Saya sudah lama tak ke Surabaya, terakhir tahun lalu, jalan-jalan sebentar di akhir pekan yang hanya sebentar. Minggu lalu saya ke Surabaya, blusukan Tanjung Perak atas undangan Pelindo III dan kali ini diajak blusukan lagi ke Tanjung Perak. Sebenarnya dua tahun silam pun saya sudah pernah mengunjungi Tanjung Perak bersama Pelindo III, tetapi kali ini saya kembali lagi untuk melihat sisi lain tempat dari yang dua tahun lalu saya kunjungi.

Dua tahun tentunya waktu yang lama untuk sebuah proses. Jika dua tahun lalu Pelindo III memulai Tanjung Perak yang canggih dan modern, sekarang barangkali proses tersebut sudah berjalan dengan lancar. Ibarat bayi jika dulu masih merangkak sekarang sudah berlari. Sebuah korporasi memang harus selalu bergerak demi mengikuti dinamika dunia bisnis. Transformasi merupakan hal yang tak bisa ditawar-tawar lagi. Karenanya apa yang dilakukan oleh Pelindo III pada 2 tahun lalu barangkali adalah usaha untuk mengikuti dinamika dunia bisnis sekarang ini.

Saya tiba di Surabaya untuk langsung menuju Terminal Teluk Lamong. Untuk menuju terminal saya harus melewati pinggiran Surabaya, masuk tol hingga akhirnya tiba di komples terminal. Terminal ini memang bagian dari Pelabuhan Tanjung Perak yang sedikit “terpisah”, dari kompleks pelabuhan utama jaraknya cukup jauh. Pada saat dibangun, tempat ini memiliki misi untuk menjadi pelabuhan berkonsep “green” dengan mengadopsi teknologi termutakhir. Karena konsep ramah lingkungan inilah maka truk-truk yang beroperasi di dalam kompleks terminal pun menggunakan bahan bakar gas.

Di Terminal Teluk Lamong saya menuju ke workshop tempat kendali banyak sekali crane-crane berjajar. Crane ini merupakan salah satu jajaran crane termutakhir yang ada di Indonesia namanya Automatic Stacking Crane, fungsinya adalah mengambil kontainer lalu meletakkannya di truk yang akan membawanya keluar dari area pelabuhan untuk didistribusikan ke tujuan.

Workshop yang dimaksud ini bentuknya seperti control room. Terletak di menara pengawas dengan pandangan luas ke arah crane dan kontainer. Disebut ACS karena kendali crane dilakukan dari jauh oleh para operator. Petugas yang bertugas cukup melihat dari monitor yang kalau saya bilang mirip konsol video games. Crane digerakkan dengan tuas yang dan peletakan kontainer ke truk dimonitor dari layar konsol.

Dengan ACS ini ada beberapa keuntungan. Pertama adalah proses yang cepat dan presisi, hal ini dikarenakan semua termonitor secara elektronik. Data kontainer dan lokasinya juga terpantau sehingga lebih efisien. Kedua proses dengan ACS akan meminimalisir kecelakaan kerja karena semua proses terpantau dari jauh. Manusia yang terlibat dalam proses ini hanya pengemudi truk yang datang untuk menjemput kontainer, selebihnya semua karyawan yang bekerja ada di control room.

Profesionalitas para petugas di Terminal Teluk Lamong inilah yang mengubah pandangan saya tentang para pekerja pelabuhan di Indonesia. Saya dulu termakan stigma bahwa para pekerja di pelabuhan adalah orang-orang yang seram, glumut dan keras. Setelah masuk ke Teluk Lamong saya jadi terbuka pandangannya, bahwa yang bekerja di pelabuhan justru gayanya mirip eksekutif muda di ibukota.

Usai berkunjung di area ACS saya menuju area dermaga. Di area inilah crane Ship to Shore berada, tempat untuk bongkar muat kontainer dari kapal ke darat dan sebaliknya. Tiang-tiang STS begitu tinggi dengan teknologi canggih yang dibeli dari Finlandia. Teknologi STS ini paling mutakhir, bisa dikatakan salah satu yang tercanggih di Indonesia.

Ada 10 STS yang ada di dermaga ini dengan roda-roda di bagian bawah yang fungsinya untuk menyesuaikan posisi STS dengan posisi kapal yang sandar dengan presisi. Di bagian atas STS ada kabin kecil tempat para awak STS melakukan tugas bongkar muat kontainer dari dan ke kapal. Dari segi konstruksi saja mesin-mesin ini tampak begitu menggetarkan. Semacam raksasa yang adu kekuatan ketika melihat mesin-mesin ini menjalankan tugasnya.

STS ini menjulang tinggi, saya naik satu di antaranya. Ada lift kecil untuk naik turun STS dan percayalah rasanya sungguh bikin jantung berdegup kencang karena getarannya. STS ini bukanlah alat yang statis, dalam beberapa waktu secara berkala akan berpindah demi mengikuti posisi yang tepat untuk melakukan bongkar muat.

Di ketinggian 35 meter dengan terpaan angin dari pesisir Surabaya saya berdiri di rangka STS. Ada jalur kecil, selebar satu orang untuk menuju kabin. Di antara debar jantung saya lewat jalur itu dan menuju kabin. Di dalam kabin ternyata sejuk, tak menyangka juga ada pendingin udara di dalam kabin.

Di dalam kabin ada satu petugas, ia yang akan melakukan bongkar muat dengan mengarahkan crane STS dari kapal ke truk atau sebaliknya. Untuk sebuah pekerjaan, menjadi petugas di STS ini butuh nyali tinggi. Bayangkan, mereka kerja di ketinggian dengan banyak resiko yang bisa saja terjadi.

Kabin tempat para operator ini kecil saja. Geser kanan kek kiri tak mungkin juga karena sudah sempit. Di tengah kabin ada tiga monitor untuk memantau pekerjaan mengambil dan meletakkan kontainer dari kapal ke truk dan sebaliknya. Ada joystick yang digunakan untuk mengontrol gerak STS. Selain itu seluruh kabin bagian depan terbuat dari kaca, gunanya untuk melihat sekeliling dan memastikan agar peletakan STS Crane bisa presisi.

Saya sedikit engap berada di dalam kabin, tidak nyaman rasanya berdiri di ketinggian 35 meter di dalam kabin sempit di mana saya bisa melihat lantai pelabuhan dari ketinggian. Dada rasanya berdesir begitu kencang, bahkan ada rasa menghimpit. Saya tahu itu wujud ketakutan saya.

Tetapi rasanya ketakutan tidak dialami oleh para operator crane. Mereka biasa saja berada di kabin di ketinggian. Saya malah yang ngeri sendiri, sedikit-sedikit kabin bergetar, apalagi kalau ada hembusan angin. Di ketinggian tentunya harus berhati-hati dengan kondisi demikian. Rupanya ada panduan indikator arah angin, jika angin sudah kencang maka akan ada peringatan yang meminta seluruh operator keluar dari kabin dan turun ke area pelabuhan. Ini semua dilakukan demi keselamatan, tak mungkin mengoperasikan crane dengan kondisi angin kencang, seluruh komponen crane bisa beresiko, mulai dari konstruksinya sampai tali-talinya.

Operator Crane STS bekerja dalam sistem shift dalam satu hari dengan lama satu shift adalah empat jam. Dalam empat jam tersebut mereka tak boleh meninggalkan kabin dan harus fokus mengoperasikan crane. Karenanya untuk kencing saja tidak mungkin, maka Pelindo III menyediakan semacam alat kencing instan agar para operator crane bisa buang hajat kecil di kabin.

Aturan di kabin memang ketat, konsentrasi harus selalu tinggi. Ini karena pengoperasian crane butuh tingkat presisi yang akurat. Tak hanya itu, pergerakan kontainer dari kapal ke truk dan atau sebaliknya harus dilakukan cepat dan tepat. Terlambat beberapa menit saja bisa mengakibatkan kerugian dalam nominal miliaran rupiah.

Dengan tingkat kecanggihan dan kompleksitas pekerjaan di Terminal Teluk Lamong, saya jadi paham kenapa Pelindo III berkomitmen memajukan Terminal Teluk Lamong. Saat ini Terminal Teluk Lamong terus maju dengan membuka pasar baru termasuk membuka konektivitas antar benua. Kelak kapal besar tak perlu harus pelabuhan besar untuk transit sebelum ke Surabaya, tetapi bisa langsung ke Terminal Teluk Lamong, dengan demikian akses distribusi semakin terbuka lebar.

 

Jelang matahari tenggelam saya menuju ke Terminal Peti Kemas Surabaya. Terminal ini hingga saat ini merupakan satu-satunya terminal di Indonesia dan satu-satunya operator terminal di Indonesia yang memiliki sertifikat C-TPAT dan ISO 28000:2007 (sistem manajemen keamanan untuk rantai pasok). Dengan reputasi seperti itulah Terminal Peti Kemas Surabaya menjadi salah satu terminal andalan Pelindo III.

Terminal Peti Kemas Surabaya memiliki posisi sebagai hub Indonesia bagian Timur. Sebagai sebuah terminal penghubung, kegiatan bongkar muat di terminal ini begitu sibuk dengan jadwal yang ketat. Hilir mudik truk hingga para pekerja pelabuhan adalah hal yang jamak. Di tengah panas sore yang cukup terik, kesibukan ini berarti ekonomi berderap kencang di terminal ini.

Saya menuju ke dermaga yang menjorok ke laut. Sedang ada kapal yang bongkar muat dan suasananya riuh. Dari dermaga ini tampak Surabaya menuju senja, di lepas sisi lainnya tampak Madura. Pelabuhan Tanjung Perak memang pelabuhan yang sempurna, terapit dua daratan yang membuat pelabuhan ini terlindungi dari arus besar.

Usai melihat hiruk pikuk dermaga saya menuju menara pandang yang ada di kantor Terminal Peti Kemas Surabaya. Menara pandang ini sekilas mirip menara pandang yang ada di bandara. Fungsinya sebagai control room untuk memantau segala macam aktivitas yang ada di terminal ini. Di dalam menara pandang ini ada kru yang bertugas 24 jam sehari dengan sistem shift untuk memastikan aktivitas di terminal ini berjalan lancar. Dari atas menara pandang seluruh kompleks terminal ini tampak. Kontainernya yang warna-warni tampak mencolok sekali. Saya mengintip melalui teropong yang ada di menara pandang, menelisik sudut demi sudut terminal yang terjangkau oleh mata.

Dunia bisnis dan ekonomi yang terus berkembang membuat aksesibilitas menjadi kunci. Di sini Pelindo III menjadi garda depan bidang logistik dan distribusi. Sekarang ini perdagangan antar negara sudah merupakan hal yang umum. Saya misalnya bisa pesan barang dari negara luar dengan mudah dan sampai di rumah dengan cepat. Tentu ini ada peranan dari pelabuhan sebagai pintu masuk barang ke Indonesia.

Demikian sebaliknya, dunia usaha di Indonesia bisa menjangkau pasar luar negeri dengan mudah apabila sisi distribusi dan logistik terus mengalami penyempurnaan. Para eksportir tentu akan semakin mudah menjangkau pasar dunia apabila sisi logistik di Indonesia bisa semakin baik, terutama apabila mampu disandari oleh kapal-kapal bertonase raksasa.

Namun, Pelindo III tak hanya menjadikan logistik barang sebagai prioritas. Ketika kunjungan sebelumnya saya diajak ke Surabaya North Quay, terminal penumpang yang canggih dengan sistem mirip di bandara. Bahkan di lantai atas ada anjungan yang bisa diakses untuk umum, live music, bean bag dan pengunjung bebas bersantai di tempat ini.

Di Surabaya North Quay sekarang ini bahkan ada hotel kapsul yang bisa disewa untuk tidur dengan harga murah, hanya 60 ribu. Selain itu peningkatan kapasitas Surabaya North Quay juga dilakukan sehingga mampu disandari kapal pesiar yang bahkan besarnya melebihi besarnya bangunan Surabaya North Quay itu sendiri.

Saya begitu menikmati suasana di Surabaya North Quay. Kebetulan saya tiba sebelum senja tenggelam, jadi masih sempat menikmati mentari dari atas turun menjingga lalu hilang di balik Pulau Madura. Usai gelap tiba, barbeque sudah tersaji untuk makan malam bersama tim Pelindo III.

Memanusiakan pengguna jasa pelabuhan barangkali adalah resep bagaimana Pelindo III mengembangkan Tanjung Perak. Dengan berorientasi ke pelayanan maka secara keseluruhan Pelindo III bisa membentuk value perusahaan yang semakin kredibel. Dengan sistem layanan yang terus diperbarui mengikuti perkembangan zaman maka akan membuat tingkat kepercayaan pada Pelindo III semakin meningkat.

Selama kunjungan di Tanjung Perak saya menangkap kesan bahwa perusahaan ini memang terus memperbarui. Bisnis terus berkembang, perusahaan juga harus terus mengikuti zaman. Sejarah telah terus menerus membuktikan bahwa perusahaan yang terus berinovasi-lah yang akan memenangkan pertarungan melawan zaman. Akselerasi yang dilakukan Pelindo III adalah dalam rangka untuk itu, untuk memastikan derap perusahaan mengikuti laju zaman.

Dua kali ke Tanjung Perak, dua kali pula saya terkesan dengan apa yang Pelindo III lakukan.

Tabik.

 

Follow Efenerr on WordPress.com

5 KOMENTAR

  1. Belum pernah sekalipun menginjakkan kaki ke Pelabuhan Kontainer, termasuk di Tanjung Perak. Keren ternyata ya.
    Kalau di pelabuhan biasa, dulu super menjijikkan, banyak copet, tukang palak. Sekarang keren bangeet

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here