2015_0502_16272100

Termenung di antara kungkungan toko kain dan gorden, ada aroma kopi menyeruak pelan-pelan menembus dinginnya Bandung. Saya menyusuri Jalan Alkateri dalam hujan rintik-rintik dan sore yang muram. Seperti anjing pelacak, saya membaui aroma kopi yang menuntun saya ke Warung Kopi Purnama Alkateri.

Jalan Alkateri dirundung dingin, hujan yang rintik-rintik mengantar saya menikmati hangatnya kopi. Pada masanya, Jalan Alkateri adalah milik orang arab, Alkateri. Sekarang, alih-alih menjadi Kauman, Jalan Alkateri malah masuk dalam kawasan pecinan Bandung.

Saya lalu menatap satu-satu bangunan tua sebelum masuk ke warung kopi. Bandung memang selalu menjaga sesuatu dari masa lalu dengan baik, Warung Kopi Purnama ini hanya salah satu. Warung kopi yang tidak hilang ditelan jaman dan mampu menahan diri dari geliat modernitas, tetap menyajikan kopi dengan cara yang disajikan delapan dasawarsa silam.

Istri saya selalu menyukai kedai kopi tua, kedai a la Kopi Tiam termasuk Kopi Purnama ini. Baginya yang lambungnya sensitif dengan kopi, sajian Kopi Tiam adalah jalan tengah. Ia bisa menikmati kopi yang sedap tanpa khawatir lambungnya akan protes berteriak.

2015_0502_16262000

Alunan Bossanova menyambut lirih, ruangan depan Warung Kopi Purnama masih tetap tegas seperti apa adanya ketika dibikin. Ada kursi-kursi jati tebal, ada meja kasir tinggi, ada kaca patri dan langit-langit yang tinggi. Pada sekeliling dinding dipancang foto-foto hitam putih Bandung dari masa lalu, foto-foto generasi pendiri warung kopi. Semua seolah bersenandung memuji masa lalu.

Layaknya kopi tiam, warung kopi ini kebanyakan dikunjungi oleh orang-orang Tionghoa. Tumbuh di tengah pemukiman orang Tionghoa, orang-orang di sini menjadikan tempat ini sebagai episentrum untuk bercengkerama, bersinggung muka dan membicarakan banyak hal. Kursi-kursi jati tua-lah yang lantas menjadi saksi dan bersenandung bagaimana masa berganti, pengunjung datang dan pergi ke warung kopi ini.

Duduk diam seolah larut di era pendiri warung kopi ini, Yong A Thong datang dengan penuh harap dari Medan di awal dasawarsa 1920-an. Impiannya membuka sebuah kopi tiam tercapai. Ia membuka warung kopi bernama Chang Cong Se yang artinya selamat mencoba, dengan demikian ia menawarkan orang-orang Bandung untuk mencoba kopinya, syukur jika suka, tidak pun tak apa.

Rupanya kedai ini kemudian ramai, zaman makin berkembang tak meruntuhkan warung kopi ini sampai berganti generasi. Era nasionalisasi, warung kopinya berganti nama menjadi Purnama, mengindonesia, tapi justru semakin banyak orang datang mencoba kopinya.

Tanda mengikuti zaman memang tampak, ada simbol wi-fi di sisi meja kasir. Mengakomodasi manusia yang semakin modern namun tanpa terperangkap arus zaman. Tampak tak ada kesibukan menatap gawai di tangan, para tamu yang datang sibuk bercengkerama masing-masing, menihilkan gawai, menikmati proses tatap muka. Sebuah mimpi yang mungkin diinginkan oleh Yong A Thong ketika ia membuka warung kopinya dulu.

2015_0502_16292100

Kami memilih menuju bagian dalam bangunan yang masih asli dari era Indies ini, di bagian tengah lebih hening, terdapat taman kecil dan juga ornamen berupa perabotan tua. Hujan masih memeluk dan kami segera memesan kopi. Tak seperti kedai kopi modern yang penuh riuh, Warung Kopi Purnama menawarkan sepi dan kesederhanaan.

Seperti pakem kopi tiam, sejak dahulu warung kopi ini menyajikan kopi beserta kudapannya. Orang-orang Hokkien memang menjadikan warung kopi tak sekedar tempat minum kopi, kopi tiam adalah jagad untuk berbincang hingga lama, itulah mengapa selalu ada kudapan yang menemani kopi. Kedai Kopi Purnama masih membawa akar Medannya, Roti Serikaya sebagai kudapan pendamping kopi. Namun jika boleh jujur, bisa juga mencoba Roti Telur Sosis yang hangat, pas disantap saat dingin menyergap.

Saya memesan secangkir kopi tubruk, sementara istri memesan kopi susu, kopi tubruk memang selalu menjadi favorit saya untuk mencoba kopi. Kopi disajikan panas-panas, dengan aroma persis aroma yang menjalar di sepanjang trotoar Jalan Alkateri.

Kopinya ramah, pahitnya kuat dan asamnya minim. Pekat pahit kopinya konon berasal dari biji kopi pilihan yang didatangkan langsung dari Medan. Warung Kopi Purnama menjaga kualitas dengan mengolah sendiri kopi-kopinya, sejak dari biji kopi sampai ketika dihidangkan hangat-hangat dalam cangkir. Sayang saya tidak mendapatkan izin untuk melihat proses pembuatan kopinya, tapi tak apa saya menikmati kopi sembari terjebak suasana yang membawa ke masa lalu. Istri pun suka dengan kopi susunya, hangat di perut begitu katanya.

Pada rintik hujan yang ritmis saya menyesap sedikit demi sedikit kopinya. Harumnya tak bisa dideskripsikan, semacam ada harum yang sergak, namun ada juga sedikit aroma asam buah yang menyeruak. Tegasnya pahit biji kopi sedikit dihibur dengan selentingan asam tadi yang mengintip tipis-tipis.

Kami layaknya orang-orang Hokkien di Bandung menikmati Warung Kopi Purnama Alkateri dan tenggelam dari percakapan hingga usang, hingga hujan berhenti dan mempersilakan orang-orang kembali berhamburan di jalan. Warung kopi menjadi legendaris karena kukuhnya yang tak hancur dilekang zaman. Warung kopi ini mengajarkan satu hal, masa lalu bisa selaras dengan masa depan tanpa perlu dikalahkan.

Untuk sebuah pengingat dari masa lalu, warung kopi ini adalah monumennya dan saya berharap Warung Kopi ini akan terus bertahan bergenerasi ke depan, sebagai narasi bahwa Bandung ditopang dari masa lalu untuk melangkah ke masa depan. Warung Kopi Alkateri adalah senandung masa yang semoga akan abadi.

Tabik.

NB : Menyusuri Jalan Alkateri paling cocok dengan berjalan kaki, jika bermobil parkirlah di Masjid Raya Bandung kemudian menyeberang dan menuju Jalan Alkateri. Dari Jalan Alkateri bisa menuju Banceuy di mana terdapat Kopi Aroma, setelah itu bisa menuju Gang Tamim dan kawasan Pasar Baru. Sembari menikmati kopi, bisa juga menikmati sejarah yang tercecer di jalanan yang sudah ada sejak era Jalan Raya Pos ini.

Baca juga ulasan di Tabloid Nova.

Tangkapan layar penuh 12052015 54718.bmp

Follow Efenerr on WordPress.com

18 KOMENTAR

  1. Lam kenal Mas efenerr… selalu suka dgn tulisannya.. Jd kangen Bandung,skrg sy di Depok.
    Saya baru tahu di alkateri ada warkop,biasa ke sana cuman nyari karpet sm gorden tok.. hhehehee…

  2. Waaaaks, warung kopi sekarang udah pada gaul-gaul ya. Keren-keren sekarang tempatnya 😀 memanjakan penikmatnya 😀

    tapi, aku kurang begitu suka ngopi ._. sekalinya ngopi yang kopi macam goodday gitu dan nggak bisa tidur akhirnya ._.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here