BqptyDKCMAAF9er.jpg:large

Izinkan sekali lagi saya bicara soal senja seperti kemarin. Musababnya saya menemukan senja pertama yang sangat-sangat bisa dinikmati di Jakarta Sabtu lalu. Senjanya tak ada yang istimewa, biasa saja, tapi momen yang menyertainya yang membuat senja itu menjadi istimewa.

Saya tak hanya ingin menikmati sore yang tenang di Kota Tua dan meramaikan Kota Tua Creative Festival 2014, di mana ada banyak pameran dan juga festival. Sampai akhirnya saya mendapatkan brosur pameran, menelisik satu demi satu pengisi acara dan mata saya tertumbuk pada seorang penampil, Daniel Sahuleka. Oh ini tidak mungkin! Daniel akan mengisi acara, saya harus ada di sana.

Momen kejutan ini yang saya suka. Tidak berharap apa-apa saat tiba di Kota Tua, tapi justru mendapat kesempatan menonton seorang Daniel Sahuleka. Saya pikir senja akhir pekan kemarin  salah satu yang meninggalkan kesan mendalam. Daniel Sahuleka rupanya hanya salah satu penampil dari sekian banyak lainnya yang diundang. Pun pertunjukan ini gratis, bisa dikatakan pertunjukan Daniel ini spesial untuk masyarakat Jakarta. Daniel datang dan semacam membagi kegembiraan bagi Jakarta.

Matahari telah menggelincir, dari terang menuju gelap. Kru panggung sedang bersiap mempersiapkan segalanya untuk Daniel. Saya kemudian duduk menanti di depan panggung. Untuk ukuran pertunjukan musik, suasananya sepi sekali, tidak terlalu banyak kerumunan penonton.

Senja beralih dari jingga ke biru, perlahan tapi pasti menggelap mengantarkan malam untuk datang. Dan di detik peralihan inilah dawai gitar Daniel mulai mengalun lirih, disambung suaranya yang bening berurutan turut masuk.

Daniel menggoda penonton sejak lantun kata di lagu pertama. Penonton mulai merapat dekat, demi suara bening Daniel. Senja makin turun gelap dan saya tahu pertunjukan ini akan makin memuncak. Senyumnya melebar, Daniel tampak bahagia dan menikmati pertunjukannya di hadapan warga Jakarta dan penonton tampak makin gembira.

Nun ini pertama kali Daniel bermain di Kota Tua. Panggung yang sempurna, nuansanya mungkin  serupa di Belanda. Persis di tengah alun-alun Kota Tua, Daniel duduk dengan gitar akustiknya, dinaungi megahnya Balaikota Batavia di belakangnya.

Gaya panggungnya tak pernah berubah. Duduk tenang dengan gitar di tangan lantas memainkannya untuk mengiringi lagu-lagunya. Tidak ada personel lain di panggung, sepenuhnya panggung milik Daniel Sahuleka.

Daniel senang berinteraksi dengan penonton, “Jakarta panas ya? Tapi jika di dalam ruangan dingin. Di Holland sebaliknya”. Tidak banyak jeda, dari lagu ke lagu singkat saja. Sesekali Daniel menyapa penonton, sesekali sibuk memetik gitarnya yang diset ke nada tinggi.

Sesekali di antara lagu-lagu dia bercerita tentang proses penciptaan lagunya. Tentang bagaimana lagu-lagunya bisa ada. Dengan bahasa Indonesia yang sedikit terbata-bata, Daniel panjang-panjang bercerita.

“Kala itu masih pagi, matahari masuk ke kamar lewat sela-sela gorden, sinarnya mengenai wajah istri saya. Lalu saya pergi naik sepeda, saya suka naik sepeda. Hanya orang bodoh yang naik mobil, merusak alam. Saya tiba di hutan dan menulis lagu ini.”

Lalu gitar melantun dan Daniel dalam-dalam membuka intro “Morning sunshine in our room / Now that room is back in tune”. Meluncurlah salah satu nomor paling popular dari Nyong Ambon kelahiran Semarang ini “You Make My World So Colorful”. Lagunya tenang, pas dinikmati di senja yang petang.

Daniel masih prima di usianya yang lepas kepala enam. Lantunnya masih jernih, bening dan tanpa cacat nada. Performanya khas, rambut kritingnya yang panjang berpadu dengan kaos dan jeans. Senyumnya lepas, bahagia katanya bermain di Indonesia. Seorang Daniel memang sudah sangat sering bolak-balik Belanda-Indonesia. Dia adalah legenda dan selalu bahagia jika bermain di Indonesia. Pada beberapa kesempatan dia mengungkapkan kerinduannya pada suasana di Indonesia.

Pertunjukan berjalan cukup tenang, penonton rapi duduk di depan panggung, di alun-alun Kota Tua. Rata-rata kaum hawa. Tak ada kuli tinta berkamera di depan panggung, semua di pinggir. Tadinya ada, lalu dihardik oleh penonton yang tak rela pujaannya terhalang kuli-kuli tinta yang berkerumun di depan panggung.

Daniel sempurna di senja itu. Penonton beberapa kali sing a long, terutama di beberapa nomor yang populer. Saya bersebelahan dengan sepasang gadis yang tak lepas turut menyanyi bersama Daniel Sahuleka. Tak jauh dari saya ada ibu yang mendekap anaknya turut menonton, matanya berkaca penuh keharuan mengikuti lantunan Daniel, lantas beberapa kali air matanya menetes, diusapnya pelan-pelan.

Sepanjang pertunjukan mungkin hanya romantisme yang dirasakan penonton dan itulah yang ditebarkan Daniel. Setiap lirik lagunya mungkin representasi dari dawai-dawai cinta Eros di bumi. Penonton pun hanyut dalam buai romantisme, diam-diam yang berpasangan saling berpegangan tangan, beberapa menyandarkan bahu.

Daniel Sahuleka tahu bagaimana menyenangkan penonton, lagu pamungkasnya disimpan sampai akhir. Ketika penonton yang berharap sudah mulai diam, Daniel membuka intro dari lagunya yang paling dikenal. Begitu dawai dipetik dan musik mengalun, penonton bersorak kegirangan, bersiap turut bernyanyi bersama.

“Tomorrow near, i never felt this way / Tomorrow, how empty it’ll be that day” .

Petik gitar dan lantun lirih mengiring intro lagu Dont Sleep Away With Me This Night yang mengalun bening. Lagu yang paling populer ini menciptakan kegembiraan, ada binar mata yang turut bernyanyi riang mengikuti Daniel Sahuleka. Ada wajah-wajah bahagia turut bersenandung bersama.

Pada reffrain semua pamungkas. Semua rasa mendadak larut dalam nada yang sama.

“Don’t sleep away this night my baby / Please stay with me at least till dawn / It hurts to know another hour has gone by / And every minute is worthwhile / Oh, i love you.”

Saya langsung tahu pertunjukan ini paripurna, Daniel Sahuleka menyudahinya dengan begitu sempurna. Tidak ada encore dari Daniel Sahuleka, semua paripurna. Penonton tampak rela mengiring langkah Daniel ke belakang panggung setelah dia memberi takzim hormat dalam-dalam. Kali ini Daniel sungguh luar biasa.

Senja, Kota Tua dan Sahuleka adalah sesuatu yang sempurna di Sabtu kemarin, tidak ada yang mengalahkan itu. Mungkin jika senja adalah pengibaratan dari wujud romantisme dan kesyahduan, maka Daniel Sahuleka-lah jawaban atas semua pengibaratan itu. Daniel Sahuleka-lah yang memberikan detail dalam romantisme senja yang penuh syahdu.

Terima Kasih Daniel Sahuleka, Tabik.

Follow Efenerr on WordPress.com

2 KOMENTAR

  1. bravo untuk Daniel Sahuleka..meskipun usia sudah berkepala enam.. namun masih tetap prima melantunkan lagu2-nya……sepakat…naik mobil memang bisa merusak alam …mendingan naik sepeda….hemat energi dan badan juga sehat…..
    senja memang penuh kesan bagi siapa saja penikmatnya….
    keep happy blogging always…salam dari Makassar 🙂

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here