IMG_6926
Sungai Noelmina

Alam menyambut saya ke Nusa Cendana dengan tawaran cerah mentari yang ramah. Saya baru terbangun dari tidur ketika pesawat mendarat di Bandara El-Tari, Kupang setelah 3 jam perjalanan dari Jakarta. Kiranya Tuhan ingin menunjukkan betapa ramahnya Timor dan meminta saya untuk senantiasa tersenyum sepanjang perjalanan di tanah cendana ini.

Saya yakin benar orang Timor adalah orang yang ramah, jika mentari pun membuka hari dengan ramah, maka saya yakin orang Timor pun tak kalah. Di muka bandara, muka-muka penuh senyum menyambut, gelak tawa bertebaran di mana-mana, rupanya memang benar apa yang saya duga, hawa penuh keramahan menyambut saya.

IMG_6815
Mentari Mengintip Dari Bandara El Tari Kupang

Saya melintas melalui jalan yang membelah Pulau Timor menuju Atambua, titik yang konon di saat musim panas bisa menembus 40 derajat celcius. Panas yang menggantang tak menyurutkan nyali, saya menikmati setiap detik perjalanan dalam bis yang Kupang – Atambua yang penuh penumpang.

Pada sebuah perhentian saya berhenti mendengarkan denting surgawi Sasando Jeremiah, seorang virtuoso musik Sasando di Tana Timor. Dari alam yang keras, cuaca yang panas ternyata Timor memiliki penawarnya, denting – denting Sasando yang bening adalah kesejukan tersendiri di Timor.

Halusnya denting sasando, menghibur dari panas terik yang memanggang.

IMG_6833
Bis Yang Membawa Saya Menyusuri Jalanan Kupang

Melintasi jalanan berkelak-kelok di menuju Soe, di tepi kiri adalah tebing batu terjal di kanan adalah bentang pemandangan yang lepas, terkadang pemandangan itu tertukar antara kanan – kiri, biru langit memanggil di atas, sementara awan-awan putih dengan santai mengawang tanpa beban.

Alam Timor sungguh cantik nian, lukisan dari Tuhan terbentang dalam kanvas berupa langit biru benderang.

Bis menepi sebentar di Soe, Edward yang riang mengajak saya turun. “Kakak harus coba Jeruk Soe, sedap itu!”

Di Soe, di tepi lintas Kupang – Atambua berderet mama-mama pedagang jeruk, jeruk Soe yang dijajakan adalah kebanggaan orang-orang Timor.

Mengiyakan kata Edward, jeruknya sedap betul! Jeruk Soe itu legit benar, kandungan airnya melimpah dan menumpahkan kesegaran membunuh dahaga.

Jeruknya kuning cerah, kulitnya pun halus, ukurannya sebesar bola tenis. Jeruk ini konon hanya bisa berbuah di kala musim kemarau yang menyengat. Tuhan memang adil, di saat kemarau panas di Timor, Ia memberikan anugerah jeruk Soa yang sungguh segar.

Saya membeli beberapa jeruk Soe nan segar ini untuk bekal, Atambua masih jauh dan saya harus terus bertarung dengan hawa panas dan terik siang.

Jeruk Soe
Mama Mama Penjual Jeruk Soe

Di perhentian Soe ini pula banyak anak-anak yang berjualan kacang sebagai makanan kecil. Tingkah mereka lucu, mereka berjualan tanpa memaksa, menawarkan dengan gembira. Jika tidak dibeli tak apa, mereka tetap akan tersenyum pada saya.

Saya tersentuh benar. Ini oase di perjalanan yang panas. Di Jakarta, saya jarang bertemu pedagang asongan yang demikian. Mungkin lingkungan yang membuat pedagang asongan sedikit kurang senyum? Entah.

Saya sempat memotret salah satu anak-anak penjual kacang itu dan ketika hendak memencet shutter, si anak ia bilang “Jangan di foto kakak, malu”.

Tapi tetap saja saya foto dan ia berpose dengan senyum yang malu-malu. Ketika saya tunjukkan fotonya ia tersipu.

IMG_6914
Senyum anak Soe

Orang Timor mungkin dilahirkan dalam keadaan tersenyum. Di mana-mana, sepanjang Timor sampai Atambua saya berpapas senyum sepanjang jalan. Senyum yang tulus dan lepas.

Bukankah sebuah wujud kesyukuran jika bersua senyum di mana saja? Perjalanan akan riang dan menyenangkan. Indah. Terkadang hal-hal demikian yang membuat perjalanan semakin menyenangkan.

Bukan soal keindahan lanskap, penerimaan baik masyarakat lokal juga merupakan berkah perjalanan yang tak terkira, tiada dua.

Orang Timor merepresentasikan kebaikan orang Indonesia yang sesungguhnya, di Timor ada senyum paling tulus dan lepas di Indonesia. Senyum orang Timor yang tak henti-hentinya ditebarkan adalah bentuk keberkahan pada mereka yang berkunjung dan singgah di Nusa Cendana.

Senyum Manis Orang Timor
Senyum Manis Orang Timor

Perjalanan terus berlanjut ke Atambua, perbatasan dengan Timor Leste. Dahulu saling bersaudara, namun karena perbedaan prinsip, saudara-saudara di Timor Leste memilih berpisah. Namun perpisahan ini hanya batas fisik antar negara saja, orang-orang Timor dan Timor Leste masih bersaudara satu sama lain.

Tiba di Atambua siang terik, saya segera putar haluan ke Tanjung Bastian di sisi pantai utara Timor. Konon ada gemerlap senja merah di Timor. Sepelemparan batu dari Tanjung Bastian adalah area enklave Timor Leste dan di sinilah saya duduk menanti detik-detik senja.

Rona senja mulai menghias langit. Senja yang merah meruah di langit, tumpah.

Saya menanti detik-detik senja dengan bahagia. Mentari turun pelan-pelan setapak demi setapak menuju laut. Laut menyambut, ia memeluk mentari yang datang padanya dan mengantarkan mentari ke peraduannya.

DSC_1176
Senja Tanjung Bastian

Saya datang di Timor dengan sambutan hangat sinar mentari, mentari yang menjalar dari biru pagi ke terik siang dan lalu mentari pula yang mengantarkan saya ke senja yang merah. Begitupun dengan keramahan penduduk, seolah-olah saya dihampiri kawan karib, dirangkul dan dibisiki “Selamat datang di Timor bro, kita semua saudaramu.”

Teringat di perjalanan, Edward yang begitu riang di perjalanan, yang menghibur dengan lelucon-leluconnya, membuat saya yakin, Timor adalah tempat orang-orang baik, tempat orang-orang dengan hati yang begitu halus.

Nusa Cendana adalah personifikasi tentang Indonesia yang sesungguhnya. Jauh dari ibukota, di timur sana orang-orang Timor menjaga ke-bhinneka-an dengan sikap sehari-hari mereka, menjaga rasa kebangsaan dengan budi baik mereka.

DSC_1106
Mama-mama di Pantai Wini

Timor adalah paduan tepat tentang arti indah. Pemandangan yang membuat dada membuncah dan menarik napas karena kagum, langit yang biru bersih, angin yang membuai tenang, jajaran bukit-bukit nan gagah. Semua itu lebur menjadi satu, mengejakan indah.

Pasti Tuhan melukis Timor dengan rasa seni yang agung, itulah mengapa Ia menorehkan aroma firdausi dalam gurat bumi Timor. Dan begitu Tuhan selesai melukis maka Ia berkata, lengkap sudah lukisan Timor dengan orang-orang yang begitu baik dengan pemandangan yang begitu indah.

Jangan ragu-ragu ke Timor. Walau ia jauh di ujung timur dan butuh usaha keras untuk ke sana. Rasakanlah dari pagi biru mentari sampai senja merah di Timor. Sesaplah dengan pelan apa yang Timor tawarkan, pemandangannya dan ramah baik penduduknya.

Saya katakan, ada banyak rona yang menanti di Timor, ada banyak keindahan yang menanti. Jelajahilah setapak demi setapak, rasakanlah terik mentari yang membakar, tataplah langit biru bersih, basuhlah muka dengan segar air lautnya, dinginkanlah badanmu dengan terpaan angin yang ramah. Maka di akhir perjalanan tanpa sadar kau akan berkata “Timor yang Indah”.

Tabik.

Follow Efenerr on WordPress.com

9 KOMENTAR

  1. Bang, boleh kah saya minta kontak orang di Kupang yg bisa jadi tempat bertanya atau menemani perjalanan ke Atambua? Kair-kira estimasi waktu perajalanan darat dari Kupang ke Atambua berapa jam ya? Rencananya bulan Mei saya mau ke Kupang. Salam. 🙂

    • Met Pagi Titi. Mohon maaf saya sudah kehilangan kontak di Kupang. 🙁

      Namun untuk perjalanan, estimasinya adalah 5-8 jam perjalanan jika lancar.

      Semoga lancar ya perjalanannya. Salam.

  2. mas Chan,, baca tulisan ini terharu deh, merinding juga… 2 tahun penempatan di Kupang dan rutin mengunjungi kabupaten2nya,, dan saya berani simpulkan orang2 Timor, dan NTT khususnya adalah orang paling ramah, paling hangat yang pernah saya temui.. Tak jarang anak2 SD menyapa “mat pagi”, “mat siang”, dan sebagainya sambil senyuman merekah dari bibirnya.

    aaah,, rindu tanah Timor, rindu flobamorata… 🙂

    PS: kalau berkunjung ke Sumbar kabar2in mas 😀

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here