Saya tiba di Phnom Penh di sore yang panas. Hawa di Phnom Penh sama dengan Jakarta, hanya lebih lembap dan keringat, rasanya tak nyaman di badan. Semenjak keluar dari pesawat yang terpikir hanya minum air dingin demi menguapkan panas. Rasanya aneh juga, jam lima sore tapi matahari begitu terik, masih terang benderang tak ada tanda-tanda mau tergelincir jadi senja.

Phnom Penh adalah Jakarta tahun 80 atau 90-an. Di bandara saja masih ada tuktuk dan bajaj menunggu penumpang. Rumah-rumah masih berfasad sederhana dan di tengah kota hanya ada beberapa bangunan pencakar langit, satu yang mentereng dibangun tepat di seberang stasiun kereta api.

Dari bandara ke tengah kota saya naik kereta bandara. Masih gratis karena masih promosi. Lokomotifnya diesel, lebih mirip traktor daripada kereta, lokomotifnya warna kuning dengan suara mesin kencang meraung. Kereta penumpangnya hanya satu dengan kursi berhadapan dan ac split mirip ac rumah.

Saya harus menunggu cukup lama. Jam kedatangan berubah-ubah. Rupanya karena macet jalanan. Kereta memang melewati jalan raya, relnya di tengah jalur. Akibatnya kereta harus jalan pelan-pelan sekali. Bahkan ketika menyeberang jalan tak ada palang perlintasan, hanya petugas yang memberhentikan kendaraan secara manual, jumlahnya dua orang. Selain memberhentikan mereka juga teriak-teriak dan memarahi pengguna jalan yang tak mau berhenti.

Di bandara masih terang, tiba di stasiun sudah gelap gulita. Tinggal para penumpang dari bandara di peron stasiun. Omong-omong saya suka stasiunnya, besar sekali bentuknya khas bangunan kolonial. Atapnya lengkung gagah. Orang-orang jaman dulu senang sekali membangun sesuatu yang gigantis tampaknya, asal gagah, asal besar, terkesan intimidatif.

Dekat stasiun ada pasar malam. Isinya beraneka rupa, mulai makanan sampai barang-barang imitasi. Murah-murah, di sini kelas pekerja Phnom Penh menghabiskan malam berbelanja barang-barang yang terjangkau kantong. Saya dan istri sempatkan beli mie goreng di sini, tanpa daging karena takut daging tak halal. Rasanya mirip mie tektek di Jakarta dengan minyak yang lebih berlimpah, ada manisnya, ada pedasnya ada juga asin micinnya.

Phnom Penh punya banyak bangunan tua, dari era kerajaan hingga kolonial. Mungkin modernisasi ibukota ini terhambat era perang saudara. Memanglah di dekade perang saudara, Kamboja penuh kesuraman, perang bagaimanapun tak pernah mendatangkan kejayaan, hanya kesengsaraan. Saya pun tinggal di hotel yang bangunan tua, Raffles Hotel Le Royal. Lokasinya tepat di jantung kota, sebelah hotel ada Kementerian Keuangan Kamboja, itu juga bangunan tua. Sampingnya lagi ada bangunan Perpustakaan Nasional, dari depan mirip Parthenon di Athena dengan pilar-pilar raksasa, ini juga bangunan tua.

Raffles Hotel Le Royal

Nama Le Royal ini karena memang hotel ini dibangun oleh pihak Kerajaan Khmer tahun 1927 dan beroperasi 1929, kala itu Kamboja masih sebagai protektorat Perancis dan hotel ini menjadi salah satu hotel terbaik di Phnom Penh. Saya mendapat kamar dengan ranjang antik, bahkan masih ada kipas angin baja khas zaman dulu. Detail antiknya sangat terasa, sampai ke saklar lampu pun masih sangat vintage.

Hotel ini hingga sekarang menjadi hotel terbaik di Phnom Penh. Banyak tamu yang merasakan romantika masa lalu di sini. Saya pun merasa terbang ke era lampau saat menginap di hotel ini. Mungkin seperti para aristokrat Perancis di era 1930-an.

Phnom Penh adalah kota yang ramah sekaligus galak pada wisatawan. Ramahnya dari sisi pelayanan, mayoritas pengemudi tuktuk bisa bahasa inggris, jadi takkan ada kesulitan berkomunikasi. Galaknya adalah di sini cukup banyak copet, jadi sebaiknya berhati-hati apabila berjalan-jalan dan membawa barang bawaan.

Di dalam Bajaj

Kemampuan berbahasa inggris para pengemudi tuktuk di sini mengagumkan. Minimal bisa berbahasa inggris dasar. Orientasinya sudah pelayanan, tuktuk tak cuma berorientasi penumpang lokal tapi sudah turis, makanya tuktuknya bersih dan dalam kondisi baik pun di jalan tak ugal-ugalan. Tarifnya pun rata-rata standar, masih bisa ditawar-tawar namun ada harga standar minimal. Biasanyapun, tuktuk di Phnom Penh bisa disewa harian dengan pengemudi tuktuk sebagai pemandu wisata.

Saya cukup takjub dengan tata kota Phnom Penh. Kotak-kotak presisi terbagi menjadi blok-blok kotak. Wajar bentuknya seperti ini ada campur tangan kolonial. Sampai sekarang tinggalan blok ini masih terjaga di beberapa area. Biasanya dalam beberapa blok ada satu taman sebagai area publik. Taman-taman di Phnom Penh pun tertata rapi jali. Luas-luas dan beberapa ada patung monumentalnya.

Dari sisi kotanya, Phnom Penh bersih sekali. Jalan-jalan protokol lebar dan jalanan lancar. Ada macet tapi tak terlalu signifikan jika dibandingkan Jakarta. Bedanya hanya di transportasi publik yang mana di Phnom Penh baru ada bis kota saja, itupun sedikit. Mayoritas tergantung pada Tuktuk dan Bajaj.

Berjalan-jalan di Phnom Penh itu semacam berjalan di tempat ramai tapi banyak yang diam. Kata kolega ini efek perang saudara, di era Khmer Merah zaman lalu banyak sekali penindasan, itu menyebabkan orang Kamboja irit bicara. Kebiasaan ini terbawa hingga sekarang. Karenanya di jalanan orang-orang banyak yang mukanya datar dan minim senyum.

Bagusnya adalah kota ini bersih sekali dan trotoarnya cukup lebar. Jadinya nyaman bagi pejalan kaki untuk mengelilingi kota. Di jalan protokol tertib, tidak ada pedagang kaki lima yang berdagang dengan cueknya. Rata-rata sudah dilokalisir di lokasi tertentu dan kebanyakan pedagang kaki lima menggunakan sepeda motor bergerobak dan tidak menetap di satu tempat cukup lama.

Jika siang ada beberapa jenis pedagang kaki lima, yang pertama adalah penjaja minuman dingin dan buah. Jika malam berbeda lagi, mereka menjajakan bakmi goreng dan beragam olahan daging goreng macam nugget dan sosis. Ada juga yang berjualan gorengan macam pastel dan pisang goreng dengan bermacam variannya.

Tak ke sebuah kota tanpa melawat ke pasarnya. Saya pergi ke dua pasar ternama di Phnom Penh. Pasar pertama adalah Central Market, bentuk luarnya mirip kuil penyembahan dengan kubah besar di tengah dan membentuk sudut empat juru. Fasad luar pasar ini berwarna kuning terang, sekali tengok langsung terlihat karena terlalu mencolok.

Central Market dari luar

Bagian dalam pasar ini lebih mengagumkan. Kubahnya membentuk lengkung besar nan presisi. Sementara tiang-tiangnya merenggang ke empat penjuru. Pasar ini bersih sekali juga tertata rapi. Kebanyakan yang berjualan di tempat ini adalah para pedagang perhiasan juga pakaian. Strata pasar ini adalah strata pasar elit, karenanya pengelolaannya pun rapi sekali.

Kubah Central Markat

Empat kilometer dari pasar ini ada Russian Market yang sebenarnya bernama Psah Toul Tom Poung. Dinamai Russian Market bukan karena Kamboja dulu sempat berideologi komunis, tapi karena dulu di tahun 1980-an banyak orang-orang Rusia belanja di pasar ini. Akhirnya orang-orang Phnom Penh menamai pasar ini dengan Russian Market.

Kalau suka belanja souvenir di sinilah tempatnya. Bagian depan pasar ini adalah para pedagang souvenir. Mulai dari souvenir kecil-kecil macam gantungan kunci hingga souvenir macam lukisan dinding ada semua. Harganya pun murah, sudah begitu masih bisa ditawar sampai mepet.

Pedagang Baju di Russian Market

Di sini juga banyak baju bermerk dengan harga murah. Konon asli, rembesan dari pabrik tekstil yang diselundupkan ke luar. Di Kamboja memang banyak pabrik tekstil yang membuat produk maklon dari banyak brand luar. Industri ini menjadi penopang ekonomi Kamboja. Ongkos produksi dan upah buruh yang murah membuat banyak brand membuat barangnya di Kamboja. Dari pabrik-pabrik itulah sebagian barang rembesannya masuk ke Russian Market.

Kalau soal bersih pasar ini nomor dua dibandingkan Central Market. Tapi kalau soal turis yang mampir, Russian Market lebih banyak turis yang datang. Mereka berburu barang unik untuk souvenir, ketika saya menelusup ke lorongnya, ada yang sedang tawar menawar sebuah lukisan dinding berukuran besar. Saya sampai takjub, bawa ke negaranya macam apa.

Sisi lain Russian Market adalah pasar ini juga merupakan pasar untuk kebutuhan sehari-hari seperti sayur, daging dan beragam kebutuhan sehari-hari dan di bagian ini yang masuk ke pasar adalah orang-orang lokal. Berada di bagian ini rasanya seperti pasar di Indonesia, berisiknya sama, tawar menawarnya sama, beceknya sama, ruwet-ruwetnya sama dan keramahan pedagangnya sama.

Saya membeli beberapa barang di pasar ini, bayarnya menggunakan dolar kembaliannya menggunakan Riel. Kamboja memang salah satu negara yang menggunakan mata uang dolar amerika sebagai mata uang resmi. Perbandingannya mudah, 1 dolar amerika setara dengan 4000 riel, perbandingan ini berlaku di seluruh negeri.

Makanya pada saat ke Kamboja saya tak kesulitan, tinggal bawa dolar amerika saja dari Indonesia. Harga makanan cukup murah jika disetarakan dalam rupiah, sekitar 20-39 ribu. Yang lebih ajaib adalah harga bir di Phnom Penh lebih murah daripada air mineral. Harga bir sekiranya 0,5 dolar amerika sementara air mineral 0,6 sampai 1 dolar.

Satu hal terakhir yang saya suka dari Kamboja adalah banyaknya bangunan tradisional di sudut kota. Di Phnom Penh bangunan dengan stupa runcing berundak mudah ditemukan, bahkan jadi signature khas bangunan.

Saya jalan-jalan ke Istana Kerajaan yang atapnya megah-megah, di sekitarnya ada tiga empat bangunan dengan atap stupa runcing ini. Beberapa di antaranya gedung pemerintah. Mungkin demikian jika sebuah negara masih mempertahankan sistem kerajaan juga sistem aksara tradisionalnya. Hal-hal yang tradisional masih dijaga dan dipertahankan termasuk bangunan dengan fasad tradisional masih lestari hingga kini.

Istana Kerajaan

Lima ratus meter dari Raffles Hotel Le Royal ada bangunan tua yang menjadi salah satu ikon Phnom Penh, vihara Wat Phnom. Konon ada sejak abad ke-14 dan menjadi pelindung kota. Sekarang ini jadi tempat ibadah juga menjadi tempat wisata. Pengunjung lokal gratis, namun turis membayar satu dolar. Saya naik hingga bagian atas vihara dan melihat bagaimana orang lokal merapal doa dengan khusyuk dan berbagi ruang dengan para turis yang juga diberi area khusus.

Tempat Wat Phnom berdiri juga merupakan ruang publik yang luas. Tamannya hijau dan bersih, ada jam raksasa di sisi bawah Wat Phnom yang cukup fotogenik dan menjadi latar berfoto bagi banyak berkunjung. Hanya saja jika ke sini jangan sore atau malam, tempat ini cukup rawan, lebih baik datang ke Wat Phnom saat pagi atau siang hari.

Walau kesannya Phnom Penh seperti Jakarta tahun 80-90an tapi paduan beragam rupa macam yang ada di kota ini sangat menyenangkan. Era modernitas ditandai dengan bukanya beberapa mall di kota. Ada satu yang berada di bangunan pencakar langit tertinggi di kota dengan tenant brand mahal. Tampaknya cukup elit.

Kamboja sepertinya sedang mereguk madu ekonomi. Walupun ketimpangan ekonomi masyarakatnya cukup nampak, tetapi tampak sekali perkembangan ekonomi yang menggeliat. Infrastruktur dibangun di sana-sini, juga mobil mobil mewah melintas. Saya melihat Bentley, Rolls Royce sampai Ferrari di jalanan Phnom Penh. Bantuan dari Tiongkok mengucur deras dalam berbagai bentuk.

Soal mobil ini saya juga terheran-heran sendiri. Jarang sekali mobil murah macam di Indonesia di jalanan Phnom Penh. Tak ada Avanza, Xenia, yang paling banyak wara wiri justru mobil double cabin seperti Ford Ranger, Mitsubishi Pajero sampai Toyota Hilux. Ketika saya pesan taksi melalui aplikasi taksi online, yang datang adalah Toyota Camry. Saya sampai ternganga sendiri pas masuk taksi, apa-apaan ini, bayar 2 dolar naik Camry. Ketika ke bandara untuk pulang ke Indonesia, saya dapat taksi dari aplikasi online Toyota Prius Hybrid. Di Jakarta ini dipakai adu gengsi, di Phnom Penh jadi taksi. itupun mobilnya sampai berdebu.

Mungkin ini karena kelas menengah di Kamboja belum menggeliat. Jadi ada gap sangat lebar antara orang kaya dan orang papa Phnom Penh, itulah kenapa mobil bagus melenggang mulus di jalanan sementara Tuktuk dipenuhi penumpang juga berjalan bersisian.

Secara umum Phnom Penh menarik sekali untuk dikunjungi. Banyak aspek budaya, kuliner sampai hiburan yang bisa dijelajahi. Saya sendiri ketiban pulung ketika ke Phnom Penh, saya datang saat pemilu sehingga semua tempat wisata tutup, tetapi jadi mendapat berkah karena saya bisa menjelajah Phnom Penh sembari menikmati kehidupan rakyat dalam kesehariannya. Tiga hari di Phnom Penh rasanya belum cukup, saya dan istri sendiri cukup menikmati bagaimana alur hidup di Phnom Penh mengalun pelan sekali. Di pagi hari jalanan masih senyap, di sore hari orang-orang berkumpul di taman-taman menanti senja, ada yang senam, ada yang melukis, ada yang menari dan ada juga muda-mudi yang beradu asmara.

Yang paling saya sukai adalah, jalan-jalan ke Phnom Penh sebagai saudara serumpun itu menyenangkan, saya dan istri dikira orang lokal, jadi tak dicurigai sebagai turis. Mongoloid Privillege. 

Tabik.

 

 

Follow Efenerr on WordPress.com

28 KOMENTAR

  1. Bisa dibilang, Phnom Penh ini lebih teratur dari Jakarta ya, Mas?
    Semoga kota-kota di Indonesia bisa mengikuti keteraturannya dan jangan karena gap antara si kaya dan si papa menipis lalu Phnom Penh ikut semrawut seperti Jakarta. :”D

  2. Jadi kenapa banyak mobil bagus di PP, karena sebagian besar mobil itu adalah mobil bekas dari luar Cambodia. Misalnya dari Amerika. Dan pajak mobil dan motor di sana murahnya setengah mati. Saya inget mobil temen saya itu Toyota Rav4, kalo nggak salah pajaknya cuman USD20. Kalo motor sekitar USD5.

  3. Phnom Penh ini ibarat Bangkok tempo doeloe, Bangkok tanpa Skytrain dan MRT, Bangkok tanpa gedung-gedung tinggi. Bagusnya kota-kota bekas jajahan Perancis memang di tata kotanya ya, mas. Lebih rapi membaginya secara grid. Urusan kebersihan dan pengelolaan taman, nampaknya memang Phnom Penh lebih unggul dari Jakarta.

    Ternyata kereta bandaranya gitu banget yak. Udah mah bentuk lokomotifnya kayak traktor, suara mesin berisik, jadwal nggak menentu, lajunya pun tak segesit kereta bandara pada umumnya. Menurutku sebetulnya belum siap, namun mereka “selak kebelet” punya “airport train” meski apa adanya.

  4. Kak selama berapa hari disana ? kalo boleh minta saran, berapa budget yang perlu di persiapkan untuk perjalanan seminggu misalnya ? terima kasih kak…

  5. Keren ya kotanya, bersih tanpa banyak gedung pencakar langit kaya di Jakarta. Keretanya juga unik, malah masih kalah dengan suasana kota Medan juga itu,.

  6. duhh tahun lalu gagal ke PP karena tiket promonya keburu raib, jadinya melipir ke Siem Reap deh..
    Jadi masih penasaran sama ibukota Kamboja ini.
    lihat foto-fotonya terlihat lebih bersih dan rapi dibandingkan Siem Reap yaa.
    di PP mudahkah cari makanan halal, mas? soalnya di Siem Reap makanan halal terbatas, hanya resto india dan timur tengah yang punya label halal.

  7. Benar ya, orang2nya kamboja 11/12 sama kita-kita ya wajahnya. Perbedaannya mungkin hanya di tingkat kemurahan senyum masyarakatnya saja. Jadi pengen kesana nih, moga2 aja ada kesempatan dan duit yang cukup. Hehe

  8. Buset… bulan Agustus. Update ngapa, mas? ?
    Aku belom pernah ke pnompenh. Dari fotonya bagus2 binggo yah.
    Rada ngeri sih ke sana, di tivi aku denger berita riuh ttg Kamboja.
    Pengen ke tempat syuting Lara Croft. Halah… seru tuh.
    Yang ada akar2 pohon merambat di dinding… (cicak?)
    Kalo rame-rame aku berani nih ke sana.

    Buset mobilnya berdebu. Ini nih, kalo sepupuku yg naik.. dia pasti nanya, mobilnya gak pernah dibersihin. Hahahah suka asal jeplak orangnya. Apa adanya gitu kalo ngomong apa adanya. Waktu naik uber di benua sebelah aja ada permen karet di bawah handle pintu kan.. ditanya gitu ke drivernya (aku belom pernah, dia cerita).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here