Foto oleh Wendy Liga

Disclaimer : Kondisi keluarga dan keuangan orang-orang beda-beda, tulisan ini belum tentu cocok untuk diaplikasikan ke semua orang. Anggap saja sebagai wawasan, siapa tahu bisa jadi ide.

Sebelum anda membaca tuntas dan merampungkan tulisan ini, saya harus bilang :  

Trik ini anda bisa peroleh sendiri tanpa perlu membaca tulisan ini atau mengikuti saran perencana keuangan, anda bisa googling sendiri kok.

Namun, jika anda merasa masih ingin membaca tulisan ini sampai tuntas juga saya persilakan, semoga ada nilai tambah untuk bersemangat melunasi KPR.

Dalam kurun waktu 2011-2018 ini saya ada 2 KPR. KPR pertama dimulai 2012, lunas seluruhnya tahun 2016. KPR kedua dimulai 2014, lunas separuhnya tahun 2017 dan lunas seluruhnya tahun 2018.

Saya beri pemahaman dulu, KPR memang makin panjang term-nya memang enteng cicilannya dan tidak mengganggu cashflow. Padahal itumah sama saja tetap utang juga, mau sebentar mau lama tetap harus dibayar, jika bisa bayar cepat kenapa harus ditunda-tunda, kan?

Hanya saja memang melunasi sekarang atau secepat mungkin itu harus penuh pengorbanan. Cashflow pasti terganggu dan harus menghitung secermat mungkin. Keuntungannya ya KPR lunas lebih cepat, beban tanggungan hilang dan uang KPR itu nanti ke belakang bisa digunakan untuk investasi lain.

Lunasnya KPR ini sebenarnya tidak saya rencanakan secepat ini, pada awalnya memang ada rencana melunasi secepat mungkin, saya niatkan itu. Mungkin karena Tuhan mendengar niat saya, jadi Tuhan membantu melunasi dengan secepat kilat. Pelunasan KPR kedua ini juga hamdallah bisa saya lakukan sebelum saya boyongan ke Australia. Jadi saat di Australia saya tinggal boyongan dengan tenang.

Oke, begini ada tiga Trik utama untuk melunasi KPR secepat kilat.

Niat
Menurunkan Standar Gaya Hidup
Pecah Penghasilan ke Pot Berbeda

Kita mulai dari yang pertama, niat. Saya muslim dan dalam islam tuntuntan sebuah tindakan itu tergantung niatnya. Ini tak terpaku muslim saja, jikapun bukan muslim tetap relevan. Kalau mau melunasi KPR, niatnya diluruskan terlebih dahulu. Coba ingat-ingat, apa sih niatnya?

Saya tak mau bicara tentang hal abstrak sebenarnya, tetapi ini yang terjadi. Sejak saya niatkan untuk melunasi KPR secepat mungkin selalu saja ada kemudahan, seolah ada invisible yang membantu untuk meringankan beban utang KPR ini.

Well, believe it or not ya, saya sebenarnya orang yang logis pragmatis. Namun, ketika saya niatkan lunas cepat, ternyata benar, lunas cepat dan bahkan di luar ekspektasi. Saya sebenarnya merencanakan lunas paling cepat 7 tahun kalau dihitung dari penghasilan sekarang dan proyeksi penambahan penghasilan ke depannya, tetapi Tuhan ternyata bantu lebih cepat, dalam 4 tahun sudah lunas semuanya.

Kalau kata orang, rejeki ada aja. Hamdallah.

Saya sih akan menyarankan hal pertama yang dilakukan, luruskan niat lalu tanamkan dalam doa-doa yang dilantunkan niat tersebut. Langit akan menjawab. Entah gimana caranya pasti akan terjadi.

Terdengar tidak logis, tetapi itulah kekuatan niat. Kadang sesuatu terjadi tanpa bisa dijelaskan. Yang jelas percaya saja, setelah niat, pasti bisa dilakukan.

Kedua ini yang rada berat dan barangkali akan susah dilakukan “Menurunkan Gaya Hidup”.

Ini adalah langkah yang paling susah saya dan istri lakukan. Karena menurunkan gaya hidup itu susah, sebaliknya naik gaya hidup itu gampang banget. Setiap naik gaji pasti ada godaan untuk melebihkan budget untuk sesuatu, tetapi untuk menurunkan pasti akan susah sekali.

Ya tapi mau gamau, kalau mau cepat lunas ya gaya hidup harus turun, kalau mau ya drastis.

Ilustrasinya begini. Gaji 10 juta dengan cicilan 3 juta (30% maksimal sesuai aturan KPR), spending 7 juta berarti per bulan. Kalau mau lunas cepat berarti asumsinya cicilan entah dinaikin atau pelunasan sebagian, kalau itu berarti nabungnya harus nambah entah bagaimana caranya. Caranya ya cut spending kan? Nambah di tabungan.

Jadi, dari 10 juta berani ga cut spending jadi 5 juta dan saving jadi 5 juta (3 juta KPR + 2 juta untuk mempercepat lunas KPR), lebih berani lagi 6 juta, berani ndak?

Dalam kasus saya, penghasilan saya seluruhnya untuk KPR dan spending. Penghasilan istri semuanya untuk nutup KPR. Gaji dan penghasilan saya entah gimana caranya harus nutup untuk zakat, biaya hidup sebulan, nutup biaya KPR, ngirim ke orang tua dan biaya lainnya. Akhirnya selama ikhtiar untuk melunasi KPR ini saya dan istri cut spending habis-habisan.

Let say, uang saku saya dipotong sebisa mungkin 50 ribu perhari, itu harus cukup untuk makan, ngopi, transport pulang pergi ke kantor dan kalau bisa sisa. Makan di restoran atau mall jarang sekali, banyakan belanja bahan makanan di pasar untuk makan. Jalan-jalan? Tidak dilakukan kecuali dapat tiket murah banget yang nyaris nol. Beli gawai baru? Nope, dipakai sampai mati total gawainya, kalau cuma rusak bisa diperbaiki ya harus diperbaiki, pantang beli baru.

Dari poin kedua soal mengurangi gaya hidup ini kuncinya cuma dua kok, Berani dan Konsisten. Kalau dua hal itu bisa dilakukan ya KPR lunas cepat sudah di depan mata.

Hanya perlu diingat. Soal cut spending ini harus dipikir baik-baik karena cashflow bulanan akan berubah drastis. Untuk memulai saran saya adalah membuat daftar konsumsi bulanan, coret yang tidak perlu atau alokasikan dan kompensasikan konsumsi ke hal lain yang lebih irit.

Hilangkan gengsi kalau mau cut spending, karena ya gengsi berkelindan dengan gaya hidup. Karena pengeluaran akan hilang banyak jadi ya, waktu nongkrong akan berkurang, beli barang branded akan berkurang, senang-senang berkurang, ada diskon acuhkan. Semua-muanya itu dilakukan demi cut spending.

Untungnya kami berdua bukan orang yang makan gengsi, beli baju bekas di Cimol pun dijabanin. Jadi ya no problem, semakin ga gengsi, semakin gampang cut spending dan mengurangi gaya hidup. Ingat juga bahwa kalau mau belanja atau beli sesuatu itu pikirkan ulang, ini barang yang mau dibeli itu kebutuhan atau keinginan. Jika masih bingung atau ragu, beli jeda waktu satu-dua minggu untuk berpikir kembali tentang barang tersebut, biasanya sih setelah dilakukan akan tidak jadi beli karena ternyata hanya keinginan semu sesaat bukan barang yang benar-benar dibutuhkan.

Terakhir dalam cut spending adalah jika ada kartu kredit maka jangan gunakan kartu kredit untuk membayar konsumsi rutin. Kartu kredit memunculkan ilusi seolah-olah uang cash kita masih banyak, padahalnya sebenarnya tidak, yang ada justru utang yang banyak.

Yaksip!

Terakhir adalah memecah penghasilan ke pot berbeda. Teman-teman bisa memulainya dengan mengidentifikasi satu per satu setiap penghasilan didapatkan lalu masukkan ke pos-pos yang berbeda. Soal ini sebenarnya hanya mengikuti rumus kuno investasi Dont Put All Your Eggs in One Basket. Rumus yang sebenarnya aplikasinya mengikuti zaman, prinsipnya sih akan bertahan terus selama ribuan tahun ke depan.

Penghasilan kami berdua ada beberapa, gaji tunjangan bulanan saya dan istri sebagai ASN,  penghasilan saya sebagai blogger dan digital agency, dan bonus-bonus lainnya. Pokoknya breakdown semua penghasilan yang didapatkan lalu pecah tujuan rekeningnya.

Kami memiliki beberapa rekening untuk memecah penghasilan menjadi untuk konsumsi, saving dan investasi.

Ada satu rekening utama untuk penampungan, hanya ada buku tabungan, tidak ada ATM, tidak terkoneksi internet banking, hanya saya yang bisa melakukan transaksi dan harus ke bank. Kenapa demikian? Satu alasan keamanan, kedua alasan keribetan. Makin ribet transaksi berarti makin susah kan uang dari rekening? Itu tujuannya karena itu sebagai rekening penampungan. Prinsip penampungan kan sebisa mungkin semuanya ditampung, kan?

Apa saja penghasilan yang masuk ke rekening utama ini? Seluruh penghasilan saya kecuali gaji dan tunjangan bulanan rutin ASN. Penghasilan dari blog dan agency digital masuk rekening ini, bonus-bonus masuk dan tunjangan lain-lain yang tidak rutin semuanya masuk ke sini. Semuanya menumpuk di sini dan exit waynya ya cuma saya yang bisa mengambilnya atau melakukan transaksi.

Rekening lainnya ada seperti rekening payroll saya dan istri, rekening transaksi bulanan dan rekening KPR. Uang masuk dari rekening payroll di awal bulan langsung dialihkan ke rekening transaksi bulanan dan rekening KPR dan kadang hanya disisakan 100-200 ribu saja sebagai syarat minimal dari bank. Pokoknya langsung kuras habis rekening payroll untuk dialihkan ke rekening konsumsi bulanan.

Rekening konsumsi bulanan itu istri saya yang pegang dan seluruh pengeluaran istri yang kontrol agar semuanya jadi bisa terpantau.

Rekening payroll istri bagaimana? Seluruh penghasilan istri baik yang rutin bulanan ataupun tidak itu juga numpang permisi dan langsung masuk ke banyak platform investasi. Mau dialihkan ke reksadana, mau ke sukuk, SUN, mau ke logam mulia, mau ke investasi bisnis model apapun itu kecuali saham kendali ada di istri. Biasanya kami berdua tiap bulan diskusikan apa model investasi yang akan dilakukan lalu istri yang eksekusi.

Saran bagi yang akan berinvestasi, lakukan investasi kepada produk investasi yang hanya anda pahami saja! Jangan coba-coba kalau anda tidak paham produk dan ilmunya, YANG ADA NANTI BONCOS.

Tiap bulan hidup pakai uang apa? Seperti yang saya tulis di atas, murni hanya dari gaji dan tunjangan saya sebagai ASN setelah dipotong angsuran KPR bulanan. Jadi walau ada banyak penghasilan, penghasailan yang kami gunakan untuk biaya hidup bulanan ya gaji dan tunjangan bulanan ASN saya semata, sebisa mungkin dicukup-cukupkan. Kecuali tidak mendesak, maka tidak akan menggunakan pos dana yang lain.

Jadi saudara-saudara, kalau ada bonus mendadak gimana? Masuk tampungan. Ada THR gimana? Masuk tampungan. Tiba-tiba menang kuis dapat hadiah uang? Masuk tampungan. Tiba-tiba ada yang bayar utang? Masuk tampungan. Semua penghasilan kecuali yang disepakati untuk biaya bulanan ya masuk rekening penampungan.

Bagi yang hanya berpenghasilan tunggal bagaimana? Jangan berkecil hati. Jika berpenghasilan tunggal maka bisa disiasati dengan membuat tabungan rencana. Tabungan rencana memungkinkan untuk mendebit langsung sejumlah uang sesuai yang diinginkan ke rekening lain. Ini yang saya lakukan dulu saat awal-awal bekerja dan hanya punya penghasilan sebagai ASN. Setiap bank ada program tabungan berjangka, manfaatkan itu.

Nah, kalau tiga langkah sudah dilakukan lalu pantau secara berkala berapa total tabungan dan aset yang dimiliki. Setelah itu kalau sudah dihitung, hubungi pihak bank untuk melakukan negosiasi KPR, entah mau pelunasan sebagian atau restrukturisasi jangka waktu dan besaran angsuran KPR, silakan negosiasikan dengan bank. Pada saat pelunasan jangan lupa sisakan uang di tabungan tetap memiliki dana cadangan karena barangkali masih ada biaya lain pasca pelunasan.

Apakah saat KPR lunas uang kita habis? Tidak juga, uang habis beralih menjadi aset.

Buat tambah memotivasi, perlu diingat bahwa bunga KPR itu tinggi lho dan sangat sedikit  produk investasi yang returnnya bisa melebihi bunga KPR tersebut.

Jadi apakah tulisan ini masih dianggap berguna? Itu tergantung keputusan anda semua. Saya hanya bisa mendoakan agar para pejuang KPR bisa melunasinya angsurannya dengan segera.

Tabik.

 

 

Follow Efenerr on WordPress.com

6 KOMENTAR

  1. Powerfull mas..

    Kebetulan saya tinggal di desa, sudah disiapkan tanah untuk bangun rumah maupun renovasi rumah 😬

    Baru ngumpulin dana untuk rumah dengan investasi logam mulia.

    Mohon doanya mas

  2. Sangat membantu untuk tetap semangat!
    Saya hampir 80% penghasilan dialihkan ke kpr dan biaya kuliah lanjutan. Hidup sehari – hari cuma dari bonus yg keluar semester sekali 😄

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here