2016_0305_08032300

Sebagai seorang penulis katanya saya harus banyak membaca. Ya memang benar karena asupan gizi seorang penulis untuk berkarya adalah referensi bacaan yang banyak. Semakin banyak membaca, semakin luas wawasan.

Dari kecil saya memang seorang kutu buku. Bapak dan Ibu saya membelikan buku sejak saya Balita dan sejak kecil kultur membaca di keluarga kami sangat terjaga, Bapak berlangganan koran setiap hari, sementara Ibu rajin membelikan buku cerita.

Tapi sekarang banyak orang yang mungkin malas untuk membaca buku, menganggap membaca buku adalah sebuah hal yang serius. Padahal tidak juga, buat saya membaca adalah menyederhanakan hidup, membaca adalah saat di mana saya bisa menjadi diri saya sendiri dan memahami diri saya sendiri.

Memang ada saat saat di mana saya butuh waktu membaca, mencari keintiman dengan setiap kata-kata pada buku yang saya baca. Tapi itu pun tidak pasti, semakin banyak membaca buku, saya merasa saya bisa membaca buku kapan saja dan di mana saja.

Membaca buku adalah cara saya untuk menenangkan diri, mencerabut kalut yang menghantui. Membaca buku, membuat hidup saya terasa sederhana, hanya ada saya dan kata-kata, hanya ada saya dan buku yang sedang dibaca.

2016_0305_08113400

Setidaknya buku adalah jendela dunia, membaca buku membuat pikiran melanglang buana, membuat khayalan semakin merajalela. Tanpa sadar, tiba-tiba saya ingin keluar dari jendela, tanpa sadar ingin menikmati langsung apa yang ada di kata-kata.

Saya tidak membatasi buku bacaan, setiap genre saya baca. Tapi memang saya lebih suka sastra, yang kata orang buku berat, yang kata orang buku tebal. Entah kenapa setiap membaca sastra, kalimatnya selalu berkelindan di otak. Membaca sastra adalah membaca keindahan.

Bagi saya buku sastra memperhalus hati, mengubah pola berpikir dan memperkaya jiwa. Bahasa sastra juga meliuk-liuk. Terkadang rumit dan sukar dipahami. Terkadang sangat sederhana, seperti jalan raya yang lurus tanpa kelak-kelok. Lambat laun walaupun saya membaca banyak buku, tanpa sadar koleksi buku sastra-lah yang paling banyak memenuhi rak buku saya.

Saya juga tidak memungkiri, membaca membuat saya lebih memahami dunia. Bagaimana dunia sekarang ini sudah diramalkan di buku-buku yang terbit di era lalu, bagaimana kondisi sekarang ini merupakan cerminan apa yang terjadi di masa lalu. Sederhananya, membaca sebenarnya menerka zaman. Membaca adalah bercermin dengan apa yang terjadi pada masa sekarang, melihat di masa lalu dan mencoba menebak apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

2016_0305_08075200

Tanpa menyukai buku dan membaca, saya tak mungkin menjadi orang yang seperti sekarang ini. Prinsip-prinsip dan idealisme dipupuk dari bacaan, kualitas-kualitas tulisan sebenarnya juga mencerminkan apa yang penulis biasanya baca. Dan saya selalu percaya, seorang penulis yang baik adalah seorang pembaca yang baik pula.

Pram, penulis favorit saya bahkan punya perpustakaan pribadi dengan ribuan buku. Saya? Mungkin hanya seujung kukunya Pram dan bukan pula seorang penulis yang baik. Saya hanyalah seseorang yang suka membaca kemudian mencoba menulis, sampai sekarang.

Satu hal, menulis bagi saya memang membuat hidup saya lebih sederhana, tidak rumit. Menulis ya menyederhanakan hidup.

2016_0305_08051700

Soal kesederhanaan, saya jadi teringat beberapa waktu lalu ketika melihat sebuah botol minum dari Mountoya. Botol minum yang kecil, polos, sangat sederhana. Sepertinya produsen air minum Mountoya ini juga mencoba menyederhanakan produknya.

Dengan kesederhanaan, kemasan Mountoya tampil beda, lebih elegan, lebih simple dan yang jelas, mengurangi limbah plastik dan menjadikannya ramah alam. Rupanya kesederhanaan membuat value dari Mountoya justru lebih bertambah.

Bagi saya, membaca menyederhanakan hidup, bagi Mountoya menyederhanakan bentuk botol adalah prinsip untuk membawa value-value mereka. Bagi kita semua barangkali harus terus mencoba untuk menyederhanakan hidup, #LiveSimply.

Karena kata orang bijak, menyederhanakan hidup adalah satu cara untuk meraih bahagia.

Tabik.

52 KOMENTAR

  1. Sepertinya membaca tidak hanya melebarkan jendela pandang tapi juga memperkaya kata-kata Mas Chan. Itu lah menariknya kegiatan ini semakin lebar jendela kita, semakin banyak kosa kata, semakin sederhana hidup. Keren banget buah pikirnya Mas Chan 🙂

  2. Betul banget. Membaca bisa nambah ilmu dan ngurangin stres. Yg aku suka dari membaca adalah bisa menciptakan dunia imajinasi, seperti gmn wajah sang protagonis, bentuk rumahnya, dll. Jadi kadang suka kecewa kalo dibuat film dan berbeda seperti apa yg ada di imajinasi kita.

    Selain itu banyak buku yg membuat saya tertarik mengunjungi suatu kota atau tempat. Saya ingat wkt Da Vinci Code lg populer, saya ke Gereja Knights Templar di London. Di pekarangan gereja udah ada beberapa turis yg antre, trus ada yg iseng nanya “Did you all come here because of the ‘book’ (Da vinci Code)?” Terus semua ngejawab ,” Yes!!!” 😂

  3. dari umur 3 thn, pas udh bisa baca, papa slalu bliin aku buku utk hadiah.. sjk itu kyknya ga bisa lepas dr buku mas.. makan, ke toilet, nunggu antrian, apapun aku lakuin sambil baca :D.. di tas pasti ada 1 buku utk jaga2 kalo hrs menunggu. dr buku juga aku jd seneng berkhayal dulu.. 😀 . apalagi dulu buku2nya enid blyton srg bgt ceritain ttg anak2 yg piknik dgn makanan dan minuman yg bikin laper :D.. makanya tiap lg susah makan, trs baca buku enid, pasti jd napsu makan lagi deh..

    skr sih, jenis2 buku yang aku baca jd macem2.. utk sastra klasik aku msih ttp suka bukunya marah rusli, ato jane austin. Pengarang indonesia fav sepanjang jaman msh tetep s mara gd :D, mungkin krn aku suka novel2 detektif ya.. kalo yg luar, sidney sheldon, sandra brown, .. tp ttp sih, pengarang2 lainnya aku baca juga kalo memang bukuny bagus.. skr ini targetku, mw bikin rak buku utk nyimpen semua koleksi buku skr ;D.. hahaha, smuanya cuma disimpen dlm box… krn keterbatasan ruangan di rumah, jd ga ada ruangan khusus utk library kyk di rumah ortuku..

  4. wah.. sejak pulang kembali ke kampung halaman, dan bekerluaga, membaca sudah menjadi hal yang sangat sulit bagi saya bang.
    semakin banyak membaca, semakin saya merasa bodoh. ternyata,… luaaas sekali ilmu itu ya? 🙂

  5. Koleksi bukunya mirip2 *huahaha ngaku2. Aku paling sedih sewaktu harus merelakan koleksi buku2 dititipkan ke rumah baca milik teman. Ga mungkin mengangkut beratus2 buku ke Belanda, dan ibukku dirumah ga mau menampung lagi buku2ku karena dirumahpun sudah banyak buku. Dulu niatnya pas waktu kerja di Jakarta ngumpulin buku supaya bisa buka rumah baca. Eh terlaksana sih ya, tapi rumah baca orang lain haha. Jadinya hanya beberapa buku yg aku bawa ke Belanda, selebihnya dititipkan, mudah2an lebih berguna karena dibaca yang atang ke rumah baca itu. Eh, disini numpuk buku lagi, suamiku sampai geleng2 😀

  6. Masih terasa momen2 bahagia kalau sedang baca buku waktu kecil dulu.. lupa makan.. lupa mandi.. lupa belajar.. pokoknya yg dibaca harus selesai segera..
    Setelah tua dan sibuk bekerja target baca buku menurun, mulai dari 1 bulan 1 buku, 3 bulan, 1 tahun sampai akhirnya tanpa target.. pokoknya kalau sempat.. baca!!

  7. Kalau dari kecil dibiasakan membaca dan ada contoh dari orangtua, anak-anak akan ikut pula gemar membaca.
    Saya share artikel nya ya Mas Farchan… Makasih

  8. Alhamdulillah saya dari kecil sdh terbiasa membaca, walau yg dibaca itu cuman komik, tapi jujur itu pengaryh banget jdinya sampai besar rasanya ada yg kurang kalo dalam sehariu gak sempatin baca tulisan

  9. Halo mas salam kenal. Aku pengunjung baru blog ini.. Aku juga suka membaca dan sedang belajar menulis juga. Jadi makin termotivasi setelah melihat-lihat isi blog ini. Trims atas tulisan2 yang mencerahkan 😀

  10. kalau saya kutu komik mas, baru beberapa tahun ini mulai baca buku yang lain, seperti pengembangan diri dan novel.

    salah satu pengarang novel indonesia yang langsung membuat saya jatuh hati adal E.S Ito dengan buku rahasia meede nya dan negara kelima nya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here