413205_3896434648271_1978367157_o
Jembatan Barelang I

Beberapa waktu lalu saya meluangkan waktu sebentar untuk mengunjungi Batam, tidak lama hanya dua-tiga hari saja. Batam di mata saya dikatakan sebagai salah satu area bebas dengan perkembangan kota yang cepat. Dulu dikatakan bahwa Batam dikonsepkan untuk head to head dengan Singapura, agar Indonesia mampu merebut supremasi Singapura di celah sempit perarian Selat Malaka.

Dahulu Pemerintah Indonesia membangun unit Otorita Batam di tahun 70-an. Unit ini bertugas untuk melakukan pengembangan dan mengendalikan pembangunan Pulau Batam. Dalam hal ini Batam diistimewakan oleh Pemerintah. Jika konsep tersebut berjalan dengan benar maka Pembangunan Batam akan terstruktur dan berkelanjutan.

Saya tiba di Bandara Hang Nadim Batam dengan pesawat dari maskapai Citilink. Penerbangan dari Jakarta berlangsung mulus, pun begitu saat mendarat. Saya tidak merasakan apapun yang mengganjal selama penerbangan, kru kabin yang ramah dan responsif, serta pilot yang menerbangkan pesawat dengan begitu baik. Untuk rute Jakarta – Batam saya kira Citilink bisa jadi pilihan terbaik dengan harga tiket yang tidak memberatkan kantong para pejalan berbudget rendah.

Dari Bandara saya menggunakan mobil sewaan dan langsung menuju arah kota Batam. Jalanannya mulus, dua jalur dan empat lajur dengan pembatas di bagian tengah. Bandara terletak di pinggiran kota, di sekitar bandara sepi, mungkin masih daerah pengembangan. Jalur menuju kota pun cukup lancar, hampir nir kemacetan.

337201_3896485889552_1250308160_o
Jalanan Lengang di Batam

Beberapa daerah masih lengang, sangat lengang bahkan. Hanya semacam perkebunan di kanan – kiri, tapi maju sedikit bisa saja bertemu kawasan residensial mewah atau industri. Daerah Pusat Kota ramai sekali, aktivitas seolah tak berhenti siang-malam. Pusat-pusat bisnis bertumbuh cepat seiring aktivitas perekonomian yang menanjak ke atas. Saya lihat juga ada banyak sekali hotel-hotel baru yang dibangun. Arus orang-orang baik wisata maupun urusan bisnis ke Batam memang meningkat.

Kontur Kota Batam sedikit berbukit-bukit. Mobilitas masyarakat banyak menggunakan mobil dan/atau sepeda motor. Koneksi antar pulau juga mudah dengan beberapa opsi pelabuhan. Kapal-kapal antar pulau juga ada hampir tiap jam, terutama ke pulau-pulau terdekat. Pelabuhan menjadi tempat yang ramai, hiruk pikuk. Jika ingin menyeberang ke pulau lain misalnya tidak usah bingung, penjual tiket di pelabuhan akan ribut menawari penumpang.

Sebagai pulau yang diharapkan sebagai penyeimbang Singapura, akses ke negara tetangga tersebut juga mudah. Dilayani dari Pelabuhan Batam Centre nan megah, kapal-kapal cepat ke Singapura tersedia banyak opsi. Pun ke Johor Bahru, Malaysia juga bisa melewati pelabuhan ini. Batam cukup populer bagi orang Singapura atau Malaysia, menurut warga setempat karena harga di Batam lebih murah daripada di dua negara tadi maka orang-orang Singapura atau Malaysia justru sering belanja kebutuhan pokok di Batam, untuk dibawa kembali ke negara mereka.

256241_3896400927428_549837472_o
Sekilas Kota Batam

Batam adalah kota multikultur, di mana banyak pendatang yang lantas hidup bersisian dengan warga lokal. Warga-warga lokal biasanya adalah orang-orang Melayu Kepulauan. Menurut sejarah Batam memang penuh gilang-gilang kebesaran Bangsa Melayu, itulah mengapa kegemilangan Bangsa Melayu di Batam dihargai begitu tinggi. Hang Nadim yang merupakan pahlawan orang Melayu di Kepulauan Riau saat melawan Portugis lantas diabadikan menjadi nama Bandar Udara Internasional di Batam, bandara yang saya darati setiba di Batam dari Jakarta.

Di era modern lantas muncul perpindahan penduduk yang cukup masif ke Batam. Orang-orang Sumatera Daratan yang mayoritas dari Padang dan Sumatera Utara, lantas orang-orang Jawa dan sebelumnya ada orang-orang Tionghoa berbondong-bondong pindah ke Batam. Inilah yang membuat Batam sangat kaya dari kultur.

Dari beberapa catatan, peningkaan migrasi ini terjadi sejak era kolonial, kala itu di tahun 1897 Kolonial Belanda mulai membangun depo minyak di Pulau Sambu, tak berapa jauh dari Pulau Batam. Dari situlah kemudian Batam ikut menjadi ramai. Dari beberapa arsip sejarah juga kapal-kapal jung dari dataran Cina berlayar jauh-jauh sampai Batam di awal abad 20.

Dari beberapa catatan itulah mengapa tak heran di Batam kehidupannya begitu cair dan terbuka. Hal-hal seperti ini memang cukup mengagumkan, kultur budaya yang beraneka ragam mau tak mau turut membangun Batam seperti sekarang ini. Sepertinya Batam memang cukup terbuka, bebas dan mudah menerima pengaruh baru. Jika identitas sebuah daerah sering dimunculkan dari suku bangsa yang mendiami daerah tersebut, maka identitas Batam justru ada pada keberagamannya yang turut menyertai perkembangan daerah itu sendiri.

552406_3896434408265_361597632_n
Kepiting Goreng khas Barelang

Ada tiga hal unik di Batam yang saya temui. Pertama soal kuliner, percampuran berbagai bangsa membuat kuliner di Batam menjadi menarik. Layaknya daerah kepulauan pastilah kuliner didominasi oleh makanan laut, itu benar. Tapi kuliner lain adalah percampuran beragam budaya yang masuk ke Batam. Kuliner TIonghoa, Padang, Jawa jamak ditemui mendampingi olahan kuliner Melayu itu sendiri.

Hal unik nomor dua adalah kendaraan bermotor di Batam. Karena statusnya sebagai daerah kawasan bebas yang berarti tidak ada PPN atas Barang Kena Pajak yang masuk ke Batam, maka barang-barang impor mudah saja masuk Batam. Kendaraan Bermotor dari Batam kadang adalah kendaraan yang tidak ditemui di belahan Indonesia lain, kendaraan yang hanya ada di negara tetangga tapi bisa dengan mudah ditemui di Batam.

Ketiga yang menarik adalah bagaimana ragam bahasa yang ada di Batam. Saking banyaknya kultur, bahasanya pun bisa mengasyikkan jika didengar. Kadang kita bisa mendengar dialek Melayu campur Tionghoa, atau bahasa Melayu logat Jawa kadangkala kita bisa dengar bahasa Minang dengan logat Melayu. Ini unik karena percampuran ini menghasilkan ragam bahasa yang tentunya berbeda. Kadang saya sampai harus memastikan dan mendengar sekali lagi sebenarnya logat apa yang sedang diucapkan oleh orang-orang Batam itu sendiri.

323961_3896379046881_423775683_o
Kabel-kabel Jembatan Barelang I

Sebenarnya ada banyak objek wisata menarik di Batam. Hanya karena waktu saya memang sungguh sebentar di Batam, saya hanya sempat mengunjungi ikon Batam, Jembatan Barelang dan bekas penampungan pengungsi Vietnam di Pulau Galang. Jembatan Barelang ini awalnya adalah proyek monumental. Namanya diambil dari tiga pulau yang dihubungkan oleh jembatan ini yaitu Batam, Rempang dan Galang.

Jembatan ini jadi penghubung tiga pulau tadi yang kelak dikenal sebagai kesatuan Metropolitan Batam. Dalam rancangannya, ketiga pulau inilah yang kelak menjadi pengembangan area Batam, semacam konsep Jabodetabek versi Batam. Sebenarnya jembatan ini tidak hanya satu, tapi ada enam rangkaian jembatan penghubung tiga pulau tadi. Enam jembatan itu sebenarnya punya nama resmi sendiri-sendiri sebagai penanda, tapi masyarakat-lah yang kemudian menamainya dengan Jembatan Barelang untuk memudahkan.

Yang paling populer adalah Jembatan Barelang I atau Jembatan Fisabilillah sampai-sampai jembatan ini menjadi salah satu objek wisata paling terkenal di Batam. Jika sore ramai sekali, wisatawan atau orang lokal menghabiskan waktu menikmati panorama jembatan atau melihat panorama sekitar Batam sebebas mata memandang. Atau wisatawan juga banyak yang berfoto menikmati kabel-kabel sulur yang menahan kuat jembatan ini.

Objek wisata selanjutnya adalah wisata sejarah yaitu bekas penampungan pengungsi di Pulau Galang. Ini adalah peninggalan sejarah yang sungguh getir akan tetapi juga menggambarkan bagaimana penerimaan tulus dari bangsa Indonesia dan orang-orang Batam. Penampungan ini adalah renik dari kisah pelarian manusia perahu dari Vietnam, mereka yang melarikan diri dari Vietnam dengan perahu sarat muatan melewati neraka samudera, terlunta-lunta berbulan-bulan di lautan nan ganas.

Penampungan ini diinisiasi oleh UNHCR dan Pemerintah Indonesia. Di Pulau Galang lantas dibangun penampungan dengan barak-barak, sekolah, tempat ibadah, dapur umum sampai fasilitas kesehatan yang mampu menampung sampai 200.000 pengungsi. Selama bertahun-tahun pengungsi Vietnam ini tinggal di sini sampai mereka mendapatkan kewarganegaraan di negara baru atau suaka di negara lain. Kini, tigapuluh tahun sejak pembangunannya, kompleks penampungan pengungsi ini sudah tidak dihuni, hanya menjadi saksi bisu kisah kelam suatu bangsa yang terpaksa menjadi pelarian dari negaranya sendiri.

329384_3896431688197_1460566751_o
Saya di Jembatan Barelang I

Hanya sebentar perjalanan saya di Batam, maka catatan dari Batam ini lahir dan cukup pendek bukan? Saya memang tak lama di Batam, hanya beberapa hari. Belum detail mengamati kehidupan di Batam, ini baru kulit luarnya saja, belum menyentuh dalam-dalamnya. Tapi setidaknya ada sedikit gambaran tentang Batam dari catatan ini.

Batam sebagaimana belahan bagian Indonesia yang lain selalu memesona. Hanya saja memang harus dibenahi di sana-sini. Setidaknya saya melihat Batam bisa menjadi representasi kemajuan Indonesia jika dikelola dengan benar. Batam, mungkin bisa menjadi Singapura bagi Indonesia, tentu jika semua potensi yang ada bisa dimaksimalkan. Oia jangan lupa sebelum pulang dari Batam untuk membawa serta Kek Pisang Villa, Kek artinya Cake yang dibahasa Indonesiakan. Ini semacam kuliner oleh-oleh khas Batam.

Perjalanan ke Batam ini memberi saya beberapa catatan kecil tentang Indonesia. Menambah beberapa lembar catatan tentang keberagaman Indonesia dan memberi warna baru pada coretan-coretan saya. Intinya, tidak ada kawasan Indonesia manapun yang tidak pantas dikunjungi, semua kawasan memiliki ceritanya masing-masing dan ini torehan Cerita Dari Batam atas perjalanan yang saya lakukan.

Tabik.

NB : Perjalanan ini dilakukan bersama sahabat saya, Priant dan Titiw dari Jakarta dengan maskapai Citilink, di rute Jakarta – Batam pp ada banyak penerbangan dalam sehari dengan harga cukup murah. Di Batam bergabung dengan Dimas dan Fachrizal untuk terus melanjutkan perjalanan, menyeberang ke Singapura.

Follow Efenerr on WordPress.com

8 KOMENTAR

  1. Bagi masyarakat kampung saya, Batam adalah tujuan merantau favorit. Terutama untuk saudara2 yang lulusan smp/sma. Banyak yg berhasil menjadi kaya, dan mapan. Tapi tak sedikit pula yg kembali hanya tinggal nama dan jasad. Menjadi gila pun tak jarang. Entah apa yg terjadi pada mereka di sana. Maaf oot.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here