Marun pelan-pelan pergi dari langit, halimun lambat bergerak, pagi baru saja datang ketika saya sudah berkecipak air di pinggir danau Titicaca yang dingin. Di dermaga kayu yang berderak saya berjalan menuju perahu, berteman unggas-unggas yang mencari sarapan.

Danau Titicaca adalah danau tertinggi di dunia, tertambat di ketinggian 3821 mdpl, danau ini terbelah menjadi wilayah dua negara, Bolivia dan Peru. Dua negara yang sama-sama menjadikan danau ini sebagai bagian ritus dan kultus.

Perahu melaju pelan menyibak air danau Titicaca yang tenang. Perlahan mentari memerahi danau. Air yang berkecipak menjadi teman perjalanan.

Di pinggir danau Titicaca tumbuh peradaban, kota Puno yang dulu merupakan kota Inca lalu menjadi kota imperialisme Spanyol tumbuh dengan memanfaatkan air danau sebagai sumber daya utama. Nyaris tiada pantai, pinggir danau langsung penuh pemukiman, hotel, juga pasar.

Namun, tak hanya penduduk Puno yang hidup dari Danau Titicaca. Nun, di tengah danau sejak ratusan tahun tinggal orang-orang Uros, orang-orang yang hidup menyepi di tengah danau.

Konon ratusan tahun silam ketika Inca mulai mendirikan imperium, Inca mencari orang-orang untuk menjadi pekerja di tambang-tambang emas dan tembaga yang ada di wilayahnya. Sampailah di tepi danau Titicaca dan mulai menangkapi leluhur orang Uros untuk dijadikan pekerja.

Orang-orang Uros lalu memberontak, tak mau menjadi pekerja Inca mereka lalu berlayar ke tengah danau, Inca lalu batal menangkapi mereka dan berunding. Uros tidak jadi pekerja, selama Uros menyediakan bahan makanan yang Inca inginkan, ikan segar dari danau Titicaca.

Sejak itulah orang Uros tinggal di tengah danau dan menjadi nelayan. Selama ratusan tahun mereka hidup dan menghidupi danau Titicaca. Uros dibiarkan menjadi komunitas merdeka, memiliki sistem adat sendiri, memiliki Dewa mereka sendiri. Bahkan imperialisme Spanyol meneruskan apa yang Inca lakukan, mereka membiarkan Uros tinggal di tengah danau dan membiarkan Uros merdeka dengan apa yang mereka lakukan.

Tiba di perkampungan orang Uros rasanya seperti melihat bagaimana danau Titicaca menimang-nimang Uros dan pulau-pulau buatannya. Ya, jauh sebelum konglomerat Dubai dengan boros menggelontorkan Burj Al Arab dan menggelarinya pulau buatan termegah di dunia, orang Uros selama ratusan tahun telah tinggal di pulau buatan.

Uros selain nelayan adalah ahli konstruksi brilian. Mengandalkan Totora, sejenis rumput besar yang tumbuh di danau Titicaca, orang-orang Uros membangun pulau buatan. Mereka membangun dari potongan-potongan Totora, disusun sedemikian rupa menjadi pulau, ditambatkan dengan pemberat dan jadilah pulau. Di atas pulau dibangunlah rumah-rumah untuk tinggal.

Semesta orang Uros adalah pulau-pulau buatan dari Totora. Perahu mereka pun terbuat dari Totora yang dianyam dengan sedemikian rumit dengan bentuk seperti pisang. Pada turis-turis seperti saya orang Uros berkelakar dan menyebut perahunya sebagai perahu pisang.

Perempuan dan Demokrasi

Orang Uros lebih keling daripada orang Peru lainnya. Tinggal di ketinggian membuat kulit mereka lebih dulu terpanggang matahari. Ketika tiba di pulau saya hanya disambut perempuan, melulu perempuan, nir laki-laki.

Mereka juga memiliki baju tradisional sendiri, dengan rompi dan rok warna-warni, serat kainnya tebal, dilengkapi topi dari rumput Totora. Pakaian ini membedakan orang Uros dengan orang Peru kebanyakan. Rambut wanita orang Uros juga selalu dikepang dan bagi anak-anak perempuan, tidak diberikan topi rumput, tapi topi rajut, mereka akan berganti dengan topi rumput setelah mereka beranjak dewasa.

Bagi orang Uros, perempuan adalah pemimpin keluarga, merekalah yang mengatur rumah dan seisinya. Tugas lelaki hanya satu, mencari ikan dengan berburu jauh di tengah danau.

Pulau-pulau di Uros menjadi simbol bahwa kendali komunitas ini berada di tangan para perempuan. Ada ratusan pulau di Uros, setiap pulau tersebut melambangkan satu keluarga besar dan keluarga tersebut dipimpin oleh perempuan.

Sistem kearifan lokal yang dimiliki orang Uros mirip demokrasi era sekarang. Pemimpin keluarga disebut presidente yang jabatannya setahun sekali. Tahun berikutnya presidente bisa berganti ke tangan perempuan lain.

Setahun sekali pula ratusan presidente ini berkumpul untuk memilih satu presidente tunggal untuk seluruh komunitas Uros. Satu presidente ini selama setahun menjadi pemimpin seluruh Uros. Ya, dan bisa ditebak, presidente ini adalah seorang perempuan.

Presidente

Hukum di Uros berjalan seimbang, dulu mereka sama seperti leluhur mereka, menolak Inca, lalu menolak imperialisme Spanyol dan kemudian bahkan menolak Peru. Tapi lambat laun dengan pendekatan yang lama, orang Uros mengakui Peru sebagai negara mereka. Lalu hukum Peru diterapkan di Uros, berdampingan dengan hukum adat Uros.

Orang-orang Uros lalu mengenal sekolah, mengenal modernitas, hidup dengan listrik dari pembangkit listrik tenaga surya. Modernisasi bertaut dengan tradisionalitas. Tentu orang Uros masih memegang teguh tradisionalitas.

Hukum adat seperti komunitas adat lain di seluruh dunia menjadi pegangan hidup orang Uros. Pelanggar hukum adat seberat-beratnya akan diasingkan dari Uros dan tidak diterima lagi selamanya sebagai orang Uros lagi. Mereka hidup mengasingkan diri jauh di tengah danau atau pergi ke darat dan menjauh dari danau Titicaca.

Melihat semesta Uros dengan pulau buatan dari Totora membuat saya memahami bagaimana sebuah komunitas berdiri dengan menggantungkan diri pada diri mereka sendiri. Air danau Titicaca menjadi saksi bagaimana orang-orang bertahan teguh di tengah danau.

Semoga di tengah modernisasi yang kian cepat, orang-orang Uros tetap bertahan di tengah gelombang danau Titicaca yang tenang.

Tabik.

Follow Efenerr on WordPress.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here