Buv4XEXIEAAuCVY.jpg large
Syukron, Sleep Everywhere

Saya bertemu Syukron pertengahan 2012, sosok tegap, berdada bidang dan berkulit gelap ini membawa beberapa temannya ke Magelang. Sebelumnya saya intens berkomunikasi dengan Syukron lewat media sosial, belakangan saya baru tahu bahwa Syukron ini ternyata sosok di balik menjamurnya komunitas traveling di Indonesia.

Di balik sosoknya yang sangar, Syukron rupanya seorang pemalu. Berbicara dengan Syukron harus berkonsentrasi benar karena terkadang Syukron sering kesulitan mengutarakan pendapatnya, itu tak lain tak bukan karena sifat pemalunya itu. Mungkin Syukron adalah orang yang paling banyak memiliki nomor kontak penggerak komunitas traveling dari seluruh Indonesia.

Mewawancarai Syukron adalah wawancara paling sulit yang pernah saya lakukan, butuh waktu hampir 2 tahun untuk meyakinkan dirinya supaya mau diwawancara. Wawancara ini sendiri selesai dalam waktu satu bulan karena kesibukannya keliling Indonesia.

Mari berkenalan dengan Syukron, salah satu sosok besar di balik komunitas perjalanan Indonesia.

Saya / F :  Syu, sibuk ra?

Syukron / S : Lagi di jalan sih, gimana gimana ?

F : Tak wawancara buat blog ya?

S :  Ya udah sambil jalan sini

F : Kron, kudengar saat ini sudah 2 bulan keliling bali. Sebenarnya ada apa sih?

S : Awalnya adalah dari Jakarta, ada pengembang augmented reality (AR) namanya Jspot Mobile.  Mereka ini bekerja sama dengan Wonderful Indonesia untuk mengembangkan AR berbasis pariwisata dengan nama Indonesia In Your Hand.

Nah ini ada aplikasinya, lalu sebelum proyek ini ada aku memang sudah berjalan dengan membuat sub-nya, bagian kecilnya yaitu Bandung In Your Hand, Jogja In Your Hand, Bali In Your Hand dan lain-lain, tapi itu masih dalam tahap development.

Syukron yang paling hitam
Syukron yang paling hitam
Syukron yang paling hitam
Syukron yang paling hitam

Atas beberapa rekomendasi, mereka mengundang aku untuk mengetahui apa itu Indonesian In Your Hand dan rencana awalnya adalah agar mengurus Jogja In Your Hand.

Waktu itu kebetulan di Bulan September dan pas ada event Jogjawalking, jadilah aku menawarkan mereka untuk ikut berpartisipasi di acara tersebut. Karena ada request material promo yang lumayan banyak jadinya aku butuh kendaraan untuk mengangkut materi promo tersebut.

Dari situ dimulailah aku membawa mobil operasional mereka untuk membawa meterial promo ke Jogja. Setelah acara Jogja selesai mobil memang akan dibawa balik ke Jakarta, tapi karena aku mau ke Banyuwangi Etno Festival kutelepon saja mereka untuk pending membawa mobil balik ke Jakarta.

Niatnya aku ke Banyuwangi naik kereta lalu setelah itu balik ke Jogja bawa mobil ke Jakarta.

F : Masih panjang ceritanya?

S : Masih.

Syukurlah, ternyata malah disambut tawaran untuk bawa ini mobil langsung ke Bali sekalian. Karena di Bali akan ada acara Wonderful Indonesia di Pantai Pandawa. Syaratnya gampang, cuma ngasih dokumentasi perjalanan tentang mobil yang kupakai. Jadilah aku ajakin teman-teman di Jogja utk roadtrip ke Bali, mobilnya disulap jadi semi caravan.

Perjalanan  pun dimulai dengan rute Jogja – Solo – Magetan – Malang – Banyuwangi lalu nyebrang ke Bali. Akhir November aku tiba di bali. Teman-teman yang ikut roadtrip juga balik ke Jogja.Sedangkan aku menunggu team dari jakarta yang katanya mau datang untuk mengambil mobil dan niatnya langsung balik ke Jogja.

Tapi malah masih terdampar di Bali sampai sekarang.

F : Ada perubahan rencana?

S : Apa ya kalo bisa dibilang, ada takdir yang berkata lain. Ternyata secara kebetulan juga di Bali pas akan ada peluncuran 4G bulan Februari. Dari pihak Indonesia In Your Hand rencananya memang ada kerjasama antara 4G dan AR.

Syukron yang paling hitam
Syukron yang paling hitam

Ya udah, mereka menawarkan untuk sekalian aja aku membuat konten di Bali utk apps Bali In Your Hand. Karena aku sendiri dan akan muter seluruh Bali sayang sekali kalo tidak dimanfaatkan.

Lalu aku mengajak beberapa kawan di Bali untuk gabung, ada Vifick dan Jeje jadi fotografer, Ajo kusuruh dari Jogja ke Bali untuk nulis, Rio juga ikut nulis. Lalu terakhir Si Rara dan Pras yang jadi koordinator lapangan.

Keinginanku adalah teman-teman sendiri bisa merasakan caravan trip keliling Bali yang selanjutnya mereka bisa membuat konten untuk aktualisasi diri mereka sendiri. Jadi hasil yang didapat itu bersifat pribadi

F : Itu yang ikut Caravan Trip itu tetap?

S : O, engga. Teman yang ikut tidak ada yang tetap, tapi ganti-ganti.

F : Trus?

S : Kalo cerita tentang aku dan mobil caravan seperti itu begini. Di satu sisi aku belajar tentang pengembangan Augmented Reality itu sendiri.

Dan itu semua berjalan tanpa rencana dan dari pihak Indonesia In Your Hand menyerahkan sepenuhnya hasil maupun apa yang mau kulakukan. Dan jadilah perjalanan panjang seperti ini.

Bm6nHtfCQAA5fkG

F : Nah ada kabar baru aja bisa nyetir mobil, tapi udah berani long trip sampai Bali. Kenapa mau mengambil resiko?

S : Gini, jika hal itu terlalu dipikir malah akan muncul banyak ketakutan selama di perjalanan dan aku tahu  sendiri mentalku masih kurang. Makanya aku harus jalan apapun yg terjadi.

Aku lebih bertindak, jika di awal aku menolak karena takut mungkin aku tak pernah mendapatkan ilmu sebanyak yang aku dapat sekarang. Gairah untuk mencari kawan dan untuk berkawan dengan kawan baru. Mendapatkan informasi dan ruang yang tak terduga sepanjang perjalanan.

F : Nah kan Syukron sering jalan jauh-jauh sampai pelosok, apa sih motivasinya? Apa yang dicari di perjalanan?

S : Jujur sejak awal dulu yg kulakukan hanya ingin berjalan, tidak ada ekspekstasi atau harapan lain. Cuman sekadar jalan saja, kalau ditanya mencari apa juga bingung.

Tapi begini selama perjalanan, ilmu dan kawan banyak didapat. Aku bukan pengincar destinasi tertentu. Cuman jalan dan berpindah untuk mengetahui, “Syukron itu bisa apa sih disini?”. 

Alhamdulilah selalu rejeki untuk keluarga selalu ada dimanapun aku berjalan.

BcauatMCYAACzos.jpg large

F : Soal rejeki untuk keluarga, bagaimana itu prosesnya?

S : Kalo disuruh jabarin bingung dah. Selama setahun ini anggapan kerennya sih kerjaanku konsultan. Tapi kenyataannya serabutan.

F :  Gimana kalau tiba tiba rindu keluarga di perjalanan? Kan baru aja punya dedek bayi.

S : Ini pertanyaan yang aku juga nanya ke diri sendiri, ketika ingat anak dan istri yang kubayangkan itu selalu ada mereka saat berjalan. Wulan, istriku juga tahu apa yang lagi kukerjakan, jadi dia selalu support karena memang untuk keluarga juga pada akhirnya.

Mungkin karena imajinasiku tinggi jadi gak berasa rindu.

F : Jadi ga rindu?

S : Ya pastilah rindu, tapi selalu ada cara untuk menemani rindu itu.

Syukron dan Syukron Junior.
Syukron dan Syukron Junior.

F : Omong-omong, sejak kapan sih jalan? Maksudnya kapan pertama kali jalan jauh?

S : Ya waktu SMP, Jayapura – Jawa kapal laut.

F : Sendiri?

S : Ndak, kalo sendiri waktu kuliah, dari Jawa ke Jayapura.

F : Kenapa merantau ke Jawa?

S : Simple, karena waktu itu sedang Papua siaga tahun 1999 sama 2000, jadi di sana kerusuhan melulu jadi memutuskan pindah sekolah.

BpXvWmTCYAAZA3E.jpg large

F:  Prinsip perjalananmu sendiri itu gimana?

S : Prinsip perjalanan itu kayak gimana?

F : Yah, malah balik tanya.

S : Hmm… Prinsip perjalanan ya.. Pertanyaanmu mendasar tapi cukup berat kalau dipikir?

F : Jawab dong

S : Ya kayak gimana? Aku gak tau. Dari awal juga udah kujabarin. Yang kulakukan tak ada penerapan khusus saat melakukan perjalanan.

Aku orangnya gak bisa buat itinerary, aku gak tau tempat-tempat yang harus didatangi saat menuju ke suatu tempat, aku jalan tanpa ekspetasi.

Apa yang bisa kuperbuat di tempat itu ya akan kuperbuat semampuku, jika sudah dirasa cukup ya lanjut jalan lagi. Mungkin kebiasaan seperti itulah yang sering dibingungkan sama teman-teman. Karena sebenarnya aku sendiri juga bingung kalau ditanya.

F : Hahahaha

S : Tapi begini, mungkin yang aku lakukan itu seiring perjalanan akhirnya aku tau yang aku lakukan itu namanya volunturism dan mungkin aku mengarah kesana walaupun pembelajaran soal voluntourism itu masih sangat luas.

Syukron di Sinabung. Menjadi relawan untuk Sinabung kurang lebih 3 bulan lamanya
Syukron di Sinabung. Menjadi relawan untuk Sinabung kurang lebih 3 bulan lamanya

F : Terus?

S : Dan kalau dipikir memang selama ini aku jalan tanpa menghitung kemampuan finansial dan tanpa pernah mengukur berapa lama waktu yang akan kuhabiskan di perjalanan.

Tapi jujur selama di perjalanan justru aku suka dengan sensasi itu dan selalu bertanya pada diri sendiri, apa yang akan Allah kasih lagi di perjalanan.

F : Ga ada ketakutan2 terjadi sesuatu di perjalanan? Karena perjalananmu tampak tidak terencana?

S : Ga pernah.. Buktinya sampai sekarang, aku masih melakukan perjalanan seperti ini.

Semua itu rejeki, Allah yang kasih jodoh, rasa senang ataupun duka kudapatkan dalam perjalanan, jadi tidak ada yang perlu dihindari.

Kalau memang sudah waktunya ya dinikmati. Kunciku selama ini rasa syukurdan kadang ketawa sendiri kalau ingat namaku, Syukron. Mungkin sesuai ya?

Syukron adalah Syukron
Syukron adalah Syukron

F :  Oia Syukron identik dengan Traveller Kaskus dan sering bergabung dengan berbagai komunitas Travelling dari seluruh Indonesia, nah apakah Syukron memang lebih suka berkomunitas?

S : Komunitas itu adalah pengembangan diri dan perilaku bersosialisasi. Dan yang mengontrol kita agar tau situasi dan kondisi itu adalah komunitas.

Dan aku suka komunitas karena itu berarti aku gak hebat, teman-teman di lingkungan dan komunitasku masih banyak yang lebih hebat.

F : Jadi prefer jalan rame2 dengan temen-temen komunitas?

S : Bisa dibilang gitu, karena jarang banget aku jalan sendiri. Bahkan kalaupun sendiri nantinya ada teman yg menemani.

F : Ga curiga sama temen2 yang baru bahkan asing?

S : Gak, kalo selalu mikir curiga yang ada malah gak nyaman sendiri.

Beberapa orang memang bilang itu kelemahanku. Tapi gini, masalahnya kalau aku mikir yang kayak gitu, banyakan gak enaknya.

ByIQN-CCEAALC8P.jpg large

F : Menurut Syukron apa pentingnya komunitas dalam pengembangan dunia traveling di indonesia?

S : Komunitas itu viral. Jelas penting karena disitu kita bisa melihat bagaimana kondisi lingkungan dalam hal ini pariwisata di Indonesia. Komunitas traveling sekarang ini kalau kubagi ada 5 tipe :

1. Komunitas host : BPI Jogja, BPI Bandung dll

2. Komunitas spesial interest : komunitas gunung, diving, komunitas nyelam dll

3. Komunitas konten/media : komunitas foto, komunitas travel bloger, travellerkaskus dan macamnya

4. Komunitas sosial : bookpacker, 1000guru dll

5. Komunitas berbasis ajakan destinasi : kelompok yang jalan karena mau trip entah dengan sharecost

Semua menjalankan perannya masing, cuman yg masih jadi persoalan adalah seberapa lama mereka bertahan. Karena banyak yg timbul tenggelam, jadi agak susah analisisnya.

Dalam hal ini komunitas travelling masih banyak yg berubah – ubah bentuknya sehingga jika ditanya keseriusannya dalam membangun pariwisata belum sepenuhnya fokus.

F : Apa faktor yang membuat sebuah komunitas bisa bertahan?

S : Komunitas itu kan tempat berekpresi, dgn dilandasi loyalitas dan kesukaan yang sama.

Cuman karena bersikap sukarela itulah salah satu kelemahan yaitu tidak siap menyikapi perubahan, kadang kalau ada masalah jarang diselesaikan. Tapi lebih memilih pergi atau menghindar sehingga jarang ada komunitas berkembang dengan baik.

F : Jadi harus ada orang yang sukarela?

S : Ya realitanya seperti itu, komunitas jika money oriented biasanya cepat bubar, butuh proses akan dibuat seperti apa komunitas itu kedepannya.

BgFFaGtCUAAELTK.jpg large

F : Menurutmu gimana dunia perjalanan di Indonesia sekarang?

S : Dunia perjalanan? Hmm… Sebenarnya sama dengan jenis kegiatan lainnya, tapi kayanya sekarang ini lebih banyak “peneliti” pejalan daripada pejalan itu sendiri.

Padahal menurut pendapat pribadi ya, jalan itu soal merasakan perjalanan. Kau gak akan pernah tau rasanya bagaimana menghadapi situasi buruk saat jalan-jalan, bagaimana berada di situasi beda budaya jika tak mengalami sendiri.

Perjalanan-lah yang akan mengajarkan itu.

Banyak yang mungkin terlalu takut untuk merasakan situasi yang gak enak saat perjalanan, karena ekspetasinya perjalanan itu soal keindahan dan mungkin membandingkan dgn perjalanan yang sudah dilakukan sebelumnya.

Apalagi ya.. Kalau bahas beginian banyak sudut pandangnya

F : Maksudnya membandingkan Perjalanan itu seperti apa?

S : Iya, aku sering mendapatkan obrolan, misalnya lagi jalan ke Pantai Kuta biasanya akan membandingkan begini “Ahh Kuta segini doang? Tau gitu ke Amed lebih bagus”.

Ekspektasi dan harapan yg tinggi biasanya justru akan mengecewakan diri sendiri.

Makanya kalau bicarain dunia perjalanan cakupannya luas, kadang masalah-masalah yang terlihat di dekat kita lebih menggelikan dan bikin kita berpikir tentang perjalanan diri sendiri.

F : Nah apa sih yang menarik dari Indonesia itu sendiri? Sampai seorang Syukron menjelajahinya.

S : Manusianya, ragamnya masyarakat, cara mereka berpikir, interaksi dengan orang itulah yang membuat kita belajar banyak.

F : Kapan pulang?

S : Entahlah.

Syukron saat membantu pengembangan ecotourism di Aceh.
Syukron saat membantu pengembangan ecotourism di Aceh.

Demikian wawancara dengan Syukron, salah satu sosok di balik komunitas traveling terbesar di Indonesia, Traveller Kaskus. Sampai saat ini Syukron entah ada di mana, jika bertemu dengannya jangan lupa sapa di twitternya : @SyuKr0n

Sampai jumpa di Wawancara berikutnya.

Tabik.

Foto : Syukron

Follow Efenerr on WordPress.com

16 KOMENTAR

  1. Jadi kenal sama Mas Syukron. Salam kenal, salam blusukan. Senengnya kalau Istri support gitu, jalan bisa anteng dan lancar. Dari foto fotonya, kayaknya Mas Syukron ini Hobi Tidur. hehehe

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here