Please Banerghatta National Park
Sumber gambar

Beberapa bulan lalu di suatu acara bersama blogger-blogger lain,

“Mas minta goodie bag-nya dong”

“Mohon maaf ya Mas, kami kehabisan goodie bag”

“Gimana sih, datang jauh-jauh ga dapat apa-apa”

Saya saat itu juga langsung terhenyak. Seperti ini ternyata ya dinamika blogger di Indonesia. Agresif sekali demi sebuah goodie bag.

Saat itu pergaulan blog saya terbatas, bahkan bisa dibilang tidak terlalu dekat dengan blogger lintas komunitas. Hanya beberapa saja yang saya kenal.

Tapi semenjak kejadian itu saya mulai mempelajari bagaimana sih para blogger-blogger di Indonesia, sifat, sikap, komunitasnya.

Jujur kejadian tersebut bagi saya mengejutkan, padahal saya sama nasibnya dengan Mas-mas yang meminta goodie bag, saya juga tidak mendapatkan goodie bag.

Yang saya lakukan langsung bicara empat mata dengan penanggung jawab acara bahwa saya tidak mendapatkan goodie bag, minta tolong jika masih ada bisakah goodie bag dikirimkan ke alamat saya, kami bertukaran nomer hape, besoknya saya mendapatkan goodie bag yang dikirim lewat ojek online dan mendapat bonus pula.

Saya mendapatkan goodie bag, saya mendapatkan link dan komunikasi terus terjalin.

Salah minta goodie bag? Tidak salah, yang perlu diperbaiki adalah caranya. Blogger diundang sesuai kapasitasnya, maka jangan merendahkan kapasitas menjadi peminta-minta, apalagi pemaksa.

Hal-hal seperti ini ternyata hanya puncak gunung es, masih ada hal – hal lain.

Kali lain seorang officer di sebuah PR agency bertanya kepada saya, kenapa blogger banyak yang hanya menerbitkan publikasi seperti press release saja.

Ini hal yang umum terjadi, ketika saya tanyakan ke beberapa blogger mereka berkata bahwa blogger juga dianggap media massa, maka press release sudah cukup untuk publikasi.

Sebuah argumen penuh tanda tanya. Apakah blogger sebuah media massa? Jika iya, maka sebuah blog juga harus memenuhi kaidah jurnalistik dong ya? Memiliki tim redaksi, news room, terdaftar di dewan pers dan banyak hal lainnya.

Sanggup?

Saya kok merasa argumen disamakan dengan media massa ini argumen yang hanya mau enaknya saja. Kalau mau fair ya samakan juga sistem kerja media massa, baru silakan publish press release.

Kekuatan blog dan blogger itu ada pada personal touch, kekuatan bercerita, kekuatan untuk menjadi diri sendiri, bukan kekuatan untuk membuat berita, segmentasinya berbeda dengan media, jangkauannya juga berbeda.

Sedih lagi melihat beberapa blogger yang menodong uang transport kepada penyelenggara acara. Goodie bag saja tidak cukup?

Alasannya sudah meluangkan waktu, sudah ijin kerja dan sebagainya. Oalah ternyata pengorbanan ada harganya ya? Saya kira ini hanya soal hobi dan kesenangan semata, ternyata ada motif ijo-ijo juga.

Kalau kerjaan utamanya bukan ngeblog, lebih baik tidak perlu hadirlah.

Masih perlu argumen kalau blog itu sama dengan media massa? Kalau begitu blogger yang menodong uang transport itu levelnya sama dengan wartawan bodrek. Wartawan media besar malah menolak uang transport yang diberikan oleh penyelenggara acara, bahkan menolak goodie bag, itu semua demi independensi konten yang akan diterbitkan.

Sanggup?

Saya tahu ada blogger yang bermotif uang, kalau demikian bersikaplah profesional-lah. Lakukan hubungan klien – brand, bukan merengek-rengek seperti anak kecil atau merajuk seperti peminta-minta.

Buat proposal bisnis, buat TOR, T&C, itu bisa dilakukan kok dan klien pasti akan senang dengan approach seperti itu dari blogger. Dan ada blogger di Indonesia yang melakukannya.

Tunjukkan performa, tunjukkan bahwa brand tersebut layak membayarmu dengan nominal yang pantas.

Bersikaplah seperti itu, belajarlah dari dari professional blogger.

Menulis hal seperti ini bukan berarti saya yang benar, saya melakukan ini sebagai kritik korektif bagi diri pribadi. Sebagai blogger, saya juga pasti masih memiliki banyak kekurangan dan masih ada hal-hal keliru yang saya lakukan.

Saya menulis ini karena memang ada banyak hal yang perlu diluruskan.

Baca Juga : How To Be An Ethical Blogger? Part 1 : Relasi Blog dan Brand

Beberapa waktu lalu saya juga mendapatkan curhatan dari seorang PNS di sebuah instansi pemerintah di daerah. Ada blogger yang datang padanya dan meminta beberapa fasilitas, alasannya adalah membantu publikasi daerah wisata di daerah tersebut.

Teman saya awalnya hanya meminta tanggapan bagaimana baiknya. Saya hanya jawab, “Tinggalin aja bro, membantu kok pamrih, cari blogger lain aja”

Saya terlibat dalam pengembangan beberapa objek wisata, memviralkan beberapa objek wisata, dapat apa saya? Tidak dapat apa-apa dalam materi. Tapi saya bangga, tempat yang pernah saya kunjungi bisa dikenal, bisa membantu masyarakat sekitar, begitu kan?

Masalahnya adalah berhubungan dengan pemerintah itu tidak semudah pesan mie ayam. Ada anggaran yang sudah dialokasikan, berhubungan dengan DIPA, seusai kegiatan ada SPJ, ada pencairan dana. Jangan langsung marah-marah atau nulis “Ah, pemerintah daerah ini ga support” atau “Ah, instansi ini ga ramah sama blogger”

Barangkali mereka belum memasukkan di anggaran tahun berjalan.

Sebuah kegiatan yang dilakukan di luar anggaran atau tidak sesuai DIPA bisa berujung pidana bagi si PNS tersebut. Bagi sebuah instansi pemerintah, membuat acara itu tidak semudah bagi-bagi goodie bag atau menyediakan fasilitas.

Fenomena-fenomena ini bagi saya meresahkan, karena banyak norma-norma dan etika yang diterabas.

Begini, jangan mengerdilkan diri demi imbalan. Kalaupun tujuannya memang uang, maka bersikaplah profesional dan tunjukkan performa yang profesional pula.

Value sebuah blog itu tidak semata soal uang, proses membangun blog juga panjang, berjejaring juga butuh waktu. Tidak ada yang instan, tidak ada yang didapat dengan mudah, semua ada waktunya, semua butuh kesabaran.

Buatlah value atas dirimu sendiri sebelum membuat value untuk blogmu.

Ada hal-hal yang justru jika kita berikan dengan gratis kita bisa mendapatkan lebih banyak.

Saya pernah mengalami bagaimana panitia kelabakan karena tuntutan tidak masuk akal oleh beberapa blogger. Padahal panitia tidak berbuat salah, panitia menyediakan solusi dan panitia sudah meminta maaf.

Tapi masih saja, bagi blogger panitia yang salah tanpa mau menerima penjelasan panitia. Mempublish tulisan yang menyudutkan panitia.

Tanpa mau memberi ruang klarifikasi, tanpa mau cover both side. Kasihan panitia, menyedihkan sekali sikap bloggernya.

Dari beberapa pengalaman tersebut, jangan-jangan justru memang kita sebagai blogger yang tak tahu diri. Menuntut terus, mau enaknya terus.

Saya ingatkan, blogger di Indonesia itu banyak, selalu ada lapisan langit di atas langit.

Berkomunikasilah, terbukalah, mintalah term and condition yang jelas. Berikap eleganlah, menghargai orang lain terlebih dahulu sebelum minta dihargai. Jelaskan apa yang bisa dilakukan dan apa yang tidak bisa. Terangkan apa keuntungan membuatkan blog

Saya kadang-kadang tertawa juga, katanya blogger ngeblog karena kesenangan, karena ingin share. Tapi ribut kehabisan goodie bag.

Omong kosong lah ya, ngana ngeblog karena kesenangan atau karena ingin goodie bag.

Selamat hari blogger nasional 2016.

Tabik.

Follow Efenerr on WordPress.com

160 KOMENTAR

  1. Syedih shayyyyyyyyy.. aku suka nulis karena emang suka sharing. Mau ke acara karena ketemu temen atau suka topik acaranya. Panitia harusnya itung brapa gudibeg yg harus disediakan. Blogger kudunya nrimo kalo keabisan.. atau ada cara lain spt yang kamu lakukan di atas ya. Selamat harblognas.. :”)

  2. Tulisan yang cukup “menampar” saya. Jadi mengingat-ingat pernah begitu gak ya? (semoga enggak)

    Terima kasih sudah mengingatkan, Mas. Menjadi blogger profesional itu memang butuh perjalanan yang panjang sampai terbentuk etika dan sikap yang profesional juga. Semoga perjalanan saya sudah mengarah kesana. Dan tidak lupa untuk tetap mau belajar serta semakin mengikuti ilmu padi.

    Selamat Hari Blogger Nasional πŸ™‚

  3. Sepakat kak chan
    Suka sama kalimat “Buatlah value atas dirimu sendiri sebelum membuat value untuk blogmu.”
    Jika tabiat pribadi aja masih rendah, gimana mau jadi penyampai pesan pada orang-orang πŸ˜‘

  4. Tulisan yang sangat menyentuh, Terima kasih Ef,
    Ada beberapa point Penting yang saya suka, semoga kita semua lebih banyak belajar dan mau mempraktekkannya.

    1. Salah minta goodie bag? Tidak salah, yang perlu diperbaiki adalah caranya. < ini yang Paling Penting menurut saya.
    2.Kekuatan blog dan blogger itu ada pada personal touch,
    3. Tapi saya bangga, tempat yang pernah saya kunjungi bisa dikenal, bisa membantu masyarakat sekitar,
    4. Buatlah value atas dirimu sendiri sebelum membuat value untuk blogmu.

    Dan dari semuanya semoga kita semua belajar bahwa dalam kehidupan SEMUA NYA TERCATAT dan di PERHITUNGKAN.

    Salam Sukacita.

  5. Bunyi sekali tulisannya, Mas Farchan. Saya baru ngeh ada juga ya blogger yang sampai ‘judes’ karena ga dapet goodie bag dari panitia acara. Cerita ini sangat sangat sangat bikin saya inget sama profesi wartawan sih. Sebagai wartawan, saya sadar ada beberapa perilaku wartawanβ€”yang kalo saya ada di posisi penyelenggara acara dan diperlakukan seperti itu oleh wartawanβ€”yang bikin image-nya sendiri ga baik. Ya, misalnya ninggalin sampah snack box dan bawel karena ga dapet goodie bag.

    Errrr. Kalau dibiarin, sedih juga ya kalau lama-lama blogger juga akan dipandang ‘sebelah mata’ semacam itu.

  6. Sempet baca jg tulisan ttg blogger yg minta makan gratis ke satu restoran krn dia blogger hehehe. Balik lg ke bloggernya sendiri lah, masih byk blogger baik & tdk mempermasalahkan urusan goodie bag atau macam2… Yg jelas dimana2 yg ngerepotin pasti ditinggalin 😁 Met hari blogger!

  7. Nice insight mas! Sejak era obrolan inspiratif berupa “monetizing your blog” atau “how to make money from blogging”, kemudian lahir bloggers yang memang mengkhususkan diri jadi jurnalis dadakan. That’s OK tapi mulai gengges ketika fenomena yang ditulis di blog ini kemudian meruah. Di acara kompasianival kemaren, seorang temen yang diminta jadi narasumber untuk travel bloggging sempat mengeluhkan susahnya ngumpulin bloggers “gratisan” alias yang mau datang tanpa goodie-bag atau bayaran nge-live tweet event.
    Padahal waktu jaman pesta Blogger itu aku takjub lihat blogger se-Indonesia guyub, tanpa dibayar atau diongkosin. Goodiebag hanyalah penanda, kalopun ada “pertikaian” hanya sebatas “Lo pake WP apa blogspot?” dan domain name.

  8. Dan aku membaca ini disaat nerima paKet isinya goddie bag ..hehehe.

    Ah…klo disisi aku..malah disini ,pekanbaru baru mulai dan…seneng aja udh aware ada bloggernya..
    Btw t&c ini yg perlu dipelajari eheh

  9. Dan aku membaca ini disaat nerima paKet isinya goddie bag ..hehehe.

    Ah…klo disisi aku..malah disini ,pekanbaru baru mulai dan…seneng aja udh aware ada bloggernya..
    Btw t&c ini yg perlu dipelajari eheh .

  10. Saya pernah diminta ikutan lomba blogger tapi isinya sangat iklan dan kreativitas kita kurang digarap dengan imbalan yang menurut saya tidak sebanding. Walhasil saya tolak, karena saya tidak mau hanya gegara uang tak seberapa kita sharing artikel yang tidak menarik dan tidak memberikan value buat pelanggan. Saya blogger dan bukan PSK tulisan.

    Setuju dengan tulisannya, Mas. Blogger senang duit tapi jangan mata duitan.

    Salam kenal dan selamat hari blogger nasional.

  11. Aku bukan blogger kak , cuman seneng2 aja berbagi bahagia manja jd ngak nyari godiebag hahhaha Tp kalo di undang trus dapat uang transport yaa Alhamdulillah kalo ngak dapat yaaa tetep senyum, niat nya seneg hura hura aja #Kabur

  12. Aku kemarin galau karena gak ambil gudibeg yg isinya kesukaanku (notes) itu juga taunya seminggu setelah acara, bwahaha..

    Gak ngejar goodie banget kok kalo dateng ke acara, justru pengen dapet ilmu dan dapet teman baru aja. Trus sebelom dateng ke acara juga harusnya tanya-tanya aja dulu misalkan emang yg dateng ga mau rugi karena ga ada transport. πŸ˜‚πŸ˜‚ daripada minta-minta pas selesai acara kan malu-maluin. Hih jadi gemes πŸ˜•πŸ˜

  13. bang efenerr, cuma mau kasih tahu:

    ada pengulangan kata “dari” pada kalimat

    “Bersikaplah seperti itu, belajarlah dari dari professional blogger.”

    Letaknya ada di bagian tengah tulisan, di atas related link.

    Dan saya suka sekali membaca tulisan ini.

    Terima kasih.

  14. Nggak pernah dpt goodie bag karena memang nggak pernah menghadiri acara. Kasihan panitia, ‘harus’ sediain tiket pp india -indonesia, hehehe.

    Jadi tahu dunia ‘lain’ perbloggeran. Tulisan yang …. Sungguh nabok πŸ™‚

  15. Wah, dunia blog sampai seperti itu ya sekarang. Kalau dulu waktu saya pertama ngeblog, waktu orang masih main Friendster, orang-orang ngeblog murni karena hobi. Belum banyak yang menganggap blog bisa mendatangkan uang. Oleh karena itu sampai sekarang mindset saya sama, ngeblog demi berbagi dan mengutarakan pendapat hehe. Terima kasih atas artikelnya πŸ™‚

  16. Itu fenomena di Jakarta mas. Di daerah kami masih ndomblong nonton hiruk pikuk disana yang sehari bisa beberapa event. Kami di daerah belum sibuk2 amat kok. Ada goodie bag ya seneng, nggak ada ya gpp, snack pun dah gembira. Kalau ada uang transpor juga langsung takjub krn meski acara sama, perlakuan brand (baca: ada tidaknya uang transpor) thd blogger daerah & blogger Jakarta beda. :))

  17. Baca lead blog ini saya langsung keingetan wartawan bodrex, goodie bag dan door prize. Kalau soal goodie bag saya dulu suka ngincer juga sih karena orang di rumah kadang suka ngoleksi, kalo keabisan baru minta temen yang males nenteng-nenteng. Hihihi

    Emang agak berlebihan sih kalau menyamakan blog seperti media massa. Karakter penyampaian materi di blog kan penuh opini yang sangat diharamkan ada di berita media massa.

    Once again one nice blog mas Farchan.

  18. Aku juga pernah denger soal blogger pemburu goodie bag ini, mas. Duh, langsung syeddih sayah :(. Semoga niatku ngeblog tetep ‘lurus’ . Aku percaya semua berproses, semua berawal dari keluar biaya pribadi dulu. Jangan buru-buru mau langsung enak☺.

  19. Jarang menghadiri undangan blogger tapi ingin dapat goodie bag ha,..ha.,ha, becanda .kalau eventnya memang menarik tanpa goodie bag dan uang transport pun pasti bnyak blogger yg hadir,dpt ilmu tambah kenalan baru itu bonusnya

  20. Jangan-jangan fenomena booming blogger dimanfaatkan sama wartawan bodrex kali ya? Jadi wajah barunya wartawan bodrex yang surat kabarnya nggak jelas karena terbit setiap mau lebaran itu sekarang beralih ke blog πŸ˜€

  21. Kekuatan blog dan blogger itu ada pada personal touch, kekuatan bercerita, kekuatan untuk menjadi diri sendiri —> suka banget sama tulisan yg satu ini.

    Terus terang, meskipun udah ngeblog selama 7 tahun, tapi saya termasuk salah seorang Blogger yg jarang ikutan acara-acara seperti yg Anda ceritakan di atas. Alasannya, karena saya sedang menuntut ilmu di luar negeri. Bahkan kalo boleh dibilang, sampai sekarang saya belum pernah mendapatkan uang sepeser pun dari blog. Saya menulis semata-mata hanya karena saya ingin bercerita, tidak ada maksud lain.

    Tapi ya memang kisah seperti yg Anda ceritakan di atas, pernah saya dengar dari beberapa teman saya yg kerja di periklanan. Sampai-sampai dia berkata, jaman sekarang, Blogger sama Preman cuma beda tipis. Banyak Blogger yg hanya gencar dalam menuntut hak, tapi tidak melaksanakan kewajibannya dengan baik.

    Semoga tulisan ini bisa menjadi introspeksi bagi kita semua, para Blogger. Apa sih tujuan kita menulis? Jangan gadaikan harga diri dan profesionalitas kita hanya demi sebuah goodie bag…

  22. Kalau buat saya, di kasih uang sama Goodie bag ataupun uang transportas ya Alhamdulillah, gak di kasih ya gak usah minta. Gak usah dateng kalau acaranya gak menarik. Setuju dengan mas Farhan πŸ‘

  23. Hai Farchan! Pengalaman kurang mengenakkan sama blogger begini pernah kami alami, khususnya di PR agency. Apalagi jika permintaannya lebih dari kemampuan brand maupun agency, sehingga kami pun terpaksa ngurut dada dan mencari alternatif lain.
    Memang ya, ‘harga’ yang tinggi nggak menjamin profesionalitas seorang blogger jika attitude nya masih “ngeksis”.
    Nice post btw 😁

  24. Baru mulai nge-blog lagi setelah sekian tahun hiatus. Baca ini jadi membuka mata. πŸ˜€ Ternyata ada fenomena blogger amplop kayak wartawan amplop. Hehehe Dulu saya wartawan majalah, urusan amplop ini memang selalu jadi isue.

  25. Terimakasih atas tulisannya mas, saya jadi berpikir apa sih tujuan awal dari menulis di blog. Awalnya dari senang dan pengen jadi orang yang bermanfaat saja dari apa yang saya tulis, semoga tetap konsisten seperti itu. πŸ™‚

  26. Saya cukup takjub juga dengan kondisi perbloggeran saat ini. money oriented menjadikan kegiatan ngeblog tak lagi mengasyikkan. duit penting, tapi bukan segalanya. saya lebih senang berjejaring karena ini yang justru banyak memberikan teman baru dan syukur-syukur membuka peluang rejeki.

    good share mas Farchan, salam kenal.

  27. Goodie bag oh gudibek.. saya malah belum pernah datang ke events mas. Huaaa jadi ya ngeblog suka-suka saya sesuai keinginan tanpa terbebani nulis reportase ini itu. Saya dapat hasil lebih karena rajin ikutan lomba blog saja wkkwkww. Dinamika perbloggeran skg rumit ya mas.. mudah2an kita bersatu dan saling menghargai πŸ™‚

  28. Dulu sering sih ikutan acara macem-macem dapetnya juga macem-macem. sekarang mojok di desa jarang bisa ngikut acara macem-macem. Untungnya enggak pernah berharap lebih dapat apa gitu. Kalau emang ada waktu luang dan dapet undangan ya berangkat πŸ˜€

  29. Buat aku ngeblog itu yang dipikirin adalah gimana cara bikin konten yang bagus dan orang-orang mau baca, bukan gimana cara dapetin barang atau duit dari ngeblog. Selama ini juga berkat ngeblog justru dapat macam-macam. Sama halnya seperti yang mas bilang, kalau kita kehabisan goodie bag, bisa dibicarakan dengan baik. Aku pernah mengalami hal yang sama dan justru dikirimin goodie bag karena gak kebagian. Padahal gak minta dikirimin juga, tapi panitia inisiatif mengirimkan.

    Sedih aja melihat orang mengatasnamakan blogger tapi ternyata sikapnya justru mencoreng nama blogger itu sendiri.

  30. perasaan kemarin udah ngomen, tapi kok ga ada πŸ™

    apapun kerjaannya, ga cuma blogger, meminta2 itu ga baik. πŸ˜€

    salah fokus malah lihat ke sidebar, profilnya tax officer, kira2 nanti blogger kena pajak ga ya? πŸ˜€

  31. Thankyou, Mas Farchan. Tulisan ini jadi pengingat menarik untuk telisik lagi tujuan nge-blog. Suka sama poin yang nyebutin kalau memang money oriented ya profesionallah. πŸ˜‰

  32. I rather not post anything from an event than posting a press release.
    Sedih dan senang.

    Senang karena blogger jadi “profesi” yang main dilirik brand tapi sedih karena sepertinya masih banyak banget yang harus dipelajari untuk jadi pro. Mau belajar lagi dari mas Ef ah.

  33. Setuju kalau blogger itu gak sama dengan media massa. Quote yang ini keren “Buatlah value atas dirimu sendiri sebelum membuat value untuk blogmu.”

    Salam Kenal dan Selamat Hari Blogger Nasional, Mas Farchan. πŸ™‚

  34. aku suka mas dengan tulisannya, mengingatkan. apalagi jika datang ke suatu acara memang mengharapkan lebih. terlebih pada isinya goodie bag. memang tidak salah meminta goodie bag, tapi caranya yang kurang.
    semakin kesini setiap datang ke event, justru goodie bag menurutku bonus. yg terpenting jalinan silaturahmi dengan blogger lain dan juga acara tersebut.

  35. maka dari itu, tercetuslah sebutan blogger gudibeg, blogger amplop, blogger receh dan sebutan-sebutan blogger lainnya. Sempat dibahas di bloggercamp jatim tahun 2015 tentang blogger amplop, dan sangat-sangat antusias ketika membahas tentang sebutan-sebutan tersebut. lucuk!

  36. Setuju sama argumen nya mas, terutama kalimat : Ada hal-hal yang apabila kita berikan dengan gratis akan menghasilkan keuntungan yang lebih banyak. πŸ‘πŸ‘πŸ‘

  37. setubuh banget mas..
    menurut saya blogger is sharing informasi sesuai dengan passion
    kalau dibayar sih alhamdulillah, nggak juga gpp..goodybag aja juga alhamdulillah..
    toh sebenarnya blogger itu ya sedekah informasi, masalah uang, hadiah dll itu sebenarnya effek dari sedekah kan ya πŸ™‚

    kadang saya juga berpikir untuk membagi beberapa karakter blogger seperti, menurut pandangan saya :
    1. passion blogger (sesuai minat diri sendiri nulisnya supaya manfaat buat orang lain)
    2. event blogger ( mau nulis kalo ada event doang)
    lucu kan kalau yang nomor dua..

  38. Ternyata fenomena begini jg ada di kalangan blogger y. Saya kira cm wartawan saja. Itupun sudah cukup memalukan profesi lah. Saya setuju kalo blogger seharusnya jg menerapkan etika jurnalistik, karena prinsip kerjanya kan sebenarnya sama.
    Bagus bgt tulisannya mas..πŸ‘

  39. Gue blogger, tapi kayaknya gak sampe sebegitunya ah, hehehe
    Mungkin karena mereka ngerasa blog mereka udah blog papan atas kali ya.. Biasanya juga pada sombong sih, ngebanggain diri sendiri, sok ngartis serasa banyak pembaca yang nunggu2 tulisannya dia. Padahal ya biasa aja sebenernya.

    Sampai saat ini, blogger masih tempat curhat buat gue.. Bukan buat ngebanggain diri nyari ijo-ijio, ya… Kecuali ada tawaran, gue ambil. Tapi nggak sampe sok2an minta macem2..

  40. Benul bingit, janganlah mempunyai mental Goodie Bag Blogger dan lakukan semuanya dengan elegan. Saya newbie, tapi suka nulis dari dulu dan skrg bisa lebih terarah. Kami di Pekalongan baru akan bentuk komunitas Blogger Pekalongan, Ulasan Mas sgt berharga utk nanti kita sharing di forum Kopdar. Jadi tau mgn TOC & TC. Thanks Mas, g berusaha bebeah rumah blogku. Monggo mampir di http://www.javvachic.blogspot.co.id

  41. aku bukan blogger, tp punya blog. tujuannya cuman ingin berbagi tulisan aja, menyalurkan hobi menulis. gak mengharapkan lebih, cuma berharap blogku bnyak di kunjungi orang bnyak dan bermanfaat utk orang lain, itu saja.

  42. Oh ternyata kekuatan blog jg dahsyat ya..
    Hmm tapi saya menikmati sebagai blogger bukan karena itu semata.. misinya meninggalkan jejak yang baik dan berbagi. Masalah ada embel2 yg didapat ya disyukuro saja.

  43. Hoo, ternyata begitu banyak drama dibalik undangan sebuah acara?
    *maklum, blogger kurang gaul*
    Lewat tulisan ini jadi tahu banyak *ntar kalau ada yang ngundang, langsung bisik-bisik lewat email dengan jelas, ada transposrtnya ga? Ada goodie bagnya ga? Biar ga membuat heboh. Tapi ujungnya langsung di black list *belum apa-apa maunya udah banyak πŸ˜€

  44. Kalo menurut saya semua blogger itu peminta minta, entah itu diungkapkan atau tidak yang bebeda adalah cara memintanya, entah itu yang diminta materiil berupa uang, barang atau peminta minta dalam bentuk lain, misalnya minta doa, mnta pahala karena artikelnya bermanfaat hehe, semoga semuanya merupakan proses menuju yang lebih baik

  45. Masih untung dorang diundang di event-event bagus, lah torang blogger di daerah tidak pernah diundang kalo ada event, torang datang ya karena memang suka datang, torang tulis ya karena suka batulis. #halah 😁

  46. Saya kok paling nggak suka kalau ada Blogger yang ngaku master, bersikap menyepelekan ke blogger baru. Padahal di atas langit masih ada langit lagi, demikian halnya dalam dunia blogger..Masih banyak blog-blog hebat dan semuanya sangat relatif dibilang hebat..tulisan yang bagus dan harus saya resapi membacanya..TQ Mas. Farchan

  47. Halo mas saya bekerja sebagai humas, senang nulis blog juga, meski bukan blogger profesional. Baca ini miris sekali. Terutama bagian “wartawan bodrek”. Saya dulu kuliah jurnalistik dan pernah juga kerja sebagai wartawan, sedih banget kalo liat kelakuan malak minta goodie bag. Aduh, profesi yang dulu gw belajar ethicnya ampir 5 taun itu ternyata kok segini doang? Sebagai humas, pernah juga terlintas di kepala saya waktu ketemu wartawan tukang palak, “You’re so cheap and easy. I am gonna buy your pen.” Dan makin sedih waktu tahu blogger pun ada yang seperti ini.. Saya percaya sih, when we writing for pleasure, kualitas dan apresiasinya akan jauh lebih besar daripada sekadar writing for goodie bag. πŸ™‚

  48. Sebagai newbie, aku belum sampai pada tahap ke acara2 begitu sih.. Tapi tulisan ini juga bagus untuk para newbie juga agar jangan sampai menjadi “pengemis”..

  49. WAH SETUJU BANGET!!!
    Blog tidak sama dengan media. Berita di media harus berimbang dan obyektif, cover both sides of the story. Sementara artikel blog justru perlu subyektif dari pengalaman dan penghayatan pemilik blog.

    Begitu pun, wartawan juga gak boleh langsung menerbitkan press release, HARUS diolah menjadi artikel. Apa lagi blogger. Haram hukumnya menerbitkan press release doang.

  50. Beberapa kali mampir tapi baru ini ninggalin jejak.
    Tulisanmu selalu nendang mas. Poinnya selalu masyuukkkk~
    Pembelajaran buat kami-kami para blogger newbie nih.
    Semoga selalu istiqomah sama niat awalnya ngeblog. Hehehe.
    Terus menginspirasi mas! πŸ’ͺ

  51. Aku blogger (its because aku ngeblog dan punya blog sedari kuliah), aku jugabekerja untuk brand dan beberapa kali bekerjasama dengan teman-teman blogger untuk acara brand. Sometimes, malah pengertian blogger dan wartawan di kantorku menjadi blur, sejak ada saja blogger goodie bag yang bermunculan, lalu menulis posting tentang event brand yang terasa kurang personal touch-nya. Sebagai orang yang ada di belakang brand pun, jadinya memang agak kurang menyenangkan bertemu blogger begitu. Sebagai blogger pun, saat menghadiri sebuah event, aku sangat berusaha untuk nggak bersikap begitu.

    Memang lebih bijak dalam bersikap akan menunjukkan keprofesionalan sih ya Mas.

  52. Share pengalaman ya mas, beberapa waktu lalu pernah handling event dengan blogger. In the announcement, saya sudah sampaikan jam berapa dan apa yang didapatkan, which is vouchers.

    Tapi sampai tempat acara, ada yang datang terlambat dan ada juga yang mempertanyakan uang tunai. I mean, sudah jelas saya tuliskan saat share informasi itu. Kenapa mau kalau memang gak mau vouchers. Memang lebih enak uang tunai, tapi mnrt saya, tugas bloggerlah selektif dalam menghadiri event itu. Kemudian untuk goodie bag pun baru2 ini mengalami lagi. Meminta goodie bag pas baru datang (terlambat).

    In sum up, saya merasa ada yang salah dengan attitude dari para blogger sekarang ini, saya jadi ingat tulisan mas soal etika blogger. Mudah-mudahan sih gak ketemu lagi yang seperti ini.

  53. Sembari baca, sembari merenungi. Menemukan apa yang sebenarnya terjadi di dalam kisah ini. πŸ˜€

    Aku masih baru banget di dunia blog. Bisa bekerjasama dengan brand memang sebuah kebanggaan. Tapi, ada kalanya tidak semua yang diminta harus dalam bentuk feedback uang.

    Meskipun aku baru beberapakali diundang ke acara-acara blogger. Dapat atau tidak, tetep saja legowo. Toh, itukan soal seberapa mampunya acara itu. Karena, aku pernah jadi panitia di acara2 besar. Sungguh sangat tau, memberikan feedback kepada yang diundang itu, gak gampang.

    Makanya, sejak awal kalo akunya nyari feedback dari blog sendiri. Alias memanfaatkan fasilitas iklan dari Google doang. Dari situlah aku hidup. Kalo dari acara yang mengundang blogger, dapet minuman gelas saja udah cukup mas. Biar nggak haus saat nyiapin materi dan nulis poin2 yang akan dibahas.

    Btw, makasih banget sharingnya. Semoga banyak yg sadar. πŸ™‚

  54. Tulisan yg menarik bang. Secara keseluruhan saya sepakat dengan POV yg abang sampaikan di atas.
    Saya sudah terjun ke dunia blogger sejak tahun 2009, bagi saya pribadi nge blog itu bukan melulu tentang duit dan materi. Nge blog itu adalah sebuah kebebasan dalam batas norma. Tanpa harus terbebani dengan mengejar keuntungan atau penghargaan. Kalaupun blog dijadikan sebagai sumber mata pencaharian, jadi lah blogger elegan.

    Salam kenal bang.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here