Little India adalah loka utama orang-orang India di Singapura. Di antara negara Asean lainnya, Singapura memanglah negara dengan populasi orang India yang paling besar. Secara komposisi penduduk ada 7,4 % orang India dari total penduduk Singapura. Namun dari seluruh penduduk tersebut, bukan melulu keturunan India saja. Singapura merujuk India pada penduduk keturunan bangsa-bangsa Asia Selatan, India, Pakistan, Bangladesh dan Srilanka.

Itu baru yang tercatat sebagai penduduk, belum imigran yang bukan merupakan penduduk Singapura. Di Singapura sendiri memang banyak tenaga kerja India yang berdiaspora dari Asia Selatan. Di berbagai level pekerjaan, dari informal hingga top level pasti ada diaspora dari India.

Dan di Little India-lah, mereka berkumpul, berkerumun sehari-harinya. Dari pagi buta hinga tengah malam, dua puluh empat jam, Little India adalah tempat orang-orang India berkampung.

Orang-orang India walaupun sudah berdiaspora sekian lama tapi tetap teguh membawa budayanya. Adalah pemandangan biasa saja bersua dengan para perempuan India dengan kain sari, para lelaki Sikh dengan turbannya. Di lorong-lorong Little India juga bersua dengan lelaki Bangladesh dengan sarungnya atau orang-orang Pakistan dengan peci putih, jenggot juga jubah panjangnya.

Di dekat hostel tempat saya menginap saat malam hari berderet mobil-mobil bak terbuka, dalam satu deret bisa 7-10 mobil. Mobil-mobil ini biasanya dari perusahaan konstruksi, siangnya mobil-mobil ini akan bertebaran di proyek-proyek konstruksi di banyak tempat di kota, malamnya istirahat di Little India.

Tak sekedar parkir, mobil-mobil ini adalah tempat tinggal para pekerja konstruksi dari India. Biasanya mereka memutar musik dari handphone yang dikeraskan dengan pengeras suara murahan. Tiga atau empat orang India biasanya tinggal bersama dalam satu bak. Ada tikar tipis sebagai alas dan sarung sebagai selimut.

Mereka adalah para pekerja kasar yang di siang hari meremas panas demi beton-beton tegak dan aspal mulus di Singapura. Walakin orang-orang India ini tetap bertahan, demi penghasilan yang bisa dihasilkan di kampung halaman.

Walaupun terlihat sebagai kota yang makmur dan gemerlap, kenyataan di malam hari adalah paradoks dari yang dibayangkan. Di Little India ini pendangan lain tentang Singapura ada dan nyata.

Tak jauh dari mobil-mobil konstruksi tempat para pekerja ada lapak-lapak barang-barang bekas yang digelar begitu saja di jalan, penjualnya rata-rata orang-orang peranakan Tionghoa. Barang-barang yang dijual mulai dari sepatu, baju, alat elektronik, perkakas rumah tangga sampai alat pertukangan, harganya tentu lebih murah dari barang baru. Pembelinya adalah para pekerja dari India yang berupah rendah.

Saya sempat mampir ke salah satu lapak dan melihat barang-barang yang dijual. Merek-merek seperti Adidas atau Nike ada di sana, kondisinya pun bagus, tak tampak jika barang bekas. Pilihan logis bagi para pekerja dari India yang harus bergelut dengan terbatasnya upah.

Para pelapak barang bekas ini biasanya berjualan hingga jam 10 malam. Di atas itu biasanya sudah sepi dan Little India mulai lengang.

Tapi bukan berarti orang-orang India hilang. Mereka berpindah ke kedai-kedai makanan india 24 jam. Berbincang dengan sesama orang India atau menelepon keluarganya. Jika orang-orang peranakan Tionghoa menjadikan kopitiam untuk tempat saling beranjangsana, kedai makanan india-lah tempat orang-orang India berkumpul dan membicarakan apa saja hingga larut malam dengan Prata, Dosa atau Masala sebagai hidangan kala berbincang.

Orang India di Singapura sepertinya memang senang berkumpul dengan sesamanya. Mungkin itu adalah cara menguatkan mereka di negara orang. Jarang sekali orang India sendirian, kecuali saat menelepon.

Ya, kebiasaan orang India di Singapura adalah menelepon. Jika orang Indonesia menjadikan smartphone untuk mengakses media sosial hingga menjadi adiksi. Orang-orang India di Singapura menggunakan smartphone untuk menelepon.

Datanglah ke Little India selepas kerja. Para imigran India yang melepas lelah pasti sibuk menelepon dengan smartphonenya masing-masing. Kegiatan ini dilakukan di mana saja, di restoran, di jalan, di MRT, di bis. Saat sedang makan, berbelanja, menunggu bus, bahkan saat sedang berjalan kaki.

Saya sempat bertanya pada salah seorang imigran, siapa sih yang ditelepon. Ternyata adalah keluarganya yang berada di India. Duh, romantisnya, bertukar kabar tiap malam dengan keluarga yang terpisah laut andaman.

Kegiatan menelepon ini berbanding lurus dengan kebutuhan paket data internet. Itulah kenapa toko-toko kelontong atau swalayan di Little India pasti menjual kartu sim atau paket internet. Nyaris tidak ada toko India yang tidak menjual dua hal tersebut.

Bahkan di beberapa toko yang khusus menjual kartu sim dari India. Saya tidak mengerti kenapa harus kartu sim dari India dan apa urgensinya. Bukankah justru kena roaming jika digunakan di Singapura? Atau mungkin kartu ini dibeli oleh orang-orang India yang akan pulang ke negaranya?

Toko-toko India menjual apa saja yang berbau India, impor dari India. Beras dari India, kain sari, perlengkapan upacara, obat-obatan, dupa, sampai kosmetik dari India. Pantas saja banyak yang betah di Singapura, barang-barang India mudah sekali ditemui di Singapura.

Dari pagi hingga malam, menjelajah di Little India barangkali seperti berjalan-jalan di Bombay dengan sekala lebih tertata dan lebih kecil lingkupnya. Ternyata Little India menyimpan cerita, tak perlu jauh-jauh ke India atau berlama-lama di sana. Di Singapura, ternyata budaya dan orang-orang India menyimpan romantisme yang tiada dua.

Tabik.

 

 

Follow Efenerr on WordPress.com

4 KOMENTAR

  1. Wuihi. Selalu senang membaca liputanmu tentang Singapura, Mas. Sebagai orang yang belum pernah ke Singapura, dalam imaji saya negeri kecil itu memang gilang-gemilang. Tapi, ternyata ada mereka-mereka yang tidak terekspose di balik gemerlapnya Singapura. Semoga nanti saat saya ke sana, saya bisa mendapatkan cerita perjalanan yang menarik juga hehehe.

    Salam 🙂

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here