Awalnya berat untuk menulis kisah ini. Depresi bagi sebagian orang justru semacam aib yang ditutupi. Saya berbincang cukup lama dengan istri sebelum menulis ini dan pada akhirnya keputusan untuk menerbitkan tulisan ini adalah karena kami ingin berbagi pengalaman tentang bagaimana menangani dan melawan depresi.

Istri saya adalah orang yang ceria, mandiri dan murah senyum. Mustahil bagi sebagian orang yang mengenalnya bahwa ia akan mengalami depresi.

Namun depresi memang bisa menjelma dalam berbagai bentuk, ia tidak akan dikenali dan bisa menyelinap dalam berbagai rupa. Depresi adalah bayangan gelap yang merubung segala warna menjadi gulita.

Ketika istri saya depresi saya bahkan cukup lama menyadari bahwa sesungguhnya itu depresi, saya pikir hanya perubahan mood biasa karena memang istri saya sedikit moody. Hingga akhirnya beberapa waktu saya baru menyadari bahwa istri saya sesungguhnya telah depresi.

Soal depresi, saya tidak terlalu asing. Ada riwayat orang terdekat dan keluarga saya mengalami depresi. Ketika saya SD, almarhum kakek saya mengalami depresi berat hingga mengasingkan diri di sebuah rumah sakit jiwa. Ia sembuh total dan lepas dari obat-obat penenang setelah pulang berhaji. Ketika saya bekerja, adik saya yang mengalami tekanan di SM dan berujung depresi yang berefek ke masalah kesehatannya.

Ketika depresi itu mengetuk istri, saya sangat tidak percaya. Secara pribadi saya sudah kenal lebih dari lima tahun. Hal seperti depresi sepertinya tidak mungkin menghinggapi istri saya yang selalu ceria.

Ternyata itulah kelengahan saya. Depresi bisa hinggap pada siapa saja. Mungkin akan banyak yang bertanya, bukankah istri saya seorang yang pintar dan smart. Lalu apakah orang yang pintar dan smart tidak terkena depresi? Apakah aspek intelektualitas seseorang menjamin seseorang tidak depresi? Nope. Semua orang bisa berpotensi terkena depresi.

Apa hal pertama yang dilakukan? Memastikan untuk hadir mendampingi. Itu kan? Hal paling awal untuk penanganan depresi adalah membentuk support system. Saya harus hadir untuk istri saya dan kami berjuang bersama-sama sebagai satu kesatuan, bukan membiarkan istri saya berjuang sendiri.

Saya berjanji mendampingi istri saya terbebas dari depresi, kami berkomitmen berjuang bersama-sama, berdua. Merangkak dari ketidaktahuan tentang depresi, mendaki menikmati prosesnya hingga berhasil. Itulah kenapa kami memutuskan tidak menghubungi siapapun, kami ingin melaluinya berdua.

Singkirkan kata-kata motivasi. Percayalah, dunia akan sedikit gelap, kata-kata motivasi tak akan membantu, yang membantu adalah bersikap logis dan kritis.

Bagaimana tidak gelap jika tiba-tiba istri bilang “Aku lelah dengan hidup ini?”. Bagaimana tidak drop jika seseorang yang tiba-tiba positif berubah 180 derajat.

Maka kedepankan nalar. Saat hal-hal seperti ini terjadi, usahakan akal sehat yang bicara dan tetap berpikir logis. Jaga tone diri tetap positif lalu cari tahu apa penyebab depresi dan selesaikan masalahnya.

Saya tak akan bicara apa penyebab istri saya depresi. Gampangnya depresi yang menyerang istri saya adalah kombinasi dari berbagai hal, masalah ini lalu menjadi beban yang terlalu besar menggelayuti istri saya.

Awal-awal depresi istri saya tidak murung, tidak gusar, tidak marah. Ia masih ceria, tapi saya hanya curiga kenapa menangis tiba-tiba. Ketika tidak ada apa-apa bisa tiba-tiba menangis. Jika hal itu terjadi saya hanya memenangkannya, tanpa tahu dan tanpa bertanya lebih lanjut apa sebab tangisnya.

Lambat laun, tangis itu berakumulasi menjadi kemarahan, kegusaran dan lain sebagainya. Pada titik tersebut saya paham ini ada sesuatu yang tidak beres pada istri saya.

Hal paling logis yang terpikir adalah konseling ke psikolog. Atas bantuan psikolog di RSCM kami tahu ada beberapa hal yang harus dilakukan, kami turuti, kami ikuti saran-sarannya. Dengan guideline dari psikolog setidaknya kami berdua tahu harus berbuat apa.

Hal sederhana yang dilakukan adalah mendekatkan diri pada Tuhan. Ini logis bagi kami, maka kami mulai menata diri. Barangkali ibadah kami belum benar, barangkali iman kami sedang lemah. Sisi spiritualitas barangkali bisa jadi solusi terampuh, benteng kuat untuk menjaga masalah kami tidak melebar kemana-mana.

Lalu kami mencoba melihat ke belakang, ada apa sih yang salah. Lalu saling membuka diri, apa yang sebenarnya salah dari kami berdua, saling bicara dari hati ke hati. Malam-malam dilalui dalam tangis, bahkan pernah dalam satu malam panjang, malam itu habis dalam tangis.

Tidak apa, barangkali tangis bisa melegakan hal yang selama ini tersumbat, bisa membuka simpul-simpul perasaan yang tak tersalurkan. Walaupun terkadang saya hanya bisa terdiam tanpa tahu apa yang harus dilakukan. Buntu.

Dalam kondisi tertentu bahkan mood bisa berubah secepat kilat. Dari tertawa terbahak-bahak tiba-tiba bisa jadi murung sekali dalam waktu satu menit. Dari penuh senyum hingga senyum terkatup. Kadang hal tersebut tanpa diketahui penyebabnya.

Melihat kondisi istri demikian, ada rasa berkecamuk, antara sedih, tidak tega, ada rasa marah, ada rasa menyalahkan diri sendiri. Tapi dalam hati, saya tak boleh ikut kalah, siapa yang hendak menopang istri yang sedang rapuh jika saya justru ikut-ikutan rapuh? Saya hanya berpegang pada rasa sayang. Walaupun dalam kondisi seperti ini, tentunya ada rasa tersiksa yang luar biasa. Saya harus kuat untuk saling menguatkan kami berdua.

Pelan-pelan usai menata diri. Kami belajar dari awal lagi, belajar menerima kenyataan, sebisa mungkin kami menempatkan posisi di mana kami harus bahagia, sekeras mungkin berusaha menerima kenyataan yang kadang tak sesuai harapan, sekuat mungkin berusaha untuk tidak menyalahkan keadaan.

Kami lalu menemukan terapi yang kami gunakan sendiri. Terapi menertawakan diri sendiri. Ya, jika menemukan suatu kondisi yang berpotensi membuat drop, stres, marah atau memperparah depresi, kami justru akan saling menertawakan. Tidak menyalahkan situasi atau diri sendiri, tapi menertawakan kenapa bisa terjadi.

Sukses? Pelan dan perlahan, tapi kami berada di arah yang benar.

Kunci lainnya adalah belajar dari pengalaman orang lain. Kami bertemu dengan sebanyak mungkin orang, mendengar cerita-cerita, mulai dari yang hancur lebur hingga sukses makmur. Dari cerita tersebut kami belajar jika ada yang mengalami situasi yang lebih berat dari kami dan bisa lolos. Jika mereka bisa kenapa kami tidak?

Dalam perjuangan tersebut ada rasa putus asa, wajar. Ini bukan perjuangan yang cepat usai. Ini adalah pertaruhan daya tahan dengan perasaan, wajar jika rasa marah dan putus asa kadang menyergap.

Kami terus saling berusaha terus berbicara selama bulan-bulan penuh tekanan. Saya berusaha hadir. Ya, kesalahan saya saat tahap awal istri depresi adalah saya kurang peka dengan kondisi istri dan berasumsi istri baik-baik saja. Andaikata saya tahu masalahnya lebih awal mungkin kondisinya tidak akan memburuk.

Menurut psikolog ini adalah kunci penanganan depresi. Memastikan seseorang terdekat hadir dan mendengar. Hal sederhana yang sepertinya mudah untuk dilakukan tapi ternyata berat sekali dilaksanakan dalam kenyataanya.

Dalam proses ini saya tak tahu berapa lama pergulatan yang harus kami lakukan, berbulan-bulan hingga ganti tahun. Daya tahan menjadi ujian utama.

Senjata terakhir yang mendorong suksesnya usaha kami melawan depresi adalah kesibukan baru. Kami mencari apa sih kesibukan yang tidak berkaitan dengan zona nyaman kami, dari pekerjaan kami.

Istri melakukan beragam aktivitas, mulai bercocok tanam, ikut kursus ini itu, mewarnai, menari, sampai berkreasi mencipta kebutuhan rumah tangga sendiri. Hal-hal itu penting untuk menyalurkan perasaan, jika pikiran sudah mulai ruwet dan hati mulai panik, istri sudah tahu penyalurannya, menyibukkan diri dengan urusan barunya. Dengan demikian perhatiannya akan teralihkan.

Saya mendorong istri untuk terus berkreasi. Memberinya ruang, tidak melarangnya, membebaskan istri untuk melakukan apa yang ia inginkan. Ia ingin bebas dari depresi maka jangan sampai orang terdekatnya membuat tindakan yang mengekang.

Kami beberapa kali traveling ke tempat yang ia inginkan, berkali-kali dan menjadikan perjalanan sebagai obat. Kami belajar dari kesusahan di jalanan, mengulang cerita dulu saat pacaran, nostalgia ke tempat-tempat yang pernah kami kunjungi.

Penting juga untuk mengakui kelemahan masing-masing, penting untuk juga sadar bahwa memang ada masalah. Dalam fase ini, penerimaan bahwa ada masalah membawa kami ke kelapangan hati. Jangan sampai denial, akuilah saja jika masalah itu memang ada, nyata dan terjadi.

Dengan proses yang panjang ini, akhirnya kami menang melawan depresi. Istri melalui banyak pergulatan, ia belajar banyak hal, ia mengalami banyak kejadian, namun yang paling membahagiakan bagi saya adalah senyum istri sudah kembali. Ia telah kembali menjadi pribadi yang bebas dan lepas.

Pelajaran penting bagi kami adalah bagaimana justru masa-masa melalui depresi tersebut melekatkan kami dan membuat kami saling mengenal, bahwa ada sisi gelap masing-masing pribadi. Baik sisi gelap saya maupun istri dan kami belajar untuk memahami sisi gelap ini.

Sekarang setelah melalui masa-masa sulit bertarung dengan depresi, istri seperti terlahir kembali, ia kembali bersemangat, ia menemukan dirinya yang baru. Kejadian ini juga membuat saya belajar banyak hal, manusia segagah apapun ternyata memiliki sisi rapuh yang bisa hancur lebur dengan mudahnya.

Dari seluruh proses pertarungan melawan depresi kami belajar bahwa masalah ini ada untuk dihadapi, bukan untuk ditinggal pergi. Orang terdekat adalah support system terbaik dalam pertarungan melawan depresi. Intinya adalah, jika ada lingkungan anda yang depresi, pastikan ia tidak sendiri, pastikan ia merasakan bahwa ada orang yang peduli.

Setelah masa-masa perjuangan melawan depresi telah lewat dan istri saya sudah sembuh total dari depresi, kami semakin bersyukur bahwa mungkin ini cara Tuhan untuk membuat kami saling mengenal lebih dalam lagi.

Tabik.

NB : Jika ingin berbagi kisah tentang depresi, silakan tulis di kolom komentar. Jika membutuhkan bantuan dari saya/kami, silakan tinggalkan pesan di email : [email protected]
Follow Efenerr on WordPress.com

115 KOMENTAR

  1. Wah mas Ef, tulisan yg bagus dan mencerahkan. Pas banget, krn sy sedang sering dicurhatin sepupu yg mengalami depresi. Dan sayangnya, dia harus berjuang sendiri. Tidak spt istri mas Ef yg ditemani suami dan berjuang bersama.
    Alhamdulillah semua sudah kembali seperti sedia kala.

  2. Baca tanda2nya ,kok aku agak mikir ya jadinya.. Dari ketawa, bisa tiba2 murung.. Krn sesekali aku seperti itu mas. Tp slama in in aku pikir krn aku memang moody-an orangnya. Moodku emg cepet berubah. Dr seneng, tiba2 sedih. Ato jd marah krn hal sepele.. Jd itu termasuk tanda2 depresi yaa.. Apalagi kalo orang yg udah kenal banget aku, rata2 mereka cm bilang, “yaaa loe kan gemini fan. Punya dua sisi yg cepet berubah”

    Aku hrs lbh aware juga kali yaa. Kdg hrs aku akuin, sifatku yg suka mendadak berubah bikin bingung suami dan anak. 🙁

    • Halo, Mba Fanny.

      Saya baca komentar mba dan juga merasakan hal yang sama.
      Saya juga gemini dan persis sama seperti temen mba bilang, ” emang gemini bgt lu” terhadap sifat saya yang berubah seketika.

      Seperti saat pulang sehabis hepi-hepi dengan teman atau partner saya pulangnya ngga bakal turun di Kos,
      Saya bakal turun di simpang deket kos dan jalan 300 m. sambil berjalan saya merasa kosong. walaupun sebelumnya saya merasa senang sekali.

      Atau saya menangis saat lagi bekerja atau pernah menangis di depan mall ketika menunggu uber.
      perasaan sedih dan kosong. walau ada masalah kecil saat itu. tapi diri saya bakal menanggapi dengan lebay.

      saya sering nanya sama orang “hidup ini bosen banget ngga sih?”
      atau saya heran sama orang yang hidupnya biasa saja tapi sepertinya enjoy.
      saya? harus keluar dulu, main, minum, nonton konser, festival baru idupnya merasa hidup.

      apalagi kondisi saat ini, saat tidur saya suka mikir harus tidur nih?
      perasaan aneh dan hampa saat malam dan mau tidur. bangun pagi pun perasaan kosong.

      jarak kantor saya ke kos itu 3 km. kadang saya rela nyiksa diri saya buat jalan kaki dari pulang kantor.
      karena kadang selepas pulang kerja perasaan saya entah apa namanya. saya hanya tidak ingin cepat sampai di kos.

      saya saat ini tidak berkomitmen untuk pacaran, karena sering pasangan saya jadi ikut kena imbas. walaupun saya punya pacar, dia sayang saya, perasaan saya tetap sama dengan hidup, saya tidak puas dengan hidup saya,
      saya muak dengan idup saya, saya ngeluh dengan dia, saya marahnya juga sama dia, ujung-ujungnya saya bosan dengan dia karena tidak bisa membuat saya senang. jahat sekali.

      Saya ngga tahu saya depresi apa tidak, tapi teman saya tanpa saya ceritakan masalah kondisi saya tapi tiba-tiba menyarankan saya untuk ketemu temen dia seorang psikiater. hahaha

  3. Ternyata org seceria apapun tetap bisa ngedrop ya mas, semoga mbak selalu bahagia dan depresi tak menghampiri lagi. Salut buat mas yg selalu setia, itu juga cobaan bagi pasangannya lho.

  4. Depresi emang bisa menyerang siapa saja.
    Dulu saya sempat jg sih, tapi gak sampai yg sampai menyakiti diri, cuma nangis dan marah2 gk tentu, Terjadi setelah lahiran anak pertama. Anak pertama BBLR, kesusahan minum ASI, slow growth dll.
    Sendirian di kota asing. Waktu itu justru yg saya lakukan saya gak banyak buka inet, saya mulai banyak gaul di dunia nyata.Pdhlwaktu itu saya jualan (OS) lumayan rame. Saya putuskan stop.
    Lama2 saya mulai move on, memaafkan diri sendiri dan fokus ke anak dan keluarga…
    Btw TFS sudah berbagi ceritanya 🙂 Salam buat istrinya 🙂

  5. halo,mas efener.saya suka baca tulisannya mas, kebetulan di keluarga ada riwayat depresi juga. kakek dari pihak ibu dan juga tante saya. saya ga tau sekarang ini saya depresi apa ga, yang saya tahu bahwa saya selalu nyimpen masalah saya sendiri. saya ga bisa berbagi kesiapa2. karna saya besar tanpa ortu,mereka tinggal terpisah dg keluarga masing2. dan saya dibesarkan kakek-nenek dari pihak bapak yg sekarang udah meninggal. otomatis saya sendirian,ga pny keluarga terdekat. dulu sering coba bunuh diri, karna ngerasa frustasi ama keluarga saya yg berantakan dan ngerasa tidak diperhatiin sama ortu. mereka sibuk dg keluarga mereka, acuh sama saya. bahkan ketika saya ada masalah, saya seperti dituntut untuk menyelesaikan sendiri, karna saya sudah besar, ga boleh bergantung sama ortu. even, ketika saya mencoba menghubungi mereka selalu dikaitkan dengan materi. meski kenyataannya iya, karna saya meminta mereka tinggal dengan saya juga tidak akan mungkin. saya ga pernah bisa cerita masalah2 saya sama siapapun. karna perasaan diacuhkan itu barangkali, yang sudah saya rasakan dari kecil. saya takut, ketika tiba2 saya pengen bunuh diri lagi. karna terakhir saya berusaha meminta tolong sama bapak, saya seperti disalahkan. bukan menanyakan kabar saya pertama kali. sedih, sangat sedih. saya berusaha menyibukkan diri dengan sering bepergian, solo travelling. menemukan keluarga2 baru yg menerima saya dengan hangat. semoga ini bukan depresi, semoga ini hanya sedikit perasaan frustasi saja.

    • Selamat Siang, Mbak Ika. 🙂

      Terima kasih untuk ceritanya. Mbak, mungkin yang harus dilakukan adalah mencoba untuk menyibukkan diri dan mengembangkan diri. Oia, Mbak coba juga bertemu dengan sahabat-sahabat baru yang bisa berbagi cerita.

      Semangat!

  6. Saya juga sempat mengidap major depressive disorder tahun lalu, Mas. Namun sampai sekarang masih belum sembuh seutuhnya. Depresi masih suka menyerang dan suicidal thoughts selalu menghantui setiap hari. Bagaimana cara Mas memastikan bawa depresi yang diderita oleh istri Mas sudah sembuh total?

  7. Depresi memang harus diatasi kalau ngga makin parah merasuk ke diri sendiri dan merusak sekitar. Apalagi perempuan lbih rentan. Saya pun begitu, kadang butuh pergi sendiri, hanya sekedar menulis di cafe supaya pikiran segar

  8. Thank seringnya, saya pernah punya pengalaman menghadapi orang yang depresi. Waktu kuliah disemester tiga, saya punya teman akrab, akrab karena sama-sama dari SMU yang sama, waktu SMUkami tinggal di asrama. pas kuliah pun ambil jurusan yang sama dan memilih tinggal di kontrakan bersama teman-teman yang lain. Si teman ini cerdasm supel, cerewet (semua dosen dan guru tidak ada yang tidak kenal dengannya) plus ambisius menurut saya. singkat cerita saat liburan mau semester 4, sitemn ini sakit tipus dan hampir sebulan dirawat dirumah. setelah sembuh dan kembali ke kontrakan kami di antar oleh ibunya, tiba-tiba nggak tahu kenapa teman ini mulai menceracau, ketawa ketawa seperti orang gila. di rukhyah pun tidak mempan. sebagai teman yg akrab dengan nya saya jadi sock dan kaget, orang yg sebelumnya sy kenal normal saja, berubah menjadi seperti orang gila, ngomong ngelantur tidak jelas. sy pun merasa jadi ikut-ikutan bingung,selalu berpikir kok bisa begitu, yg awalnya normal berubah menjadi seperti orang gila. Akhirnya si teman ini dibawa pulang oleh keluarganya, nggak tahu bagaimana pengobatannya, alhamdulilah sembuh. malahan dia kini mendapatkan beasiswa s3

  9. Thanks untuk sharingnya, mas.

    Depresi ini seperti peribahasa air tenang menghanyutkan. Di permukaan tidak terlihat, tetapi pergolakan di dalamnya bisa sangat dahsyat. Di balik orang yang terlihat sumringah, bisa jadi di dalam lubuk hatinya ada luka batin dan kekosongan yang tak terobati. Apalagi di zaman sekarang ini di mana banyak orang banyak menilai hanya dari penampakan luarnya saja. Saling mengenal dan berusaha proaktif saya kira adalah salah satu cara untuk menangkal, juga mengobati depresi.

  10. depresi jg merupakan tekanan..apapun itu yg merasa dirinya sendiri menghadapi tekanan baik dikerjaan., kebosanan dgn rutinitas ataupun kekecewaan yg mendalam, haruslah cepat ingat mendekatkan diri kepada tuhan..dan support keluarga,terutama org terdekatlah yg sangat dibutuhkn

  11. Terima kasih mas,saya selama ini silent reader blog mas Farchan dan postingan kali ini ngena banget 🙂
    Beberapa waktu yg lalu saya habis konsul ke psikolog juga dan memang menurut saya itu langkah yg tepat,sama seperti penjelas mas Farchan tadi.

  12. Boleh tanya mas,apa istri sampai sekarang diberi resep obat2 psikis oleh dokter?

    Tetap semangat ya mas. Selallu jaga istri dgn baik dan penuh kasih sayang. Saya yakin istri adalah orang yang baikkk sekali. Salam ya buat istrinya.

  13. Memang, orang akan melihat luarnya saja. Bahkan disaat kita tersenyum, hanya kitalah yang tahu perasaan kita sesungguhnya. Saya juga mungkin sedikit depresi karna “menganggur” dan gagal ujian masuk ptn berkali-kali. Tapi memang motivasi itu sudah seperti hal yang tak berguna. Namun ada hal yang seperti mas bilang. Orang depresi hanya butuh pendamping di sisinya.

    Sungguh menginspirasi, apalagi ada beberapa tips yang disampaikan oleh ahlinya. Semoga semakin banyak yang tahu cara mengatasi ketika dirinya atau orang lain mengalami depresi. Mungkin salah satunya mendekatkan diri dengan beribadaha kepada Allah. Btw Terima kasih banyak 😀

  14. Masya Allah… Suami yang luar biasa, berwawasan luas dan sangat memegang komitmen. Tidak banyak pasangan yang sanggup menemani pasangannya yang sedang dalam masa depreai. Kebanyakan justru menjadi penyebab awal depresi sang pasangan dan kemudian meninggalkannya.

    Semoga Allah terus menjaga dan menguatkan kalian berdua dan mebjadikan kalian pasangan yang berbahagia penuh cinta kasih hingga maut memisahkan kalian. Aamiin…

  15. Hallo mas, saya perempuan yang baru 1 tahun menikah, dimasa yang seharusnya membahagiakan ini saya justru mengalami hal yang sama seperti istri mas. Saya juga dulu periang, bergaul dengan banyak orang, namun karena masalah yabg begitu besar saya akhirnya mengurung diri, menjauhi diri saya dari dunia luar, hanya terbuka dnegan teman dekat saja. Saya block semua social media, namun saya masih tetap bekerja, karena hidup masih harus berjalan. Tapi saya meyakini perjbahan hidup saya yang tidak biasa ini adalah gejala awal depresi, karena setiap teman yang bertemu dnegan saya, mereka selalu bertanya “kemana saja” dll, tak jarang saya menjauhi mereka karena malu. Saya mengalami hal yang besar. Untungnya suami dan keluarga saya juga menemani. Tapi, hal beratnya adalah saya begini karena masalah yang dialami oleh keluarga saya, saya, dan suami. Begitu panjang ceritanya.. tapi saya yakin suatu saat saya akan bisa keluar dari posisi seperti ini.. mohon doanya ya..

  16. Hai Mas. Kalian tim yang hebat! Terima kasih sudah berbagi ya. Saya juga pernah bergulat dengan depresi. Dalam perjalanan menemukan bahwa meditasi juga membantu mendatangkan ketenangan pikiran, hal yang paling sulit dijumpai saat depresi. Sampaikan salam saya untuk istri. Baik-baik terus semua, panjang usia dan bahagia. Peluk.

  17. Mas dan isterinya.. saya salut dengan Anda berdua.. hebat.. berbagi pengalaman hidup tentang depresi dan penanganannya… semoga semakin bahagia sampai akhir hayat…
    Thanks untuk sharingnya.

  18. pas tulisannya dgn yg saya alami skrg… akan saya coba utk menertawakan kenapa bisa terjadi… Dan selalu mndekatkan diri pada Tuhan…

  19. terima kasih sharing nya. bisa menginspirasi, barangkali saya, atau orang terdekat mengalami hal yang sama. dan saya salut, sampeyan tegar menghadapi dan sambil mencari solusi, dan syukurnya sekarang sudah terlewati semua. alhamdulillah.
    saya senang dg penekanan “singkirkan kata2 motivasi” dan “kedepankan nalar”. btw, salam kenal

  20. Masalahnya… saya gak yakin bisa cerita, itu saja. Dan itu yg terberat. Nulis disini pun ya cuma bisa begini aja.
    Kalian tim hebat, saya senang bisa baca tulisan ini. Tiba2 saja rasanya tidak lagi sendiri.

  21. Thanks for sharing mas,

    Mau sedikit berbagi juga. Dulu saya sempat depresi, salahnya saya dibawa ke psikiater dan minum obat yang berbeda setiap harinya. Alih alih sembuh saya malah kepengen bunuh diri.

    Alhamdulillahnya di kala saya mencoba suicide berkali – kali dan sempat koma sebulan lamanya karena tindakan konyol tersebut. Saya diberikan kesempatan kedua.

    Jadi menurut saya support system itu memang penting banget mas. Klo sampai ada keluarga terdekat yang mengalami perubahan emosi secara mendadak kudu cepat di kenali karena memang bisa jadi itu awal dari depresi.

    Sekarang, sya sudah menikah dan memiliki anak satu. Memang terkadang depresi masih suka melanda namun tidak separah ketika sebelum saya menikah dan bagaimana memaknai hidup ini.

    Depresi saya sekedar ingin”escape” ke tempat nobody people know me.

    Beberapa kali juga suka terlitas bunuh diri lagi. Tapi keberadaan anak membuat saya jadi sadar diri dan memaknai jalan hidup kini.

    Depresi itu ada ketika tidak ada seseorang/beberapa orang yang dapat menolong seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan jiwa.

  22. masa-masa kayak gitu pernah aku alami mas. akunya ga nyadar kalau depresi. cuma kok jadi sering sakit macem2. ke dokter THT lah, dokter mata lah, penyakit dalam lah. sama saja ngga ngefek. hingga suatu saat aku ke dokter syaraf dan dikasih obat anti depresi.
    nemuin dunia baru dnegan ngeblog dan hunting foto udah jadi obat buat aku. dan sekarang lagi nyoba belajar musik juga, takut masih ada bekas-bekas depresinya.

  23. Setelah saya membaca hal ini saya paham dan sangat mengerti bagaimana perjuangan Mas dan Istri.
    Karena saya juga oernah depresi dan itu menahun. Saya tidak tahu seperti apa diri saya sebenarnya menyembunyikan depresi dari orang tua dan keluarga dan teman. Karena lingkungan saya jika saya bilang,saya depresi saya stress mereka menganggap hal itu biasa dialami oleh remaja. Semakin dewasa saya terbiasa dengan depresi tanpa ada pengawasan dan penanganan yang tepat. Benear saya mengalami fase denial, menganggap saya baik2 saja tetapi saya sangat lelah dan ingi mati saat itu.

    Saya telah melakukan percobaan bunuh diri nyaris 3x dan semua gagal. Bukan karena saya takut. Tetapi sepertinya yang maha kuasa masih sayang sama saya.

    Sampai saat saya mulai bekerja diBandung, saya bertemu dengan orang-orang yang membantu saya keluar dari masalah saya… lama memang sangat lama…. sekitar 2 tahun mereka membantu saya dan mengajarkan saya bahwa tidak mengapa jadi depresi, gagal dan sedih.

    Treatment yang mereka berikan juga mirip, bicara dari hati ke hati, saya belajar mengungkapkan isi hati saya, tidak memendam, mengakui bahwa saya lemah ini yang terberat.
    Saya terbiasa diperlakukan seperti seorang puteri yang lemah padahal saya mampu untuk menjadi kuat, saya terbiasa dibandingkan dengan orang lain yaitu tetangga saya saat itu saya hanya bisa diam. Semua perasaan menahan itu menjadi boomerang untuk saya. Didepan teman2 saya sosok ceria, asik dan sangat penurut. Namun yangcsaya rasakan saya tersiksa.

    Teman2 saya di tempat saya bekerja sekarang menjadi support buddies saya. Mereka mendengarkan saya, saya belajar mengtertawakan dan menghina diri saya sendiri, mulai mendekatkan diri ke tuhan yang maha esa dan mulai membuka diri terhadap orang tua.

    Puji syukur saya panjatkan saya sudah jauhhhh lebih baik, sembuh total mungkin belum sepenuhnya, tapi sudah bisa berpikiran positif atas semua kejadian baik, buruk yang menimpa saya ini sudah membuat saya bahagia dan menerima kecacatan dalam diri saya ini hal terbaik yang pernah saya lewati catatan kecil : orang tua dan adik saya juga jadi lebih terbuka satu sama lain.

  24. miripkah dengan bunuh diri kalau dulu pengalaman waktu konsultasi ? karena semenjak Chester bunuh diri, banyak yang bilang kencederungan bunuh diri itu ga bisa diliat. Dan saya setuju.. bunuh diri prosesnya cepat, ga perlu mikir..

  25. Saya pernah dalam kondisi stress berat. Tidak tahu apakah itu sampai depresi atau tidak. Nggak punya semangat hidup lagi setelah tahu suami sakit berat. Kami hanya berdua, selama 10 tahun lebih. Belum punya anak, menjalaninya dengan tabah. Kondisi keluarga besar pun boleh dibilang pas-pasan. Banyak yang bergantung pada kami berdua. Tapi, semua itu bisa dijalani dengan baik. Sampai kemudian, duaar! Mendadak suami sakit berat.

    Butuh waktu berbulan-bulan untuk hanya bisa menerima kenyataan. Jujur, support system saya tak ada. Curhat ke suami hanya menambah beban pikiran dia. Curhat ke keluarga? Entah, ya, orang-orang terdekat saya rata-rata selalu merasa hidupnya lebih buruk dibandingkan orang lain. Bahkan kalau saya bicara soal kondisi kami (belum punya anak, suami sakit, saya harus kerja keras), tetap merasa kondisi dirinya lebih buruk.

    Titik baliknya adalah saat saya banyak mendengar kajian makrifatullah-nya Aa Gym walau hanya lewat YouTube. Saya ingat hari itu saya nangis sendirian sampai tubuh gemetar, tapi bukan lagi nangis menyesali apa yang telah terjadi. Tapi, nangis kenapa saya harus begini. Saya sholat tobat dan minta dibukakan jalan. Bukan berarti mudah dan langsung tersedia, pelan-pelan berjalannya.

    Tapi….hikmah atas apa yang terjadi jauh…jauh…jauh lebih berharga dari ujiannya.

    Benar seperti tulisan Mas. Diawali dari menerima. Menerima bahwa apa yang terjadi adalah bagian dari kenyataan, bagian dari takdir. Meyakini bahwa apa yang menjadi ketetapan Tuhan tetap yang terbaik untuk hamba-Nya (untuk yang satu ini, kita harus mau belajar mengenali siapa pencipta kita). Lalu, keluar lah, temui orang-orang dan dengarkan cerita mereka. Buat setiap detik waktu hidup kita berharga. Perbesar manfaat kehadiran kita untuk semesta (mulai lah melakukan hal yang positif).

    Lalu, setiap kali kita mulai merasa jatuh lagi… Ingat nasihat dari kawan saya ini, “Bahwa setiap manusia itu sama ujiannya, yaitu… sama-sama tidak pernah melampaui kesanggupan Ia untuk menghadapinya.”

  26. Sharing yang luar biasa mas. Gak gampang lho untuk mengakui bahwa pernah mengalami depresi, jujur dengan keadaan diri sendiri. Saya pun, beberapa bulan yang lalu pernah mengalaminya. Entah ini namanya depresi atau bukan. Berawal dari kekecewaan mendalam, lalu muncul rasa cemas berlebih, parno, negative thinking sama orang lain, ga bisa fokus kerja.
    Qadarullah, seperti Mb Inayah (yg komen diatas) bulan-bulan itu saya bolak balik ke dokter, ya dokter THT, dokter mata, dokter penyakit dalam, gangguan pencernaan sampai harus opname.
    Dari luar, saya terlihat ya biasa-biasa saja, emosi masih terkendali, tidak meracau, dll. Tapi ya itu tadi, kalau pas sendiri suka mendadak nangis, bingung, cemas, ga jelas harus ngapain. Dzikir, solat, sholawatan terus dilakukan tapi rasa itu masih saja muncul.
    Pada satu titik, saya mulai sadar…ada yg ga beres ini di saya.
    Beruntung saya memiliki teman yg spesialisasi di keperawatan jiwa. Cerita ini itu, dan saran dia pertama adalah ya saya harus menerima. No denial. Semua yang berlalu dan telah terjadi, memang seharusnya terjadi, ga boleh disesali.
    Ketika sudah menerima keadaan diri, barulah untuk bisa mengikhlaskan, pasrahkan semua kepada Allah.
    Dan betul mas…
    Setelah saya bisa menerima keadaan yang membuat saya seperti itu, saya mulai mengikhlaskan semuanya, berharap hanya kepada Allah. Terus berlatih untuk tidak menaruh harapan berlebih kepada manusia, karena manusia hatinya mudah terbolak-balik, hanya kecewa yang didapat.
    Alhamdulillah, saya merasakan lebih baik sekarang.
    Seperti ada semangat baru yang terus muncul. Walaupun ga bisa dipungkiri, proses denial itu seperti siklus. Ga bisa langsung hilang. Ada kalanya muncul lagi, naik turun. Mood tiba-tiba nyungsep entah kemana.
    Tapi dengan kejadian kemarin, saya jadi lebih memahami diri saya sendiri. Tahu apa yang harus saya lakukan ketika tiba-tiba rasa itu muncul lagi. Butuh ‘me time’ demi kewarasan diri.
    Menjadi sadar, bahwa tidak ada kejadian satu pun di dunia ini terjadi tanpa kuasa-Nya. Dan mungkin ini adalah cara Allah untuk membuat saya semakin mendekat dan bergantung hanya kepada-Nya.
    Oh ya satu lagi, dalam proses ‘sembuh’ dari segala rasa-rasa itu, sebaiknya memang ada teman untuk bercerita. Ga butuh saran atau judging ini itu, hanya cukup didengarkan. Menurut saya itu sudah membuat cukup dan jadi lega luar biasa.

    Salam untuk istrinya mas, semoga sehat selalu ya ☺

  27. Pas sekali tulisannya. Saat ini saya lagi berusaha menemani teman yg depresi. Berkali-kali saya ajak konseling ke RS, dia msh belum mau. Bagaimana ya mas cara meyakinkan untuk ke RS? Oh ya, saat itu butuh berapa kali konsul mas sampai benar2 sembuh? Thanks before. 🙂

  28. Ceritanya menarik sekali mas. Saya yang baru saja menikah suka bingung sendiri dengan suasana hati yang gampang berubah. Untungnya punya pasangan yang super sabar ketika menghadapi saya maupun kesulitan di masa awal pernikahan. Sebenarnya lucu juga sih, kalau diulik lebih dalam masalah besar juga nggak ada.
    Kayaknya saya enggan menyebutnya depresi. tapi bisa kurang lebih sama dan ternyata ada juga ya istri-istri lain yang mengalami “kegalauan” serupa, meski penyebabnya tentu saja berbeda.
    Terima kasih lho sharingnya.
    Paling tidak para wanita yg jadi early wife tidak merasa sendirian ketika merasakan hal yang serupa “kegalauan” itu tadi.
    Selain ibadah, buat saya support dari pasangan/suami sangat amat membantu untuk tetap “sadar”, kalau tidak sendirian.

    Kalau saya sih, jujur suka dengerin brain wave atau lagu-lagu penenang biar emosinya juga ikutan tenang dan stabil. Sedikit banyak membantu biar tidak tambah gusar.

  29. https://www.youtube.com/watch?v=q3K0b7vh874
    mungkin salah satunya sesuai omongan Deepika Padukone yang mengatakan kita tidak pernah mendapatkan pelajaran tentang kesehatan mental, bahkan tabu membicarakan di sekolah atau mendapatkan pelajaran dari orang tua. Dan psikiater dan dokter ahli jiwa menjadi tempat yang amit2 dan menakutkan bagi semua orang. Dan tempat tersebut didatangi terakhir setelah kondisinya tidak bs direcovery lagi.

  30. Wah, topik yang sangat berat. Makasih sharingnya Mas F. Bicara soal depresi, aku pernah mengalami itu. Salah satu penyebabnya dari luar mas, soalnya aku dari keluarga broken home. Aku pernah sampai mau bunuh diri karena gak tahan sama kondisi di rumah. Aku nggak tau kapan sembuhnya, sepertinya seiring berjalannya waktu saja sih…

  31. Saya senang baca tulisan ini
    Akhir2 ini jujur saja saya merasa drop, lelah dan gagal (dalam beberapa hal)
    Bagaimana mengatakannya ya
    Gak tau apakah saya depresi atau tidak
    Tapi ini cukup berat buat saya
    Terimakasih sudah berbagi kisah mas

  32. Terima kasih mas utk artikelnya. 2 hari lalu sy bertemu teman lama, kami bertukar cerita. saat itu saya baru tahu bahwa beberapa bln lalu ia mengalami depresi yg membuatnya sulit tidur berhari2, diam, malas melakukan aktivitas apapun, tdk peka pada suami&anaknya hingga berujung pd niat bunuh diri. Hingga teman2 di gerejanya melihat ada perubahan sikap dan menyarankannya ke psikiater. Ia sempat mendpt obat yg hrs dihabiskan hingga bln Desember nanti. Syukurlah ia sdh pulih saat ini. Selain berobat ia jg mengikuti bimbingan rohani. Saya cukup kaget krn saya mengira teman saya ini org yg beriman, ceria, tdk ada masalah. Ternyata depresi bs menimpa siapapun.

  33. Terima kasih untuk sharingnya Mas.

    By the way, jujur saya tak begitu paham mengenai depresi. Yang jelas, saya adalah seorang periang di depan banyak orang, tapi ketika sendiri saya bisa berubah total.

    Saya mulai membiasakan diri untuk tak membuka masalah2 yang terjadi dalam diri saya, karena ada satu orang yang menahan saya untuk tak terlalu sering bercerita. Bercerita sama halnya membuka aib sendiri. Karena saya pernah melakukannya dengan sahabat saya terdekat, dan pada akhirnya malah menjadi masalah besar. Saya menyakiti orang lain.

    Setiap ada masalah dan hati terluka, saya lebih memilih diam dan tak bercerita ke siapapun. Tak ada seorang yang selalu support, tak ada teman berbagi, bahkan bisa dikatakan saya orang yang tak pernah punya masalah di mata mereka. Padahal belum tentu.

    Suka duka saya makan sendiri, saya benar-benar menutup diri dan memilih menjadi pendengar baik bagi teman-teman saya. Seringkali teman saya menceritakan masalahnya dan meminta solusi kepada saya. Dan alhamdulillah, solusi dari saya ia lakukan dan memperbaiki masalahnya.

    Terkadang saya merasa sedang menjalani hidup, namun tidak pernah bisa menjadi diri sendiri. Menahan keinginan, menekan ego, tertekan dan lebih memilih membahagiakan orang lain.

    Saya ingin sesekali bercerita. Saya ingin sesekali berteriak. Tapi seakan ada sesuatu yang menahan. Paling saya hanya menangis dan mendekatkan diri dengan Allah. Setelah lega, hidup saya seakan baik-baik saja. Kembali ceria seperti sedia kala. Apakah ini juga pertanda depresi?

  34. Tks Mas buat sharingnya…….
    Saya juga ga terlalu paham soal depresi, tpi jujur keinginan buat mati selaku menghantui saya 🙁 tapi satu sisi saya juga takut.

  35. kalau mau cerita sama teman, saya takut bagaimana tanggapan mereka. Saya pernah coba cerita ke teman tp tanggapan mereka tuh, udah gapapa, lupain aja, jangan dipikirin terus, kok ngeluh terus sih
    itu bikin saya ngerasa, kok ga ada yg mau ngertiin sih, jadi males kalau mau cerita ke orang lain
    mending nangis sendiri

  36. Spertinya sya sedang mengalaminya sekarang, awalnya sya stress karna ada kejadian traumatis, tapi keadaan tersebut sudah bisa di atasi berkat mengikuti beberapa terapi, Namun yang saya rasakan sekarang adalah perasaan bingung, kesedihan masih ada dan tidak termotivasi, apa yang harus sya lakukan skrng ? kalau harus cerita saya juga bingung ceritanya apa, karena rasa nya aneh dan menggangu konsentrasi saya. bolehkah saya bertanya ? apakah saya bisa kembali seperti semula ? seperti saat dulu saya bangun tidur hanya memikirkan apa yang harus saya lakukan pada hari itu. hal tersebut berbeda dengan sekarang, karena saat bangun saya selalu dihadapkan oleh pikiran negatif yang sama. lalu apakah setiap hari saat terbangun dari tidur, orng yang sembuh dari depresi akan selalu mengingat bahwa ia pernah mengalami depresi ?? dimana ya sya bisa menemukan psikolog yang cocok untuk masalah saya

  37. Maaf kak sbelumnya, Kak aku udah ngak tau lgi gimana, kk aku dulunya pendiam dan sekrng menjadidepresi berat karena didikan keras ayah ku dulu, tapi itu dulu skrng ayah ku sdh perlahan malai berubah, sebab melihat kondisi kk ku yg semakin hari smkin parah, kmi sudah konsul ke dokter rs cuma diksih obat penenang? Yg membuat dia jdi ngntuk berat, tpi itu ngak merubah keadaan, apa karena kami rakyat kecil, mau coba ke dokter spikologi pribadi, tapi itu membutuhkan biaya, sdngkan kmi ngak ada biaya. Gmna ya kak, stiap malam dia membuat kmi tidak nyenyak tidur, semua yg kmi lakukan salah dimata dia, kalau pikiran kelam yg dulu melintas dipikiran kk ku, membuat dia tiba2 marah, dan yg kena adik dan ibu saya, saya suka sedih kak, tlg bantu saya kak, pernah berpikir melaporkan kepolisi, tpi itu akan membuat dia semkin menyimpan rasa dendam kan kak? Jdi ak harus gimana ini kak, ak ngak ngeliat sosok kakak yg dpt melindungi adik2 nya, tlg bantu saya kak, saya harus gmna skrng? Terimakasih

  38. Saya sudah 10 tahun masih berjuang melawan depresi. Setiap perubahan besar dalam hidup, depresi datang menghampiri saya. Mengajak untuk berhenti melangkah. Membuat saya kelelahan, merasa gagal dan ketakutan. Saya menyadari, Kepribadian saya yang membuat saya rentan depresi.
    Lelah sekali, sampai sekarang saya masih berharap dan berdoa suatu hari saya akan menjadi orang yang lebih mencintai dan menerima diri saya apa adanya. Saya ingin bebas dari depresi.

  39. Saya suka sekali artikelnya membuat saya merasa tidak sendiri saya merasa cemas berlebih atas masa lalu yg saya lalui saya selalu merasa bersalah.saya sedang berusaha sembuh semoga Allah memberikan saya dan kita semua kesembuhan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here