Alun-alun dan Viaduct Selcuk
Alun-alun dan Viaduct Selcuk

Buat saya tidak ada perjalanan yang direncanakan, istri saya sudah mahfum dengan prinsip saya yang satu ini. Ketika akhirnya kami berdua ke Selcuk pun adalah sesuatu yang tidak kami rencanakan sebelumnya. Baru akhirnya ketika sampai di Istanbul Otogar di depan loket penjualan tiket bis kami menyebut nama Selcuk sebagai tujuan kami. Perjalanan baru kami pun dimulai seiring laju bis malam yang mengiris jalanan Turki menuju Selcuk.

Kami tiba Selcuk jam 05.00 pagi, saat penduduk Selcuk masih meringkuk dalam dinginnya pagi, shubuh pun belum mulai karena malam belum usai. Selcuk Otogar adalah terminal bis yang kecil sekali, hanya ada 3 agen bis, lainnya toko makanan dan kedai kopi. Kami melabuhkan diri di kedai kopi yang dijaga pria Turki yang rambutnya sudah beruban, memesan 2 gelas kopi susu yang barangkali bisa menahan dingin pagi serta menghalau kantuk yang masih pekat menggelayut.

Hawa jelang pagi di Selcuk begitu menusuk dan kami berdua terjebak dalam percakapan canggung dengan pemilik kedai kopi.

Saya sudah bilang di paragraf pertama, tidak ada perjalanan yang direncanakan. Bagi saya, penganut perjalanan yang mengikuti kemana angin berhembus, ini adalah bagian menarik, menanti bersua kejutan macam apa di perjalanan. Di Selcuk kejutan itu berupa kakek tua penjual Simit yang tergopoh-gopoh menghampiri kami dengan muka khawatir.

Awalnya saya hanya menanyakan penginapan pada pemilik kedai kopi, saya hanya menunjukkan di gawai saya nama penginapan yang sudah saya simpan sebelumnya. Tanpa ada persiapan saya hanya mencari di mesin perambah penginapan murah di Selcuk, nama yang muncul pertama di mesin perambah itulah yang saya putuskan untuk menjadi penginapan. Tentunya saya tak tega melihat istri saya gemetar duduk di kursi kedai kopi yang sudah mulai diserbu embun, ia pasti sudah kelelahan menahan dingin setelah didera lelah di perjalanan selama 11 jam.

Istri saya menyeruput kopi, sementara Kakek penjual Simit meneleponkan penginapan untuk menjemput kami berdua.
Istri saya menyeruput kopi, sementara Kakek penjual Simit meneleponkan penginapan untuk menjemput kami berdua.

Pemilik kedai kopi dan kakek tua penjual Simit saling bercakap dalam bahasa Turki, kami berdua hanya bisa memandangi mereka sembari menggosokkan tangan demi menghalau dingin. Tapi saya mendengar lamat-lamat, nama penginapan kami disebut-sebut.

“Where are you from? Malaysia?” Tanya kakek itu tegas. Mungkin melihat wajah mongoloid kami.

“Indonesia”. jawab kami berdua. Kami memang sudah sering disangka orang Malaysia sejak di Istanbul. Orang Malaysia memang lebih banyak yang melancong ke Turki daripada orang Indonesia.

Demi apa setelah menyebut nama Indonesia, mata si kakek terbelalak dan senyumnya bertambah lebar. “Brother-brother, we are same brother”

Ia rupanya menelepon ke penginapan kami, katanya tunggu saja sebentar akan ada yang menjemput. Saya pun berucap terima kasih padanya, sembari membeli 2 potong Simit sebagai pengganjal perut. Saya sempat sebentar bercakap berdua padanya, Ia rupanya takjub dengan Indonesia. “Biggest Moslem Country in The World” begitu katanya. Ada segurat senyum dan getaran selintas seusai Ia mengucap kalimat itu.

Kami berdua mengucap terima kasih, bersalam dan mendoakannya ketika akhirnya orang dari penginapan menjemput kami. Ia mendoakan keselamatan bagi kami. Selcuk menorehkan kenangan yang begitu membekas bagi kami. Kota ini adalah kota tempat orang-orang baik bermukim.

Selcuk Yang Damai

Saya terbangun ketika matahari mulai tinggi, matahari yang kuning. Istri saya masih terlelap tidur, ia tampaknya belum terbiasa melakukan perjalanan dengan berpindah-pindah kota dan tidur di angkutan umum. Pengurus penginapan saya baik sekali, ia memberi kamar sekaligus memperbolehkan kami check in jam 5 pagi, biasanya tamu-tamu harus menunggu sampai jam 12 siang untuk check in.

Hanya ada keheningan di Selcuk dan dalam hening itu ada damai.

Alun-alun Selcuk dan para orang-orang tua yang selalu berkerumun di tiap pagi.
Alun-alun Selcuk dan para orang-orang tua yang selalu berkerumun di tiap pagi.

Selcuk adalah tipikal kota pensiun, di pagi hari ketika kami memulai berkeliling di Selcuk, orang-orang tua berkerumun di sekitar alun-alun Selcuk, di dekat stasiun dan di bawah viaduct jaman Romawi Kuno yang masih bertahan kukuh. Mereka menikmati pagi dengan minum cay dalam gelas kecil, diselingi membaca koran, bermain Okey atau sekedar  berjalan-jalan menghangatkan badan.

Kota ini bertahan melalui berbagai zaman, sejak era Hellenistik, Romawi Kuno, Kesultanan Seljuk, Kesultanan Usmani sampai akhirnya sekarang, di era Turki modern. Gambaran tiga zaman itu setidaknya tampak pada petilasan bangunan-bangunan bersejarah yang bertebaran di Selcuk.

Saya sempat menunaikan sembahyang zuhur di sebuah Camii yang rupanya berasal dari abad 13. Bangunannya bagus sekali, masih utuh dengan minaret yang masih tegak walau beberapa batu batanya rompal sana-sini. Atau juga viaduct dari era Romawi Kuno yang tegak di tengah kota, membentang dari arah pegunungan, melewati desa-desa di sekitar Selcuk sampai berujung di Kota Tua Ephesus.

Tidak ada keramaian yang riuh di Selcuk, berbeda dengan Istanbul yang ritmenya berlari, di Selcuk ritmenya adalah berdiam menikmati matahari pagi dan tak hendak beranjak sampai siang. Keramaian hanyalah orang-orang tua yang lalu lalang di sekitar alun-alun, selebihnya adalah ketenangan sepanjang hari.

Suatu sudut Selcuk.
Suatu sudut Selcuk.

Sebagian penduduk Selcuk adalah petani, mereka memiliki ladang yang luas di pinggir kota yang ditanami jeruk, anggur, zaitun dan delima. Para petani ini terkadang terlihat berlalu lalang di Selcuk dengan kendaraan kebanggaan mereka, sebuah traktoryang menyeret bak besar berisi hasil pertanian mereka.

Orang Selcuk rata-rata tidak bisa berbahasa Inggris, mereka orang Turki totok yang hanya bisa bercakap bahasa Turki. Tapi begitu menyebut nama Indonesia mata mereka berbinar-binar, mereka begitu hormat dengan Indonesia sepertinya, apalagi kami berdua adalah muslim. Pertanyaan kedua yang muncul setelah kata Indonesia adalah “moslem?”. Begitu ia tahu kami sesama muslim, maka mereka akan memeluk kami, menyalami, membantu sampai memberi diskon ketika kami berbelanja.

“Come-come you can pray here”

Sambutan seorang muslim Selcuk ketika kami berdua istirahat di sebuah musholla dekat Museum Selcuk. Ia mempersilakan kami ke camii dan memanggilkan penjaga musholla untuk turut menyambut kami.

Di Turki masjid atau musholla tidak ada bedanya, semua dinamai camii. Dan di Selcuk tersebar beberapa camii yang masih terawat rapi yang berasal dari abad ke-14 dengan bentuk melingkar penuh dan satu minaret beratap lancip.

Mengetahui bawaan kami banyak penjaga camii tempat kami singgah kemudian meninggalkan pekerjaannya yang saat itu sedang membersihkan halaman masjid. Ia menjagakan barang kami selagi kami shalat dan menyediakan kami semacam bakiak untuk berwudhu. Ketika kami usai shalat, ia tersenyum begitu lebar, hangat sekali. Kami berjabat tangan sangat erat.

Penjaga Camii yang menjagakan barang-barang kami selagi kami menunaikan shalat.
Penjaga Camii yang menjagakan barang-barang kami selagi kami menunaikan shalat.

Romantisme Selcuk

Apabila ke Selcuk, seseorang pasti akan menemukan wajah-wajah teduh di seluruh kota. Sepertinya orang-orang Selcuk memiliki stok kebahagiaan yang berlimpah, yang membuat mereka sering sekali menampakkan senyum dan tawa.

Selcuk adalah kota romantis, sementara itu ada pada laku hidup orang-orangnya. Laku hidup mereka yang begitu sederhana dan senyum mereka yang tulus pada para pendatang.

Seorang kakek yang tiba-tiba mendatangi saya dan minta difoto ketika saya sedang menunggu kereta.
Seorang kakek yang tiba-tiba mendatangi saya dan minta difoto ketika saya sedang menunggu kereta.

Kota ini kota turis, tapi turisme tidak merubah pola hidup mereka menjadi materialistis. Barang-barang ditawarkan dengan wajar, tidak ada lonjakan harga seperti misalnya di daerah turisme lainnya.

Saya berjumpa dengan seorang penjual baju tradisional Turki di Sirince, sebuah desa yang masih tradisional sekitar 9 kilometer di luar Kota Selcuk. Ia menjual barangnya setengah dari harga yang ditawarkan di kios lain. Baginya ia berjualan sesuai prinsip Islam yang ia anut, mengambil keuntungan yang wajar dan berlaku jujur pada pembeli.

“I will not lie, the price is fixed, for Turkish for tourist, all same”

“Rasullullah teach us to trade. But remember, don’t lie. This is the islamic principe of trading”

Kiosnya memang tak terlalu banyak pembeli kala itu, hanya ada saya saja. Sirince di pagi itu memang sepi, tampaknya kami berdua memang datang terlalu pagi, datang di saat desa baru bangun dan turis-turis masih sibuk sarapan.

Itulah mengapa harga-harga di Selcuk jauh lebih murah dibandingkan di tempat wisata lain di Turki. Beberapa yang saya temui memang pemeluk Islam yang taat, tak hanya beragama Islam tapi juga mengamalkan Islam dalam sendi kehidupannya.

Si Pedagang Baju Tradisional Turki di Sirince.
Si Pedagang Baju Tradisional Turki di Sirince.

Kami berdua tak pernah berhenti berdecak kagum setiap melalui lorong-lorong Selcuk. Rumah-rumah yang tampak seragam, berbentuk kotak dan fasadnya hampir sama. Di halaman rumah terkadang ditanami pohon jeruk yang siapapun boleh memetik. Atau kami berdua penuh takjub ketika melihat cerobong pada rumah mengeluarkan asap. Sesuatu yang jarang kami temui di Indonesia.

Selcuk bagi kami mungkin sebuah kedamaian yang tak sengaja kami temui. Sebuah kejutan imbas dari perjalanan yang tidak pernah kami rencanakan. Kota ini memberi gambaran betapa baik dan damainya orang-orang Turki, betapa pelan ritme hidupnya yang mungkin membuat hati orang-orang Selcuk dipenuhi kebahagiaan dan kebijaksanaan.

Saya dan istri sangat bersyukur bisa singgah walau sebentar di Selcuk. Sampai ketika kami meninggalkan Selcuk ada kehampaan sekilas di hati, tampaknya kami berdua jatuh cinta pada kota ini dan harus singgah sekali lagi, sekali waktu di masa depan nanti.

Tabik.

Selcuk dari Gunung Bulbul
Selcuk dari Gunung Bulbul

NB :

Foto diambil dengan FujiFilm X-A1. Property of Harris Rinaldi of DoF DJP.

Transportasi : Dari Istanbul ada bis ke Selcuk, Kamil Koc, Pamukkale dan Metro. Saya mengambil Kamil Koc yang katanya paling bagus, jarak tempuhnya 10 jam dan tiketnya 80 Lira.

Akomodasi : Kami menginap di Nur Pension, salah satu penginapan paling terkenal bagi para backpacker di Selcuk. Tarif kamar untuk private double room adalah 75 Lira. Website Nur Pension.

Simit : Roti khas Turki, Cay = teh, Okey : sejenis permainan rakyat Turki. Dimainkan berempat dengan kombinasi angka pada dadu kayu.

Follow Efenerr on WordPress.com

24 KOMENTAR

  1. “Biggest Moslem Country in The World”, saya merasakan getaran yang sama, haru rasanya ketika bangsa kita juga disegani…

    Keharuan saya juga menyeruak membaca kata demi kata tulisan ini, betapa keramahan, senyum, dan kejujuran mereka benar-benar layaknya berbekas dari ajaran sang Baginda Rasul. Dan mungkin kejenakaan Nasrudin Hoja mewariskan lebarnya senyuman mereka. Tulisan njenengan telah mutlak membuat saya segera jatuh cinta dengan Turki dan ingin sekali ke sana ketika kelak diberi kesempatan menjejakkan kaki di Eropa, insya Allah 🙂

  2. Ah, baca ini rasanya damai sekali..
    Duh, jd pengen ke sini *padahal msh banyak list yg blm dikunjungi*
    Kebetulan aku emg suka sm tipikal kota spt ini, ritme santai, waktu berjalan lambat, mengintip bgmn para orang tua menghabiskan waktu mereka.
    Nice post, Mas! 🙂

  3. Bacaan yg enak…dan ringan…jaga kesehatan dan cepet pulang…inget cutinya terbatas hihihi..Aku bangga punya anak spt kamu….salam buat putri…

  4. orang Turki emang ramah-ramah banget ya kak, inget waktu dulu nyasar cari penginapan di Istanbul trus dianterin bapak2 sampe depan penginepannya. Padahal awalnya sempet curiga krn sebelumnya mampir di Barcelona dan Paris yg banyak scam. Ah jadi kangen deehh 😀

  5. Baru kali ini saya mendengar dan membaca kisah tentang SELCUK. Saya hanya tahu dari berita, bahwasanya keramahan orang TURKI itu luar biasa sekali (mungkin 2x lipat dari orang Indonesia) apakah itu benar? Dan bagaimana menikmati liburan di sana? Apakah lahan pertaniannya begitu menarik dan hasilnya melimpah? Saya suka banget dgn blog Kak Farchan – keren.

    Terima kasih banyak Kak Farchan Noor Rachman

    • betul.
      orang Turki terkenal ramah dan sangat murah senyum.
      kalau untuk liburan ke sana tentunya menyenangkan, sementara untuk lahan agrarisnya lebih banyak buah-buahan.

  6. semoga mereka ga tau walopun kita the biggest moslem country in the world, tp msh banyak sekumpulan oknum yg kadar toleransinya thdp agama lain nol.. 🙁

    btw, ya ampun, ramah2 banget ya berarti org2 di sana mas.. terharu deh.. dan msh ada yg jualan dgn prinsip Islam bgitu… kyknya aku udh jrg nemuin yg seperti itu 🙂

    seandainya ke Turki lagi, sepertinya SELCUK harus aku datangin ^o^

  7. Betul .. seljuk dengan pohon jeruk di pemisah jalan .. enak sekali kota itu .. saya nongkrong di Hotel Arthemis sehari sebelum ke Ephesus ..

  8. Masya Allah…beruntung sekali Anda berdua ditakdirkan Allah untuk bisa mengunjungi Turki. Satu negara yg bener bener amazing…saya sangat menikmati tulisan ini…semakin membuat saya penasran dan ingin sekali ke turki. Waktu umroh saya bertemu banyak orang turki,hampir mirip karakternya dg yang anda ceritkan. Baik,ramah,dan hangat. Saya berdoa dimasjidil haram saat menjabat erat tangan seorang mama dari turkey…i love turkey…doakan saya bisa berkunjung ke turkey

  9. Saat baca tulisan ini saya dan istri sedang menunggu pizza di kedai pasar selcuk. Keramahan orang selcuk memang luar biasa. Di depan hotel kami ada kebun peach dan apricot yg sangat manis dan segaR. Kami dipersilahkan mencicipi bahkan diberi satu kresek dan baru habis dimakan setelah 3 hari keliling ketempt wisata di selcuk. Wilayah selcuk berbukit bukit dg batu padas. Lembah lembahnya yg ditanami buah dan sayur sayuran. Kami ke selcuk sehabis lebaran di bulan juni saat summer. Pertanian izmir dan selcuk sgt modern

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here