Tanjung Aan
Tanjung Aan

Narasi negeri ini adalah lukisan cakrawala yang terbentang luas, mengantar orang-orangnya bangun dengan gemerisik teduh embun dan mengantarkan senja demi menyongsong malam. Indonesia negeri yang membuat orang asing cinta, pada rana panoramanya, pada ramah penduduknya.

Setiap jengkal Indonesia adalah pesona, barangkali setiap orang punya tempat kesukaannya. Tempat di mana orang-orang akan mengenang sejuknya atau mengenang betapa baik orang-orangnya, bisa juga mengenang betapa indah budayanya.

Dan saya terkenang Lombok.

Persawahan di Praya Lombok
Persawahan di Praya Lombok

Tahun ini saya sudah tiga kali mengunjungi Lombok, bertemu Rinjani setiap akan mendarat, menyantap Ayam Taliwang di pinggir jalan atau sekedar duduk-duduk di beruga, berbincang santai dengan orang-orang Sasak, orang-orang asli Tanah Lombok.

Kunjungan pertama kali ke Bayan, tahun 2011 silam seolah menjadi pengikat saya dengan Lombok. Jadilah sejak 2011, setiap tahun saya kembali ke Nusa Seribu Masjid ini, hingga sekarang.

Lombok memang terkenal dengan masjidnya, Suku Sasak identik dengan muslim. Damai Islam sudah ada di Lombok dengan sebuah masjid kecil di Bayan menjadi penanda, Masjid Bayan Beleq. Syiar Islam yang berawal dari Bayan menyebar ke seluruh Lombok.

Masjid Bayan
Masjid Bayan

Lima waktu dalam satu hari, keharuan pasti menyergap ketika di Lombok. Gema suara azan yang menepuk halus, mengajak orang-orang berhenti sejenak dan menghadap pada Sang Maha Suci. Gema azan yang mengharu-biru dan tidak ditemui selain di Lombok. Ketika suara azan bergema bergantian, hati ini mencatatkan kenangan tentang azan yang tak bisa dilupakan.

Jangan lupakan kuliner halalnya yang melimpah, saya tak perlu khawatir mencari wisata kuliner di Lombok. Sepert Ayam Taliwang, pertama kali saya menyantap dengan penuh ketergesa-gesaan, keringat mengucur, lidah mengeluarkan air liur yang tak tertahankan, hawa panas menjalar sekujur badan.

Pak Haji pemilik warung Ayam Taliwang hanya tertawa terbahak-bahak.

“Pelan-pelan dek, dinikmati pedasnya, semakin dirasakan semakin nikmat” Tutur Pak Haji sambil tergelak, demi melihat muka saya yang makin merah matang, karena tak tahan akan rasa pedas.
Ternyata demikian menikmati Ayam Taliwang.

Menikmati pedasnya perlahan-lahan, menikmati panas yang menjalar di lidah, yang turun pelan-pelan menuju perut. Bukan pedas semata, tapi menggali kenikmatan yang bersembunyi di balik rasa pedas.

Satu lagi yang akan membuat lidah kegirangan jika di Lombok, Sate Rembiga. Sate sapi dengan dengan bilih daging yang besar-besar, bumbu yang meresap hingga serat daging paling akhir. Jenis sate yang membuat saya bisa berlama-lama duduk di warungnya dan tanpa sadar bisa menambah berpiring-piring porsi.

Cupak Gerantang
Cupak Gerantang

Tapi apa cukup itu saja?

Lombok tidak ada duanya di dunia, destinasi wisata terbaik. Nikmati sepinya berbalut sejarah di Ampenan. Tempat di mana gedung-gedung tua masih terjaga. Ampenan yang dulu pelabuhan besar, sekarang bagaikan museum raksasa yang menyimpan cerita sejarah perkembangan peradaban Lombok.

Atau melintas sejenak menuju Kampung Sade, Kampung Adat Suku Sasak yang dikagumi banyak orang karena keteguhannya menjaga budaya.

Saya mencatat sebuah fragmen kecil di Kampung Sade. Turis – turis muslim dari Malaysia tertarik dengan bagaimana kehidupan umat muslim di Kampung Sade masih mempertahankan nilai-nilai tradisionalnya.

Penenun Sade
Penenun Sade

Tampak makcik pakcik kagum dengan masjid tradisional Sade, menyimak dengan tekun cara membuat kain tenun dan ikut bergoyang rancak bersama iringan Gendang Beleq yang tampil di Kampung Sade.

Kekayaan budaya dalam balutan reliji inilah yang menjadi kekayaan budaya Lombok. Islam dan kultur budaya Lombok berbalut erat dan menjadi hal yang menarik bagi turis mancanegara.
Yang saya bicarakan hanya sebagian kecil dari rona pesona Lombok.

Setengah jam berkendara dari Kampung Sade terhampar pasir putih dan laut biru. Satu deret pantai dari ujung ke ujung membentuk lengkungan sempurana. Saya berhenti di pinggir pantai dengan pasir putih sehalus bedak, Tanjung Aan.

Pantai ini adalah pantai yang santai, dengan biru yang memukau. Pantai ini sepi, hanya ada beberapa pondok-pondok kecil untuk bersantai. Hamparan batunya besar berserakan, seolah jatuh dari langit. Menikmati sepoi angin berteman segarnya kelapa muda adalah cara untuk berkawan dengan Pantai Tanjung Aan.

Tanjung Aan
Tanjung Aan

Lombok adalah hal-hal yang membuat jatuh cinta pada pandangan pertama.

Itu benar, saya belum memberi tahu tentang Tiga Gilli yang menjadi dambaan turis-turis dari seluruh dunia. Belum juga bicara tentang kegagahan Rinjani mengundang petualang-petualang dari seluruh dunia untuk datang. Belum juga bercerita tentang air terjun-air terjun nan megah dan tersembunyi di rimba belantara.

Sebagian dari Lombok yang belum dijelajahi adalah seperti rasa cinta yang belum terselesaikan, belum diungkapkan hingga tuntas.

Maka Lombok pun didatangi dengan cinta. Banyak sekali pasangan yang memilih Lombok sebagai tempat honeymoon. Seperti Tanjung Beloam yang tersembunyi di ujung timur Lombok, menghadirkan kesan dan kenang yang tak terlupakan.

Siapapun pasti mau berbulan madu di Lombok, berteman damai dan sunyi, berkawan dengan alam dan panorama yang memukau di depan mati.

Bagi saya pribadi, Lombok seperti peraduan nan empuk, menghadirkan tidur yang hangat dan mimpi yang indah. Itulah mengapa saya tak berkeberatan bolak-balik ke Lombok dan bahkan menanti-nanti kapan bisa ke Lombok lagi.

Gendang Beleq
Gendang Beleq

Dengan balutan budaya, reliji, alam, masyarakat, kuliner, Lombok adalah destinasi yang lengkap. Destinasi yang harus sepenuhnya didukung untuk dikembangkan.

Ada banyak cara untuk mendukung mengembangkan Lombok menjadi destinasi wisata. Salah satunya adalah dengan mendukung Lombok sebagai salah satu destinasi wisata halal dengan vote Lombok pada kategori The World’s Best Halal Tourism Destination dan The World’s Best Halal Honeymoon Destination pada World Halal Travel Award 2015 di link berikut bit.ly/WHTA15.

Karena dengan demikian kita masing-masing bisa mendukung Lombok menjadi destinasi yang ramah muslim, destinasi yang akan menarik saudara-saudara muslim dari seluruh dunia untuk datang. Secara tidak langsung akan mengenalkan Lombok ke dunia, mendorong pariwisata di Lombok lebih baik.

vote
Atau Klik Gambar untuk VOTE!

Lombok adalah kebanggaan, Lombok adalah pulau yang harus dikembangkan.

Jika bukan kita, bangsa sendiri siapa lagi yang hendak mendukung Lombok? Alam Lombok indah, Ya benar, budayanya bagus, ya benar. Maka dari itu maka kita kenalkan keindahannya, dekatkan budayanya.

Dengan mendukung Lombok, dengan memilih Lombok, itu adalah usaha terkecil untuk bisa mengenalkan Lombok, mengenalkan Indonesia pada dunia.

Jadi, vote Lombok dan Dukung Indonesia sebagai destinasi wisata Halal Terbaik Dunia!

Tabik.

eposter WHTA

Follow Efenerr on WordPress.com

12 KOMENTAR

  1. Ah benar sekali, makan ayam Taliwang itu harus sambil dinikmati ya, akupun awalnya tergesa gesa karena enak bener, pedes pedes seger. Sate rembiga juga ngangeni yo. Aku penasaran sama Masjid Bayan, tahun depan ah mau mengunjungi Lombok lagi. Ohya foto Tanjung Aannya kece sekaliiiii seperti berlapis salju. LAF!

  2. Waduh kok hanya ayam taliwang saja Mas.. ada beberapa Kuliner Khas Lombok yang perlu di Coba.. : Sate Rembige, Nasi Puyung, Ayam Pedas Rarang, Sate Bulayak, Kandok Kelak ( Sayur Mayur) Ares yang bahannya dari batang pohon Pisang, yang hanya ada pada moment Bagawe ( Syukuran/Pasta Penihkahan ) Kalau jajanan namanya : Cerorot, Nagesari, Keciprut ( yang hanya ada pas moment Maulid Nabi dan Lebaran Idul Fitri, hehehe ), Jaje Ewel, jaje Tujak + Poteng, ( Pembuatannya Lama dan bikin tubuh Pegel2 yang hanya ada pada momen Begawe atau Syukuran/Pesta Pernikahan ) . Ohya Mas.. Terimakasih sudah mendukung Lombok dalam Kompetisi Wisata Halal. Sukses dan Sehat Selalu Buat Mas Farchan dan Keluarga. Jangan Kapok Ke Lombok, Lombok Selalu menanti Mas
    Farchan.
    Salam Kenal Dayat. 🙂

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here