DSCF9367Menjadi muslim berarti harus menjalankan kewajiban tanpa kecuali, termasuk saat traveling. Dan saya justru menikmati bagaimana menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim di negara orang, seperti ketika saya mencari masjid untuk shalat jumat di Singapura.

Saya sedang berada di area chinatown ketika waktu dhuhur sudah hampir tiba. Seingat saya ada beberapa masjid di area ini yang bisa disambangi untuk shalat jumat dengan masjid yang terbesar adalah Masjid Jamae Chulia, dan ke masjid itulah saya menuju untuk menjalankan ibadah shalat jumat di Singapura.

DSCF9387

Area Chinatown di Singapura sebenarnya sungguh unik dalam kultur dan percampuran budaya. Walaupun namanya Chinatown, namun di zaman dulu banyak komunitas muslim dari India Selatan yang bermukim di Chinatown. Bahkan di area Pecinan ada Nagore Durgha, sebuah masjid dan tempat berkumpul komunitas muslim yang dibangun pada awal abad ke 19 dan masih terawat hingga sekarang.

Dan di jantung Chinatown-lah Masjid Jamae Chulia. Sudah menjadi anomali sebuah masjid berada di pecinan, lebih unik lagi masjid ini sebelah menyebelah dengan kuli Shri Marriaman dan dibangun pada era yang bersamaan pula. Seperti sebuah simbol toleransi antara Islam dan Hindu di Singapura.

DSCF9368

Perantau Muslim Tamil dari India Selatan-lah yang membangun masjid ini sebagai simbol penyatuan umat di negeri orang. Arsitekturnya sama persis dengan arsitektur Tamil Nadu di India, dengan minaret yang menjulang tinggi. Warna masjidnya hijau yang teduh, warna yang banyak dikatakan sebagai warna lambang Islam.

Saya tiba dan masjid masih sepi, shalat jumat dimulai sekitar jam 13.00. Sebagai sebuah masjid tua, masjid ini masih terawat rapi. Di luar jam-jam ibadah, masjid ini juga menjadi tempat wisata di mana wisatawan boleh masuk dan bebas berkunjung. Terdapat beberapa display tentang sejarah masjid ini termasuk al quran kuno yang dipajang di etalase yang bertempat di pintu masuk.

DSCF9370

Jelang pukul 13.00 barulah orang-orang banyak yang masuk. Mayoritas yang datang ke masjid memang orang-orang keturunan India, segelintir orang Melayu, peranakan Tiongkok, keturunan Afrika dan beberapa Bule.

Begitu waktu shalat tiba, azan dikumandangkan dan kemudian dibacakan khutbah. Barulah orang-orang bersegera masuk dan masjid segera penuh. Khutbah dibacakan oleh khatib dalam campuran bahasa Inggris, Arab dan bahasa India, mungkin bahasa Tamil.

Melihat tempat khatibnya, saya jadi teringat masjid-masjid tradisional di Indonesia. Mimbar khatibnya begitu sederhana, hanya sebuah kursi kayu yang tinggi. Khatib pun memberikan khatib sembari duduk, suaranya berat dan tidak, memberikan khatib dengan nada yang tenang dan lembut.

DSCF9371

DSCF9376

DSCF9377

Ketika iqamat dikumandangkan dan shalat jumat dimulai, suasananya sangat syahdu. Suasana yang berbeda ketika orang-orang dari berbagai bangsa menjalankan shalat dalam satu masjid yang sama, perbedaan melebur menjadi satu tanpa memandang warna kulit dan asal usul, menyatu bersujud pada Tuhan yang sama.

Selesai shalat jumat, para jamaah tidak langsung pergi, ada doa bersama dan beberapa nasihat dari imam masjid. Setelah rangkaian doa dan nasihat tersebut selesai barulah orang-orang meninggalkan masjid untuk melanjutkan aktivitas mereka. Beberapa orang tampak masih bertahan di masjid untuk istirahat, leyeh-leyeh.

DSCF9381

Suasana hiruk pikuk kembali hadir di masjid ketika para jamaah keluar dari masjid. Pemandangannya sama seperti di Indonesia, para jamaah mencari alas kaki mereka, kemudian berebut keluar dari pintu masjid dan menyebar di jalanan.

Ada yang sama lagi dengan pemandangan pasca shalat jumat di Indonesia, yaitu adanya beberapa peminta-minta yang mengharap belas kasih para jamaah yang selesai menunaikan shalat jumat. Mereka menunggu di pintu keluar masjid, beberapa di antara mereka adalah anak-anak yang bermuka pucat.

Saya memang baru kali ini menjalankan shalat jumat di Singapura, namun pengalaman pertama ini memberikan kesan mendalam. Bagaimana tidak, menikmati ritual ibadah dengan budaya yang berbeda tentunya membuka mata dan memberikan wawasan baru, walaupun memang dalam satu hal ada kesamaan, sama-sama menunaikan kewajiban sebagai seorang Muslim.

Tabik.

Masjid Jamae Chulia

Koordinat Google Maps : https://goo.gl/maps/YoQiaG5u6RU2

Tangkapan layar penuh 27052016 100940.bmp

Follow Efenerr on WordPress.com

18 KOMENTAR

  1. wah, ada peminta2 nya juga mas? selama aku ke singapur, belum pernah nemu ada pengemis di sana 😀

    aku biasanya juga sering nyari2 mesjid kalo ke luarnegri. penasaran aja gimana bntuk2 mesjid trutama di negara yg mayoritas bukan muslim.. yg palingberkesan waktu di bulgaria.. solat jumat di sana, nemenin suami sih.. mesjidnya sih biasa banget, tapi orang2 yg datang itu ramah2 :).. padahal org bulgaria yg srg kita temui dingin, cuek… eh muslimnya ramah2.. tapi kbnyakan bukan org asli sana sih.. kayaknya para imigran dr timur tengah juga.. mukanya arab2 gitu soalnya..

  2. Wah, di Singapura ada juga to peminta-minta di Masjid setelah shalat Jum’at Mas..kira-kira jumlahnya sebanyak di Negeri kita ngga Mas.. 🙂

  3. Luar biasa khatibnya bisa ngomong dalam berbagai bahasa bahasa Inggris, Arab dan bahasa India. Etapi di singapore berebut-rebut sendal juga ya siap jumat wkwkwkwkwk

  4. Wuah pengalaman yang menarik. Saya kalau di Sing biasanya jumatan nya di Orchard Road. Emang ada rasa tersendiri yah saat sholat jumat di daerah yang mesjidnya gak banyak. Nice share mas

  5. Wah postingan mas ttg masjid jamie chinatown ngingatin aku sama kroket yang dijual sama bapak2 di selasar masjid itu, 2$ dpt 3 klo ga salah, masi anget enak lagi.. hahaha malah salah fokus
    Btw mas sering banget y jalan2, klo ke chinatown lagi mending datangny pas imlek.. meriah banget disana acara taun baru cina nya haphap

  6. Nuwun infonya mas, tadinya mikir mau solat jumat dmn kalo di Singapura. Itu ada jama’ah ibu2nya GA ya, besok rencananya April kesana pas jumatan. Klo nungguin suami salat jumaat dmn ya enaknya. Saya ga nginep soalnya langsung balik KL

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here