Tanjung Lesung
Tanjung Lesung

Saya tidak terlalu akrab dengan Tanjung Lesung sampai ketika Jokowi menyambanginya Januari 2015 silam. Kunjungan itulah yang kemudian membuat penasaran dan membuat saya ingin segera turut berkunjung ke Tanjung Lesung.

Berangkat dari Jakarta pagi – pagi sekali rupanya menyadarkan saya bahwa letak Tanjung Lesung tidaklah jauh-jauh amat dari Jakarta. Sebelumnya saya membayangkan Tanjung Lesung itu di ujungnya Banten dan butuh waktu puluhan jam, rupanya hanya 4-5 jam saya sudah tiba di Tanjung Lesung.

Tanjung Lesung dijadikan Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata oleh Jokowi, itu artinya dalam beberapa waktu ke depan Tanjung Lesung akan dikembangkan sebagai pusat pariwisata. Dalam bayangan saya mungkin akan dijadikan area khusus semacam di Nusa Dua atau Kuta di Bali sana.

Saya tiba di Tanjung Lesung Beach Hotel, salah satu kompleks yang dikembangkan oleh Jababeka Group jauh sejak sebelum Jokowi meresmikannya sebagai Kawasan Ekonomi Khusus. Siang yang sepi di Tanjung Lesung saat tiba, rasanya begitu tenang.

Jalan Menuju Hotel
Jalan Menuju Hotel

Hotel ini baru tahap awal dari pengembangan Tanjung Lesung yang Jababeka lakukan. Ada visi ke depan untuk melanjutkan pembangunan ini ke depan, meliputi kawasan konservasi sampai kawasan hiburan.

Ekonomi lamat-lamat mulai bergeliat di sini, banyak homestay-homestay baru yang muncul di sepanjang garis pantai Tanjung Lesung. Kemajuan Tanjung Lesung sudah di ujung embun, jalanan sudah dibuat mulus, walau terkadang di beberapa titik memang penuh guncangan. Infrastruktur yang baik tentu akan menunjang nadi perekonomian kelak.

Saya lantas berpikir, jika hendak dibikin Kawasan Ekonomi Khusus, maka pertanyaan berikutnya adalah bagaimana menghidupkan ekonomi dari pariwisata di sekitar Tanjung Lesung. Banyak yang belum terlalu mengenal iklim pariwisata di sini, karena sebelumnya penduduk di sekitar Tanjung Lesung adalah penduduk yang agraris dan sebagian lainnya sebagai nelayan.

Perlu banyak waktu untuk membuka pola pikir tentang ekonomi berbasis pariwisata yang bisa membangun masyarakat lokal. Namun rupanya ada upaya ke arah sana, di Kampung Cikadu ada sekolah menengah kejuruan dengan jurusan pariwisata. Muridnya penduduk lokal, setidaknya ini sinyal positif untuk membangkitkan kesadaran tentang pariwisata dan mencetak tenaga pariwisata dari lokal. Sehingga ketika Tanjung Lesung nantinya maju pesar, masyarakat setempat sudah siap.

Alam Tanjung Lesung Yang Hijau
Alam Tanjung Lesung Yang Hijau

Alam di sini masih hijau bestari. Sawah masih luas terbentang dan masih ada hutan yang belum terjamah. Keasrian ini perlu dijaga ketika kelak Tanjung Lesung akan dikembangkan. Alam yang dipunyai ini adalah bekal yang menjadi kunci perkembangan kawasan nantinya.

Daerah ini subur makmur, menurut penduduk lokal ini karena anugerah Krakatau. Memang tipikal daerah vulkanik demikian, unsur vulkanik dari gunung berapi di sisi lain membuat tanah menjadi lebih subur. Krakatau yang lamat-lamat tampak sembunyi di balik awan jika ditatap dari Tanjung Lesung rupanya memberi keberkahan sendiri.

Hijaunya kawasan ini rupanya menyimpan keragaman hayati. Ada pohon kelapa purba yang konon hanya ada di sini. Ada juga salak birus, salak dengan biji kecil-kecil seperti gundu yang menjadi tumbuhan endemik kawasan Tanjung Lesung.

Salak Birus
Salak Birus
Burung Camar di Langit Tanjung Lesung
Burung Camar di Langit Tanjung Lesung

Menurut penduduk setempat, bertemu biawak adalah santapan sehari-hari, jika beruntung mungkin masih bisa bertemu rusa atau babi hutan melenggang bebas. Di sekitar Pulau Liwungan, sekitar 30 menit dari daratan Tanjung Lesung juga masih banyak sekali burung camar yang terbang bebas memburu ikan.

Keanekaragaman Hayati inilah yang kemudian mendorong dibangunnya kawasan konservasi sebagai salah satu unsur penting dalam pengembangan Tanjung Lesung ke depan. Ini adalah langkah yang baik karena tentunya tidak ada yang rela jika ekosistem yang sudah lestari ratusan tahun kemudian tergusur karena pembangunan kawasan ini.

Senja Tanjung Lesung
Senja Tanjung Lesung

Saya membayangkan ada masa depan cerah untuk Tanjung Lesung, pastilah 5 – 6 tahun ke depan perkembangannya akan jauh berbeda dibandingkan sekarang. Pemerintah bahkan mencanangkan akses tol dari Serang menuju Panimbang, sebagai akses langsung menuju Tanjung Lesung.

Pembangunan tol ini tak hanya menguntungkan Tanjung Lesung semata, namun juga menghidupkan sisi ekonomi daerah sekitarnya seperti Pandeglang dan daerah pesisir selatan Banten lainnya. Jika Tanjung Lesung berkembang diharapkan daerah sekitarnya pun turut berkembang seiring dengan majunya Tanjung Lesung.

Kawasan Ekonomi Eksklusif yang dikembangkan Jokowi memang cukup menjanjikan, seharusnya investasi ke depan akan membuat Tanjung Lesung berkembang. Mari kita lihat ke depan, bagaimana mutiara yang selama ini terpendam di Banten bagian Selatan ini akan memancarkan kilaunya beberapa tahun ke depan.

Tabik.

Foto dengan Fuji Film X-A1

Terima kasih untuk Tanjung Lesung yang telah mengundang Travel Blogger dan Instagrammer untuk berkunjung ke Tanjung Lesung.

IMG_4825
© Marischka Prudence

Follow Efenerr on WordPress.com

10 KOMENTAR

  1. Menyenangkan sekali! Informatif dan menarik isi blognya.

    Semoga ke depannya ditampilkan materi yang lebih baik lagi..

    “Everything in life is temporary. So if things are going good, enjoy it because it won’t last forever. And if things are going bad, don’t worry. It won’t last forever either.”

    Please revisit my new looking blog at http://suitincase.blogspot.com…. Thank you very much :).

  2. Sejak sebuah resort mewah dibangun disana, saya belum pernah sekali pun menyambangi Tanjung Lesung. Padahal jarak tempuh dari rumah hanya 45 menit berkendara.

    Entah sekarang, kalau dulu spot-spot terbaik Tanjung Lesung ya hanya dimiliki oleh resort mewah terebut. Oleh karenanya, kami lebih sekeluarga lebih memilih Pantai Carita untuk menyapa laut dibanding ke Tanjung Lesung 🙂

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here