DSCF0517

Seandainya Yudha tidak membangunkan saya lebih cepat, mungkin saya akan terlambat menikmati matahari terbit di Kelimutu. Semenjak di Larantuka, Yudha sudah ribut sekali dan ingin sesegera mungkin menuju Kelimutu.

Yudha sudah tak sabar sepanjang perjalanan menuju Kelimutu cerewet sekali soal matahari terbit yang ada di Kelimutu.

Rombongan Terios 7 Wonders padahal baru sampai hotel pukul 1 pagi dan sudah harus beranjak lagi ke Kelimutu pukul 3 pagi. Hanya 2 jam waktu istirahat, tapi entah kenapa setiap di perjalanan badan yang sudah hancur-hancuran rasanya kembali segar. Mungkin ekstase berlebih ingin bersua Kelimutu.

Kata orang rindu itu tak tampak, itu yang saya rasakan pada Kelimutu, rasa rindu.

Jalur menuju Kelimutu berselimut kabut, pekat dan berkelak-kelok. Bahkan titik lampu pun ditelan kabut.

Tak sampai dua jam dari Maumere menuju Kelimutu, pukul lima pagi lebih sedikit saya sudah tiba di Kelimutu. Yuda langsung bergegas keluar dari mobil dan mendaki menuju puncak Kelimutu.

DSCF0450

Saya yang baru pertama kali lebih santai, menikmati dahulu dingin dan kabut sembari menatap langit yang mulai bersemburat merah. Saya mendaki beriringan dengan matahari yang juga merayapi langit, matahari hendak terbit dan menyapa manusia.

Saya menanti dengan sabar. Banyak yang ingin melihat matahari terbit di Puncak Kelimutu, sementara saya memilih menikmati matahari terbit di kaki Kelimutu, di pertengahan anak tangga menuju Puncak Kelimutu.

DSCF0449

Memanglah benar matahari terbitnya adalah matahari terbit yang mengguncang dan membuat rindu. Ia terbit pelan-pelan, disibaknya awan, lalu disebarkannya cahaya dengan perlahan. Sampai ketika matahari bulat sempurna dan bersinar kemerahan dan membuat orang-orang berteriak kegirangan.

“Bang, dabes ya sunrisenya” kata Yudha.

Saya mengiyakan.

DSCF0385

Di puncak orang-orang menanti keajaiban lain Kelimutu. Danau ini menebarkan warna yang berbeda, ada tiga dan masing-masing memancarkan kemilaunya.

Danau ini sejak ditemukan di awal abad ke-20 memang sudah memukau. Penanda bahwa Flores juga menjadi salah satu dari bagian sabuk gunung api di Nusantara. Uniknya adalah warna danau ini berubah-ubah, tidak tahu faktor apa yang mengubah warna tersebut, secara berkala danau ini akan berubah warna.

Dua danau sudah memperlihatkan warnanya, satu masih dirubung kabut.

Bagi orang-orang Ende, Danau ini adalah tempat suci, tempat bagi para arwah yang sudah meninggal. Itulah mengapa danau ini kemudian benar-benar dihormati.

Mengingat banyak sekali wisatawan yang datang, danau ini dijaga banyak sekali personel polisi hutan. Mereka mengawasi pengunjung untuk tidak memasuki area yang dilarang.

Bagian-bagian Danau Kelimutu memang rawan, tanahnya gembur dan labil. Beberapa pengunjung mencoba melanggar larangan dengan mendaki tebing danau dan banyak yang berakhir celaka.

Untuk mencegah hal itu maka banyak sekali polisi hutan yang berjaga.

DSCF0546

Memang Kelimutu masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Kelimutu, sepanjang mata memandang adalah hutan yang rapat dengan pepohonan yang tinggi. Bisa dikatakan Danau Kelimutu adalah kawasan enklave yang menjadi tujuan wisata.

Sebagai sebuah tempat wisata, Danau Kelimutu sangat terjaga, bersih dan fasilitas yang memadai. Oia, di puncak ada beberapa penjual kopi yang lezat, Kopi Flores yang dicampur jagung ketika disangrai, rasanya amboi menikmati kopinya sembari menunggu matahari terbit.

“Yud, Kelimutu memang bikin rindu ya?”

Saya menikmati diguyur sinar matahari yang semakin naik sementara Yudha sibuk berselfie ria.

DSCF0507

Sudah cukup rasanya melampiaskan rindu pada Kelimutu. Matahari semakin meninggi. Pukul sembilan pagi saya meninggalkan Kelimutu dengan janji, suatu saat akan kembali ke sini lagi.

Tabik.

Tulisan dalam rangka penjelajahan Terios 7 Wonders edisi Flores dan Tour de Flores bersama Daihatsu Indonesia.

11 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here