Foto : Irwan.

Jika ada seorang pendaki gunung yang tekun mendaki gunung sampai puncak, pasti bukanlah saya orangnya. Saya adalah orang tipe orang yang lebih menikmati jalan-jalan di lereng gunung, memotret puncaknya, menikmati panoramanya.

Kenapa tak mendaki gunungnya? Ya kalau bisa alhamdulillah, kalau tidak pun tak apa. Sebenarnya apa sih esensi sampai puncak? Turun lagi, kan? Tak ada pendaki gunung yang tidak turun setelah di puncak.

Begitulah karir dan pekerjaan di mata saya.

Mungkin ada orang-orang yang memang mencoba sampai puncak karir, bergegas dengan cepat kilat. Saya pikir itu dulu cara memaknai karir, ya saat muda dulu. Namun, ternyata sepanjang karir sepuluh tahun di DJP, ada juga orang-orang yang sepemikiran, turut menikmati puncak gunung dari kejauhan. Menikmati yang ada di lembah, yang ada di kaki gunung.

Di puncak gunung itu rupanya tak nyaman-nyaman aman, dingin, banyak angin, badan harus kuat dari terpaan dan deraan cuaca yang tak menentu. Benarlah kata pepatah, makin tinggi makin banyak angin. Untuk mencapai puncak karir yang konon harus bersaing dengan banyak orang, melihatnya saja sudah cukup menelan ludah.

Mungkin juga saya orangnya yang memang cukup pasifis, tak suka kompetisi, tidak kompetitif. Namun, saya musti bilang bahwa prioritas orang beda-beda.

Sebenarnya dua tahun belakangan ini saya berada di puncak karir saya sebagai pegawai DJP. Ini menurut saya sendiri bukan menurut ukuran penilaian jabatan atau apapun itu.

Jika dirunut dari jabatan, saya berada di level terendah, hanya pelaksana, tetapi dua tahun inilah saya bekerja dengan tingkat kenikmatan yang paling tinggi. Ekstasenye beda, selama dua tahun ini DJP memberikan tempat bagi saya untuk bekerja sepuas-puasnya dan memberikan apa yang saya bisa sebebas-bebasnya.

Tidak ada hal semenyenangkan itu saat bekerja. Tidak ada kepuasan selain kebahagiaan dalam bekerja.

Saya memulai kerja di P2Humas pada November 2016, tugas saya hanya satu mengelola media sosial DJP. Tugas yang cukup berat, menantang tapi rasa-rasanya asyik juga.

Ketika menerima tantangan ini sikap saya hanya satu, kalau ada tembok menghadang tabrak saja terus saja temboknya hancur. Itu mungkin gambaran sikap persisten saya. Mungkin ada orang yang memilih memutar atau melompati temboknya. Namun, hal tersebut tidak akan merubah fakta bahwa temboknya tetap ada. Maka saya memilih menghancurkan temboknya, sampai runtuh.

Kadang sikap ini mungkin membuat orang tidak nyaman, tapi secara global ada tujuan yang lebih banyak yang ingin dicapai untuk DJP, untuk membuat DJP ini sebuah institusi yang memiliki nama di media sosial.

Dengan sikap saya yang seperti ini, saya musti berterima kasih banyak-banyak pada tiga orang, Pak Gusfahmi, Pak Riza Almanfaluthi dan Kak Ani Natalia. Atasan-atasan yang telah percaya penuh atas segala hal yang saya kerjakan. Tentunya juga terima kasih untuk Meidiawan, partner menggila yang tak ada habisnya menggodok ide baru, menabrak batasan, partner menekuni malam demi obsesi pada rumusan konten.

Dengan kepercayaan begitu besar, saya ibarat diberikan mesin yang bisa diajak kebut-kebutan.

Instagram awalnya followernya 6.000 sekian, per hari ini 113 ribu follower. Twitter awalnya berfollower 40.000 sekian, per hari ini 93 ribu follower. Akhir 2018 bahkan diundang Twitter Indonesia sebagai salah satu akun pemerintahan yang paling casual dan berengagement bagus. Youtube sedang tumbuh dengan konten-konten yang bagus. Sementara Facebook juga terus memiliki pasar sendiri.

Tentunya saya tak kerja sendiri, tak ada kerja yang benar-benar sendiri. Sokongan materi tak ada habisnya dari Irwan dan Arif serta Tim Imagitaxion juga kontribusi unit kerjalah yang membuat media sosial ini seperti ini.

Saya hanya bertugas menjalankan mesinnya, merekalah bahan bakarnya. Tanpa bahan bakar, mesin tak bisa jalan. Sesederhana itu.

Tahun ini media sosial DJP sedang berada di puncak performanya, mesin sedang panas-panasnya. Ibarat kata mau diajak kebut-kebutan ayo, mau diajak kemana hajar.

Jika saya mau, ini adalah posisi yang enak untuk berkarya sekaligus menjadi terkenal. Tetapi tidak, itu bukan tujuan saya, tujuan saya adalah membangun sistem media sosial DJP yang baik, yang bagus, yang bisa diterapkan ke seluruh unit DJP.

Dalam dua tahun ini Taxmin berkembang begitu jauh, hingga bu SMI saja berkenan hadir di gathering Taxmin. Sistem pelaporan media sosial berkembang pesat, membuat berbagai kejadian yang berpotensi menimbulkan krisis menyusut dan diantisipasi lebih cepat. Yang lebih utama lagi adalah membangun kepercayaan antar Taxmin se-Indonesia dan menjadikan mereka adalah satu keluarga untuk menopang DJP.

Dengan segala hal tersebut, layaknya persimpangan, ada simpang jalan lain yang harus saya pilih.

Berada di puncak karir itu menyenangkan, dikenal banyak orang iya, dianggap pintar iya, dianggap ahli iya. Hanya saja ada bahaya laten yang mengintai, terlalu lama berada dalam satu posisi membuat seseorang memiliki star syndrome, terkadang tak mau mendengar apa opini orang lain, terkadang memiliki opini yang harus didengar orang lain, terkadang tak mau didebat.

Ini yang saya rasakan dan ini bukan hal yang baik.

Ketergantungan sistem pada satu orang juga bukan hal yang bagus. Akan terjadi kemandegan ide. Sistem seharusnya tak menggantungkan diri pada satu orang. Jika saya terus memegang media sosial maka ide-ide tak bisa berkembang dengan bebas. Harus ada regerenasi, harus ada orang baru yang bisa mengembangkan media sosial DJP agar lebih fresh, agar lebih bisa mengikuti perkembangan zaman.

Untuk itulah saya merasa bahwa memang sebuah jabatan dan posisi tak boleh lama-lama diduduki. Ada orang lain yang sekiranya bisa menduduki posisi itu dan bisa membuatnya lebih baik dan saya percaya DJP tak akan kekurangan Sumber Daya Manusia. Akan selalu ada orang yang memiliki passion, minat dan bakat untuk mengelola media sosial.

Ide baru selalu dibutuhkan, ide yang sesuai perkembangan zaman, maka orang baru juga harus ada dan menggantikan saya. Jika tidak demikian maka tak akan berkembang karena ide akan stagnan karena datang dari satu orang.

Pada titik ini saya belajar pada Eric Cantona. Bermain bola dengan senang gembira, menikmati banyak tropi, mengantar club pada banyak pada kejayaan dan pensiun di titik puncaknya. Setelahnya justru Manchester United berhasil meraih juara Liga Champion tanpa Eric Cantona.

Maka, masa depan institusi ada di tangan anak-anak muda. Anak-anak muda yang masih memiliki semangat yang girap-girap, yang mau ditatar kerja siang malam, yang mau belajar, yang mau kerja keringat sampai berpeluh, yang sampai tak punya waktu untuk mengeluh.

Saya percaya anak-anak muda ini nanti kelak mampu membawa media sosial DJP ke level yang lebih tinggi daripada pencapaiannya sekarang. Maka saya juga berharap kelak kursi saya akan diisi oleh anak-anak muda yang bersemangat ini.

Keputusan ini tak datang serta merta. Ini bagian dari janji saya untuk istri sebelum menikah. Janji ini saya tuliskan di blog ini juga lima tahun silam. Saya berjanji untuk menemani istri jika ia bisa diterima kuliah di luar negeri.

Maka pada Juli lalu, ketika dalam gelap malam, pada Juli 2018 istri membangunkan saya. Ia menunjukkan email bahwa ia diterima beasiswa AAS, pada saat itu jugalah saya tahu bahwa janji seorang lelaki harus ditepati, pada saat itu juga saya tahu bahwa ia tak boleh berjuang sendiri apalagi setelah melalui proses depresi yang pernah menyayat-nyayat satu periode hidup kami.

Pada saat itu juga saya tahu bahwa keluarga adalah prioritas utama yang tak tergantikan dengan prioritas-prioritas lainnya. Sejak Juli 2018 itu juga saya sudah mengutarakan keputusan saya untuk Cuti Di Luar Tanggunan Negara.

Jadi, hari ini adalah hari terakhir saya berkantor di Direktorat P2Humas. Besok saya sudah memasuki masa cuti hingga dua tahun ke depan.

Terima kasih Direktorat Jenderal Pajak atas segala ruang untuk berkarya sebebas-bebasnya.

Sampai jumpa dua tahun mendatang.

Tabik.

Terima kasih untuk Subdit Humas, seperti kata Kak Ani. Setiap orang adalah kepingan yang saling mengeratkan. Maka terima kasih untuk Rizmy atas segala macam tetek bengek yang saya repotkan, Mas Agung atas insight situs yang selalu jadi andalan, Mas Nanang untuk hal-hal keuangan yang saya tidak ketahui, Mas Yos atas ilmu kepenulisannya yang linuwih, Pak Azam, Pak Tedi dan Pak Endang atas petunjuk atas kolaborasi acara, Bang Uhum atas foto-foto ciamiknya, Tut atas candaannya, Om Mahe atas kisah-kisah lucunya, Windy atas banyak referensinya, Mas Glenn atas diskusi-diskusi bernasnya, Via atas kesigapan dalam surat-surat, Ratih atas makanannya yang selalu saya ambil, Dede atas koneksi pada influencer, Febri atas suara emasnya. 

Spesial untuk Devi Barbara dan Beste atas makian-makiannya.

Sampai jumpa. 

 

Follow Efenerr on WordPress.com

66 KOMENTAR

  1. hanya bisa mendoakan semoga sehat dan bahagia selalu mas, saya malah yakin kalau sudah “bebas” seperti ini, sepak terjangnya mas chan malah akan semakin “menggila”

  2. Wah. Selamat buat Nyonya, selamat juga buatmu, Farhan. Semoga perjalanan selanjutnya penuh berkah dan semakin menyenangkan. Merinding aku moco tulisanmu. Take care yaaaa 🙂

  3. Aduh…kirain pensiun dini Mas. Memang, keluarga adalah prioritas. Semoga dengan bersama banyak hal yang bisa diselesaikan.

    Pasti cerita perjalanan efenerr tambah seru ya…

  4. Suatu keputusan yang patut diacungi jempol. Mau meninggalkan karir (sementara) demi keluarga. Kita juga ga akan pernah tau ya dua tahun ke depan bakal ada apa. Semoga sukses terus ya mas. 😀

  5. Selamat Menjalani Hidup Baru ya maschan…. we’re gonna miss you… teman anti baperku… ga pernah satu kalipun menyakiti hatiku, ga perhitungan, suami sayang istri.. ❤️ Smoga hidup disana dimudahkan dan dibahagiakan sama Allah ya maschan n mbak put… kami tunggu cerita cerita seru dan kabar baik dari sana.. 🥰

  6. Sebagai manusia yang tahu terima kasih, saya ucapkan sebanyak-banyaknya kepadamu mas. Berkat kamu, saya kenal banyak orang keren, saya bisa tahu birokrasi di instansi ini, saya bisa tahu lebih banyak soal media sosial. Selamat CDTN ya, kutunggu tulisan tentang aussie. Salam untuk kanguru.

  7. Waa.. congratulation mas CLTNnya diapprove.. aku otw u/ pengajuan setelah semuanya siap, mohon doanya biar ajuan CLTN saya nanti diapprove.. alasanku karna mau membersamai 2 anak bayi yang lagi aktif2nya dan butuh pengawasan ekstra tanpa merepotkan ibu yang udah semakin sepuh..
    Kalo mau membuatkan redaksi ajuan CLTN biar di approve bu bupati alu juga ngga molak lho mas.. tulisan2mu kan terkenal ciamiiik
    Maturnuwuun

  8. Mantep mas.. semoga masa cuti di Australia nanti, banyak muncul ide-ide baru yang lebih wow lagi.. jangan lupa tulisan-tulisan menjelajah benua kanguru yang tentunya juga sangat ditunggu-tunggu hehe.. Semoga tahun depan bisa nyusul 2 tahun ke Australia.. aamiin..

    -Traveler Paruh Waktu

  9. Baru pertama kali saya berkunjung ke laman ini. Sungguh menginspirasi saya – – yang per tahun ini join cpns–untuk bekerja dg etos yg baik.

    Makasih mas Farchan atas tulisannya

    Salam kenal, Aulia Rahmat cpns Kemenpora yg juga suka menulis…

  10. sukses untuk mas beserta istri di tempat yang baru. kayaknya bakal seru ketemu banyak budaya dan hal-hal baru di sana. ditunggu cerita selanjutnya.

  11. Mantap, Mas Farchan.
    Mungkin hal seperti ini juga yang harus dilakukan Lionel Messi, meninggalkan Barcelona agar tahu bahwa Barcelona sejatinya tidak baik-baik saja tanpa Messi. Seperti yang Ronaldo lakukan.

    Akhirnya semua menyadari bahwa Madrid tidak bisa apa-apa tanpa Ronaldo. Sepertnya jahat. Tapi itu justru membuat mereka sadar dan bisa berkembang secara tim, bukan individu.

    Dan akun sosmed DJP pun begitu. 🙂

  12. Sukses selalu, Mas. Semoga mimpi bersama istri bisa semakin banyak yang tercapai. Suka dengan kalimat “keluarga adalah prioritas”. Salam hangat dari followernya.

  13. Duh openingnya langsung mak jleb. Kadang aku jg ingin merasakan di puncak karir, tp kok aku merasa di lembah lama banget ya utk mencapai puncak. Terima kasih atas insightnya ya mas..sangat bermakna.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here