Ilustrasi Orang-orang Banda Dengan Pala

Dahulu, tidak ada yang tahu serakan pulau di antara Pasifik dan Hindia yang sekarang kita kenal bernama Indonesia. Orang-orang Barat menganggap lautan di Pasifik dan Hindia adalah laut ujung dunia, gelap, penuh dengan monster dan tiada jalan keluar dari lautan itu. Nusantara kala itu dari dongeng-dongeng orang Barat adalah sesuatu yang asing dan terpencil.

Tapi mitos itu sebenarnya bisa terbantahkan dengan mudah. Dahulu Nusantara adalah sebuah imperium, jika menilik ulang sejarah, Barus sebuah titik di Sumatera Utara ratusan tahun silam dalah sebuah Kota Metropolitan, sebuah bandar dan pelabuhan Internasional. Pun demikian dengan Banten, di abad ke-16 Banten juga menjadi satu dari sepuluh pelabuhan ternama di dunia. Orang-orang Nusantara kala itu memiliki peradaban yang lebih maju dari peradaban barat, lebih makmur dan menjadi salah satu daerah terpenting di dunia.

Apa yang membuatnya demikian, apa mahakarya yang menjadikan Nusantara di masa lalu menjadi salah satu daerah terpenting di dunia?

Saya bersua sejarawan muda Indonesia, JJ Rizal untuk mencari tahu apa sebenarnya yang membuat Indonesia di masa lalu begitu berjaya. JJ membuka penelusuran tentang mahakarya ini dengan konsepsi apa sebenarnya itu mahakarya. Bagi JJ, mahakarya adalah sebuah karya yang menjadikan berkat bagi orang lain, entah itu karya tersebut adalah ciptaan Tuhan atau hasil kreasi tangan manusia.

“Indonesia itu justru memiliki mahakarya yang menghasilkan mahakarya lain, Mahakarya yang merubah peradaban dunia” Begitu kata JJ. “Dan Mahakarya Indonesia yang membuat Nusantara dikenal di mata dunia adalah Rempah-rempah”.

Maka saya lantas mengaminkan apa yang JJ bilang. Indonesia di masa lalu adalah surga rempah, tempat di mana tanaman yang oleh orang barat dibilang tanaman surga yang sesungguhnya.

Dus saya mengaminkan apa yang JJ katakan. Rempah adalah tentang  bagaimana serak-serak kepulauan Nusantara menjadi dikenal di masa dunia. Itu jawabannya.

Sejarah mencatat bahkan sejak sebelum Masehi rempah dari Indonesia sudah menyebar ke seluruh dunia. Pada sebuah relik arkeologis di Mesopotomia ditemukan potongan cengkeh yang diduga berasal dari tahun 1700 Masehi. Sejarah lain mengatakan bahwa Barus dengan komoditi utamanya Kapur Barus, sudah menyeberang sampai Mesir di era Firaun. Kapur Barus-lah yang menjadi bahan utama untuk mengawetkan mumi.

Dan rempah-rempah pula yang mengundang orang-orang dari Benua Eropa melakukan penjelajahan ke Indonesia. Penjelajahan yang menunjukkan kejayaan mereka tapi sebenarnya mengandung ironi besar untuk bangsa. Bangsa Eropa yang dahulu menganggap Indonesia negeri asing justru semakin tamak dan mengeruk mahakarya Indonesia, Rempah-rempah.

Fort Belgica 1936

Fort Belgica menjadi saksi bagaimana dominasi dan ketamakan bangsa Eropa terhadap kekayaan Indonesia. Benteng ini adalah saksi dari perebutan Pala yang menjadi mahkota Banda. Padahal Banda adalah pulau yang tenang, surga katanya. Dengan debur angin yang membuai. langit biru menghampar dan ombak yang berdebur lirih bak menyampaikan dongeng abadi.

Tapi ada juga cerita lucu tentang perebutan rempah. Dahulu Belanda menganggap pala dan rempah adalah tambang emas mereka, rempah adalah emas hijau bagi Belanda. Rempah pula yang menggerakkan perekonomian, memajukan Belanda menjadikannya salah satu negara kolonial yang maju di era itu. Dari rempah itulah Belanda membangun negerinya dan ironisnya dari uang hasil monopoli rempah itulah Belanda menjajah negeri penghasil rempahnya.

Kisah lucu itu adalah saking tidak maunya Belanda kehilangan sumber rempahnya. Pulau Rhun dulu dianggap sebagai penghasil Pala paling baik di sekitar Banda dan Belanda menjaganya sekuat tenaga. Rupanya Inggris pun memiliki klaim atas pulau tersebut karena perjanjian dengan penguasa pulau ini.

Ketidakmauan Belanda kehilangan tambang rempahnya membuatnya menukar sebuah tanah kecil di Benua Amerika dengan Pulau Rhun. Jadilah Belanda mendapatkan Pulau Rhun sementara Inggris mendapat tanah kecil di Amerika Utara yang sekarang dikenal dengan nama New York. Sebuah hal yang lucu karena sekarang New York menjadi salah satu kota metropolitan paling penting di muka bumi, sementara Pulau Rhun bak pulau tak bertuan.

Kembali ke apa yang dikatakan JJ, Mahakarya sesungguhnya adalah yang menghasilkan mahakarya yang lain. Dan Rempah-rempah memang kemudian menghasilkan mahakarya yang lain.

Dan mari saya ceritakan tentang sebuah Mahakarya lain, signature of Indonesia yang lahir dari olahan rempah-rempah. Mahakarya itu adalah kretek, sebuah mahakarya yang membuat Indonesia dipandang dunia.

Kretek konon lahir di Kudus secara tak sengaja. Awalnya adalah seorang Jamhari yang terserang batuk, kemudian mencoba meramu cengkeh dengan tembakau dan dihirupnya. Ajaibnya batuknya sembuh dan kemudian dari mulut ke mulut. lambat laun kretek menjadi salah satu produk khas yang diminati oleh orang-orang.

Ramuan cengkehlah yang membuat Kretek menjadi signature, cengkeh membuat harum dan memberi taburan yang khas pada kretek itu sendiri. Tanpa cengkeh takkan ada Kretek, tanpa Kretek takkan ada pribumi terkaya di Indonesia di awal abad ke 20, Nitisemito.

Pabrik Rokok Nitisemito

Mari berbelok sebentar bicara soal Nitisemito. Ia adalah konglomerat pribumi di Indonesia di awal abad ke-20. Kreteknya diberi nama Bal Tiga, berawal dari usaha kaki lima sampai memiliki pabrik besar, ratusan hektar, rumah yang konon lantainya dihiasi uang emas. Kekayaan Nitisemito bahkan membuat pihak kolonial menaruh hormat, ia memasarkan rokok Bal Tiga dengan menyewa pesawat terbang. Ia, pribumi pertama yang melakukannya. Jika dahulu orang pribumi dianggap kelas rendah, Nitisemito jumawa, ia bahkan mengupah seorang Nederland sebagai tenaga pembukuan.

Aroma rempah dalam kreteklah yang membuat Indonesia yang baru merdeka tegak harga dirinya di hadapan orang Barat. Ada petit histoire yang menarik. Ceritanya Haji Agus Salim, sang diplomat ulung di tahun 1953 diundang penobatan Ratu Elizabeth II sebagai Ratu Kerajaan Inggris. Agus Salim adalah penikmat kretek kelas berat, maka ia lantas menyalakan kretek dan dihisapkan berat-berat di hadapan para tamu yang rata-rata adalah pembesar Eropa. Pangeran Philips kemudian penasaran, bau apakah ini dan bertanyalah pada Agus Salim, bau apakah itu.

“Your Highness, adakah Paduka mengenali aroma rokok ini?” tanya Agus Salim tenang.

“Inilah sebabnya 300 atau 400 tahun lalu bangsa Paduka mengarungi lautan dan menjajah negeri kami.” lanjut Agus Salim.

Jawaban Agus Salim lugas, tegas sekaligus satir. Betul apa yang dibilang Agus Salim, cengkehlah, rempah-rempahlah yang membuat orang-orang Eropa datang ke Indonesia untuk mencari rempah. Mengeruk si emas hijau menjadi tamak dan kemudian memulai kolonialisme dan memulai peradaban mereka.

Maka benar apa yang diutarakan oleh JJ. Mahakarya sesungguhnya adalah mahakarya yang melahirkan mahakarya lain. Maka rempah-rempah bahkan tak hanya melahirkan mahakarya, ia menghasilkan dan memelihara sebuah peradaban. Karena rempah-lah ada era penjelajahan, ada peradaban Eropa baru lahir setelah era Rennaisance dan menjaganya bertahan dengan aktivitas komoditi rempah itu sendiri.

Serakan kepulauan Nusantara tak lagi asing, ia adalah surga, ia bagaikan perempuan molek yang diperebutkan banyak lelaki.

Untuk Indonesia sendiri, rempah adalah kebanggaan. Karena rempah-lah Indonesia terang benderang di mata dunia. Maka saya pun mengamini kata JJ. Rempah-rempah adalah sebenar-benarnya Mahakarya Indonesia.

Tabik.

PS :

Sumber foto. : 1, 2, 3

Sumber sejarah : 1, 2, 3,

Post blog ini

Post ini untuk mengikuti Live Writing Competition Gemah Rempah Mahakarya Indonesia

Follow Efenerr on WordPress.com

6 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here