DSC_0504
Opa, termangu dalam sepi.

Lasem, walaupun di masa lalu pernah menjadi kota besar dan penuh gegap gempita. Sekarang perannya terreduksi tak lebih hanya sebuah kota kecamatan kecil di Jalur Pantura Jawa Tengah. Di tengah riuh lalu lalang bis yang melaju kesetanan atau truk-truk besar enam roda yang berjalan perlahan, Lasem terjebak dalam memori puluhan tahun lalu, seolak tak bergerak melaju mengikuti garis waktu.

Saya bicara soal bangunan-bangunan tua yang utuh tegak berdiri, seolah angkuh bercerita tentang kejayaan Lasem di masa lalu yang mungkin sudah hilang sekarang. Tapi kita tidak bisa tidak mencintai Lasem, tanpa perlu bertanya apapun, kita bisa melihat torehan maestro pada setiap detail bangunan yang melampaui zaman di masanya, pada setiap goresan dinding dan ukiran kayu yang membelalakkan mata.

Mari kita menikmati Lasem dari sisi lain, dari sisi orang-orang tua yang sudah berdekade tumbuh di Lasem, dari obrolan para bapak di warung kopi dan dari anak-anak yang belajar tentang akulturasi dari kehidupan sehari-hari. Sebagai kota yang telah ada dan tumbuh sejak ratusan tahun lalu, Lasem adalah laboratorium sejarah yang akan tetap lestari.

Tabik.

Makam Kapitan di Rumah Candu.
Rumah Candu, konon adalah pusat distribusi Candu terbesar di Jawa. uang hasil penjualan Candu digunakan untuk Perang Lasem melawan VOC.
Kelenteng Gie Yong Bio. kelenteng simbol akulturasi Jawa – Tionghoa. Untuk menghormati para pahlawan Lasem, para Jawa dan Tionghoa yang saling mengangkat saudara dan bersama bertempur melawan VOC.
Rumah Batik Boeloe Padi, arsitektur khas Lasem. campuran gaya indies – Tionghoa.
Foto para leluhur dan keluarga dari Rumah Batik Bu Sutra. Di Lasem, pada setiap rumah pasti selalu dipasang foto-foto keluarga terdahulu.
Beranda belakang rumah tegel.
Rumah Opa Oma. rumah dengan konstruksi kayu yang masih tegak berdiri sampai sekarang, dibangun lebih dari 100 tahun yang lalu.
Bagian dalam Rumah Opa, khas rumah di Lasem adalah ada beranda belakang dan halaman belakang merangkap taman yang cukup luas.
Ngelelet, budaya ngopi orang Lasem. sembari ngopi pria-pria Lasem membatik rokoknya dengan ampas kopi.
Bekas Pabrik Tegel Lasem.
Follow Efenerr on WordPress.com

32 KOMENTAR

  1. keren mas, saya jadi malu sebagai orang lasem. mungkin kalau ke lasem lagi bisa ditambah tentang pondok pesantren karena disana juga ada pondok pesantren cikal bakal pondok pesantren krapyak di jogja meskipun sekarang santri-nya sepi.

  2. Alasan kita jatuh cinta pada Lasem terangkum dengan sangat baik pada 3 paragraf diatas, kota kecil yang sekilas terlihat biasa namun memiliki daya tarik yang luar biasa.

  3. Oh ini menarik sekali, Lasem. Dari cerita orang lain, Lasem terdengar menjemukan. Setelah lihat foto-foto ini jelas beda sekali dengan yang aku dengar dan baca. Bagus sekali, Bang.

    • iya, sebenarnya daya tarik utama Lasem adalah pada kisah sejarahnya. bagi saya itu merupakan harta karun dari Lasem.
      terima kasih sudah mampir mas. 🙂

  4. waw. nice kang mase. Lasem tak kenal pertama kali batiknya. Akhirnya belajar secuplik sejarahnya. Ulasan sampeyan menggenapi kegumanku sama Lasem. berasa terhisap ke masa lampau. 🙂

  5. Saya bertahun-tahun ber-KTP Lasem tapi malah baru setelah jauh merantau saya menyadari bahwa Lasem itu mutiara yang tersembunyi 🙁
    Reportase & gambar2 njenengan apik mas. Salam.

    • salam mas..semoga saya bisa berkesampatan lagi kembali ke Lasem. ada banyak pesona yang tak bisa ditinggalkan begitu saja di sana. 🙂
      salam kenal juga mas. 🙂

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here