blogging
Foto dari Unsplash

Ada ribuan blogger di Indonesia, banyak sekali dan semua tumplek blek di dunia yang bernama blogging. Di semesta tersebut, lantas terbentuk sebuah pasar seperti dalam sistem ekonomi. Bedanya adalah persaingan dari pasar tersebut ditentukan oleh bagaimana sikap blogger itu sendiri.

Well, tulisan ini barangkali akan lebih cocok untuk blogger yang sudah memonetize blognya, entah yang menganggap dirinya pro atau tidak. Namun bagi saya, seorang blogger yang sudah memonetize blognya, berarti sudah menjadi seorang blogger yang pro.

Saat bicara pro, bicara soal uang, mau tidak mau sudah ada unsur bisnis di dalamnya.

Perkara pertama yang sering saya temui adalah bagaimana seharusnya seorang blogger bersikap terhadap brand dan sebaliknya.

Ada kegagapan yang ditemui oleh banyak blogger ketika berhadapan dengan brand. Banyak blogger yang kemudian terjebak dalam glorifikasi yang berlebih seolah-olah blogger adalah klien yang harus diistimewakan dalam relasi antara dua pihak tersebut.

Padahal tidak demikian, ada banyak aspek untuk melihat relasi antara brand dan blogger. Ada etika-etika seperti halnya etika bisnis yang sebaiknya dipenuhi ketika berbicara relasi klien ke klien, brand ke blogger. Dalam etika bisnis tentunya ada hal-hal yang bisa menjadi konsumsi publik, ada yang harus dijadikan konsumsi pribadi.

Maka untuk memahami pasar dan prinsip bisnis blog secara keseluruhan serta memahami etika bisnisnya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan.

Brand Yang Butuh atau Blogger Yang Butuh?

Saya mulai dengan pertanyaan, “Brand butuh Blog?” atau “Blogger butuh Brand?”.

Jawabannya adalah melihat seberapa besar kebutuhan brand untuk melebarkan jangkauan pasarnya lewat blog. Bagi brand, blog adalah tools yang bisa digunakan.

Di sisi sebaliknya, Blogger juga butuh brand untuk banyak alasan seperti Portofolio, penghasilan sampai konten.

Bagi brand, ada banyak blog yang bisa dipilih. Ingat di Indonesia ada ribuan blogger, bagi brand mereka tinggal memilih blog yang sesuai dengan parameter yang sudah mereka tetapkan. Jika ada blog yang menolak, tidak merespon, brand bisa memilih pengganti yang sesuai dengan segera karena di pasar banyak blogger yang bersedia.

Blogger banyak yang tidak memahami kondisi ini. Justru yang terjadi adalah ketika tawaran mereka tidak sesuai, tidak direspon dengan berbagai alasan lalu si blogger ngamuk, share di social media atau menjelek-jelekkan brand. Jika demikian, pastilah blogger tersebut akan masuk blacklist. Menggali kubur sendiri. Tamat.

Kenapa tamat? Ya, blacklist tidak hanya dari satu brand kog, rekomendasi blacklist akan menyebar lewat jejaring. Dari brand, ke agency, ke PR consultant, ke brand lain.

Jadi, reputasi blog sebenarnya dipertaruhkan oleh respon dari blogger itu sendiri.

Brand akan lebih memilih blogger yang responnya bagus, cepat dan memiliki positioning yang jelas saat negosiasi.

Brand akan senang dengan tipe blogger yang seperti itu, jika brand tidak puas dengan performa seorang blogger mereka bisa mengganti dengan yang lain.

Lalu Kenapa Hanya Blogger Itu-itu Saja?

Jawabnya mudah, positioning dan reputasi, persis dalam dunia bisnis.

Begini, dalam sebuah pasar ada beberapa unsur, market leader, challenger, follower dan ada juga niche market. Dari sistem pasar tersebut maka kita lihat, di antara ribuan blogger di Indonesia di manakah posisi blog kita berada dan apa yang akan menjadi daya tarik blog kita.

Market leader pastilah akan dipilih brand. Namanya juga market leader, positioningnya bagus, pangsa pasarnya besar, engagementnya tinggi, ranknya selangit. Blog seperti inilah yang akan selalu dilirik oleh brand.

Berikutnya adalah market challenger, blog yang menantang market leader. Adakah? Ada kog, perhatikan saja di komunitas blog yang diikuti. Biasanya brand juga akan memilih brand ini sebagai prioritas.

Bagaimana dengan follower? Akan dipilih brand juga tapi tentunya dengan tawaran yang lebih rendah daripada market leader/challenger. Jadi ketika blognya bukan market leader, jangan bertingkah seperti market leader pada brandnya. Pasti brand tidak akan melirik, haqqul yaqin.

Yang menarik adalah blog yang bermain di niche market. Bukan market leader tapi bermain di ceruk pasar yang tidak banyak dipilih orang. Blogger tipe ini dijamin memiliki pembaca loyal, memiliki kekhususan. Beberapa brand akan menghargai blogger yang bermain di niche market ini melampaui market leader, karena mereka tahu pangsa pasar yang disasar tepat sasaran.

Jadilah jika ingin monetize pada blog, mulailah berpikir dengan positioning dan reputasi blog. Be a market leader atau bermainlah di niche market. Lakukan optimasi konten, bangun jaringan, bangun reputasi bagus dan ikuti prosesnya.

Berapa Ratenya?

Untuk banyak alasan banyak blogger yang memajang ratenya terang-terangan di blog.  Di sisi lain, banyak blogger yang menyimpan rate hanya untuk diri sendiri.

Saya sendiri penganut yang kedua, rate tidak saya publish hanya saya dan brand saja yang tahu. Publikasi rate bagi saya cukup sampai pada tahap negosiasi. Selebihnya urusan dapur, tak akan saya buka.

Ketika ditanya berapa rate blog oleh brand, hal pertama adalah silakan lakukan benchmark. Mulailah mengukur positioning blog, bagaimana kompensasi yang ditawarkan, seperti apa bentuk kerjasamanya dan bagaimana prospek di masa yang akan datang.

Nah, kalau blogger lain tidak mempublikasi ratenya bagaimana? Bertanyalah secara personal atau dengarkan harga yang ditawarkan klien lalu lakukan adjusment atas rate tersebut.

Bernegosialah dan selesaikan negosiasi, lalu kerjakan order sesuai hasil negosiasi tersebut.

Bagaimana jika tidak sepakat atau nilainya di bawah keinginan. Dalam negosiasi ada kata tidak sepakat dan itu hal wajar. Untuk menyikapinya mari mencontoh dunia bisnis. Berita yang akan muncul tentang negosiasi bisnis mayoritas adalah berita tentang negosiasi yang menemui kesepakatan bukan? Berita atas ketidaksepakatan bisnis memang dipublish, namun secara normatif.

Sayangnya, ada yang merasa tinggi hati. Saya menemukan beberapa blog yang mengumbar hasil negosiasinya. “Brand ini tidak menghargai banget, masak postingan seperti ini dihargai bla bla bla”. 

Bagi saya blogger boleh tidak setuju kepada poin negosiasi, boleh tidak setuju pada nilai yang ditawarkan oleh brand, namun saran saya adalah sampaikan secara langsung pada brand jika hal tersebut masih terjadi pada tahap negosiasi. Simpan hal tersebut untuk nama baik brand dan nama baik diri sendiri.

Silakan siarkan pada dunia jika hal tersebut sudah menjadi hal yang merugikan saat kontrak sudah ditandatangani atau brand melakukan wanprestasi.

Generalis atau Spesialis?

Saya memilih menjadi spesialis. Contohnya, blog saya bergenre travel, spesialiasi lagi ke kisah-kisah perjalanan, spesialisasi lagi dengan gaya bahasa yang serius. Ceruk pasar ada dan ada pembaca yang bersedia membaca blog saya.

Bagaimana dengan blog yang generalis? Semua hal diceritakan, apakah tidak menarik? Tidak ada masalah kog. Sekarang ini generalis dan spesialis sama-sama dihargai, tidak seperti dulu di mana spesialis dihargai lebih daripada generalis.

Maka bermainlah dengan bagus pada konten. Cantumkan pengalaman personal, beri touch up pada konten.

Misal, diundang pada sebuah acara. Banyak blog yang terjebak bahwa mereka harus segera menuliskan review, maka banyak yang hanya menyadur press release, ini blog atau portal berita?

Tidak salah, namun coveragenya kurang, kontennya ya tak ada bedanya dengan portal berita.

Berikanlah sentuhan personal, bagaimana kesan datang di acara, bagaimana proses acaranya, bagaimana produknya, dan sebagainya. Itu akan lebih bernilai daripada lomba balap posting artikel.

Jika anda spesialis, tidak semua acara harus didatangi. Sesuaikan dengan genre blog yang dimiliki. Brand sudah memiliki pengelompokan kog pada blog-blog yang memiliki spesialisasi.

Jangan Murahan

Murah atau mahal atau relatif, tapi jangan murahan. Bagi blogger sebuah blog adalah karya dan karya tidak dibuat dengan mudah. Semakin anda murahan, brand juga akan semakin memandang anda murah.

Well, ini bukan semata soal nominal saja, tapi kesesuaian konten yang ditawarkan. Misalnya saya seorang travel blogger tapi diminta review produk kecantikan. Konten yang tidak sesuai dengan segmen blog biasanya akan saya tolak.

Jelaskan bahwa blog yang dikelola memiliki segmen dan value kepada brand dengan cara dan bahasa yang baik. Buat brand mengerti bahwa blog yang akan mereka ajak kerjasama memiliki segmen tertentu. Jika memang brand tidak paham dengan value anda, biarkan saja. Tidak usah reaktif, tinggalkan saja tawaran mereka.

Sayangnya di Indonesia, pasar blog ini belum berjalan dua arah, belum menjadi pasar persaingan sempurna di mana harga ditentukan oleh mekanisme pasar. itulah yang membuat value blog di Indonesia belum dianggap sebagai sesuatu yang serius.

Saat ini pasar yang tercipta adalah pasar persaingan monopolistik, di mana pembeli dan penjual sama sama bersaing dan mempengaruhi harga. Sehingga harga menjadi bias dan terkadang hanya ditentukan oleh satu pihak.

Contoh yang umum adalah ketika ada tawaran dari brand, secara sepihak brand sudah menentukan harga postingan. Opsinya take it or leave it. Begitu juga sebaliknya, blogger seenaknya menentukan harga postingan, tanpa melihat positioning dan parameter yang jelas.

Saya secara pribadi berharap kelak akan tercipta pasar persaingan sempurna. Harga atas sebuah karya tercipta karena pasar berkehendak atau ada semacam pedoman di mana tidak ada lagi kisah under value atau over value.

Jadi ketika ada penawaran dari brand, baik blogger maupun brand mengacu pada harga yang sudah terbentuk di pasar. Bukan keputusan sepihak yang membuat dunia blog di Indonesia terancam dalam kondisi persaingan dan perang harga yang tidak sehat.

Tabik.

NB : Rangkaian pertama dari beberapa tulisan tentang blogging. Simak lanjutannya. Semua berupa opini, silakan apabila ada sanggahan atau opini silakan berdiskusi.

Follow Efenerr on WordPress.com

157 KOMENTAR

  1. Nice sharing mas Ef. As usual. Sesuatu yang perlu dipahami blogger adalah soal supply vs demand ini.
    pertanyaan brand butuh blogger atau blogger butuh brand ini memang seharusnya dipikirkan semua ya.

  2. Senang membaca blog mas, foto2nya bagus, terus pembahasannya juga mantap. Seperti yang ini juga menjadi tambahan referensi buat saya untuk lebih baik ke depannya dalam hal ngeblog. Ditunggu tulisan selanjutnya mas

  3. Wow! Sebuah tulisan yg mencerahkan. Saya sepakat sekali dengan opininya. Dan juga berharap bahwa kelak akan tercipta persaingan pasar yang sempurna, sehingga tidak bias spt yang generally terjadi saat ini.

    Thanks for share, Mas! Ditunggu lanjutannya. 🙂

  4. Nah kan bener jangan murahan, kejadian yg kmrn brand nya ngebanding2in blog daku ama blogger yg lain, gara2 daku ngak mau diajak kerjasama karna kemurahan hahaha dan disitu saya lelah
    Aku jual mahal aja macam onty inces syahrini hahaha

  5. Nah. Kadang aku jg kurang setuju sama yg bekoar2 kalo dia gak terima ditawarin brp duit gitu.. ya keep it for urself ajalah kalo emg gak terima. Hehehe

  6. Menarik Mas, hal ini sebenarnya yang ingin saya gali tentang monetize blog dari blog efenerr..bagaimana caranya menjaring brand untuk bekerjasama dengan kita dan bagaimana kita menjelaskan benefitnya untuk mereka. Ditunggu part 2 dan selanjutnya…

  7. Yes kak chan, murah dan mahal itu relatif banget. Kita suka dengan produk suatu brand dan dengan senang hati melakukannya bukan berarti murahan juga. Kita sendiri harus tau harga (value) kita berapa, negosiasi, ga cocok berarti ya ga jodoh. Jangan dipaksakan.

  8. Mantabs kak! Poin terakhir soal jangan murahan itu kadang menjadi dilema para blogger. Sebab batasan harga murah atau tidaknya sangat relatif. Misal nilai X bagi blogger itu terbilang murah, namun bagi bbrp blogger lain nilai sejumlah X itu sangat berharga untuk menyambung hidup.

    Namun jika yg dimaksud kak Efenerr jgn murahan itu terkait hal lain selain harga, nampaknya aku perlu mengkaji lagi. Misal, jgn terima job campaign produk jika tak sesuai niche. Well, br kmren dpt job promo lagu dr artis barat tp video clip nya semi porn. Aku jelas nolak lah. 😉

    Jadi panjang. Tabik

  9. Nice. Yang paling penting adalah berkomunitas. Mengapa? Karena dengan berkomunitas, seorang blogger bisa becermin. Apakah ia terlalu tinggi hati padahal pageview blognya masih rendah atau terlalu rendah diri padahal followernya terbilang tinggi. Di komunitas para blogger bisa saling sharing, saling mengingatkan, dan saat mengalami kejenuhan ada yg menyemangati. Setelah itu … enjoyyy karena awal ngeblog adalah menghindari perasaan stres (membuang gundah gulana). Insya Allah kalau memang rezeki pasti akan menghampiri kalau memang sudah jodohnya. Lebih dari itu … tingkatkan personal branding di sosmed, bukan malah menjatuhkannya #JagaSikap

    Nuhun pencerahannya, Mas ^_^ #BloggerBDG

    • Salam kenal Bang Aswi. Iya benar mas, berkomunitas bisa menjadi ajang untuk sharing dan tukar ilmu. Bisa juga membuka peluang kerjasama dari komunitas. Saran Bang Aswi saya setuju semua.

      By the way Bang. Insya allah kapan-kapan kita ngariung di Bandung ya Bang.

  10. “Ya, blacklist tidak hanya dari satu brand kog, rekomendasi blacklist akan menyebar lewat jejaring. Dari brand, ke agency, ke PR consultant, ke brand lain. Jadi, reputasi blog sebenarnya dipertaruhkan dari respon dari blogger itu sendiri.”

    Aih setuju banget ini mas Chan. Walaupun nggak menutup mata ada kejadian sebaliknya, ketika blogger yang memblacklist brand ya, misalnya saja tidak tidak bertanggung jawab terhadap kompensasi yang sudah disepakati. Lupa, kayaknya ada blogger yang pernah diperlakukan tidak adil seperti itu. Hmm, mungkin ditulisan selanjutnya hal ini akan dibahas ya 🙂

  11. Gak ada sanggahan Mas Chan, setuju semua. Nah menarik ini soal rate card, kapan-kapan bahas secara khusus dong Mas. Saya kalau ditanya brand suka bingung jawabnya hehehe. Soalnya gak mau murahan tapi ogah pula dianggap belagu

  12. Nah soal negosiassi harga ini emang unik antara satu brand dengan brand lain atau satu agensi dengan agensi yang lain. Akhirnya blogger kayak saya selain soal harga juga faktor enjoy atau tidak menulisnya iku memengaruhi keputusan. So far kalau saya ga nyaman dengan penawaran ya udah tinggal bilang aja enggak tanpa harus mengumbar ke medsos. Soalnya saya mikir kalau digituin tapi ga sesuai situasi ya ga mau lah. Nice post, mas.

  13. Menarik mas saya setuju semua point nya. Saya sebagai blogger pemula masih belajar banyak hal..job juga belum stabil jadi emang suka bingung kasih rate berapa belum lagi kalo ga seusai niche. Blog saya khusus traveling tp traveling with kids sedangkan niche semacam itu masih jarang banget yg melirik tp tetep konsisten sih walaupun harus nolak satu dua job yg memang ga sesuai niche
    Ditunggu sharing berikutnya mas
    Salam kenal 🙂

  14. Salam kenal mas… Wah mencerahkan banhet buat saya. Bahas soal rate card juga ya mas.. Iya setuju bangey yang soal murahan. Yah walaupun bukan seleb blog,tapi kan juga gak mau dibayar ala kadarnya. Gak maksud belagu loh. Ditunggu part berikutnya mas…

  15. Setiap blog bisa diitung kok ratenya berdasarkan parameter yg ditentukan. Jadi angka yg ditawarkan pada brand bukan turun dari langit. Tapi jika brand punya angka sendiri, jika masih masuk akal jangan sampai menolak rezeki. Kecuali kalau tawarannya afgan boleh tolak mentah2. Negosiasi adalah jalan yg paling bener.

  16. Blogging & monetize, belum sampai tahap dikontak brand tertentu klo saya. Pernah sih, tapi jarang banget, hehe.. Jadi sementara yg pasti2 aja, seperti dari Agoda atau Adsense..

  17. ulasannya bikin saya jadi semangat memperbaiki blog saya yg masih belajar meniti karir sbg blogger yg dilirik brand, krn sempet terkendala waktu sama anak2.. ditunggu ulasan selanjutnya mas.

  18. Beberapa poin opininya ada yang saya tandai, sebagai blogger lokal, peluang untuk kerjasama memang tidak begitu luas seperti di ibu kota. Tapi seperti mas Chan udah punya positioning sendiri rasanya tawaran selalu terbuka dari brand ya hehe

  19. Tulisannya mencerahkan, mas.
    Saya pernah ditawari untuk bikin posting dengan bayaran tulisan saya akan nongkrong di blog mereka. Saya belum putuskan mau atau tidak soalnya saya sendiri juga gak mau dibayar murahan, hehehe….
    Emang menulis itu dikira gampang kali ya.

  20. Cukup pihak blogger dan pihan brand yang tahu berapa rate, dan bagaimana proses tawar-menawar, jika tak sesuai ya tetap bilang ucapan terima kasih. Siapa tau nanti ada kesempatan lagi 😀

  21. jadi penasaran kepengen tahu nilai nominal rate card yang pantas buat blogger kelas A+, kelas A, kelas AB, kelas B, kelas C, kelas D, kelas E(cek-ecek) :))

  22. Setuju banget sama tulisannya ini mas. Ditunggu pembahasannya mengenai rate card. Soalnya seperti tulisan di blognya Daeng Gassing, sampai sekarang belum ada standar harga untuk urusan kerjaan ngeblog ini. Jadi ya begitu, masih bingung menentukan harga. Takut kemurahan, gak mau juga dibilang belagu karena kemahalan 😀

  23. Jadi belajar banyak dari postingan ini. Bagian ini jleb banget: —> “blacklist tidak hanya dari satu brand kog, rekomendasi blacklist akan menyebar lewat jejaring. Dari brand, ke agency, ke PR consultant, ke brand lain.”

    Makasih udah berbagi, Mas.Salam kenal. 🙂

  24. Iya bener, menurutku masalah rate itu personal blogger dan brand saja yang tau. Kalaupun masih awam tentang rate iya nanya secara personal dengan blogger lain atau nanya di komunitas yang diikuti.

    Kalaupun kecewa karena gk menemukan titik temu dengan brand, ya disimpen sendiri juga aja bukan masukin ke medsos. Karena aku mikirnya medsos itu mencerminkan diri kita banget sih, jadi gak mau blunder ?

    Anw, nice sharing Mas, salam kenal ya ?

  25. Salam kenal mas F. Ulasannya menarik, tidak men-judge malah membuka wawasan. Sejak kerja di ahensi, saya juga belajar lagi mengenai positioning blogger. Soal rate card, saya juga kembali mengukur. Tetap punya standard namun masih fleksibel jika memungkinkan. Apalagi kalau masih sesama teman ahensi yang menawarkan, jatahnya lebih kepada… Ya sudah, lebih baik menjaga hubungan baik. Dan selain soal rate card, etika juga sangat memengaruhi ya mas. Nah, bagian etika… Bolehlah mas dikupas ke depannya.

    Salam hangat
    #EmakBlogger

  26. Tulisan yang mencerahkan dan memberikan banyak ilmu baru. Beberapa kali blog kami mendapatkan tawaran kerjasama dari beberapa brand di Indonesia, sebelum saya menolak karena tidak sesuai dengan segmen blog kami, saya terlebih dahulu bertanya tentang beberapa hal (belum sampai ke masalah harga, lebih ke hal-hal yang substansional *bener ga nulisnya ini hehe). Tapi memang untuk saat ini tujuan kami ngeblog belum sampai ke monetizing, jadinya kalau ada informasi seperti ditulisan ini, buat bahan belajar dan sumber informasi yang bermanfaat 🙂

  27. akhirnya nemu lagi blogger yang spesialisasinya bergaya bahasa serius 🙂 Tulisannya addicted kakak *maaf baru mampir, belum tahu manggil apa :D* Kayaknya saya bakal mampir lagi next episod sekalian nunggu yang rate card

  28. ngerasa udah mampir kemari dan komen, ternyata belum ada.
    Sekarang mampir lagi tuk ngecek artikel selanjutnya, hehe. Maklumlah kayaknya saya bakalan nyandu kesini.

  29. Aku 6 tahun ngeblog baru 6 bulan ini kak ngerasain hikmah secara finansial.. Alias ada job content placement.

    Dan aku main terima2 aja kak brp pun bayarannya krn gk ngerti standar rate dlsbg. Apakah aku termasuk blogger murahan?

    :/

  30. di twitter sering tuh mas baca bbrp blogger yg marah2 krn ditawarin murah ama brandnya :D.. setujulah ama yg kamu tulis, mbok ya jgn di umbar kalo baru tahap nego doang… 🙂 ..aku termasuk yg suka baca blogmu… pgn bisa belajar nulis postingan yg serius tapi enak dibaca :).. kebanyakan blog2 lain postingan panjang, serius, tp bikin ngantuk :D… blogmu gak mas 🙂

  31. Makasih buat bagi-bagi ilmunya, Mas. Topik dan pemikiran yang penting buat dibaca oleh blogger dan pengiklan. Banyak belajar nih. Haha.

    Soal personal branding, sebenernya pengen banyak nanya waktu Mas ada talkshow di JCC. Sayang oh sayang, jam kerja mendadak nambah panjang. Hiks.

  32. Mau ninggalin jejak, dan ternyata harus turun gunung karna bnyak bgt yg udah comment.. hhee
    Mungkin tulisannya suatu hari akan saya terapkan, untuk saat ini masih let it flow menemukan passion yg sesuai.

  33. Saya masih meraba pemahaman.
    Ulasan tersebut, yang dalam “murahan”,
    Apakah seperti yang memonetize blog nya dengan GA, atau sejenisnya?
    Karena publisher banyak meyakini tidak semua brand yg muncul, relevan dengan konten niche blog nya (walau terkadang banyak juga brand yang relevan).
    Jadi, maksud menjaring brand tersebut, yang bagaiman mas?
    Apakah seperti membuat postingan review?
    Atau Endors?
    Mohon pencerahannya,

    Terima kasih mas Ef 🙂

  34. Nice artikel mas. Jadi belajar banyak dari tulisan ini ?
    Akupun pernah nolak job yg gak masuk di kategori blog, habis nolak sih rada gimana gitu, tapi bangga sama diri sendiri jadinya ??

  35. Keren banget ini postingan, membuat saya berpikir, kapan blog saya mulai saya kasih rate hehe. Sulit lepas dari zona nyaman “ngeblog buat hepi-hepi dan melepaskan segenap sumbat di pikiran” karena bagi yang sejatinya penulis kayak saya menulis itu sudah semacam “kewajiban” sehingga utk menjadikan blog komersial masih galau hehe. Salam kenal ya Mas, ditunggu tulisan selanjutnya.

  36. Artikel yg mantap! Blogger sak Indonesia perlu baca ini.
    Plus soal mengemas tulisan, mau soft selling atau memang harus deskriptif sehingga terlihat hard selling. Saya tentu lebih suka menyisipkan pesan brand secara halus, tapi kadang ada beberapa produk atau jasa yang perlu deskripsi detil. Nah, di sini juga perlu seni negosiasi, kita sampaikan bahwa nanti tulisannya akan lebih subtle ya karena gini gitu bla bla bla. Biasanya brand mengerti, asal kita ngomongnya enak 🙂
    Bukan begitu bukan?

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here