996650_10201786301958200_863659383_n
Perajin Songkok Bone

Ngapain Ke Bone?!

Mending ke Toraja, Tanjung Bira atau yang lebih terkenal lainnya?

Ga ada apa-apa di Bone…

Nah, ada pertanyaan  seperti itu sebelum ke Bone dari seorang teman dan sebenarnya pertanyaan tersebut sudah saya duga akan muncul setelah saya bilang saya ingin ke Bone. Sesungguhnya saya cukup sebal dengan pertanyaan itu, kenapa? Karena 1 hal, si penanya pastilah orang MLM, yang ingin mengajak downline untuk turut mengunjungi tempat yang sudah dia kunjungi. Padahal si penanya sudah ke Bone atau belum juga belum jelas.

Salah satu alasan saya ke Bone adalah memenuhi undangan karib saya, Bakti. Yang sudah sejak 2009 bekerja di Bone, terpisah dengan keluarganya di Surabaya. Bakti adalah karib sejak semasa kuliah sampai sekarang, kalau di bahasa Jawa disebut “kanca kenthel”. Sejak 2009 Bakti sudah mengundang saya ke Bone dan 4 tahun kemudian baru saya penuhi undangannya.

Sejenak ketika memasuki Bone, bagi orang awam mungkin akan sedikit terheran-heran. Kabupaten ini beribukota di Watampone, kota kecil, mungkin 15 menit pun sudah selesai dikelilingi. Ada apa disana? Mungkin orang yang tak tahu akan bilang tak ada apa-apa. Tapi bukankah mereka yang bilang di suatu tempat bilang tak ada apa-apa adalah mereka yang sesungguhnya merugi di tiap perjalanannya?

Beranjak malam, Bakti mengantar saya ke taman kota Watampone, ibukota Kabupaten Bone. Di tengah taman ada patung Arung Palakka, tinggi besar, lebih 2 meter saya taksir. Konon sebelum ini patungnya pernah rubuh. Penyebabnya adalah ukuran patungnya kecil, tidak seperti sekarang yang tinggi besar menjulang. Ada kisah setempat yang bercerita bahwa arwah Arung Palakka murka karena patungnya kecil dan ingin patungnya ukuran dibuat seperti ukuran tubuhnya semasa hidup. Yang memang tinggi, besar dan gagah.

Mendengar Arung Palakka pasti langsung terbersit bahwa dia adalah tokoh antagonis, musuh Sultan Hasanuddin yang dipuja sebagai Pahlawan Nasional. Tapi bagi orang Bone, Arung Palakka adalah pahlawan besar. Namanya ada di hati orang-orang Bugis di Bone. Ditakuti Hasanuddin, disegani Belanda. Bahkan oleh Belanda, Arung Palakka disebut sebagai Koningh Der Bougis / Raja Orang Bugis.

Tapi itulah sejarah, selalu menyimpan versinya masing-masing. Di versi sekarang yang diajarkan di sekolah sekolah diajarkan bahwa Hasanuddin adalah protagonis dengan kronologis begini, kerajaan Gowa Tallo diserbu kerajaan Bone dibawah pimpinan Arung Palakka yang bersekutu dengan Walanda. Padahal di Bone saya menikmati twist cerita tentang Arung Palakka yang sama sekali berbeda. Arung Palakka justru membebaskan Bone dari cengkeraman Gowa-Tallo. Membebaskan Bone yang sudah dijajah Gowa-Tallo sejak Arung Palakka masih kecil.

Arung Palakka di era itu masyhur, di Batavia dia bersama Kapitan Jonker dan Cornelis Speelman berkarib. Mereka bertiga menjadi tiga serangkai yang sangat ditakuti di eranya. Bahkan kisah jejak Arung Palakka di Batavia masih bisa ditelusuri sekarang walaupun hanya tinggal nama sebuah tempat, Muara Angke. Dalam sebuah versi sejarah, Angke ini berasal dari bahasa Bugis lama, To Angke yang berarti orang-orang yang dihormati. Di daerah itulah bermukim anak buah Arung Palakka selama di Batavia.

Tapi itulah sejarah, mungkin karena aliansinya dengan orang Belanda akhirnya Arung Palakka namanya akan selalu dikenang sebagai seorang antagonis di dalam pentas sejarah Indonesia. Padahal apa yang dilakukan Arung Palakka adalah mempertahankan Siri” atau harga diri sebagai orang Bone yang tak mau diinjak oleh kerajaan lain, memperjuangkan Pacce atau rasa sakit karena tertindas dan terakhir adalah Sare’ yaitu melakukan perubahan untuk memperbaiki nasib bangsanya. Mungkin itulah Arung Palakka, di seantero Indonesia boleh diajarkan bahwa Arung Palakka adalah tokoh antagonis, cap penghianat bangsa, tapi di Bone, Arung Palakka adalah pahlawan besar sampai kapanpun.

1451486_10201786297958100_496081445_n

Setelah dari taman kota,  saya lalu dibawa berkeliling menikmati kota, selama berkeliling saya justru merekam sesuatu yang unik, tentang menara masjid di Bone. Masjid di Bone, mayoritas memiliki menara yang tinggi-tinggi serta bagus. Walaupun terkadang bangunan mesjidnya biasa saja, tapi menaranya bisa menjulang tinggi menuju langit. Sepertinya memang itu adalah ciri khas masjid-masjid di Bone.

Orang-orang Bone sangat relijius. Menjelang maghrib  dan malam wara wiri orang-orang bersongkok hendak ke masjid, seusai dari masjid mereka sering berkumpul di warung-warung sarabba, bicara, ngobrol menghabiskan malam. Bukanlah warung kopi yang menjadi idola untuk tempat bercengkerama, tapi kedai Sarabba. Rasa Sarabba di Bone kental aroma rempahnya.

Memang Sarabba cocok menghela hawa dingin. Bagi yang belum tahu apa itu Sarabba, ini adalah minuman khas Sulawesi Selatan yang terdiri dari paduan jahe, kuning telur, gula aren, santan dan merica bubuk. Rasanya? Pedas dan panas meretas lidah.

“Sarabba disini beda dengan di Makassar, disini lebih panas, lebih pedas dan lebih nikmat.”

Begitulah kata Bakti. Saya pun membuktikan omongannya, Sarabba di Bone sukses membuat saya terkencing-kencing karena pedas dan rasanya tubuh tak mampu menghentikan keringat yang terus mengucur karena panas. Segelas Sarabba untuk panas yang menggelora ke seluruh tubuh.

1452537_10201786298958125_141415534_n

Terakhir saya diajak Bakti ke tempat pembuatan Songkok To Bone langganannya. Agak di tepi kota lokasinya, menyusuri jalan kecil. Songkok To Bone khas, dibuat dari pelepah lontar yang dipipihkan dengan dipukul-pukulkan sampai tipis. Warnanya hitam dan emas, dulu ini dibuat untuk menunjukkan strata si pemakai. Tapi sekarang semua bisa memakai Songkok To Bone tak peduli stratanya.

Saya membeli songkok yang seharga 60.000, 00. Ini katanya murah, yang mahal bisa ratusan ribu. Semakin rapat dan halus anyaman lontarnya maka semakin mahal harganya. Tapi memang setelah saya meraba dan merasakan antara Songkok yang saya beli dan songkok yang mahal, memang terasa bedanya. Yang mahal jelas lebih berkelas.

Sekarang Songkok To Bone ini sudah menyebar kemana-mana dan dianggap sebagai pakaian kebanggaan bagi orang Bugis. Tidak lengkap orang Bugis berpakaian tanpa mengenakan Songkok To Bone di kepalanya. Dari Bone, songkok ini kemudian menjadi pakaian kebanggan orang Bugis.

1391952_10201786302598216_1386344338_n

Jelang tengah malam, saya diajak Bakti pulang. Dari sore sampai hampir tengah malam saya mendapat hal dari Bone. Mulai dari kisah-kisah twist sejarah, sedikit pencerahan tentang budaya Bugis, menikmati Sarabba sampai mengunjungi tempat pembuatan Songkok To Bone.

Lalu kata siapa Bone tidak ada apa-apa? Saya jadi curiga, dia yang Bone tidak ada apa-apa sesungguhnya tidak tahu apa-apa tentang Bone, atau parahnya malah belum pernah ke Bone tapi agar tidak hilang gengsi ketika saya tanya, dia bilang di Bone tidak ada apa-apa dan mengalihkan topik pembicaraan ke objek lain? Mungkin? Bisa jadi? Tapi abaikanlah, mungkin itu hanya pikiran nakal saya.

Tabik.

Referensi Arung Palakka

1. Buku : Warisan Arung Palakka, Leonard B. Andaya, penerbit  Ininnawa.

2. Wikipedia

3. Blog

4. Tokoh Bone yang sangat dihormati sekarang adalah JK. Sempat ada kesalahan pemahaman tentang Bugis Bone dan Makassar ini, pernah ingat kasus Ruhut Sitompul di DPR memanggil JK dengan sebutan “Daeng” ? Sementara JK hanya tertawa. Ya, bagi orang Bone panggilan kehormatan bukanlah Daeng, tapi Puang.

 

Follow Efenerr on WordPress.com

25 KOMENTAR

  1. ada beberapa yg menjadi catatan saya tentang Bone:
    – hampir semua (kalo gak bisa dibilang semua) menu makanan di Bone disajikan dengan irisan jeruk nipis, katanya lebih segar rasanya.
    – pisang adalah desert favorit penduduk lokal, mungkin kita berharap yaa semangka atau melon lah yg lebih segar dan ringan.
    – sambel lalapan biasanya ada campuran kacang seperti sambel pecel kalo di Jawa.
    – susah sekali nyari makanan yg berbahan dasar kambing, kecuali pada saat aqiqah.
    – Semua angkutan darat berupa minibus rute Bone-Makassar atao sebaliknya tidak ada headrest di jok nya. Dan setir aslinya diganti dengan setir bom bom car.
    – terdapat rambu lalu lintas di perempatan lampu merah bertuliskan “Dilarang Belok Kiri Langsung”. menurut saya sih itu “ambigu”, kita bisa belok kiri asal berhenti dulu sejenak, jadi kan gak langsung, hehe.
    – ketika berjumpa seseorang lg lebih tua dari kita, biasanya disapa dengan Pak Haji ato Bu Haji. Saking banyaknya orang yg sudah naik haji. sayangya belum nemu Tukang Bubur-nya nih.

  2. Wihh, bisa jadi referensi nih, soalnya Bone adalah salah satu tempat impian yang pengen saya kunjungi suatu saat (karna ada satu dan lain hal, hehe). Memang ada juga yang bilang, ‘ah ngapain, Bone itu ga menarik”, tapi sebuah tempat tak melulu dikunjungi karna menarik saja kan? apalagi saya yakin kalo semua tempat akan selalu ada sisi menariknya.. 🙂

  3. Waahhh … baru kali ini tahu soal Arung Palakka 🙂
    Iya benar, setiap perjalanan memiliki ceritanya masing-masing. Jadi, kalau ada yang bilang “tidak ada apa-apa di situ”, perlu dipertanyakan lagi dia ngapain aja selama disana.

  4. Setiap tempat pasti punya sisi menarik, tinggal mau dilihat dari sisi mana. Ga usah jauh-jauh ke Bone, banyak orang yang bilang kalo Magelang juga ga punya apa-apa selain Borobudur, nyatanya saya malah kenyang belajar banyak sejarah, saya bisa cari-cari kuliner enak, view pemandangan Magelang juga aduhai. Mungkin emang yang bilang ga ada apa-apa itu ga pernah ke tempat itu, atau kalaupun pernah paling ya cuma sambil lalu.

    Songkok e apik e Chand, 😀

  5. ga sengaja pas trip ke sulsel lewat ini kota, kok keinget nama temen kerja Mulyadi Bone… abis trip langsung konfirm ke ybs, eh ternyata beneran itu kampung halamannya… tak kira Bone itu cuma kaya nama marga ternyata ada kotanya

  6. Masih bnyak yg blum dikunjungi di Bone mas, mga” bsa kmbali lagi. Bone itu kntal dgn adat istiadatnya, jdi klo mau berwisata budaya n sejarah di Bone tempatnya

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here