IMG_0619
Karst Rammang-rammang. Maros.

 Agatu Kareba Silesureng?

Arti kalimat tadi adalah “Apa Kabar Saudara?” dalam bahasa Bone. Ya, beberapa waktu yang lalu mendapatkan sedikit kesempatan untuk menuju Sulawesi Selatan termasuk mengunjungi Bone, daerah dimana Suku Bugis pernah mendapatkan nama dan kejayaan di Nusantara. Ada beberapa daerah yang saya kunjungi selama melakukan perjalanan di Sulawesi Selatan dan akan saya tuliskan runtut dan detail perjalanannya disini. Walaupun saya tidak berjanji bisa menuliskannya setiap hari, tapi setiap tulisan tentang perjalanan ini akan saya sertai tagar #SulselTrip di setiap postingannya.

Dalam pikiran saya tentang trip ini, tidak akan ada Tanjung Bira, Toraja atau Selayar. Menghindari keseragaman? bisa jadi. Tapi entah kenapa jika destinasi wisata Sulawesi Selatan selalu hanya menonjolkan 3 tempat wisata utama tersebut. Sementara Sulawesi Selatan itu luas dan banyak sekali objek baik tempat maupun kultur yang menarik dan menunggu untuk dijelajahi. Saya merasa jika saya mengikuti pola umum orang saat ke Sulawesi Selatan ke destinasi yang populer tadi, saya merasa tidak mendapatkan hal yang baru dari Sulawesi Selatan. Walaupun ketika saya mengutarakan niat ke Bone, saya sudah diwanti-wanti kalau buat apa saya ke Bone, karena di Bone tidak ada yang menarik. Tapi saya yakin, pasti ada sesuatu yang sudah menanti di Bone, sesuatu yang pasti menarik.

Ketika menempuh perjalanan ini, saya menggunakan moda jalur darat untuk menuju ke tempat-tempat tujuan. Itu pun dengan santai, tidak diburu waktu dan sedapatnya saja. Saya merasa harus menikmati perjalanan ini tanpa harus dikejar target harus kemana dan bagaimana, saya tidak ingin perjalanan saya saya menjadi sebuah acara kejar-kejaran. Kejar-kejaran dengan waktu, kejar-kejaran untuk mencapai tempat yang katanya wajib kunjung. Saya mencoba membebaskan dari itu semua. Maka dari itu setiap hari selalu ada perubahan rencana perjalanan, tergantung situasi hati ingin kemana hari itu.

Tangkapan layar penuh 28102013 92945.bmp

Peta diatas adalah gambar rute perjalanan saya. Dimulai dari Makassar – Maros – Bone – Soppeng. Dengan Makassar sebagai titik mula dan akhir dari perjalanan. Dalam dokumentasi saya tidak ada sunset atau sunrise ikonik di Losari, ataupun debur ombak pantai dan pasir putih Tanjung Bira, atau yang paling monumental adalah foto-foto Tongkonan di Toraja. Dokumentasi saya berkisar tentang jalan rusak, banjir, tentang kisah pahlawan yang diputarbalikkan, tentang kampung nelayan yang sangat memprihatinkan, tentang asal mula Suku Bugis dan beberapa kisah yang mungkin tidak menarik karena bukan tentang keindahan, karena yang saya temui di perjalanan memang begitulah adanya.

Ya, mungkin itu saja pembuka dari saya, semoga pembaca betah menunggu dan menikmati remah-remah catatan saya selama di Sulawesi Selatan. Update tentang catatan di Sulawesi Selatan akan saya taruh juga di postingan ini

Tabe’ di’ puang.

Post Scriptum :

Tabe’ Di’ Puang : bahasa Bone yang kira – kira berarti salam hormat bagi mereka yang dituakan/dihormati.

Terima kasih untuk sahabatku, Bakti di Watampone yang sudah membukakan mata bahwa antara Makassar dan Bugis itu adalah 2 suku yang berbeda, bahasa dan budaya yang berbeda pula.

Terima kasih juga untuk sahabatku, Mawar atas pendampingannya selama mengitari Makassar dan menunjukkan tempat-tempat yang memperkaya jiwa.

Follow Efenerr on WordPress.com

13 KOMENTAR

  1. sedaaap.. jalan jalan emang selalu membuat pikiran kembali segar. celebes pulau yg belum pernah kuinjak, kalau untuk 3-5 hari ok lah.. asal jangan 3-5 tahun ajeh.. hehe

  2. ahh finally, akhirnya bugis dan makassar dipisahkan, biasanya nemu artikel yg bilang suku makassar dan bugis itu sama. Bukan.y tidak suka disamakan antara suku bugis makassar, tapi memang bugis dan makassar itu adalah suku yg berbeda.. sama halnya dengan bugis, makassar juga ada yg kasar ada yg lembut.. mungkin smua daerah sama kali ya

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here