Terbang ke Peru adalah pengalaman kedua saya ikut penerbangan long haul. Kali ini saya terbang dengan KLM ke Peru dengan rute Jakarta – Kuala Lumpur – Amsterdam – Lima. Total jenderal 35 jam perjalanan dari Jakarta hingga ke Lima dengan melewati dua benua dan satu samudera.

Sebenarnya ada beberapa opsi untuk ke Lima. Misalnya melalui Jepang lalu Amerika Serikat dan baru menuju Amerika Selatan. Namun untuk orang Indonesia terbang dengan KLM ke Lima melalui Belanda memang rute termudah. Dengan KLM ketika transit di Belanda tak perlu keluar terminal dan ke imigrasi jadi tak perlu repot apply visa transit.

Total perjalanan yang saya lakukan mungkin hampir mengelilingi setengah putaran bumi dan melintasi garis waktu yang berbeda-beda. Dengan demikian saya harus mempersiapkan diri dengan benar, mulai dari fisik sampai manajemen perjalanan yang saya lakukan.

Jakarta – Kuala Lumpur – Amsterdam

Saya berangkat dari Jakarta lepas maghrib. Pesawat yang saya tumpangi adalah berjenis Boeing 777-300. Dari Jakarta menuju Kuala Lumpur pesawat lengang sekali, banyak kursi yang kosong. Penerbangan KLM dari Jakarta ke Belanda memang bukan penerbangan langsung. Singgah di Kuala Lumpur sekitar satu jam dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Belanda.

Karena fullboard, dalam perjalanan ke Kuala Lumpur saya mendapatkan snack dan makan malam ringan. Perjalanan hampir dua jam berjalan lancar dan ketika mendarat pun tidak ada hambatan.

Snacknya

Di Kuala Lumpur saya turun dari pesawat lalu masuk kembali ke ruang tunggu. Di pesawat, kapten mengumumkan agar seluruh penumpang turun ke ruang tunggu. Ada waktu sekitar satu jam yang diberikan KLM bagi para penumpang. Saya sempatkan ke toilet, lalu membeli cemilan. Saat kembali ke ruang tunggu, barang bawaan saya dicek ulang oleh security dan setelah itu saya menunggu panggilan boarding.

Perjalanan menuju ke Belanda pun dimulai, sudah hampir tengah malam ketika berangkat. Saya mendapatkan kursi di aisle dan ternyata dari Kuala Lumpur penumpangnya banyak sekali, pesawat penuh dan nyaris tidak ada kursi kosong.

Sebelum terbang dengan KLM ke Belanda

Kelas ekonomi di KLM nyaman, jarak dengan kursi di depannya lega, ruang untuk kaki jadi nyaman. Untuk perjalanan panjang, kursi KLM ini juga enak di punggung. Kebetulan beberapa waktu lalu saya terkena Low Back Pain dan perjalanan panjang di pesawat cukup menjadi momok, beberapa kali punggung saya sakit di perjalanan-perjalanan berikutnya. Tapi selama perjalanan di KLM punggung saya tertopang dengan baik.

Toiletnya pun bersih sekali, amenitiesnya lengkap dan wangi. Ada banyak toilet yang tersedia di pesawat, jadi jarang ada antrian ke toilet.

Amenities

Saya suka dengan pelayanan para pramugari KLM. Saya amati ternyata ada pembagian tugas dari seragam yang dikenakan. Ada manajernya, ada yang khusus menyajikan makanan dan minuman, ada yang bertugas sebagai personal assistant dan ada juga yang bertugas membersihkan kabin.

Hiburan di dalam pesawat juga banyak pilihan. Filmnya banyak, musik juga banyak dan saya menikmati sekali opsi film dan musiknya. Saya menghabiskan dua film sebelum akhirnya tertidur lelap dan perjalanan masih menyisakan enam jam di udara.

Amsterdam – Lima

Di Amsterdam saya transit enam jam. Baru kali ini saya ke Schipol dan takjub dengan layanan bandaranya. Saya memang belum pernah ke Eropa dan ada beberapa hal yang membuat saya terkesima, antrian dan pemeriksaannya canggih serba motorized. Untuk transit pun nyaman sekali, banyak sekali tempat untuk tidur, wifi yang super kencang, restoran di mana-mana dan kamar mandi yang bersih.

Schipol

Menjelang siang pesawat berangkat dan sama seperti berangkat dari Jakarta pesawatnya penuh. Orang-orang Belanda rupanya banyak yang ke Peru, eh ternyata tak hanya dari Belanda saja tapi juga dari negara-negera sekitar seperti Perancis atau Jerman.

Selidik punya selidik, rute langsung KLM ke Peru menjadi fenomena. Orang-orang di Belanda sekarang mencoba menjelajah Amerika Selatan karena menurut mereka Asia sudah terlalu mainstream dan rupanya KLM sering memberikan promo tiket ke Peru. Kloplah kenapa pesawat ini penuh.

Sebelum ke Peru

Di leg kedua dari Amsterdam saya banyak tidur. Menyimpan tenaga karena di Lima saya langsung ada jadwal-jadwal. Oia pesawatnya ganti dengan Boeing 777-200.

Karena lebih banyak turis dari Eropa maka makanan yang disajikan adalah makanan kontinental. Dan surprisingly untuk penerbangan ini sepertinya porsinya lebih banyak. Kenyang saya.

Setelah dua kali makan dan tidur delapan jam akhirnya saya mendarat di Lima dengan selamat. Cuaca di Lima sedang dingin dan berangin, tiba di Lima sekitar jam delapan malam dan langsung menuju restoran karena kelaparan.

Menjelang tiba di Lima

Lima – Amsterdam

Sepulang dari Lima saya kembali menggunakan KLM. Proses check in lebih cepat karena Bandara Lima, Jorge Chavez adalah bandara yang ringkas, dari hall check in ke boarding room jaraknya dekat. Proses imigrasi pun tidak bertele-tele dan antriannya pendek.

Dari Lima saya berangkat jam delapan malam dengan estimasi perjalanan dua belas jam untuk tiba di Amsterdam. Pesawat melewati sisi utara Amerika Selatan lalu menyeberang Samudera Atlantik sebelum tiba di Amsterdam.

Karena penerbangan malam maka yang disuguhkan adalah menu makan malam. Seperti sebelumnya, jam pertama yang disuguhkan adalah snack dan minum, lalu menyusul makan malam. Saya memilih pasta untuk makan malam.

Setelah itu saya tidur sebentar lalu terbangun tengah malam kelaparan. Saya menuju bagian belakang kabin dan ternyata hanya ada satu pramugari yang bertugas. Ternyata KLM sudah menyediakan makanan dan minuman free flow yang bebas diambil. Ada coklat, ada biskuit, ada juga protein bar. Minumannya juga banyak pilihan, penumpang tinggal ambil sendiri.

Soal makanan dan minuman selama di penerbangan, KLM ternyata menyediakan banyak sekali pilihan. Minuman mulai dari jenis jus, teh, kopi, sampai wine tak ada habisnya. Yang saya kagum makan yang disediakan tak habis-habis. Jika free flow sudah habis maka diisi lagi.

Free Flow

Well, setelah bangun tengah malam itu saya terlelap hingga bangun-bangun sudah jelang landing di Amsterdam. Overall leg pertama Lima-Amsterdam sangat nyaman dan saya tidur cukup.

Amsterdam – Kuala Lumpur – Jakarta

Transit enam jam di Schipol saya makan di restoran yang namanya Kebaya. Maklum sudah kangen masakan Asia, saya memesan seporsi ramen sembari menunggu waktu boarding. Schipol tak terlalu ramai, mungkin karena bukan akhir pekan.

Panggilan untuk KLM pun datang, pulang ke Indonesia setelah tiga minggu di Peru saya rasanya senang sekali. Pesawat berangkat malam hari pas sebelum makan malam.

Panggilan boarding

Di udara saya diberikan menu asia, nasi goreng. Wah tiga minggu tidak merasakan nasi goreng rasanya lidah ini sudah rindu. Langsung tandas! Karena tidur sudah cukup di leg sebelumnya di rute ini saya habiskan waktu dengan menonton film.

Nasi Goreng

Sesekali saya membuka laptop dan mengedit foto. Colokan listrik yang ada di bawah seat membuat saya bisa mengerjakan pekerjaan di laptop dengan leluasa.

Pesawat melewati Eropa lalu Eropa Timur lalu Asia Tengah dan Asia Selatan. Perlahan-lahan pesawat mendekati Samudera Hindia dan menuju Kuala Lumpur. Saya sekali lagi transit sebelum tiba di Jakarta.

Leg dari Kuala Lumpur sampai Jakarta saya tak bisa tidur. Satu film saya cukupkan dan melihat pemandangan garis pantai Sumatera yang lamat-lamat terlihat. Saya berbincang dengan seorang pramugari yang ternyata langganan rute Amsterdam – Jakarta yang jika ke Jakarta dia akan mampir ke Bali.

Tiba di Jakarta lepas maghrib, saya merasa lega. Penerbangan dengan KLM selama 35 jam sekali jalan berjalan lancar. Nyaris tidak ada turbulensi baik saat berangkat ataupun saat pulang.

Tabik.

Untuk rute Jakarta – Lima bisa booking melalui web KLM.

Follow Efenerr on WordPress.com

28 KOMENTAR

  1. 35 jam perjalanan? Woooww! Hampir 2 hari kan yah..
    Jetlag g pak? Saya aja yang cuman naik pesawat 3 jam, jetlag sampe 3 hari, hahahaha…

  2. pengen tepuk tangan buat pramugarinya deh yang kuat kerja di udara untuk waktu lama. kita yang jadi penumpang aja kayaknya capek banget.

  3. Untuk Long Haul ke benua Amerika, sepertinya memang KLM bisa jadi pilihan. Tapi menyusul ketegangan di Timteng, entah apakah maskapai akan memindahkan rutenya yang melewati Timteng itu. Eh, kok mbak pramugarinya yang sering ke Bali tidak difoto?

  4. keren gan ceritanya. Btw, mau minta tips nih, insyaAllah sekitar bulan september atau oktober mau ada penerbangan ke Peru, tp ini masih nyari-nyari tiket yang harganya miring. Kira-kira harga tiket yg miring kisaran berapa ya???

  5. Wah 35 jam! Saya dari Jakarta ke Rio de Janeiro 3 hari (karena pake keluyuran sebentar di Amsterdam, Brussels, dan transit London tapi sih) 😛

    Sekarang pesawatnya sudah retrofitted semua ya, waktu itu KUL-AMS dapet kursi dengan IFE lemot dan rusak juga 🙁 Nasi goreng-nya enak nggak tuh? Pernah dapet nasi goreng juga dan nggak enak banget, sebaris sama Malaysians kompakan cuma makan sendok doang haha.

  6. Kalau Pesawat KLM Belanda tujuan Jakarta turun di Soetta itu terminal dan gate verapa ya? Soalnya saya mau menjemput teman saya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here