Di Jeneponto yang ada lembah, sawah dan laut, juga penuh kuda, sekarang ini ada tempat wisata yang populer bernama Lembah Hijau Rumbia. Kalau ditempuh dari Makassar alamak bisa bikin pantat panas, tapi beda jika dari Jeneponto, lokasi ini hanya butuh 40 menit dengan mobil, kalau dengan motor bisa jadi lebih cepat.

Lokasinya ada di Desa Tompobulu, Kecamatan Rumbia. Sebuah desa yang penuh dengan sawah nan hijau, rupa-rupanya memang desa ini desa agraris, mayoritas penduduknya adalah petani.

Lembah Hijau Rumbia menempati salah satu sudut desa, terletak di antara dua bukit, di sela sebuah jalan berkelok. Ada loket masuk di kanan jalan juga sebuah inisial LHR besar sebagai penanda bahwa sudah sampai di Lembah Hijau Rumbia.

Untuk sebuah tempat wisata, tiket masuk Lembah Hijau Rumbia murah saja, hanya 10.000 rupiah dan saya atau pengunjung bisa langsung menikmati seluruh fasilitas yang ada di Lembah Hijau Rumbia. Saya disambut dengan jalanan menurun serta pohon-pohon yang menjulang tinggi.

Suara serangga hutan nyaring terdengar, juga suara burung-burung liar. Suasananya persis di tengah hutan, walaupun sebenarnya tempat ini tak jauh dari pemukiman. Tak heran hawanya sejuk, kontras dengan suasana di jalan dan di luar tempat ini yang begitu panas.

Usai jalan menurun dari pintu masuk, saya disambut kolam renang, pondok-pondok, restoran, juga tempat istirahat. Di sinilah tempat utama bagi pengunjung untuk menikmati suasana Lembah Hijau Rumbia.

Di pondok utama merangkap restoran, saya bersua Ridwan Nojeng, penggagas sekaligus pengelola Lembah Hijau Rumbia. Di tempat inilah sehari-hari Ridwan menghabiskan waktunya.

“Dulu ini lahan kosong, tandus, alhamdulillah sekarang bisa hijau begini,” Ridwan menyambut saya sembari mengenalkan sejarah Lembah Hijau Rumbia.

“Saya lalu mikir, ini lahan bisa jadi apa ya?”

Ya, pada 2010, Ridwan mulai melirik lahan kosong ini, ia hanya berpikir daripada lahan ini menganggur lebih baik diubah menjadi sesuatu yang produktif.

Ide menjadikan lahan kosong ini menjadi tempat wisata muncul begitu saja, Ridwan terinspirasi dari banyak tempat di Indonesia yang pernah ia kunjungi. Di masa mudanya, Ridwan memang hobi bertualang, ia melihat banyak tempat di Indonesia maju karena pariwisata, maka di hatinya terbersit jika daerah lain bisa kenapa di desanya tidak bisa.

Lahan kosong ini kemudian dibangun dengan tangan Ridwan sendiri. Menyisihkan uang hasil membuat pupuk organik, Ridwan kemudian mulai memapras lembah, meratakan tanah, membangun jalan setapak.

“Sering saya dianggap orang gila.” Kata Ridwan.

Usaha Ridwan awal-awal dicemooh, tapi Ridwan tak menyerah, ia berbuat begini untuk orang-orang desanya, walau dicemooh tapi Ridwan yakin manfaatnya akan bisa dirasakan oleh seluruh desa.

Ridwan lalu mengajak warga dengan cara membagi-bagikan pupuk gratis. Cara ini digunakan untuk mengajak warga peduli. Satu dua warga lalu tergerak dan membantu Ridwan, perlahan-lahan Lembah Hijau Rumbia mulai dibangun dengan bantuan warga. Keringat Ridwan Nojeng perlahan-lahan berbuah hasil, mulai dari perataan tanah, lambat laun dibangun beberapa gazebo, pengunjung mulai datang, nama Lembah Hijau Rumbia perlahan dikenal masyarakat Jeneponto.

Di tengah angin sejuk, Ridwan kemudian mengajak saya berkeliling area Lembah Hijau Rumbia. Terdapat sebuah kolam renang di tengah kompleks, lalu sebuah lapangan luas di sisi lainnya, lapangan ini biasanya digunakan untuk kegiatan outdoor. Ada juga deretan kamar mandi yang bersih dan musholla berkonsep gazebo dan yang paling menarik adalah sawah hijau sejauh mata memandang.

Ketika Lembah Hijau Rumbia mulai membesar, Ridwan Nojeng tak lupa dengan masyarakat sekitar, ia masih ingat idealismenya ketika mengubah lahan kosong ini. Warga sekitar adalah prioritas utama dan Ridwan merangkul mereka untuk sama-sama mengelola Lembah Hijau Rumbia.

Dalam sistem pengelolaan Lembah Hijau Rumbia, Ridwan Nojeng hanya bertanggung jawab pada area Lembah Hijau Rumbia saja, pengelolaan dan operator yang ada dalam kompleks wisata diserahkan kepada warga.

Semisal parkir, Ridwan menyilakan warga yang mengelola, begitu juga penyewaan ban di kolam renang, Ridwan menyilakan warga yang membuka usaha penyewaan ban. Ridwan tidak mengutip apapun, ia sudah cukup dengan menyilakan warga mencari nafkah di tempatnya dengan demikian Ridwan bisa memberdayakan warga.

“Kemarin saya beli alat musik, saya minta warga yang main, dengan demikian saya membuka ladang rejeki untuk satu keluarga di desa.”

Pola keberpihakan Ridwan pada masyarakat memang menjadi idealisme utama. Karena dari awal Ridwan percaya bahwa wisata bisa membawa kemakmuran, maka Ridwan pun menjalaninya dengan tetap menjaga idealismenya.

Bahkan kini Ridwan melangkah jauh dengan mengajari warga membuat souvenir berupa boneka. Pemberdayaan ini melibatkan kaum perempuan di kampungnya yang selama ini hanya diam di rumah. Sebuah langkah untuk turut menggerakkan perempuan agar menjadi produktif secara ekonomi.

Belum lagi soal penamaan, jika egois Ridwan bisa saja menamai tempat ini dengan nama lain, tapi ia memilih memberi nama Lembah Hijau Rumbia. Dengan membawa nama Rumbia, Ridwan berharap orang-orang akan ingat Rumbia, kecamatan tempat Ridwan tinggal. Ingat Rumbia, akan ingat Jeneponto, dengan demikian Ridwan berharap semakin banyak orang akan turut datang ke Jeneponto berawal dari Lembah Hijau Rumbia.

Saya selalu percaya upaya pengelolaan tempat wisata seperti ini, yang mengutamakan pemberdayaan penduduk dan ramah alam akan bertahan lama karena ada timbal balik positif. Ridwan merangkul semuanya, tidak mengalahkan satu sama lain.

Semesta sepertinya memang merestui apa yang dilakukan Ridwan. Setahun silam Ridwan menerima apresiasi dari Astra, yaitu apresiasi SATU Indonesia Awards 2016 di bidang lingkungan. Atas usaha Ridwan yang mengelola lahan kosong menjadi lahan produktif, menjaga alam sekaligus memberdayakan masyarakat, apresiasi yang begitu tinggi dari Astra memang layak.

Ridwan tak berhenti sampai di sini untuk mengembangkan Lembah Hijau Rumbia. Saat ini Ridwan sedang membangun beberapa villa supaya pengunjung bisa menginap. Ridwan juga terus mengembangkan usaha pemberdayaan masyarakat.

“Karena saya tak mau maju sendiri, masyarakat harus ikut turut serta,” pungkas Ridwan.

Tabik.

Follow Efenerr on WordPress.com

2 KOMENTAR

  1. Hijau banget suasananya, jadi inget kampung halaman di Bandung.

    Saya senang setiap kali baca sosok inspiratif seperti bang Ridwan ini. Kalau di Jeneponto ada Ridwan, di Padang Pariaman ada Ritno Kurniawan. Apa yang dilakukan Ridwan dan Ritno perlu didukung oleh pemerintah daerah setempat dan juga menyebarkannya ke daerah lain.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here