Farchan muda, 22 tahun dan putus cinta. 

Setahun sebelumnya, Farchan muda sedang dalam perjalanan ke Jakarta dengan penuh gembira. Lulus sekolah kedinasan, Farchan muda ditempatkan di kota kecil di Jawa Barat, masalahnya satu, kekasihnya di Jakarta. Jadilah Farchan muda bolak-balik ke Jakarta.

Hari itu setahun yang lalu  Farchan diam-diam saja, tak memberi tahu kekasihnya kalau akan ke Jakarta. Rencananya Farchan muda datang ke Jakarta memberi kejutan untuk kekasihnya.

Siapa nyana, rencana tinggal rencana. Di Jakarta, Farchan justru menemukan kekasihnya mendua, Farchan meninggalkan Jakarta dengan hati remuk redam dan setumpuk dendam.

Farchan muda saat itu baru mulai bekerja, impiannya sederhana, tinggal di kota kecil bersama kekasihnya. Sayangnya dunia seolah khianat padanya atau Farchan muda yang barangkali terlalu polos melihat dunia.

Farchan muda, 22 tahun enam bulan, berkelana. 

Dalam ransel yang lusuh dan sepatu yang sudah usang, Farchan muda menahan hawa dingin di Pura Besakih. Sudah satu minggu Farchan muda berada di atas motor berkeliling Bali tanpa tujuan.

Usai putus cinta, Farchan muda seolah hilang arah. Uangnya habis entah kemana dan entah untuk apa. Tak punya tujuan hidup, seorang teman bernama Isma menasehatinya, menyuruhnya pergi berkelana, barangkali bisa menyembuhkan luka batin Farchan muda.

Menuruti Isma, Farchan pergi ke Bali dan justru di Bali itulah Farchan kemudian menikmati dunia baru bernama petualangan dan menemukan dirinya kembali pun menyembuhkan luka hatinya.

Selama seminggu, bermotor keliling Bali, tanpa rencana singgah di mana saja sesuai keinginannya. Konon Farchan bertemu banyak orang, menyerap pelajaran baru dari jalanan dan sepulangnya dari Bali, hidupnya berubah.

Farchan muda, 23 tahun enam bulan, di tengah bencana

Kala itu Merapi meletus, Farchan muda pergi dari kantor, selama sebulan menjadi relawan letusan Gunung Merapi. Farchan muda dengan motor trailnya hinggap dari desa ke desa di lereng Merapi menjadi surveyor, mencari titik posko.

Tugas itu berkesan bagi Farchan muda. Dirinya melihat banyak sekali nestapa dalam bencana. Tidak ada hal lain selain nilai-nilai kemanusiaan yang Farchan muda dapatkan dalam tugasnya sebagai relawan.

Di tengah tugas, Farchan sesekali membuka media sosial. Tugasnya memang melingkupi mencatat posko dan melaporkannya di media sosial. Namun, suatu waktu mata Farchan muda terantuk pada sebuah nama di media sosial yang kelak akan mengubah hidupnya.

Farchan muda, 24 tahun

Sepulang dari Medan dengan tas punggung besar, Farchan muda berjalan ke sebuah kantor di bilangan Cikini, Jakarta dan bertemu dengan seorang perempuan yang usianya dua tahun lebih muda. Farchan tampak sumringah dengan hati berbunga-bunga, menjemput di pintu kantor dan mengantar pulang.

Setelahnya Farchan muda mengajaknya makan malam di Plaza Semanggi, berdua mereka menikmati malam indah di Jakarta. Sepulangnya, di sebuah taksi yang bergerak dari Jakarta Selatan ke Jakarta Pusat, Farchan malu-malu bertanya sesuatu, si perempuan menjawab singkat, “Ya”.

Farchan muda merasa hidupnya telah kembali.

Farchan muda, 25 tahun, Jepang

Sudah satu tahun belakangan Farchan muda menulis blog perjalanan. Suatu ketika, Farchan muda memberanikan menulis naskah buku dan mengirimkannya pada penerbit yang langsung ditolak mentah-mentah. Penerbit bilang naskahnya tidak sesuai selera pasar. Kala itu hanya ada dua penulis yang disukai pasar, Farchan muda tak mampu menulis seperti keduanya.

Penolakan dari penerbit tak membuatnya patah arang. Farchan muda justru terbakar semangatnya, ia berpikir, barangkali perjalanannya kurang menarik karena hanya di dalam negeri saja tak berani keluar negeri. Farchan muda nekat membeli tiket ke Jepang, paspornya masih kosong, pengalaman masih nol, niatnya hanya satu, mendapat pengalaman di luar negeri.

Sepuluh hari total di Jepang, Farchan muda merekam banyak hal, memfoto banyak hal, menulis banyak hal. Benar kata orang, berjalan makin jauh ada kisah makin beragam. Saat itu juga di Jepang, Farchan muda bertekad akan mulai berkelana di luar Indonesia dan belajar menulis lebih giat.

Farchan muda, 26 tahun, Singapura

Suatu ketika Farchan muda melihat ada situs bernama Traveloka. Penasaran dengan situsnya, Farchan muda melihat-lihat seperti apa. Ternyata ini adalah situs yang baru rilis dan memperlihatkan perbandingan harga pesawat. Farchan muda melihat-lihat tiket pesawat secara acak dan kemudian memilih yang paling murah, ternyata ke Singapura masih murah.

Farchan muda kemudian pergi ke Singapura, berdua dengan kekasihnya. Bagi Si Perempuan ini pertama kalinya ke luar negeri. Karena tiketnya murah-murah saja, Farchan muda tak bisa menjanjikan apa-apa, bahkan mereka sampai harus menginap di selasar bandara Singapura.

Di Singapura, Farchan muda mengajak kekasihnya keliling kota. Bagi Farchan muda, Singapura tak lagi asing, ini kali kedua, tapi bagi kekasihnya, ini pertama kalinya ke mancanegara. Tak punya banyak uang, mereka berdua banyak berjalan kaki dan tidur di dormitory berisi 16 kamar tidur yang bau apek.

Farchan muda, 27 tahun enam bulan, Turki

Di bulan Oktober tahun itu, Farchan muda mengikat janji sehidup semati dengan perempuan yang sudah tiga tahun lebih jadi kekasihnya. Kekasih yang pertama kali ditemuinya di depan kantornya setelah sebelumnya hanya berhubungan di media sosial.

Usai resepsi yang sederhana, Farchan muda mengajak kekasihnya pergi keliling Asia dan Farchan muda sudah membeli tiket ke Kuala Lumpur sebagai awal perjalanan. Namun, seperti halnya hidup yang berubah, rencana juga bisa berubah.

Kembali Farchan muda melihat-lihat Traveloka yang saat itu sudah menjadi situs andalan untuk mencari tiket perjalanan. Dari sekedar situs perbandingan harga, Traveloka sudah berkembang menjadi situs pemesanan tiket. Matanya terantuk pada tiket Kuala Lumpur – Turki yang murah untuk ukuran Farchan muda dan istrinya. Tanpa pikir panjang tiket dibeli dan pergi ke Turki tanpa rencana.

Sepuluh hari di Turki mereka berdua keliling kota dengan bis, tidur di pension murah, tersasar di kota, terdampar di desa antah berantah di tengah malam buta. Hingga akhirnya bisa menamatkan perjalanan dan kembali ke Indonesia.

Farchan 29 Tahun, Jepang

Setelah dua tahun menikah, Farchan ingin mengajak istrinya ke Jepang. Bagi Farchan Jepang adalah sebuah negara yang memberikan banyak titik balik bagi Farchan dalam memandang sebuah perjalanan.

Farchan kembali mengecek Traveloka yang sudah menjadi situs pemesanan tiket terbaik di Indonesia dengan banyak fitur, seperti easy reschedule dan price alert. Karena ingin mendapatkan harga termurah, Farchan mengeset fitur price alert dan menunggu hingga tiket termurah didapatkan.

Cukup waktu hingga akhirnya fitur price alert akhirnya memilihkan tiket dan waktu terbaik. Farchan akhirnya mengajak istrinya ke Jepang selama dua minggu. Istrinya baru pertama kali ke Jepang dan banyak petualangan yang didapatkan, seperti terjebak Topan selama tiga hari lamanya di Osaka.

Farchan sangat terbantu dengan Traveloka karena bisa ke Jepang dengan tiket sangat murah dengan maskapai bintang lima. Tanpa price alert Traveloka barangkali Farchan hanya akan mendapatkan tiket maskapai berbudget rendah.

Farchan, Sekarang

Dari putus cinta hingga bahagia, kini Farchan sudah menikmati hidup bersama kekasih hatinya. Luka hati di masa lalu telah hilang dan sekarang semakin rajin menulis, Farchan muda yang dulu naskah bukunya ditolak penerbit kini akan menerbitkan buku keduanya.

Farchan muda kini terus bertualangan di Indonesia dan mancanegara. Berkat Traveloka yang menyajikan price alert dan dipilih Farchan sebagai fitur utama yang paling berguna, Farchan bisa menjelajah beragam tempat dan belajar banyak hal. Filipina, Brunei, Jepang, Taiwan, Ternate, Halmahera, Timor Leste, Flores, Sintang, Nanga Pinoh dan beragam tempat lainnya sudah Farchan singgahi.

Hidup adalah perjalanan dengan berbagai kisah. Farchan juga mengalami kisah itu, dari Farchan muda hingga sekarang. Farchan terus menulis agar perjalanannya tak hilang dan kisah-kisahnya bisa mengajak orang lain untuk turut menikmati perjalanan.

Farchan muda kini sudah berusia tiga puluhan tapi semangat menulisnya tetap menyala.

Tabik.

Follow Efenerr on WordPress.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here