13707055_1783875481847044_1863048259_n

Seperti biasa jam enam lebih lima pagi saya sudah berdiri di peron Stasiun Jurangmangu. Saya tidak menggamit tangan istri saya, ia duduk di bangku yang jumlahnya sedikit sekali. Sepertinya petugas stasiun lebih suka melihat orang-orang berdiri, daripada repot-repot menyediakan kursi.

“Sayang, kereta datang”,

Istri saya menggamit lengan dan kami segera masuk kereta jam enam lebih sepuluh, kereta datang dari Parung Panjang dan sudah penuh orang. Kami berdua tak mendapat tempat duduk, mengharap duduk di kereta pagi seperti si pungguk merindukan bulan, tak pernah datang.

Walau kadang jika nasib baik, kereta kosong melompong dan kami bisa duduk. Mungkin rasanya seperti pungguk yang berhasil memeluk bulan, tidak tahu rasanya seperti apa saking bingungnya.

13129207_1357149954311501_1315197421_n

Saya melihat penumpang lain yang berdiri dengan canggung. Kereta yang sesak membuat orang-orang hanya berbuat sekenanya, membaca layar gawai, duduk berdiri dengan muka ganjil atau pura-pura memejamkan mata.

Istri sudah asyik membaca Haruki Murakami, IQ 84 buku ketiga. Sementara buku yang saya bawa belum saya buka juga, masih saya genggam, judulnya Geography of Genius karya Eric Weiner.

Biasanya saya membaca setelah lewat stasiun Pondok Ranji. Di jalur Serpong yang sesak di pagi hari, Pondok Ranji adalah soal adu berani. Kereta yang sudah penuh sesak akan tambah dijejali orang-orang yang naik di Pondok Ranji, mereka lebih gigih, berani mendorong, berani menyusup walau sudah penuh sesak.

Tersiksalah orang-orang yang berdiri di depan pintu dan selamatlah yang di lorong. Pondok Ranji adalah bagaimana tulang punggung menahan tubuh yang terhimpit dari depan belakang kanan dan kiri.

Untung hanya enam orang yang naik dari Pondok Ranji, masih ada ruang untuk saya membaca buku.

12519525_1701101166827508_1057046132_n

Rasanya ganjil, naik kereta Indonesia tapi serasa di Jepang, sepi lengang. Jika di Jepang diam adalah etiket, di sini kiranya beda, diam adalah ekspresi masing-masing orang yang sibuk dengan dunianya sendiri.

Saya melirik, dengan kepala masih ke arah buku, pura-pura membaca. Ibu-ibu di depan saya persis sedang membuka galeri foto selfienya, sementara lelaki tinggi di samping kanan a terpekur pada ayat-ayat Al Quran di layar gawainya dan anak SMA di samping kiri sedang menikmati Youtube.

Ternyata sepi adalah urusan masing-masing.

Palmerah masih setengah jalan, kereta memasuki hiruk pikuk selepas Tanah Kusir. Bangunan-bangunan yang hanya berjarak centimeter dari pinggir rel, hidup yang adu nyali dengan kereta yang lewat.

Istri masih membaca IQ 84, sesekali dia melirik dan tersenyum. Saya merasa bahagia, sekaligus merasa bersalah. Seharusnya saya memberi kenyamanan pada istri saya, walaupun ia tidak pernah mengeluh berangkat dan pulang kantor dengan naik kereta.

Ah,

Kereta tiba di Kebayoran, tiga penumpang turun. Kebayoran ini stasiun yang seperti mercusuar, besar sekali, kontras dan mengintimidasi lingkungan di sekitarnya.

Stasiun ini juga salah satu stasiun yang tidak saya sukai, bentuk kepongahan dan intoleransi. Tangga yang begitu tinggi ketika masuk dan ketidakpedulian pada penyandang cacat. Semacam perwujudan pembangunan adalah soal bangunan besar, tinggi dan megah. Tapi tidak manusiawi.

Rasanya ingin cepat-cepat laju dari Kebayoran Baru.

Tujuh menit dari Kebayoran tibalah Palmerah. Saya menggenggam tangan istri sesaat sebelum turun kereta, ia tersenyum, saya kecup keningnya, ya di dalam kereta. Biasanya ia malu-malu lalu menitip pesan “Hati-hati ya,”

Di Palmerah saya menunggu sebentar, berdiri di tembok stasiun. Orang-orang banyak sekali yang turun di Palmerah, tangga penuh, eskalator penuh, semua berlomba keluar Palmerah cepat-cepat.

Suasananya seperti membayangkan bisul yang pecah. Sekarang pukul enam empat puluh sembilan menit.

Saya tidak suka berdesakan, tidak suka terburu-buru. Jikalau terlambat pun saya tidak menyesal, saya lebih menikmati pagi dengan tenang dan santai.

13388641_1639987219654249_308207767_n

Maka ketika peron sudah kosong dan sepi, saya berjalan, menaiki tangga dan keluar dari stasiun dengan ringan. Saya tak perlu antri untuk keluar dari stasiun dan saya tak perlu berdesakan membeli tiket bis transjakarta.

Di jalan Palmerah ada dua bis transjakarta, bis pertama sudah penuh sesak dan petugas masih menyuruh orang-orang masuk. Saya tak mau, saya lebih baik menunggu bis kedua, hilang sepuluh menit menunggu tapi saya tak perlu repot-repot berdesakan.

Dan benar, bis kedua sepi peminat. Tak sampai lima menit bis sudah berangkat hanya diisi tujuh penumpang. Saya melirik jam tangan penumpang sebelah, pukul tujuh lebih lima menit.

Kenapa saya melirik? Saya malas bertanya jam, orang-orang sekarang mudah curiga, gawai saya mati total dan saya perlu tahu jam berapa, akhirnya saya melirik saja, mudah dan cepat.

Bis melaju pelan, di depan TVRI berhenti lalu di depan Ladokgi kembali berhenti, macet, mobil-mobil berhenti.

Dari turunan Ladokgi menuju halte transjakarta JCC Senayan saya membayangkan Moses membelah laut mati. Bis dari sisi kiri langsung membelah jalan Gatot Subroto menuju sisi kanan untuk merapat ke halte transjakarta. Rasanya mobil-mobil yang memenuhi jalanan tersebut tersihir dan berhenti, seperti gelombang laut mati yang tiba-tiba terbelah dan Moses lewat.

Halte transjakarta JCC Senayan penuh sesak. Rata-rata adalah penumpang transit yang menunggu bis Transjakarta arah Cawang.

Lima menit menunggu, bis transjakarta datang dari arah Grogol. Pintu terbuka tapi orang-orang tak bisa masuk, penuh benar, bis berhenti sekedar formalitas, kondektur meminta orang tidak naik karena penuh, pintu menutup dan bis melaju kembali.

Sudah pukul tujuh dua puluh.

Bis transjakarta kemudian datang lagi, bis yang datang adalah bis yang menuju Bundaran HI, saya berpikir cepat lebih baik naik bis ini. Menanti bis jurusan cawang dengan penumpang yang masih berjejalan di halte bisa jadi bukan pilihan baik.

Saya melompat naik dan bis melaju. Saya kira sedikit memutar sebelum mencapai tujuan terkadang memang diperlukan.

Bis berhenti di halte Bendungan Hilir, suasananya seperti di Benghazi saat Libya rusuh massal. Ada banyak sekali tentara bersenjata. Saya menyeberang jembatan penyeberangan dan di atas jembatan penyeberangan ada tujuh tentara, masing-masing dengan sikap siaga dengan menenteng senapan buatan Pindad.

Usai menyeberang saya menunggu Metro Mini 640. Sudah pukul tujuh tiga puluh lima.

Metro Mini datang, di dalam Metro Mini ternyata banyak sosialita. Ada seorang ibu berhijab hermes dengan tas Luis Vuitton dan sepatu Gucci. Ada seorang Bapak dengan tas selempang kulit Crocodile. Ada seorang ibu muda berkaos Mango dan tas Chanel.

Rupanya Metro Mini adalah kendaraan bagi para sosialita dan saya merasa udik dengan baju kerja dan tas punggung yang lusuh, saya salah naik.

Metro Mini berjalan cepat, tidak banyak naik, saya pikir karena orang-orang juga sudah ogah naik Metro Mini. Barangkali bisa tetanus memegang besinya yang berkarat. Sopir tampak antara terpaksa dan enggan, melajukan mesin yang meraung-raung. Tidak ada spedometer dan tuas persneling yang dilas menjadi tinggi sekali.

Tapi setidaknya ada biduan bersuara emas yang berduet bersama bapaknya, menyanyikan tembang era Betharia Sonata yang dilarang Orba. Ada sedikit hiburan.

13437183_1116539761737863_83830958_n

Tiba di pinggir hotel Kartika Chandra saya lekas menyeberang menuju LIPI. Saya sampai hapal, ada pedagang pisang, ada pedagang pecel dan di ujung jembatan ada peminta-minta. Pemandangan yang sama setiap harinya.

Di bawah jembatan penyeberangan pun saya sudah hafal, ada seorang tukang ojek berpeci dan berjaket biru. Saya pernah naik ojeknya, ia bilang tukang ojek online merampas nafkahnya, saya tanya kenapa tidak ikut ojek online, ia tidak menjawab dan memilih mendengus.

Saya berjalan kaki menuju kantor, di gerbang masuk saya bersalaman dengan dua orang petugas keamanan. Saya tidak kenal mereka, mereka juga tidak kenal saya, saya hanya ingin bersalaman saja.

Di lantai dua saya menghamba pada mesin absen.

Pukul tujuh lima puluh tiga.

Saya segera meletakkan tas di loker, menuju meja kerja, menyalakan komputer dan mulai menulis catatan perjalanan panjang yang mungkin tak akan dibaca sampai habis.

Tabik.

NB : Ogos adalah bahasa Melayu untuk Agustus. Menarik karena orang Melayu secara literal menulis August dengan Ogos.

41 KOMENTAR

  1. Sama kayak di dalam Trans Jogja, kalau sudah sesak, bahkan mau bergeser saja susah kadang suka kasian sama ibu-ibu yang terpaksa berdiri sementara di bangku para remaja asyik dengan dunianya (main hp). Dulu sih aku suka naik transjogja, tapi kelamaan nunggu dan mumpung masih sendiri jadi aku beli sepeda ontel 😀

  2. Tulisannya keren banget mas, aku suka. Ritual komuter memang keren kalau disusun dalam bahasa yang indah seperti ini. Ritual saya adalah:

    Naik motor ke Cibubur Junction – Bus ke Komdak – dan busway ke Menara Jamsostek.

    Intinya: mungkin kita pernah sebusway dan lokasi kita sangat dekat.

    Konklusi: AYo kopdar Makan Siang

  3. Mas Farchan, postingannya keren euy…… Aku suka banget bacanya, ada kejujuran dan ironi di dalamnya. Isn’t that how we supposed to embrace our daily commuting experience?

    Ritual saya mas: Naik motor ke Cibubur Junction (sama istri) – Naik bus ke Komdak (sama istri) – Naik Busway ke Menara Jamsostek (sendiri)

    Kemungkinan malah kita pernah se busway mas kalau mas Farchan naik busway nya turun LIPI karena saya di stop selanjutnya. Dan itu artinya kantor kita deket

    Konklusi: ayo kopdar makan siang

  4. ceritanya bisa dibikin ga membosankan gini, bagus mas ;).. aku nth kenapa spontan aja lgs nyengir pas baca yg ibu2 sosialita naik metromini sambil menenteng tas LV, hermes dan sejenisnya ;D hihihihihi….

  5. Jadi ingat masa-masa dulu, sering naik KRL dari Bojonggede ke Gambir (dulu KRL berhenti di Gambir). Penuh sesak, sambil menggendong Zita yang masih berumur 3 tahun. Alhamdulillah sekarang aku sudah pulang ke Magelang lagi. Ayo pulang Magelang mas Ef. ^-^

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here