Saya tak bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup bersama ratusan, bahkan mungkin ribuan buaya. Hewan predator yang di mata saya adalah hewan yang kejam, bengis dan tanpa ampun. Walaupun di masa sekarang buaya meluruh menjadi sebuah hewan yang bisa jadi lucu, seperti gambaran buaya pada salah satu merk alas kaki terkenal misalnya.

Lupakan hal tadi, lupakan juga soal idiom “lelaki buaya darat”. Saya bicara sesungguhnya tentang buaya, dan keluarga yang puluhan tahun hidup bersama buaya-buaya tersebut. Saya bertemu dengan keluarga ini di Medan, tepatnya di Asam Kumbang.

Semua bermula dari Lo Tham Muk, sang kepala keluarga awalnya hanya sekedar mengumpulkan buaya muara di sekitar Medan. Lama kelamaan beranak-pinak, dan karena kecintaannya pada buaya Pak Lo terus merawat buaya-buaya ini dan lambat laun tempat ini semakin lama semakin besar dan konon dikenal sebagai penangkaran buaya terbesar di dunia.

Sebagai salah satu destinasi yang cukup dikenal di Medan dan bahkan menjadi objek wisata resmi pemerintah kota Medan, sesungguhnya destinasi ini minim sekali mendapat bantuan pemerintah. Kecintaan keluarga Pak Lo, termasuk istrinya Lim Hui Cu yang membuatnya tetap bertahan hingga sekarang.

Cukup besar dana yang dibutuhkan untuk membiayai penangkaran ini, kira-kira butuh 1 ton daging setiap harinya untuk memberi makan hampir 3000 buaya tersebut. Bisa dibayangkan berapa dana yang dibutuhkan, mungkin bisa jutaan rupiah seharinya saja. Sementara tiket masuknya cukup murah, hanya 5000 rupiah per pengunjung.

Namun rupanya selain mengandalkan dari tiket masuk. Penangkaran ini juga menjadi jujugan warga Medan jika menemukan bangkai binatang, tak jarang banyak yang membawa binatang-binatang yang sudah mati kesini dan menjadi santapan para buaya.

Keluarga Pak Lo semuanya mencintai buaya, termasuk anak-anaknya yang ikut mengelola penangkaran ini, Robert dan Robin kalau tidak salah. Mereka satu keluarga yang mencintai buaya dan merawat buaya-buaya ini sepenuh hati. Tidak ada satupun buaya yang dijual, walaupun banyak pembeli yang sudah menawar. Semua atas dasar kecintaan kepada buaya-buaya ini.

Saya sendiri begidig, jeri dan berjalan mindik-mindik saat masuk ke penangkaran, takut barangkali tiba-tiba ada buaya besar yang menerkam tubuh saya yang tak kalah besar. Sampai-sampai ada orang penangkaran yang tersenyum simpul, mungkin tertawa melihat saya yang besar ini rupanya ciut di depan buaya yang seringkali menyeringai memamerkan taringnya lebar-lebar.

Tapi tak ada salahnya jika ke Medan untuk menyempatkan diri melawat kesini. Menemui keluarga pecinta buaya, mengunjungi penangkaran buaya yang mungkin terbesar di dunia dan menyapa buaya besar berusia 38 tahun dengan gigi-gigi yang siap merontokkan tubuh anda.

Salam.

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR