Kalau anda ke Banjarmasin tanpa mendengar suara sirine pemadam kebakaran, tampaknya belum sah ke Banjarmasin. Saya mengalaminya sendiri. Jam sepuluh malam di Banjarmasin sepi sekali ketika tiba-tiba suara sirine mobil pemadam kebakaran berteriak nyaring tak henti.

Saya terkaget-kaget, ada apa ini?

Satu menit, dua menit, tiga menit, sirine terus meraung-raung tak henti. Satu, dua, tiga, sepuluh, dua puluh mobil pemadam kebakaran dengan sirine terus berdatangan, lampu merah pertigaan tak dihiraukan dan terus melaju kencang.

“Sudah biasa Mas, paling ada kebakaran” Kata Fajri, kawan saya di Banjarmasin.

Ini adalah fenomena menarik pertama yang saya temui tentang Banjarmasin. Keramaian sirine pemadam kebakaran.

Pemadam kebakaran memang bunga kota Banjarmasin. Hampir setiap kelurahan memiliki pemadam kebakaran, dengan anggota, unit yang berlainan.

Tidak ada yang punya data pasti ada berapa banyak pemadam kebakaran di Banjarmasin, Fajri berseloroh ada ribuan, Banjarmasin kota seribu pemadam kebakaran katanya. Dalam setengah jam saya menikmati sirine apa yang dikatakan Fajri bisa jadi benar, karena mungkin ada seratusan mobil pemadam yang melaju kencang dengan sirine menyalak keras dari mobil pemadam, motor dan motor roda tiga juga menjadi kendaraan pemadam kebakaran dan turut membunyikan sirine kencang-kencang.

Kultur pemadam kebakaran di Banjarmasin muncul karena tingginya kejadian kebakaran di kota ini. Bisa jadi sebabnya karena konstruksi bangunan di Banjarmasin mayoritas menggunakan kayu. Unsur kayu memang tak bisa lepas dari bangunan di Banjarmasin, mulai dari pondasi, lantai, dinding hingga rangka atap semuanya dari kayu.

Jika digambarkan dalam unsur-unsur alam, saya menganggap padanan yang cocok bagi Banjarmasin berarti air, kayu dan api. Air adalah ribuan sungai dan anak sungai yang mencengkeram Banjarmasin, kayu adalah lambang rumah-rumah dan bangunan yang tegak dibangun dengan kayu di atas sungai dan api adalah pelumatnya. Semua saling berkelindan.

Tiga puluh tahun yang lalu di kala kebakaran adalah musuh utama orang Banjarmasin, satuan pemadam kebakaran swadaya ini muncul. Mereka mengisi ruang kosong yang tidak bisa dijangkau oleh pemadam kebakaran resmi milik pemerintah.

Kesulitan utama pemadam kebakaran di Kota Banjarmasin sebenarnya bukan pada air, air melimpah karena Banjarmasin di tepian sungai. Namun lebih ke jangkauan yang bisa dijangkau unit pemadam, ada lorong, gang, yang sulit dijangkau pemadam kebakaran. Juga jalanan yang sempit di kota yang menyulitkan pemadam kebakaran bermanuver.

Pemadam kebakaran swadaya-lah yang mengisi kekurangan tersebut. Dengan mobil kecil atau motor mereka masuk ke gang-gang kecil dan memberikan pertolongan. Terkadang sebelum pemadam kebakaran pemerintah datang, pemadam kebakaran swadaya-lah yang datang dan sudah bekerja terlebih dahulu.

Saya tidak tahu persis bagaimana mekanisme pendanaan pemadam kebakaran swadaya ini. Apakah bentuknya yayasan atau organisasi seperti apa. Yang saya lihat, di beberapa tempat ada kotak sumbangan untuk pemadam kebakaran swadaya ini, dengan itulah mereka merawat atau memperbarui alat.

Mungkin juga para petugas pemadam kebakaran swadaya ini relawan. Atau bisa juga dibayar seikhlasnya, saya tidak tahu. Tapi rasanya banyak sekali pemadam kebakaran swadaya ini, ketika saya menikmati sirine ini mungkin sudah lebih petugas ratusan pemadam kebakaran swadaya yang lewat.

Raungan sirine pemadam kebakaran terus berlanjut. Mungkin mereka sedang bertugas entah di sudut mana Banjarmasin. Tapi pemandangan ini menunjukkan satu hal, warga punya inisiatif untuk berdaya.

Pemadam kebakaran swadaya bahkan memiliki kontes tahunan untuk menjadi yang terbaik di Banjarmasin. Semoga ini adalah preseden baik dan merupakan kolaborasi antara pemerintah dan warga. Jika negara belum turun tangan, warga-lah yang berupaya.

Dan raungan sirine terus menyalak hingga tengah malam.

Tabik.

Follow Efenerr on WordPress.com

6 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here