Tiga setengah jam saya antre di imigrasi HarbourFront demi masuk ke Singapura, di antrean yang begitu panjang itu di antaranya adalah orang Indonesia yang akan menonton konser Coldplay dan masuk ke Singapura lewat Batam dengan kapal cepat. Coldplay adalah fenomena, fans berusaha menonton konsernya dengan segala cara. Dari Indonesia tak bisa langsung ke Singapura karena tiket mahal, sebagian memutar lewat Batam, ada yang menyeberang lewat Johor Bahru, bahkan ada yang mampir ke Kuala Lumpur.

Segala rupa segala cara demi Coldplay, gila ya?

Ini belum seberapa, beberapa teman saya malah rela ke Australia demi menonton Coldplay. Paket tour dari Indonesia yang menjual package konser Coldplay di berbagai negara bahkan di negara-negara Eropa juga laris manis. Packaging konser Coldplay adalah gulali yang lezat sekali.

Banyak orang Indonesia sanggup dan mampu nonton Coldplay di luar negeri, atas fakta itulah pemerintah Indonesia seharusnya ikut gigit jari.

Kenapa Coldplay tidak ke Indonesia dan malah mampir ke Singapura, dua kali konser pula. Apakah promotor Indonesia tidak mampu membawa konser Coldplay ke Indonesia, padahal marketnya besar sekali, mengapa justru Singapura-lah yang dipilih?

Ada beberapa dugaan kenapa Coldplay tidak menggelar konser di Indonesia, pertama alasan keamanan, kedua kemungkinan alasannya adalah di stadion terbesar di Jakarta sedang direnovasi untuk Asian Games 2018, ketiga alasan bahwa Coldplay tidak suka dengan penanganan perusak alam di Indonesia yang begitu lambat, dan alasan lainnya yang entah tidak tahu apa.

Tapi pastinya saya tidak tahu alasan sebenarnya apa, tidak ada verifikasi atau informasi yang jelas kenapa Coldplay tidak manggung di Indonesia.

Mari kita lehat bagaimana hebatnya pemerintah Singapura yang bisa dilihat dari digelarnya dua kali konser Coldplay di negara ini.

Begini, pembukaan tiket konser pertama yang langsung soldout dalam beberapa menit. Lalu muncul pembukaan tiket tambahan untuk konser pertama, yang sama-sama tandas dalam beberapa menit. Tak lama kemudian  muncul pemberitahuan konser tambahan yang kesemuanya tiketnya ikut habis.

Memangnya ada tangan Singapura pemerintah dalam keputusan itu? Ada dong, pertama pasti dari izin acara, kedua dari izin kapasitas venue, ketiga dari keamanan, keempat dari pengaturan lalu lintas, kelima dari penanganan fasilitas umum dan seterusnya. Approval dari Pemerintah Singapura pasti ada untuk hal-hal tersebut.

Konser Coldplay.

Tapi kan Coldplay juga konser di Thailand? Iya, tapi yang hypenya paling besar adalah Singapura.

Jujur saya memuji bagaimana pemerintah Singapura cerdas mendukung konser Coldplay sampai dua kali. Dalam waktu singkat mampu menarik orang Indonesia untuk datang ke Singapura, barangkali puluhan ribu orang Indonesia dalam waktu konser tersebut.

Ini strategi yang luar biasa. Orang Indonesia yang datang kan mau tidak mau mengalirkan devisa ke Singapura, menggerakkan perekonomian Singapura dalam waktu singkat dan masif.

Hotel-hotel kebanjiran tamu dari Indonesia, MRT dipenuhi orang Indonesia, restoran-restoran di Singapura didatangi orang Indonesia, mall-mall dipenuhi orang Indonesia yang membelanjakan uangnya dengan kredo mumpung di Singapura. Bahkan ketika hampir tengah malam saya belanja di Mustafa yang buka 24 jam, banyak sekali orang Indonesia yang pulang nonton konser lalu belanja oleh-oleh.

Pengaturan lalu lintas dan MRT pun luar biasa. Tidak terlalu banyak polisi di jalanan tapi mereka telah membuat alur yang jelas untuk banjirnya manusia ke stadion. Pengelola stadion juga telah menjual slot parkir jauh-jauh hari untuk menghindari kemacetan orang-orang yang mencari parkir.

Penonton konser diarahkan menggunakan MRT untuk menuju tempat konser dan ketika konser usai, pengunjung yang pulang konser membludak, pengelola MRT memberlakukan kondisi darurat, pengunjung tak perlu antri tiket namun cukup membawa lembar kondisi darurat dan membayar di stasiun tujuan. Cermat dan detail.

Fenomena ini yang ditangkap dengan cerdas oleh Singapura. Juga melakukan persiapan yang begitu detail, mengatur dengan begitu rapi dan lancar.  Singapura menawarkan daya tarik konser Coldplay pada orang-orang Indonesia yang bersungut-sungut kenapa Coldplay tidak mampir ke Indonesia.

Saya kagum, effort orang Indonesia untuk nonton Coldplay ternyata luar biasa.

Di Singapura saya bersua dengan orang Indonesia yang baru keluar negeri pertama kali, demi Coldplay. Saya bersua juga orang yang sampai beli tiket pesawat dua kali demi Coldplay. Kegilaan ada di mana-mana.

Saya tidak tahu berapa persisnya uang yang dibelanjakan oleh orang Indonesia di Singapura selama kurun konser Coldplay atau persisnya devisa yang lari ke Singapura dalam waktu tersebut. Tapi pastilah cukup besar jumlahnya.

Perbedaan kebijakan pemerintah Singapura memang berbeda. Tujuan Singapura adalah membangun sebuah kota yang sophisticated, pusat hiburan di Asia Tenggara, maka tak heran jika band kelas dunia mampir berkali-kali dan Jakarta hanya bisa melihat dengan iri.

Saya paham, dalam hal ini jika dibundling dengan kunjungan wisata, Singapore Tourism Board panen besar. Dengan adanya konser ini wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Singapura mendadak meningkat pesat, dari Indonesia, dari Malaysia, dari Brunei, dari negara Asean lainnya.

Kiranya Indonesia harus belajar, sudah punya Bekraf, sudah ada Kementerian Pariwisata, even konser besar seperti ini harusnya jangan sampai lepas. Permudah perizinan, ini bukan demi hiburan, ini demi devisa tak lari ke luar negeri atau bahkan membuat devisa masuk ke Indonesia. Bisa juga untuk membangun citra Indonesia.

Memang soal ini, Indonesia masih kalah jauh, pola kebijakannya beda, supportingnya bisa jadi beda. Padahal kalau menilik Singapura, pemerintah tinggal menyokong kebijakan, biarkan promotor yang bekerja. Pemerintah cukup menjamin keamanan, kenyamanan, transportasi, nanti ekonomi akan bergerak sendiri, keriaan akan datang sendiri.

Dilihat dari keriaan, postingan kegembiraan orang Indonesia yang nonton Coldplay di media sosial, ada senyum lebar Singapura.

Memang pemerintah Indonesia harus responsif, dalam hal festival musik Indonesia harus mengejar Singapura, belum lagi soal film, di bulan Maret saja ada dua film Box Office berlatar Vietnam. Sementara orang Indonesia masih saja bangga Bali masuk Eat, Pray, Love, film yang sudah tayang bertahun-tahun silam.

Singapura mendapat devisa dari orang Indonesia yang datang untuk Coldplay dan Indonesia merasa tidak kehilangan apa-apa.

Tabik.

 

 

Follow Efenerr on WordPress.com

29 KOMENTAR

  1. Waahhh, nggak kebayang Singapura kemarin padatnya kaya apa sama orang Indonesia. Desember tahun lalu aja, Melbourne (kota yg sedang saya tinggali) waktu Coldplay konser disini, rameeee banget sama orang Indonesia. Pokoknya dimana2 ada.. apalagi saya part-time di Restoran Indonesia disini, yang makan penonton Coldplay semua. Jangan ditanya waktu konser, beuuuh.. dari abege sampe group “Ibu2 arisan ada semuaaaa :)). Bahkan waktu saya lagi ngabisin minggu pagi di “pasar tiban” yang mana bukan daerah turis, eeh ketemu juga sama rombongan artis Indonesia yang lagi pada belanja disana, ckckckk.. superrr ?

  2. Jadi ingat (promotor) Indonesia sempat akan mendatangkan Lady Gaga namun gagal karena hal-hal “nganu” (selain karena persaingan antar promor juga katanya).

    Sayang sekali, mestinya momen suksesnya pelaksanaan konser Coldplay di Singapura ini jadi “tabokan” keras pihak-pihak terkait (kementrian pariwisata, kepolisian hingga promotor).

    Lalu, dengan segala macam “kehebohan” yang kerap digulirkan (sebagian) masyarakat, aku gak bisa ngebayangkan ketika babang Chris yang ngambil bendera “pelangi” saat konser itu, trus respon pihak-pihak nganu (yah, si nganu disebut lagi hwhw) gimana.

    Ah….

  3. Wih hebat MRT ga perlu antri pas pulang… ??? Duuuuuh enaknya seandainya bisa gitu di jkt.. Tersedia bus suttle atau apa kek kalau ada konser di sentul atau GBK … Temen deketku banyak yang nonton ini makanya insta story penuh video Coldplay.. Seru banget sih ya…

  4. Nah, katanya karena sekarang pamor Singapura sebagai surga belanja mulai redup, di Jakarta sendiri mall2 bagus sudah menjamur. Karena itu pemerintah Singapura putar haluan, cari cara lain salah satunya ya menggalakkan konser bintang2 besar. Tapi wallahua’lam ding hehe

  5. Ah setuju! Saya juga sempat nonton di Singapura kemarin, di show day hari kedua. Sama sekali nggak berjubel dan lowong, aman, lapang, nan nyaman. Pas bubaran pun tertib dan rapi menuju tempat MRT. Menyenangkan sekali!

  6. Nice writing! Setuju banget nih sama tulisan ini. Kemarin sempet kepikiran juga, kalau pun Coldplay ngadain konser di Indonesia, seberapa mampu kita buat menanggulangi segala macam kehebohan yg mengikuti (dari mulai crowd-nya, transport ke venue, dll)?
    Semoga suatu saat nanti Coldplay mau ya mampir konser di Indonesia.

  7. Abang masuk antrian sebelah kanan sih, makanya jadinya tiga jam hehehe ?
    Coba ikut ngantri di sebelah kiri..

    Btw, very nice writing bang! Tapi kalo dari Batam, lebih prefer liat konser di Singapore bang daripada di Jakarta. Lebih deket hehehe..

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here