Tiga bulan lalu saya bertanya pada diri sendiri, “Saya harus pakai baju apa ya pas acara Bu Sri?” Pertanyaan tersebut muncul karena untuk pertama kalinya dalam pekerjaan, saya harus bersama dengan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati.

Bagaimana tidak muncul pertanyaan, walaupun deg-degannya berbeda misalnya ketika pertama kali bersua kekasih namun saya hendak bertemu seorang menteri. Walaupun mungkin Bu Sri melirik ke saya pun tidak, tapi setidaknya saya memberikan impresi yang baik di hadapan Bu Sri.

Ternyata oh ternyata, di depan Bu Sri cukup menjadi diri sendiri. Ya, berbusana rapi, formal dan baik itu perlu, tapi tak perlu bingung dan muncul pertanyaan seperti yang saya alami. Bu Sri adalah Bu Sri yang justru mengajarkan saya untuk menjadi diri sendiri.

Sekitar 7-8 tahun yang lalu saya pernah berdebat sengit dengan sahabat saya gara-gara Bu Sri. Tentu Bu Sri tidak tahu itu, jenjang saya dengan Bu Sri bagai bumi dan langit, jauh sekali, saya hanyalah pelaksananya di unit terbawah, sementara Bu Sri duduk di singgasana di atas sana.

Teman-teman saya menganggap saya prajurit Bu Sri, anggapan itu memang benar. Saat itu saya dengan sengit dan berapi-api membela Bu Sri, sebagai prajurit saya cuma percaya bahwa saya punya pemimpin seorang yang berdedikasi, ya Bu Sri itu sendiri.

Ada ruang hampa yang datang tiba-tiba ketika Bu Sri pergi ke Amerika Serikat, saya tahu itu adalah patgulipat. Tapi diam-diam bangga juga, orang yang saya kagumi ternyata lebih dikagumi oleh dunia internasional, bangga juga prajurit macam saya pernah menghamba pada seorang paduka seperti Bu Sri.

Well, acara Bu Sri pertama yang saya ikuti berjalan lancar. Walaupun saya grogi tapi terselip rasa bangga. Saking senangnya bisa ikut acara bareng Bu Sri, saya langsung mengirim pesan pada Ibu saya di kampung, “Saya ikut acara Bu Sri Mulyani Buk”.

Berikutnya setiap ada acara yang Bu Sri hadir dan bersinggungan dengan tempat saya bekerja, alhamdulillah saya hampir selalu diikutkan. Mobilitas Bu Sri yang luar biasa memang membuat saya geleng-geleng kepala.

Dari acara demi acara bersama Bu Sri ada hal-hal yang membuat saya bersyukur karena pekerjaan saya bersinggungan langsung dengan Bu Sri.

Misalnya, saya seorang yang bebal dengan teori ekonomi. Katakanlah begini, saya lulusan STAN, saya di SMA masuk jurusan IPS, tapi saya benci mata kuliah yang berbau-bau ekonomi. Melihat kurva dan membaca teori ekonomi bagi saya adalah hal paling memuakkan yang pernah saya alami. Karenanya nilai ekonomi saya yang hancur-hancuran di saat kuliah sesungguhnya adalah sesuatu yang saya syukuri.

Tapi suatu ketika, “Kamu ikut konferensi pers Bu Menteri”, atasan saya memerintahkan tiba-tiba di awal Januari. Maka saya langsung bergegas ke tempat konferensi pers, sekitar setengah jam dari kantor.

Sebagai seorang yang benci ekonomi saya membatin apa saya akan mudeng dengan materi konferensi pers ini.

Sebagai gambaran betapa bebalnya saya pada ilmu ekonomi adalah saat saya menonton film The Big Short sampai tiga kali. Yang pertama saya diomeli istri karena sepanjang film saya bertanya padanya tentang istilah ekonomi yang ada di film. Nonton yang kedua saya sambil membuka wikipedia dan artikel kasus yang melatari film ini. Nonton yang ketiga saya akhirnya baru tahu film ini bercerits tentang apa.

Foto : Adhiputro

Tapi demi apa ketika konferensi pers, saya yang bebal ekonomi mendapat pencerahan dan menjadi paham tentang ekonomi. Ya karena Bu Sri menjelaskan kurva-kurva pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2016 yang di mata saya seperti jaring laba-laba yang rumit dengan mudah sekali.

Saya mencatat detail penjelasan Bu Sri. Catatan itu lalu saya baca ulang dan pelajari. Saya berandai-andai, andaikan Bu Sri adalah dosen ekonomi saya saat kuliah, pastilah sekarang saya jadi suka ekonomi dan jadi ekonom.

Who knows?

Orang pandai menjelaskan sesuatu yang rumit dengan sederhana supaya mudah dipahami orang lain. Sementara orang sok pandai menjelaskan sesuatu yang sederhana dengan rumit supaya terlihat pandai.

Anda pasti tahu Bu Sri masuk golongan yang pertama.

Ia dengan bahasa yang sederhana dana analogi yang ringkas menjelaskan kondisi ekonomi Indonesia yang sebenarnya rumit dipahami bagi orang awam. Saya seolah mengikuti kuliah ekonomi satu semester dalam satu jam konferensi persnya.

Seperti itulah Bu Sri, menjelaskan sesuatu yang rumit dengan sederhana. Agar mudah dipahami orang, agar orang lain mengerti apa yang ia katakan dan agar orang lain mengerti masalah yang sesungguhnya.

Gara-gara sering mendengar Bu Sri bicara, saya sampai menghafal bagaimana intonasinya. Tak pernah meledak-ledak, ritme bicaranya santai namun konstan, baru pada beberapa kata yang menjadi highlight, Bu Sri akan mengeraskan suaranya.

Ia adalah pengajar, bukan orator. Ia mempengaruhi audiens dengan analisa, bukan agitasi. Ia memaparkan data dan fakta, bukan retorika. Ia to the point, bukan mblandrang banyak hal.

Dalam sebuah rapat saya ingat benar bagaimana Bu Sri membuka rapat. Setelah mengucap salam, “Bapak Ibu, mari langsung kita mulai saja rapatnya”. Setelah itu rapat langsung gaspol dengan bahasan materi dan data-data dijabarkan.

Tidak bertele-tele, tidak banyak basa-basi.

Begitupun ketika diskusi. Saya menangkap bagaimana Bu Sri lebih menyukai jawaban berupa analisis yang tajam. Ia tidak suka jawaban yang berputar-putar, tak segan Bu Sri menginterupsi jika lawan diskusinya bicara panjang lebar tapi tidak masuk dalam substansi.

Dalam kondisi rapat, di mana relasi atasan-bawahan menjadi rekan semeja rapat. Bu Sri memang memegang kendali, tapi Bu Sri juga terbuka sekali dengan ide-ide baru dan kekritisan.

Saya yang mengikuti rapatnya merasakan aura yang sangat dinamis, walaupun ya namanya rapat, tensinya naik turun. Menegangkan sekaligus menyenangkan.

Foto oleh Irwan Hermawan

Barangkali memang seperti itu gaya Bu Sri, tidak suka basa-basi.

Suatu ketika saya dan teman-teman sekantor pernah tergopoh-gopoh dengan kedatangan Bu Sri. Tanpa pemberitaan, tanpa persiapan, spontan. Ya memang barangkali Bu Sri tidak suka hal-hal seremonial, Bu Sri sepertinya lebih nyaman tanpa birokrasi berlebihan.

Spontanitas itu ditampakkan dalam berbagai kesempatan. Misalnya ketika meresmikan Gedung Mar’ie Muhammad, Bu Sri berpidato penuh keharuan dan kemudian menggamit keluarga almarhum Mar’ie Muhammad yang dianggapnya sebagai keluarga.

Atau lain kali ketika seusai sidang Mahkamah Konstitusi. Bu Sri merayakan selesai sidang dengan ber-tos dengan Dirjen saya Pak Ken. Dasar Pak Ken juga orangnya santai, Bu Sri juga easy going. Spontanitas itulah yang kemudian dilahap media dan menjadi cover berita.

Sebuah spontanitas dengan banyak arti.

Foto oleh Adhiputro

Gaya spontan seperti itu bisa jadi didapat dari rekam jejaknya sebagai akademisi. Biasa berdiskusi dan bertukar pikiran, tumbuh dalam iklim diskusi dan kritik, bergaul dengan banyak kalangan. Hal-hal seperti itulah yang menurut saya membentuk gaya Bu Sri.

Bu Sri tidak perlu pencitraan. Katakanlah pencitraan dekat dengan rakyat, karena memang Bu Sri sudah dekat dengan rakyat, itu sudah sifat natural dan alami dari Bu Sri.

Begini ceritanya.

Suatu ketika ketika tengah malam Bu Sri datang ke kantor dan melihat kondisi Wajib Pajak yang sedang mengantri Amnesti Pajak. Ia datang dengan senyuman, ia bertanya kepada wajib pajak, “Sudah lama nunggunya Pak, sudah makan belum”. Sebuah sikap empati yang sederhana tapi sangat kuat pesannya, ia ada bersama wajib pajak, ia merasakan bagaimana wajib pajak antri berjam-jam lamanya.

Sangat natural, Bu Sri berbincang akrab dengan wajib pajak, tanpa sekat, tanpa jarak. Berbicara dengan nada berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan wajib pajak. Tidak ada arogansi pejabat, ketika bicara dengan masyarakat, Bu Sri menempatkan dirinya sebagai masyarakat.

Foto oleh Irwan Hermawan

Ketika bicara dengan teman-teman yang piket Amnesti Pajak Bu Sri tidak seperti pejabat yang datang sidak dan menampilkan relasi kuasa. Bu Sri seperti orang tua yang sedang menjenguk anaknya.

Melihat teman-teman saya bekerja, mengajak bicara, menguatkan, mendorong dan memberi semangat. Tertawa bersama-sama lalu turut menikmati malam berganti pagi bersama-sama.

Ada satu hal paling berkesan yang saya lihat dari seorang Bu Sri, jam tangan. Bu Sri sering sekali memakai jam tangan yang kalau orang melihat akan bertanya “beneran itu menteri jam tangannya begitu?”

Awalnya saya kira jam tangannya Casio yang harganya 300-ribuan. Saya lihat sekali dipakai Bu Sri, kesempatan lain dipakai lagi, kesempatan berikutnya dipakai lagi.

“Ini apa Bu Sri cuma punya satu jam tangan apa ya?” Batin saya.

Kolega saya dari Bea Cukai, Mas Ardani-lah yang kemudian menyingkap apa jam tangan yang dipakai Bu Sri, jam tangan merk Timex yang harganya berkisar ratusan ribu.

Foto oleh Muchamad Ardani

Haqqul yaqin banyak yang jam tangannya lebih mahal dari yang dipakai Bu Sri. Ada temen saya sesama pegawai yang hobinya mengoleksi jam tangan Daniel Wellington, ada yang ga mau pakai jam tangan yang lebih murah daripada Alexander Christie, ada yang koleksi smartwatch terkini. Lha ini jam tangan staff ngalah-ngalahin menteri.

Inilah keteladanan Bu Sri yang sesungguhnya, sederhana, apa adanya, secukupnya.

Ya, walau bagi banyak orang sekarang ini banyak yang mengartikan bahwa sederhana adalah citra. Tapi dari gestur, sikap dan gaya Bu Sri, kesederhanaan Bu Sri memang natural adanya.

Ya tapi memang namanya seseorang yang menempati jabatan penting. Semakin tinggi gunung semakin tinggi anginnya. Bu Sri pun dalam berbagai kebijakannya selalu mengundang pro dan kontra.

Saya paham, tidak ada kebijakan yang akan memuaskan semua pihak. Sebagai seorang menteri, Bu Sri memimpin banyak kepala. Ia harus memutuskan banyak kebijakan dan sebagai seorang pembuat kebijakan, ia pasti mendapat tantangan dari banyak pihak.

Sebagai seorang manusia pastilah Bu Sri pun ada banyak kekurangannya.

Sebagai seorang yang sejak 7 tahun yang lalu masih menjadi staff dan masih berada pada level paling bawah dalam piramida yang di bagian puncaknya adalah Bu Sri. Saya  berharap semoga ke depan Bu Sri bisa membawa angin segar di institusi tempat saya bekerja. Karena Bu Sri sangat mobile, semoga Bu Sri juga bisa membawa institusi saya bekerja cepat, sat-set dan punya wibawa.

Foto oleh Irwan Hermawan

Saya bersyukur ada kesempatan bekerja yang sangat mewah yang tidak didapatkan oleh orang lain, yaitu bekerja bersama Bu Sri.

Di hierarki di mana Bu Sri adalah menteri dan saya cuma tukang laden, Bu Sri pun pasti tak akan ingat saya, tapi saya bangga menjadi tukang ladennya Bu Sri dan saya belajar banyak hal dari Bu Sri.

Bersama Bu Sri memang suatu kebanggaan. Semoga Bu Sri akan tetap menjadi Bu Sri yang membumi apapun jabatannya kelak.

Dan semoga saya, kita semua satu korps mampu menjadi bahu bagi Bu Sri, karena Bu Sri tidak sendiri.

Tabik.

Follow Efenerr on WordPress.com

46 KOMENTAR

  1. Dari duluuu aku suka ama ibu satu ini, sederhana saja .. sebagai org yg gak paham sama sekali ttg ekonomi, aku cuma suka ama ibu ini karena dia … Pintar !pintar yg emang beneran pintar … Bukan org gak begitu pintar yg kepengen keliatan pintar … Hehehe … Seneng bgt liat foto fotonya ! Natural semua dan ohnooo bagai ditabok itu liat jam tangannya … ! Walopun jam tangan saya juga gak yg harganya berjuta juta … Suka banget ama postingan ini 😊

  2. karakternya bu sri kuat banget….sebagai perempuan ia punya kekuatan sendiri dalam mengendalikan situasi di lingkungan yang dipimpinnya dengan karakternya. salut

  3. Setelah Pak. Mar’i Muhammad, kebanggaan saya di bidang keuangan dan ekonomi ya Bu. Sri Mulyani ini Mas..rasanya bangga bisa terlibat di dalam team besarnya Bu. Sri ya Mas…

  4. Terimakasih mas chan atas ulasannya, saya tambah ngefans dan kagum sama Bu Sri.. dari sisi kesederhanaan dan kejeniusan, saya kira Pak Boediono juga tak ‘kalah’ dgn Bu Sri.. hehe..

  5. Aku skrg jd makin paham mas knapa banyak yang respect sama Bu Sri.. 🙂 Org yg menjelaskan sesuatu yg rumit dgn bahasa yg sederhana hingga mudah dipahami org lain, padahal beliau pasti pintarnya luar biasa, kan.. Beruntung ya mas bisa jd salah satu bagian dari kementrian yg dipegang Bu Sri.. 🙂

  6. Saya pengagum ibu Sri sejak lama. Sedih banget ketika beliau pindah ke WB. Tapi saya yakin itu adalah yang terbaik. Senang ketika diundang ke acara farewell beliau menjelang ke WB. Setuju kalau beliau sosok yang smart dan humble.

    Saya baru tau kalau beliau suka menggunakan jam tangan. Tapi untuk sosok seperti Ibu Sri menggunakan jam tangan pasti bukan sekadar bergaya. Harganya yang ‘hanya’ ratusan ribu saja tapi merk Timex. Bagi saya menandakan ibu Sri tau jam yang berkualitas

  7. Mas, mungkin salah satu alasan Timex dipilih Ibu Sri, sederhana : karena angka jam digitalnya besar, 2x lebih besar dari jam-jam digital yang lain tanpa embel2, sehingga angkanya adalah informasi sesungguhnya, apalagi saat gelap dan tombol lampunya dipencet.. soalnya saya juga kagum sama jam ini, hehe…

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here