Kala pertama tiba di sebuah kota saya selalu membayangkan bagaimana rasanya menikmati kota dari gang-gangnya. Di Berlin pun sama, saya ingin menikmati kotanya dengan lebih intim. Untungnya di family trip Scoot Airlines ini ada tawaran tour sepeda keliling Berlin, tentunya hal yang menarik untuk dijajal, sepedaan di Berlin, keliling kota, masuk gang-gangnya, menikmati kota dan budayanya.

Berlin memang kota penuh sepeda. Mayoritas penduduk Berlin menggunakan sepeda dan kereta untuk alat transportasi. Di jalan raya ada jalur pesepeda, stratanya lebih tinggi dari mobil karena mobil-mobil di Berlin sangat menghormati sepeda. Bahkan sepeda boleh masuk ke kereta, jadi orang Berlin bisa menggunakan sepeda lalu bisa menyambung dengan kereta. Tidak ada larangan memasukkan sepeda ke kereta, bahkan ada gerbong khusus untuk para pesepeda.

Jalur sepeda

Sepeda juga berserakan di seluruh penjuru kota. Di tempat parkir lebih banyak sepeda daripada kendaraan bermotor. Bahkan orang Berlin tampak seenaknya saja menaruh sepeda, tinggal taruh di pagar atau tiang listrik lalu dirantai. Jadi di antara bangunan yang rapi, pasti ada sepeda yang ditaruh sekenanya.

Namun, itulah Berlin. Nyaman sekali untuk bersepeda, keamanan di jalan dijamin dengan jalur sendiri. Segala fasilitas umum juga bisa diakses oleh pesepeda. Selain itu kontur kotanya juga landai datar, enak untuk bersepeda. Satu lagi yang paling menyenangkan adalah, kotanya minim polusi! Nyaman sekali kan sepedaan di Berlin?

Tour sepeda di Berlin ini dilakukan bersama dengan Berlin on Bike yang merupakan tour operator sepeda terpopuler di Berlin. Ada banyak pilihan turnya, mulai dari tour tempat-tempat populer, tour ke taman sampai tour spesifik misalnya ke peninggalan era komunis hingga tour tembok Berlin. Harga tournya bervariasi, misalpun tak ingin ikut tur dan hanya sewa sepedanya saja pun bisa.

Tur sepeda yang saya ikuti adalah bagian dari Green Berlin Tour, tur ini mengunjungi tempat alternatif berupa taman, tempat publik juga beberapa kawasan residensial di Berlin. Waktu tur adalah empat jam dengan jarak tempuh kurang lebih tigabelas kilometer.

Jalur sepeda

Ada beberapa aturan yang harus dipahami untuk bersepeda di Berlin. Pertama adalah pesepeda harus laju di jalur sepeda. Kedua, helm bebas dipakai atau tidak, resiko ditanggung pengendara. Ketiga, lonceng digunakan dengan hati-hati agar tidak mengganggu suasana. Selebihnya tinggal pancal.

Saya membutuhkan adaptasi ketika menggunakan sepeda dari Berlin on Bike, ukuran sepedanya terlalu bongsor bagi postur asia saya. Lingkar bannya pun lebih besar dari lingkar ban di Indonesia. Sepedanya khas Berlin, ada keranjangnya di bagian belakang sebagai tempat tas. Begitulah sepeda di Berlin, karena dipakai untuk berangkat dan pulang bekerja jadi ada tempat tas.

Orang-orang Berlin memang sudah terbiasa dengan sepeda. Berpakaian formal pun bersepeda, acapkali ditemukan orang-orang memakai jas sambil menggenjot sepeda, wanita-wanita pun bergaus resmi santai saja dengan sepeda. Mungkin karena cuaca di Berlin yang tak terlalu panas jadinya nyaman bersepeda, saya tak bisa membayangkan jika bersepeda dengan kostum jas di Jakarta. Mungkin keringatnya udah seperti kuah bakso, tak terkira banyaknya.

Saya tak mengalami kesulitan saat bersepeda di Berlin. Sesungguhnya sangat mudah, tak ada kemacetan, tak ada tanjakan dan yang jelas tak ada polusi! Segar! Sebagai orang yang biasa bersepeda di Jakarta, bersepeda di Berlin jelas sangat mudah, bisa melaju kencang, tak perlu beradu dengan kendaraan bermotor karena mereka menghormati pesepeda, yang jelas tak perlu menghirup asap hitam Metro Mini.

Tur sepeda yang saya ikuti santai sekali. Melewati beberapa taman, berhenti di cafe, minum-minum kopi dan makan cemilan barang sejam, lalu lanjut lagi. Pemimpin turnya adalah orang Australia yang sudah menetap di Berlin hingga beranak pinak, ia hafal betul sudut-sudut Berlin.

Dua highlight tur ini adalah Viktoria Park, taman ini adalah taman yang besar sekali sampai ada air terjun dan bukit buatan. Taman yang dibangun di abad ke-19 hingga sekarang masih menjadi salah satu yang termegah di Berlin. Pohonnya tinggi-tinggi benar dan orang-orang banyak yang bersantai di taman ini.

Selanjutnya tempat menarik bagi saya adalah bekas bandara Berlin, Templehof. Ini adalah bandara supermegah yang sempat menjadi bandara utama di Berlin dan kemudian ditutup karena lokasinya di tengah kota. Kini bandara ini menjadi ruang publik yang sangat besar, bengunan terminal dan hanggarnya kosong sementara area bekas taxiway dan runwaynya menjadi tempat jogging. Biasanya tempat ini ramai di akhir pekan dan kadang digunakan untuk konser atau festival musik berskala besar.

Setelah empat bersepeda mengelilingi Berlin, saya jadi tahu kenapa sepedaan di Berlin sangat nyaman. Pertama infrastruktur sangat mendukung para pesepeda, kedua kontur dan cuacanya. Pantas saja di Berlin orang-orang lebih memilih bersepeda daripada menggunakan mobil, lebih murah dan cepat.

Saran saya, jika ingin menikmati Berlin hingga sudut kotanya barangkali mengikuti tur sepeda dari Berlin on Bike bisa jadi pilihan.

Tabik.

 

 

Follow Efenerr on WordPress.com

19 KOMENTAR

    • Ada dua jalur, Mas. 🙂

      Ada yang di aspal, jalurnya dipisahkan dengan garis pembatas. Satu lagi di trotoar, biasanya kalau trotoar itu untuk jalur sempit di daerah pemukiman yang mana jalan aspalnya digunakan untuk parkir.

  1. Eropa memang sudah jadi “surga” untuk para pesepeda, disana infrastrukturnya mendukung banget ya kang?
    Semoga kedepannya hal-hal yang seperti ini bisa diterapkan di Indonesia dengan optimal.

  2. Tur yang seperti ini nih yang saya pinginin kalau ke negara lain, pakai sepeda keliling, lebih kenal ke sudut2 Kota or daerahnya, kalau pakai bis or Mobil ke mana2, cuma bisa lihat dari kaca jendela, mas Ef sudah sampai ke Sana saja, masih mupeng sama cerita Machu Piccunya

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here