DSCF1283
Daihatsu Terios di Kampung Bena

Bagi saya pribadi, overland adalah jenis perjalanan yang paling saya sukai. Perjalanan darat memberikan kesan lebih dalam dan cerita lebih banyak. Maka ketika ada ajakan untuk turut dalam ekspedisi Terios 7 Wonders dengan tujuan overland Flores maka saya langsung mengiyakan.

Sebelumnya saya sudah overland Sulawesi, sebagian Sumatra, Timor, Jawa, Bali, Sumbawa, Lombok, Kalimantan Selatan. Ajakan overland Flores tentunya akan melengkapi penjelajahan lewat darat di Indonesia.

Jarak Tempuh, Larantuka - Labuan Bajo
Jarak Tempuh, Larantuka – Labuan Bajo

Tim Terios 7 Wonders berangkat dari Larantuka, di kota yang amat santai di ujung Timur Pulau FloresΒ  dari sinilah perjalanan bermula. 3 unit Daihatsu Terios keluaran terbaru sudah menanti untuk dibawa menaklukkan jalanan Flores.

Flores adalah impian banyak pejalan dari Indonesia maupun luar negeri, jalannya menantang, medannya berat namun alamnya amboi indahnya. Karenanya banyak petualang/pejalan yang kemudian menjadikan Flores sebagai destinasi impian.

DSC01881_1
Di Katedral Larantuka, Foto oleh Iqbal Kautsar

Perjalanan dimulai dari Larantuka, dari sisi timur, seperti layaknya matahari yang terbit dari timur. Seolah-olah overland Flroes ini ingin mengambil simbol perjalanan yang baik, perjalanan yang bermula dari timur.

Di kota kecil yang selalu ramai saban Jumat Agung, rombongan menjelajahi sudut-sudut kota Larantuka yang penuh bangunan tua. Budaya Semenanjung Iberia masih kental di Larantuka, beberapa nama marga Portugal masih dipertahankan, pun tata cara ibadah umat Katoliknya pun demikian. Semana Santa yang merupakan warisan Portugis masih menjadi perayaan rohani yang kudus di Larantuka.

DSCF0198

Setelah berkeliling Larantuka, rombongan Terios 7 Wonders bergegas menuju Maumere. Etape pertama ini didominasi tanjakan, jalanan menuju Maumere memang berbukit-bukit, saya sampai lupa sudah berapa bukit yang dilibas oleh Daihatsu Terios yang saya tumpangi.

Jalan yang menanjak, berliku dilibas dengan enteng saja. Kekuatan mesin dan ketahanan suspensi Daihatsu Terios teruji di sini, tanpa masalah berarti saya sudah tiba di Maumere.

Maumere adalah ibukota Kabupaten Sikka, kota paling besar di Flores juga kota yang paling ramai di jazirah Flores. Jalanan mulus dan geliat pembangunan kota terasa. Kesejahteran masyarakat tergambar di Maumere.

Di gerbang Desa Sikka
Di gerbang Desa Sikka
Di Desa Sikka
Di Desa Sikka

Di Maumere kami mampir di Sikka – Lela, sebuah kampung di tepi pantai yang pernah menjadi pusat keramaian Sikka. Dari kampung inilah nama Kabupaten Sikka berasal. Dahulu ada kerajaan besar di Sikka, kemudian datanglah misionaris Katolik yang kemudian membangun gereja yang dikatakan sebagai gereja pertama di Maumere.

Menginap semalam di Maumere, pagi-pagi benar kami meluncur menuju Kelimutu. Danau tiga warna ini bagi saya bagaikan keajaiban dunia, seperti menghampiri legenda, saya kegirangan begitu tiba di Puncak Kelimut. Matahari yang menyibak pelan-pelan, menyinari danau yang warnanya berubah setiap musim, bagaikan sebuah pemandangan surreal yang tidak tertandingi.

Di parkiran Kelimutu
Di parkiran Kelimutu
Danau Kelimutu saat matahari terbit
Danau Kelimutu saat matahari terbit

Dari Kelimutu kami turun menuju Ende. Jalur ini jalur yang menguras emosi dan fisik. Mesin 1500 cc Daihatsu Terios dipacu untuk melahap tanjakan dan turunan serta kelokan yang seolah tiada habisnya. Dari Maumere ke Ende memang seperti membelah Pulau Flores, dari utara kami menuju selatan.

Kami tiba di Ende ketika senja sudah tiba. Memang perjalanan yang panjang sekaligus melelahkan. Di Ende saya sempat mengunjungi rumah pengasingan Soekarno dan menikmati sunset di tepi pantai Ende yang aduhai.

DSCF1388

Dari Ende perjalanan dilanjutkan menuju Bajawa. Etape ini bisa dikatakan perjalanan dari laut menuju gunung, karena Bajawa berlokasi di pegunungan. Perjelanan selepas Ende sangat memukau, Daihatsu Terios menyusuri jalanan berbatas laut di sisi kiri dan tebing yang begitu tinggi di sisi kanan.

Di Bajawa saya sempat mampir di Kampung Benar, rasanya seperti hidup di zaman lampau dan tak beranjak mengikuti waktu. Tapi memang kampung ini adalah kampung adat yang sudah berusia ribuan tahun, sejak zaman megalithikum di Nuswantara ini ada.

Selepas Bajawa Daihatsu Terios berpacu seiring waktu menuju Ruteng. Dengan medan pegunungan yang semakin tinggi, mesin Daihatsu Terios semakin menunjukkan kehandalannya. Mesin Daihatsu Terios begitu halus melahap tanjangan yang terkadang begitu ekstrim, begitu tanjakan langsung disambut tikungan dan kemudian disambut tanjakan lagi. Seolah tiada henti.

Ruteng yang dingin menyambut di waktu malam. Suasana di Ruteng lebih sepi dan tenang, kota ini banyak dijadikan tempat beristirahat karena hawanya yang dingin dan hujan yang turun hampir setiap hari.

Inilah wujud cantik Flores, di sisi lain penuh pantai yang indah, di tengah disambut dengan hawa dingin pegunungan. Lengkap selengkap-lengkapnya. Ruteng adalah kota yang lengang, mungkin karena hawanya dingin, orang-orang lebih suka berada di rumah untuk menghangatkan diri.

Di Liang Bua
Di Liang Bua

Di Ruteng saya mampir di Liang Bua, salah satu jejak Homo Floresiensis yang sempat menggemparkan dunia arkeologi. Di Gua Liang Bua ini ditemukan fosil manusia purba yang dikatakan sebagai Hobbit dari Flores karena ukuran tinggi badannya yang begitu kecil.

Gua ini hingga sekarang masih menjadi objek penelitian para arkeolog. Setiap tahun dilakukan penggalian antara 2-3 bulan. Bahkan menurut penduduk lokal masih ada 2 gua lagi di sekitar Liang Bua yang belum dieksplorasi. Sungguh tempat yang memunculkan rasa penasara

n.

DSCF1517

DSCF1505

Selepas Liang Bua, mobil dipacu menuju Denge, desa terakhir sebelum kampung legendaris Wae Rebo. Jalanan semakin sempit dengan tanjakan yang semakin curam, belum lagi jalanan yang sebagian sudah hancur. Beberapa kali Daihatsu Terios menunjukkan kehandalannya melibas jalanan buruk tersebut, sungguh menantang.

Di Denge kami menitipkan mobil dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Wae Rebo. Sekitar tiga jam perjalanan di hutan yang masih menyisakan sedikit onak duri akhirnya saya tiba di desa di atas awan, Wae Rebo. Semalam di Wae Rebo bercengkerama dengan penduduk lokal, saya akhirnya kembali ke Denge dan melanjutkan perjalanan menuju tujuan terakhir, Labuan Bajo.

DSCF1516

Jalan menuju Labuan Bajo memang belum bagus benar, beberapa bahkan berupa jalan tanah. Beririsan dengan gunung, berbatasan dengan jurang dengan rumput-rumput tinggi. Sungguh sangat menanti sekali.

Rombongan tiba di Labuan Bajo ketika malam telah larut, total tujuh hari perjalanan telah dilalui dari ujung Timur hingga ujung Barat. Ketangguhan Daihatsu Terios telah menaklukkan Flores, petualangan dengan Terios sungguh menyenangkan dan memang mobil ini pas dijuluki sebagai Sahabat Petualangan.

Sekali waktu cobalah Overland Flores, sensasinya tak akan pernah bisa dilupakan oleh mata dan hati.

Tabik.

Tulisan dalam rangka penjelajahan Terios 7 Wonders edisi Flores dan Tour de Flores bersama Daihatsu Indonesia.

Follow Efenerr on WordPress.com

24 KOMENTAR

  1. Diawali dengan Larantuka, diakhiri dengan Wae Rebo. Hmmmm. Ya ya ya. Enak kali, Mas. Hahaha. Dua-duanya tempat yang masuk wish list aku. Semoga rejekinya Mas Farchan nular ke sini. Amin…

  2. pasti jadi pengalaman luar biasa ini Mas Ef ya. Saya yang baca cerita dan lihat fotonya aja udah ngerasa takjub sama keindahannya Flores…

  3. Seru banget Chan! Dan kalau dari pengamatanmu kemarin, kira-kira aman gak kalau solo traveling overland Flores pakai motor gitu misalnya? Dengan memakai jalur yang dirimu ambil kemarin.

  4. Hanyut saya membacanya Mas, hampir sambil menahan nafas untuk meresapinya…rasanya seneng banget yang berpetualang darat pake Terios baru dan terbaru modelnya..mau dong ikutan kalo ada lagi..hehehe

  5. Wuaaahh senangnyaaa menjelajah Floress.. total perjalanan darat via kendaraan mobil brp hari mas Farchan??
    pasti gk putus2nya sambil jeprat jepret motooo alam flosres niihh.. πŸ˜€

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here