Disclaimer : Bukan iklan. Bukan endorsement. Dibeli dengan uang istri.

Saya adalah orang yang tak berjodoh panjang dengan smartphone, pasti ada saja kejadiannya, jika tidak hilang ya rusak. Kalau kata istri saya karena teledoran jadilah smartphone yang saya miliki selalu berumur pendek. Sebelum memilih Samsung Galaxy S9 ini saya pakai iPhone 6 yang dulu belinya masih kinyis-kinyis dan berakhir tiba-tiba mati total setelah sebelumnya sempat ganti layar dan mesin karena jatuh dari motor.

Ganti smartphone bagi saya seperti ganti kebiasaan, apalagi ini ganti sistem dari iOS ke Android. Sebagai orang yang seluruh ekosistem gadget saya dari Apple, ada sedikit penyesuaian ketika Smartphone-nya menggunakan Android. Namun, saya tak asing kok dengan Android, beberapa waktu sebelumnya saya pernah pakai Samsung pernah juga Sony, Acer dan Lenovo untuk android. Jadi penyesuaiannya tak terlalu lama.

Selain soal ganti kebiasaan, saya juga makin sebal dengan ukuran smartphone zaman sekarang yang makin besar. Sungguh tidak praktis, saya sendiri lebih senang smartphone yang kecil dan pas dalam genggaman pun enak dimasukkan ke saku.

Anyway kenapa memilih Samsung Galaxy S9?

Jadi begini, Samsung Galaxy S9 ini sebenarnya adalah hadiah ulang tahun dari istri saya. Jadi ketika awal tahun 2018 ini iPhone 6 saya mati total dengan tiba-tiba, saya pakai lagi Samsung J5 yang terakhir saya pakai tahun 2017. Ponsel 2 tahun lalu yang baterenya sudah kembung ini saya pakai untuk sehari-hari dan tentu saja lemotnya setengah mati karena sudah usang sistemnya.

Istri yang kadang-kadang sepet sendiri lihat smartphone saya tiba-tiba mengajak ke toko smartphone lalu bilang “Udah sana pilih sendiri, nanti aku yang bayar”.

Wow! Sebuah kejutan ulang tahun yang tak diduga-duga. Saya nanya istri boleh smartphone apa saja? Dia bilang boleh.

Baiklah.

Soal smartphone kalau bisa beli flagship tertinggi di merk tersebut demi mengejar sisi kualitasnya. Kalau smartphone yang terlalu banyak promo keunggulan smartphone-nya sebenarnya justru smartphone itu ga unggul-unggul amat dan sangat biasa saja. Makanya untuk jualan si produk smartphone biasanya memoles dengan bahasa merketing dengan promo berbagai keunggulan. Ya ibarat mobil LCGC dibubuhi bunga-bunga agar tampak seperti mobil mewah.

Padahalmah.

Sementara model-model flagship macam Samsung S9 atau saingannya iPhone-X kan saat promo tak terlalu pakai narasi yang aing-aing, tak pake banyak buzzer yang juga sering ngebuzzerin banyak merek smartphone lainnya, tak pakai kuis-kuisan, tak pakai boneka-bonekaan di pinggir jalan. Cukup rilis dan orang-orang sudah yakin dengan kualitasnya lalu beli. Kalau smartphone yang promonya terlalu gencar dan ramai, biasanya sih bukan flagship tertinggi dan butuh gimmick yang ramai.

Di akhir, kenapa memilih Samsung Galaxy S9 adalah semata soal harga saja. Dengan komparasi dengan iPhone X, harga Samsung Galaxy S9 hanya separuhnya. Best value for money, sisa uangnya bisa dialihkan ke reksadana atau saham, kan?

Jadi bisa dikatakan, tanpa melihat spek, tanpa melihat fitur-fitur yang dipromosikan hiperbolis, saya hanya mempertimbangkan label sebagai flagship tertinggi, bandingkan harga dan fitur dengan flagship lain yang setara, akhirnya saya memilih Samsung Galaxy S9 dan istri ke kasir untuk membayar.

Sebenarnya buat apa sih beli mahal-mahal, apa ga sayang duitnya? Saya sih berharap smartphone ini awet ya mengingat teledornya saya. Pengalaman saya teledor ini akhirnya saya bundlingkan dengan asuransi biar kalau ada apa-apa ga mahal-malah amat. Wong sekarang saja tempered glass-nya udah retak-retak. Hihi.

Dulu saya sempat beli smartphone menengah dengan harga 1,5-3 jutaan, dua kali sempat beli. Berujung kecewa karena belum satu tahun biasanya sudah ngos-ngosan performanya. Jadi kalau memang ada rezeki lebih, kenapa ga sekalian kan? Asal tak banyak godaan untuk ganti, umur ekonomis beli smartphone flagship tertinggi itu bisa lebih lama.

Performa?

Harga menentukan performa atau sebaliknya? Jika dibandingkan antara iOS dan Android, dulu saya percayanya kalau iOS itu lebih efisien di software, jadi dengan hardware ga tinggi-tinggi amat softwarenya bisa maksimal. Sepanjang 2 tahun pakai iOS saya ga pernah merasakan error di software, lancar jaya, sekalinya rusak ya jatuh dari motor sampai berkeping-keping itu.

Namun, beberapa bulan menggunakan Samsung Galaxy S9 ini saya bisa bilang kalau Android sekarang performanya juga efisien. Lebih sat-set, ya jelas karena speknya tinggi. Namun, apa yang saya dapatkan sebanding dengan harganya.

Sebagai seorang socmed specialist misal, segala macam scheduling, email, pdf, aplikasi medsos itu sendiri, chat, gallery, pemutar video, aplikasi edit foto, aplikasi edit video bisa dibuka bersamaan dan/atau ganti-ganti aplikasi tanpa lag. Jelaslah ya sampai di sini performanya seperti apa.

Menyebalkannya adalah, semakin canggih smartphone dan banyak aplikasi, maka semakin butuh internet yang cepat. Yang jadi masalah adalah kadang kualitas jaringan di Indonesia ini menyedihkan, kalah canggih dengan smartphonenya, jadi di suatu titik saya merasa useless, bukan karena smartphonenya, tapi karena putus asa karena jaringan interenetnya. Padahal sudah 4G lho!

Silakan tebak sendiri operator apa yang sudah 4G tapi malah kadang ga nyambung ke internet.

Saya tak membandingkan performa pakai alat meter yang ada angka-angkanya. Biarlah itu ahli smartphone saja yang membandingkan. Bagi saya no-lag, no memory low, no delay time sudah sungguh sesuatu ukuran powerfulnya suatu smartphone.

Ada apa lagi sih fiturnya?

Sampai sekarang, smartphone ini terus memberikan kejutan. Sensornya banyak banget, sensor gerak, sensor wajah, sensor mata bahkan ada sensor detak jantung segala. Bixby-nya juga powerful. Bahkan saya kadang mikir, sudah ada Google Assistant masih ada Bixby juga, double combo personal assistant.

Kamera? Bagaimana dengan kamera? Ya untuk kamera smartphone sudah canggih lah, bisa dikatakan unggul dibanding yang lain dengan segala macam modenya. Mau bokeh-bokehan berani, mau manual setting berani, mau HDR berani.

Tetapi saya bukan orang yang mau promo kamera smartphone seolah-olah kamera smartphone itu bisa mengalahkan kamera betulan. Ya tetap tak bisa, namanya kamera smartphone sampai kapanpun tak akan bisa mengalahkan kamera betulan. Jadi kalau ada yang mengklaim kamera bisa sepowerful kamera betulan, entah itu brand-nya, entah itu buzzernya, ya wajib skeptis. Mendekati bisalah dengan efek-efeknya tapi sepowerful kamera betulan ya tetap tak akan bisa.

Hasil kamera Samsung Galaxy S9

Saya memang tak memakai kamera di smartphone sebagai kamera utama. Karena saya fotografer ya saya bawanya kamera beneran, mirrorless. Smartphone ya smartphone, untuk telepon dan kerja, bukan untuk moret dan menjadikan kamera smartphone sebagai fitur utama. Namun, kalau mentok, misal kamera saya habis baterai atau habis memori ya kamera dari smartphone ini masih sangat bisa diandalkan dengan kualitasnya.

Dari sekian banyak fitur kamera di Samsung Galaxy S9 ini yang paling sering saya pakai ya fitur bokehnya. Maknyus tipisnya, kalau moto orang dan moto makanan, bokehnya berasa pakai lensa Fujinon XF56 1.2, ajaib.

Hasil kamera Samsung Galaxy S9

Smart chargernya juga sangat bermanfaat. Sebagai orang yang mobile dan butuh daya, waktu isi baterai ini sangat cepat sehingga saya merasa sudah tak butuh lagi powerbank. Untuk 0-10% hanya butuh waktu sekitar 15 menit dan bisa dipakai untuk sejam-an, tergantung aplikasinya.

Untuk traveling sudah mumpuni, Bixby terkoneksi dengan GPS dan memberikan rekomendasi tentang tempat tersebut. Untuk blogging juga cepat, saya bisa ngedraft, edit foto, sampai upload di smartphone tanpa gangguan. Pokoknya tak usah ragu dengan tingginya spesifikasi smartphone karena bisa digunakan dengan lancar.

Sebagai pemakai saya juga terbiasa menyiksa performa smartphone ini dan sampai sekarang tak ada masalah. Makanya ketika nulis review pun saya ga ada masalah, wong memang ini smartphone handal. Bukan terkesan dihandal-handalin, memanglah handal.

Kekurangan

Yang jelas yang harus diperbaiki Samsung adalah kalibrasi warna pada layarnya. Saya merasa layarnya mengeluarkan warna yang terlalu vivid dengan kontras yang tinggi. Jadi saya sedikit kesulitan melakukan post processing pasca memotret. Warna dari kamera ke smartphone cukup meleset. Saya sudah mencoba beberapa settingan layar tetap meleset semua.

Karena kalibrasi warna adalah hal yang esensial bagi saya sebagai fotografer, maka saya menyarankan agar Samsung juga mulai memikirkan sisi teknis kalibrasi warna pada layarnya. Selain itu saya kira tidak ada kekurangan dari smartphone ini, eh ada, pembungkus kabel pada charger terlalu tipis, jadi gampang terkelupas.

Rekomendasi

Kalau budgetnya cukup, beli.

Tabik

Follow Efenerr on WordPress.com

17 KOMENTAR

  1. Oooh ternyata benar warnanya Samsung S Series memang meleset ya, ketinggian kontrasnya, buat post processing.
    Thank you mas reviewnya.

  2. kok aku ngakak ya pas bagian “buzzer” dan “boneka” ahahha. aku masih pakai ipon 6s. kalau mau ganti entah rusak atau dihibahkan, pasti ganti ke keluarga “S series”

  3. Buzzer yang selang sehari pindah haluan *eh
    Aku pernah beberapa kali disuruh dosen motretin pas lagi kumpul-kumpul pakai S9, entah aku yang kurang peka atau karena cuma sebentar megangnya, jadi nggak sadar masalah warna.

    Benar mas, kalau uang ada dan memang tidak digunakan, bisalah beli gawai ini. Kalau aku mungkin tidak, kualihkan untuk sepeda 😀

  4. kalo update instastory gimana bang? masih ke kompres ga? biasanya android kalo update instastory ke kompres, beda sama ios

  5. Galaxy S9 memang masih jadi penantang serius buat iPhone X, buat yang gak gila merek dan lebih mentingin kebutuhan dasar smartphone flagship, Galaxy S9 jadi salah satu yang terbaik

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here