah berikutnya adalah soal kebersihan dan kelayakan, karena bergabung dengan pasar tradisional, kawasan ini benar-benar memprihatinkan, sedikit kumuh dan membuat tidak nyaman.

Padahal dengan berbagai potensinya, pasar ini bisa menjadi besar dan terkenal. Katakanlah dikelola untuk membuat pengunjung lebih nyaman, atau sekalian saja dijadikan objek wisata belanja. Kompleks ini tidak main-main, besar dan menarik untuk dieksplorasi. Mungkin untuk awalnya bisa dilakukan dengan memasang ATM di pasar Cimol Gedebage, hal ini penting karena kadang pembeli bisa kalap sampai kehabisan uang saat belanja.

IMG_7234
Columbia

Saya sih tetap meletakkan pasar ini sebagai pilihan utama untuk berbelanja gear outdoor. Barang-barang berkualitas banyak bertebaran disini. Merk-merk outdoor luar bertebaran, hanya kita sebagai pembeli memang harus jeli-jeli memilih barang supaya bisa mendapatkan barang bagus dan berkualitas. Menurut Willy memang banyak yang mencari jaket outdoor, jaket bermaterial gore-tex, polar dan bulu angsa (bu-lang) pasti menjadi favorit di sini. Itu sebabnya tiga jenis barang itu selalu cepat habis, Willy sering kehabisan stok.

Itu pula yang tujuan utama ke Gedebage selama ini, belanja gear outdoor. Dimana lagi saya bisa mendapatkan jaket  merk ternama yang di mall ibukota harganya jutaan dengan harga puluhan ribu jika tidak di sini? Omong-omong belanja saya di Cimol Gedebage kemarin hanya menghabiskan 120.ooo saja, untuk 1 rompi merek Head, 1 buah jaket motor dan satu buah jaket Uniqlo. Murah kan?

Tabik.

PS

Saya merekomendasikan untuk mengunjungi langganan saya, Willy. Losnya ada di Blok A nomor 101 – 102. Nomor telepon Willy : 085321879460. Silakan sms/telepon untuk menanyakan stok barang, oleh Willy nanti akan diberi stok terbaik.

Tips

Datanglah sepagi mungkin, atau sesore mungkin. Pedagang biasanya akan banting harga serendah-rendahnya.

Follow Efenerr on WordPress.com

99 KOMENTAR

  1. Aku juga suka belanja di Cimol. Dulu beli celana made ini Korea Rp 15,000. Hehehee… Di Taiwan, Uniqlo merebak bak tato di tubuh seksi David Beckham 😀 Kayaknya pakaian-pakaianku yg ala Taiwan bisa dijual di Cimol, atau aku wariskan kepadamu. Kan ini bikinan luar negeri gitu… Kwaakkk…

  2. wah, memang sy juga pernah mendengar tp ya itu lokasi yg jauh dan macet, belum kesampaian ke sana, hanya membayangkan saja, pastinya akan ramai ya

  3. Belum pernah shopping di Gedebage nih, padahal kalau lewat mah sering banget kalau ke Jatinangor.

    Kabita sama parkanya. Itu 150 ditawar berapa kang? Ga bisa nawar euy.

  4. kalo belanja hari biasa lebih murah dari sabtu minggu..
    byasa karena sabtu minggu banyak orang luar bandung yang ke situ jadi aga di up harganya. mau turun banyak juga susah.. 🙁

    kalo hari biasa bs dapet blazer 5 rebu an ahaha

  5. kalo mau shoping k cimall gedebage mumpung sekarang nih,,bisa hantam harga,soalnya lg musim sepi pengunjung,bang pedagang pusing mikirin setoran modal,,

  6. Makasih artikelnya Gan..kemarin saya pergi ke cimol.langsung menyasar los nya mas Willy. Beruntung banget dpt jaket winter uniqlo warna putih dan masih muluuuuuzzz banget. Jadi deh sekeluarga borong di situ. Yonex, Reebok. Elle, dan parka ex Seoul yg cakep bgt. Semua masih mulus abis. Kami suka karena mas Willy ngerti setiap barang, kalo cacat dia secara terbuka kasih info.Harga yang dia buka juga wajar, ga tinggi2 amat, contoh parka dia buka 125ribu, jaket bulu angsa 85ribu. Orangnya ramah dan sabar, kami sampe satu jam di situ pilih2, dia layani dengan senyum. Recommended banget!! Sekali lagi thanks udah share artikel ini mas. Nanti minta ijin saya link di blog saya ya :))

  7. punten kang, numpang tanya nih. karena sebelumnya belum pernah berkunjung di gedebage. kalau di cimol gede bage ini apa hanya menjual pakaian bekas seperti baju, jaket dan celana aja? atau ada barang-barang outdoor gear seperti tas gunung atau sepatu kang. mohon pencerahan nya. Thanks

  8. Mas, kalau sepatu outdoor second luar n jaket parasut luar yg anti basah apa ada di Cimol?. Saya suka kegiatan outdoor. Thanks.

  9. wah, ane kemarin beli jas cuma kena turun 75rb yg asalnya 275rb. tawar 150rb gak dikasih :((
    jdnya bayar 200rb deh.
    tp kainnya bagus bgt sih, tp rada kurang puas gitu dgn harganya, hehehe

  10. Kang maaf mau tanya, kalau barang second gitu bekas orang atau apa ya? kata teman saya arti second itu barang yang stock lama tidak terjual akhirnya di obral dari negara yang bersangkutan seperti China, korea, jepang dan negar-negara yang lainya

  11. apa ngga kemahalan ya harganya ? saya banyak beli jaket luar mulus2, bahannya bagus pisan….disini di sekitar jakarta, tangerang kagak ada harganya yg diatas 100 rb, malah saya seringnya beli dapat tiga jaket 100 rb.

  12. Saya baru ke losnya kang Willy, beli jaket Uniqlo dan Duluth, total 190 rb. Kondisi mulus, cuma perlu dicuci soalnya berdebu. Belum semurah di artikel di atas sih pa, tapi lumayan dibanding beli barang yang serupa di toko aslinya, hehehe. Kang Willy masih di los Blok A 102 dan masih ramah saat berjualan 🙂

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here