DSCF6224.resized
Kebun Tembakau Virginia di Lombok

Tiba-tiba saya terkenang,

Jika kemarau hendak datang dan hujan menuju penghabisan, kakek akan mengajak saya ke ladang. Pabila saya tidak kuat berjalan dan merengek, kakek akan menggendong saya hingga tujuan. Saya dibiarkan bermain di pematang sawah, sementara kakek hanya berkeliling sawahnya, melihat arah angin, menatap cahaya mentari, menghitung gerak awan, setelah itu kembali kakek mengajak saya pulang.

Malamnya kakek akan terjaga, ia akan melihat bintang. Dengan kertas kecil, kakek mencatat bintang yang telah ia lihat. Setelah itu kakek pulang, melihat kitab ilmu falak beraksara arab gundul dan sampul rapuh berwarna kuning.

Setelah usai berkutat dengan berbagai catatan tentang unsur alam yang diihat dan hitungan ilmu falak yang rumit. Kakek akan berkata pada nenek, “Tanggal ini kita sudah harus tanam tembakau, tidak boleh terlambat”. Saat itu juga nenek akan bergerak, menyiapkan buruh tani, menyiapkan tempat, membuat perhitungan.

Kakek yang menguasai ilmu falak dan menguasai ilmu pertanian, nenek menjalankan manajemennya. Kombinasi ilmu kakek dan kepemimpinan nenek membuat keluarga kami sohor dikenal sebagai penghasil tembakau kualitas bagus.

Setelah titah kakek, maka selama beberapa bulan ke depan, rumah keluarga besar akan digerakkan oleh sebuah tanaman yang konon dijuluki, emas hijau.

Haji Sabaruddin, Petani Tembakau dari Lekor
Haji Sabaruddin, Petani Tembakau dari Lekor

Fragmen kenangan tentang kakek dan nenek saat memulai proses olah tembakau tiba-tiba melintas ketika saya dalam perjalanan menuju Lombok Tengah. Sepanjang jalan selepas Mataram daun lebar tembakau menghias, pohon tembakau tumbuh subur, hijau dan gemuk, nusa ini memang dikenal sebagai salah satu penghasil tembakau nomor satu di Indonesia.

Saya bertemu Haji Sabaruddin, salah satu petani tembakau di Lekor, Lombok Tengah. Di antara pohon tembakau nan hijau, Sabaruddin tersenyum lepas. Tahun ini tembakaunya bagus dan tahun ini pula Ia akan berangkat ke tanah suci yang kedua kali.

Tembakau memang emas hijau, komoditas seksi yang berharga tinggi. Narasi tentang tembakau yang diharapkan petani adalah hasil yang bagus dan tembakau dibeli dengan harga tinggi. Tapi tembakau adalah tanaman yang sedikit manja dan harus dirawat dengan hati-hati. Petani tembakau juga harus menjadi orang yang tangguh dan seharusnya enggan menyerah.

Sabaruddin menanam jenis tembakau yang sama dengan petani tembakau di Lombok, Virginia. Jenis tembakau ini berasal dari Amerika dan masuk ke Lombok mulai tahun 1985. Ketergantungan akan tembakau ini untuk produksi rokok nasional begitu tinggi, maklum tembakau ini dibutuhkan untuk segala jenis rokok yang ada di pasaran.

Pahit getir budi daya tembakau sudah dirasakan oleh Sabaruddin. Panen yang hancur lebur salah satunya, jika mengingat peristiwa itu Sabaruddin hanya tersenyum, bagaimana tidak modal yang sudah dikumpulkan mendadak lenyap tak berbekas.

Proses sortir tembakau sebelum dibawa ke Gudang
Proses sortir tembakau sebelum dibawa ke Gudang

Dalam rantai panjang pengolahan tembakau di Lombok, gudang-gudang penampungan tembakau dari pabrik rokok akan menerima tembakau yang sudah dioven. Itulah mengapa di rumah-rumah petani tembakau di Lombok akan berdiri oven tembakau, dibangun dari batu bata yang menjulang tinggi.

Proses pengovenan ini membutuhkan waktu tiga sampai lima hari, dalam jangka waktu itu petani tembakau akan terus mengawasi prosesnya dan memastikan tembakau akan matang benar. Setelah itu petani baru bisa menjual tembakau ke pabrik rokok.

Biaya besar tentunya dibutuhkan membuat oven sekaligus bahan bakarnya. Ada banyak metode, namun yang paling banyak digunakan adalah menggunakan tungku oven dengan bahan bakar limbah kulit kemiri, walaupun durasinya lebih lama namun panasnya akan merata. Sebagian menggunakan gas LPG, setiap oven biasanya disokong dengan 4-5 tabung gas untuk menghasilkan panas oven.

Lantas dari oven-oven tembakau yang dimiliki petani tersebut, tembakau-tembakau berkualitas wahid dikirim ke gudang pabrik rokok. Maka dari gudang pabrik rokok-lah, alur perjalanan tembakau menjadi rokok akan dimulai.

Oven tembakau
Oven tembakau
Tembakau di dalam Oven
Tembakau di dalam Oven

Di gudang penampungan tembakau pabrik rokok yang hiruk pikuk, tembakau-tembakau dari petani dipilah, dipilih berdasar grade lalu dikemas dan dikirim ke pabrik rokok di Kudus. Proses inipun bukan proses yang singkat, gudang pabrik rokok menjadi kepanjangan tangan pabrik rokok dari petani dan di gudang inilah kepastian suplai tembakau didapatkan.

Karena Lombok adalah penghasil tembakau virginia terbesar di Indonesia dan salah satu yang terbesar di dunia, volume transaksi dari petani setiap harinya pun lumayan  besar. Dalam sehari dana 5-6 milyar bisa dibayarkan petani secara tunai untuk pembelian tembakau yang dikirimkan petani, angka ini bisa bertambah apabila musim panen mencapai puncaknya.

Bayangkan bagaimana ekonomi digerakkan dari pertanian tembakau. Berapa banyak perputaran uang yang ada di Lombok dalam setiap masa panen, tentunya ini tak hanya menguntungkan pabrik rokok, petani pun mendapatkan untung.

Hiruk Pikuk Gudang Penampungan Tembakau
Hiruk Pikuk Gudang Penampungan Tembakau

Ada lebih dari 20.000 hektar lahan tembakau virginia di Lombok dan puluhan ribu orang yang menggantungkan diri dari tembakau. Tata kelola, tata niaga tembakau yang selama ini menjadi sandaran di Lombok harus dilihat dari sisi lain.

Haji Sabaruddin adalah saksi hidup bagaimana tembakau mengubah Lekor dari desa paling tertinggal menjadi desa yang maju. Budidaya tembakau telah mengangkat derajat petani-petani di Lekor, tak lagi menjadi petani miskin yang berpasrah pada keadaan, namun menjadi petani yang rajin dan ulet dengan hasil yang bagus.

Menariknya ada dua ukuran kesuksesan petani tembakau di Lombok, bukan karena rumah yang bagus atau harta berlimpah. Pertama adalah naik haji, mereka baru dianggap petani tembakau sukses apabila mampu berhaji. Sementara yang kedua adalah menyekolahkan anak-anaknya setinggi-tingginya, tembakau menghasilkan mobilitas vertikal bagi generasi penerus para petani tembakau.

Tembakau membuat petani-petani berdaulat, ada keuntungan ekonomis yang bisa didapatkan setiap tahun. Niaga tembakau juga membuat petani mampu mengupayakan, mengusahakan diri dan memperbaiki diri. Daulat negeri tembakau adalah daulat tentang petani-petani yang mengolah tanah untuk menghasilkan sesuatu.

Bukankah selama ini petani adalah pekerjaan yang dianggap tidak seksi? Jika selama ini petani selalu tercekik dengan harga murah, panen gagal, pupuk mahal dan beragam kebijakan tidak memihak. Tembakau merubah itu semua, petani berdaulat atas apa yang mereka miliki dan juga membuat mereka mampu memperbaiki diri.

Mau tidak mau, melihat tembakau memang tidak bisa dilihat dari satu sisi, rokok. Tembakau ini adalah hal multidimensional. Tahukah bahwa dengan sekian puluh ribu ton hasil panen tembakau di Indonesia ternyata belum mencukupi kebutuhan tembakau nasional. Ya, Indonesia masih mengimpor tembakau dari Amerika Serikat, Brazil, Afghanistan dan beberapa negara lainnya.

Sementara di negara lain, budidaya tembakau adalah industri yang besar, dikerjakan dengan alat-alat modern. Di Indonesia, budidaya tembakau tidak bergerak dari era Hindia Belanda, masih dikerjakan dengan manual dan tenaga manusia. Dari hasil tembakau yang melimpah, ada narasi tentang betapa tertinggalnya sistem pengolahan tembakau Indonesia.

Pemilihan mutu tembakau oleh Grader
Pemilihan mutu tembakau oleh Grader

Di akhir perjalanan di Lombok saya kembali terkenang,

Tembakau telah membuat Kakek dan Nenek mampu berangkat haji bersama ke tanah suci, Ibu dan Paman saya juga dikuliahkan sampai akhir. Bahkan saya pun bisa kuliah karena dibayari dari hasil tanam tembakau yang diupayakan oleh Kakek.

Walau keluarga kami pernah kolaps karena harga tembakau yang hancur lebur di kurun 2005 yang membuat Kakek sangat terpukul karena keluarga mengalami kebangkrutan sehingga memutuskan tidak lagi menanam tembakau hingga Kakek meninggal. Tapi bagaimanapun tembakau adalah komoditi yang menyelamatkan keluarga kami.

Di akhir saya ingin katakan bahwa berbicara tembakau memang tak semudah melarang orang merokok. Ada proses yang panjang dan melibatkan banyak orang.

Tabik.

Catatan dari perjalanan Jelajah Negeri Tembakau bersama PT Djarum. Perjalanan ini mampu menyajikan hal-hal tentang tata kelola tembakau yang tidak banyak diketahui orang.

Tulisan lain bisa dibaca di daftar berikut :

Indri Juwono – Hamparan Hijau Tembakau Lombok

Wira Nurmansyah – Negeri Tembakau Lombok

Tekno Bolang – Lombok, Jelajah Negeri Tembakau

Agus Mulyadi – Jelajah Negeri Tembakau Lombok

Vira Indohoy – Another Side of Lombok Island, West Nusatenggara

Tim Jelajah Negeri Tembakau.
Tim Jelajah Negeri Tembakau.

Follow Efenerr on WordPress.com

20 KOMENTAR

  1. Saya jadi teringat Cak Nun, dan Gus Mus yang perokok berat. Mereka pernah berhadapan dengan aktivis anti rokok, yang ternyata tak mampu menggoda mereka untuk berhenti merokok. Cak Nun pula yang berada di baris terdepan melindungi dan membela petani tembakau di Temanggung, di lereng Gunung Sindoro-Sumbing.

    Saya yang mahasiswa pertanian, tentu jelas menyatakan petani tembakau layak berdaulat. Semoga petani dan komoditi tembakau kita mampu perlahan mengurangi angka impor.

    Semoga, bagi yang anti rokok tak serta merta anti pula terhadap petani dan tembakaunya.

  2. Pertanian tembakau dan industri rokok jadi rumit ya Mas karena kampanye larangan merokok ya Mas. Saya baru tahu sewaktu mengunjungi museum Krektek di Kudus. Mungkin pabrik-pabrik rokok harus menemukan formula dan membuktikan dengan riset ilmiah bahwa merokok tidak merusak kesehatan seperti yang dikampanyekan 🙂

  3. wah, kenangan sama kakeknya manis sekali, eF.
    saya juga suka memandang bintang, tapi tidak paham hitung-hitungan yang itu.
    ternyata apa yang terjadi di langit mempengaruhi hal-hal di bumi, yak. ilmu bertani memang tidak sesederhana menabur benih.

    sayangnya, menjadi petani selalu dianggap sebagai pekerjaan yang berpeluh berat, dengan penghasilan yang kurang juga, dianggap menjadi pekerjaan yang tidak dilirik. tapi memang sulitlah berkembang sebagai petani bila tidak ada tanah untuk dikerjakan,

    • Betul mbak, Ilmu tentang langit kalau jaman dulu diajarkan di pesantren2, jadi orang jaman dulu sudah paham benar tentang tanda tanda alam.

      Yes, soal pertanian itu dia masalahnya. 🙂

  4. Mas Chan, saya mau tanya. Pas Mas Chan mengenang makmurnya mendiang kakek (bisa menyekolahkan anak & cucunya) dan juga Pak Sabaruddin (bisa naik haji) dari hasil perkebunan tembakau dengan kenyataan produksi tembakau yang mayoritas sebagai bahan baku rokok (yg mana menghisap asapnya = penyakit). Apakah dengan kondisi tersebut, Mas Chan lantas berpendapat “habis mau bagaimana lagi?” ?

    • Tidak. Faktanya keluarga saya sudah tidak menanam tembakau lagi, kami sudah mengganti dengan tanaman lain. Hasilnya memang tidak semenggembirakan menanam tembakau.
      Poinnya bukan dari kemakmurannya, tapi ketika nanti mereka sudah tidak tanam tembakau, apakah petani akan tetap makmur? Kapan lagi mereka bisa merasakan kemakmuran seperti ketika mereka menanam tembakau?

      • gua penasaran sih, kalau memang tembakau (yang katanya cuma bisa dibuat rokok) dilarang, tanaman apa ya yang bisa menggantikannya menghidupi para petani itu?
        masa iya di Lombok cuma bisa ditanami tembakau?

  5. Aku pernah belajar kitab kuning tapi lupa sama sekali ga berbekas, mungkin kebanyakan dosa T^T *OOT
    Kakeknya extraordinary Kak, suda langka di jaman skrg yang masih bisa memahami itu 🙂

  6. Mas effener bole minta nomer contac nya , saya ingin ke gudang penyimpanan tembakau di lombok yang bagus bole minta alamat dan nomer hp yang bisa di hubungi terima kasih sebelum nya

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here