Dekade 1960-an, ketika Soekarno mengundang insinyur Rusia untuk membangun kompleks Gelora Bung Karno, ada satu mimpinya, bangunan yang dibangun akan menjadi yang termegah di Asia Tenggara. Maka mimpi Soekarno terwujud, Stadion Gelora Bung Karno yang dulu dirancang berkapasitas 100 ribu penonton hingga kini menjadi salah satu stadion paling megah di Asia Tenggara.

Lewat setengah abad, Gelora Bung Karno kini bersolek dengan molek. Pada bulan Agustus nanti pesta olahraga se-Asia, Asian Games akan dihelat di Gelora Bung Karno. Tentunya stadion yang dulu dibangun oleh insinyur Rusia pun dirombak kembali. Proses revitalisasi yang cukup memakan waktu dilakukan agar Gelora Bung Karno bisa kembali megah, seperti saat dibangun dulu.

Proses revitalisasi Gelora Bung Karno prosesnya cukup lama, pasalnya adalah kompleks ini adalah kompleks bersejarah. Bahkan stadionnya sendiri adalah berstatus cagar budaya, oleh sebab itu proses revitalisasinya harus dilakukan dengan hati-hati. KemenPUPR dalam hal ini yang menjadi penanggungjawab revitalisasi harus mempertimbangkan banyak aspek, karena dalam revitalisasi cagar budaya ada bagian-bagian yang tidak boleh diubah sama sekali.

Begitu memasuki kompleks Stadion Gelora Bung Karno aura kemegahannya memang terasa sekali, fasadnya didominasi warna putih polos yang bersih. Saya memasuki tribun VIP, di mana untuk menuju ke sana saya masuk lorong-lorong khusus di bagian stadion. Baru sekali ini saya memasuki area ini, ternyata banyak sekali ruangan untuk beragam keperluan juga akses langsung ke bagian lapangan.

Dari lantai tiga ruangan yang juga merupakan akses langsung ke tribun VIP, saya melihat bagaimana seluruh kursi di Stadion Gelora Bung Karno sudah berganti kursi lipat. Ketika terakhir kali masuk stadion sekitar tahun 2008, kursi saat itu masih kursi kayu yang panjang, itupun sering dijebol oleh supporter. Sedangkan kini sudah berubah total, lebih nyaman dan memanusiakan penonton.

Sisi keamanan juga ditambah, pihak pengelola stadion kini memasang ratusan CCTV di area stadion untuk menjaga keamanan penonton. Perwakilan pengelola stadion sempat berkelakar bahwa CCTV ini bisa menangkap gerak lalat yang lewat di stadion, tentu kelakar ini karena saking banyaknya titik CCTV di area stadion.

Ada yang berubah dibandingkan penataan Gelora Bung Karno di masa lalu. Jika dulu terkesan eksklusif, kini kompleks Gelora Bung Karno justru membuka diri dan inklusif. Merunut konsep revitalisasi, kelak kompleks Gelora Bung Karno akan dijadikan pusat aktivitas warga sehingga seluruh fasilitasnya pun didesain agar bisa dimanfaatkan oleh masyarakat umum.

Konsep perubahan ini memang sudah dirancang oleh KemenPUPR yang dalam merombak Gelora Bung Karno turut melibatkan Ikatan Arsitek Indonesia. Keterlibatan ini merupakan wujud komitmen pihak pemerintah untuk melibatkan arsitek lokal agar turut mengerjakan proyek kelas dunia.

Konsep inklusif ini turut terlihat dari taman-taman yang ada di dalam kompleks. Sekarang taman-taman yang ada di dalam kompleks diperbaiki seluruhnya, dipercantik dan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat umum.

Dalam proses revitalisasinya ini, pihak pengelola Stadion GBK mengundang Holcim untuk berpartisipasi. Sebagai perusahaan yang memproduksi semen sebagai hasil produksinya, Holcim membangun beberapa ruas pedestrian di taman-taman di sekitar Gelora Bung Karno.

Saya turut melihat ke bagian Taman Krida Loka yang dibangun oleh Holcim. Di bagian pedestrian Holcim membangun pedestrian yang ramah alam dengan memasang beton berteknologi Thru Crete. Beton ini adalah produksi Holcim yang mampu menyerap air hingga 75 liter air per meter persegi beton. Teknologi ini tentunya akan mambuat air langsung meresap ke dalam tanah melalui pori-pori beton, tanpa harus terbuang sia-sia.

Demo Beton Thru Chrete

Pada saat demo ditunjukkan bagaimana aliran air memang benar-benar langsung diserap oleh beton dan masuk ke bawah tanah. Teknologi ini kelak bisa menggantikan beton konvensional yang tak mampu menyerap air.

Rupa-rupanya di Jakarta beberapa ruas pedestrian sudah menggunakan beton teknologi canggih ini. Diantaranya ada di Mahakam dan Barito, semoga saja kelak menyusul ruas-ruas pedestrian lainnya.

Usai dari taman, saya menuntaskan kunjungan ke kompleks Gelora Bung Karno. Para pekerja tampak sibuk menyelesaian beragam pekerjaan infrastruktur untuk Asian Games. Saya sendiri tak sabar menanti bagaimana kelak stadion ini akan menjadi venue pembukaan Asian Games 2018 yang pastilah akan penuh gegap gempita.

Tabik.

 

Follow Efenerr on WordPress.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here