DSC_0475

Saya sedang memandangi gugus karst di sisi utara Kuala Lumpur dari jendela kereta yang laju. Gugus karst selalu mengingatkan saya pada awal mula peradaban, banyak cerita, banyak jejak bahwa manusia purba awalnya berteduh di relung-relung gua yang ada di gugus karst. Kemudian dari penggalian arkeologis di seluruh dunia, karst mungkin memang menjadi bukti awal mula peradaban, entah dari lukisan-lukisan di langit gua, entah dari kjokenmoddinger yang bertumpuk, entah dari artefak-artefak yang sudah membatu, bagi saya gugus karst adalah tanda adanya peradaban masa lalu.

Tapi saya ke sana bukan untuk penelitian arkeologis atau ingin climbing di karst-nya, apalagi buat caving, saya hanya ingin mengunjungi Batu Caves, salah satu objek wisata populer dan katanya wajib kunjung di Kuala Lumpur. Biasanya saya malas ke tempat-tempat touristy dan populer, tapi kali ini tidak. Ada sesuatu yang menarik di Batu Caves untuk diobservasi dan  itu mengundang banyak orang untuk berbondong-bondong datang. Maka saya disini, berada di dalam kereta komuter yang menghubungkan Stasiun KL Sentral sampai Stasiun Batu Caves yang menjadi tujuan saja. Ongkosnya murah saja, hanya 2 Ringgit pun keretanya bersih sekali dan nyaman, enak sekali berwisata jika aksesnya mudah begini dan murah, tak perlu bingung kesana-sini.

Kereta dipenuhi orang-orang keturunan India, saya kira saya berada India, saya membayangkan bagaimana seandainya orang-orang di kereta tiba-tiba berjoged seperti adegan film Bollywood di dalam kereta yang sedang melaju, pasti saya lupa saya sedang berada di Malaysia. Mereka sama dengan saya, ingin ke Batu Caves, bahkan setahun sekali mereka berbondong-bondong datang demi Thaipusam, di dalam kereta mereka ramai sekali bercakap dengan teman-temannya, beberapa dari mereka sibuk membaca buku kecil dengan huruf India, saya tak tahu huruf apa, tapi selintas mirip huruf hanacaraka. Di dalam kereta, selain orang-orang India ada juga turis-turis bule yang cuma ber-hotpants, ber-tanktop dan ber-flipflop, khas sekali dresscode mereka.

Ketika kereta tiba di Stasiun Batu Caves semua mendadak tumpah ruah dari gerbong, memenuhi peron stasiun dan segera keluar dari Stasiun. Stasiun ini menyambung dengan pintu masuk kompleks Batu Caves, jadi begitu keluar stasiun kita sudah masuk kompleks Batu Caves. Perempuan-perempuan keturunan India banyak yang berjualan di selasar stasiun, mereka menjual hiasan seperti gelang, kalung sampai minuman. Mereka duduk lesehan begitu saja di selasar, mirip PKL-PKL di tanah air, beberapa dari mereka menggeleng-gelengkan kepala ketika bicara, persis di film-film India, sementara lainnya tampak menawarkan barang dagangannya, saya tak tertarik, saya malah tertarik pada torehan bindi yang ada di dahi mereka, tampak India sekali.

DSC_0411

Siang itu terik, air mineral yang saya beli di Stasiun KL Sentral sudah tandas, sepertinya saya sedikit salah ambil waktu untuk berkunjung ke Batu Caves, alamak panasnya. Seharusnya saya datang sedikit lebih pagi atau saat matahari mulai berkemas-kemas. Patung emas Dewa Murugan terlihat menjulang tinggi, konon ini patung Murugan tertinggi di dunia, di samping patung ini terdapat tangga untuk menuju kuil-kuil di dalam gua, tangga inilah yang harus saya libas habis sampai ke atas. Saya berada di anak tangga paling dasar, mendongakkan kepala ke atas, tampaknya tangga ini tak berujung. Saya berhitung dengan tubuh sendiri, jika naik tangga di Bromo saya butuh waktu satu jam, sekitar 2 tahun yang lalu, saya tak tahu berapa lama saya akan melibas habis tangga – tangga ini yang katanya berjumlah 272 anak tangga.

Tempat ini adalah tempat suci bagi orang – orang Hindu Tamil yang berasal dari India Selatan, orang-orang Tamil berkulit lebih gelap dengan garis wajah yang tegas, berbeda dengan orang – orang India Utara yang lebih putih dengan garis wajah yang mendekati ras kaukasia.  Memang orang-orang Tamil banyak yang berdiaspora ke Malaysia, ini tak lepas dari sejarah kelam pendudukan Inggris di masa lalu, pada abad 18, kolonial Inggris mendatangkan banyak sekali buruh-buruh perkebunan dari Tamil untuk bekerja di perkebunan mereka di wilayah Semenanjung Malaya. Diaspora orang-orang Tamil pun terus terjadi sampai sekarang dengan motif yang berbeda, jika dahulu mereka dibawa kolonial Inggris, sekarang motifnya ekonomi. Orang-orang Tamil menyeberang ke Malaysia untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Walau jika dilihat kasat mata kadang sedih juga, karena rata-rata orang – orang Tamil di Malaysia hanya melakukan pekerjaan kasar seperti buruh proyek bangunan, tukang jaga toilet, tukang sapu dan berbagai pekerjaan informal lainnya.

Berbarengan dengan orang-orang Hindu Tamil dan banyak lainnya wisatawan, saya mulai melangkah ke satu demi satu anak tangga. Saya harus mulai, walaupun nanti anak tangganya lebih dari dua ratus. Di mata saya yang hanya ingin menjenguk sebentar dan melihat seperti apa Batu Caves, orang-orang Hindu Tamil tampak lebih kuat ketika mendaki anak tangga satu persatu. Mata mereka menyala-nyala, langkah mereka cepat seolah tergesa-gesa dan raut muka mereka tampak bahagia. Orang-orang Hindu Tamil ke Batu Caves demi sesuatu, demi apa yang mereka percaya, sementara saya yang hanya datang berkunjung tampak seperti orang bodoh dengan alasan yang sangat dangkal.

Setengah perjalanan saya sudah kepayahan, keringat sudah seperti diperas habis, betis sudah pegal dan nafas sudah satu – satu, berat sekali, lalu saya beristirahat sejenak sembari mendinginkan badan. Orang-orang Hindu Tamil ini berjalan menanjak ke atas demi dewa-dewa mereka, saya kira ini jamak ditemui dimanapun. Dalam ajaran umat agama manapun, ada pengorbanan dan ada perjalanan berat yang ditempuh untuk apa yang benar-benar dipercaya, maka orang-orang Hindu Tamil rela menempuh ratusan anak tangga untuk dewa-dewa mereka. Di depan saya ada anak kecil yang merengek-rengek karena tidak kuat naik ke atas, bapaknya tidak menggendongnya, tapi justru menyeretnya agar terus naik. Sementara saya takjub dengan para wanita-wanita keturunan India yang kepalanya digunduli turut naik ke atas dengan mulut komat-kamit, belakangan saya baru tahu para wanita itu menggunduli kepalanya demi persembahan pada dewa-dewa.

Sesekali saya harus awas dengan monyet-monyet yang bergentayangan di tangga. Jika lengah sedikit mereka akan usil, entah apa yang diambil, rombongan di depan saya diambil topinya. Saya sendiri seperti dapat salam dari monyet yang tampak kehausan, matanya nanar menatap botol minuman yang saya bawa. Akhirnya saya ikhlaskan botol minum yang tinggal setengah untuk si monyet yang kehausan. Menuju ke atas, gelombang pengunjung yang naik makin banyak, saya sudah disalip banyak sekali pengunjung, rupanya baik peziarah maupun turis, mereka tampak tak peduli dengan panas yang terik, semua laju ingin segera sampai di atas.

IMG_2650

Sebagai salah satu tujuan ziarah dan peribadatan, Batu Caves ini ramai sekali. Tiap setahun sekali ada Thaipusam, upacara besar umat Hindu Tamil untuk Dewa Murugan. Konon di Thaipusam ini akan ada banyak darah, ya, orang-orang Hindu Tamil akan melakukan ritus Kavadi, ritus menyakiti diri sendiri untuk tujuan ilahiah, tubuh mereka akan ditusuk dengan berbagai macam logam, lidahnya, pipinya, badannya. Ritus menyakiti diri ini tak hanya milik Hindu, pada beberapa agama juga terdapat ritus serupa, di Indonesia ada perayaan Cap Go Meh di Singkawang dengan Tatung-nya, dimana orang-orang keturunan Tionghoa akan menusuk diri mereka dengan berbagai macam logam dan atau berusaha menyembelih bagian tubuhnya. Lain lagi dengan para penganut Syiah, di hari Asyura beberapa dari mereka terutama di Asia Barat akan mengingat kesedihan di Padang Karbala dengan ritus menyakiti dirinya sendiri sampai berdarah-darah. Semua berkorelasi pada satu hal, pengorbanan.

Mendaki tangga ke atas juga pengorbanan. Bukankah simbol simbol ilahiah selama ini selalu ditempatkan di tempat yang tinggi, yang agung dan para umat harus berusaha untuk mencapai, menggapainya. Saya sudah tiba di atas ketika semilir angin memasuki mulut gua. Batu Caves tampak seperti hall yang amat luas dengan rongga yang begitu besar. Sementara jika saya berbalik menghadap keluar, saya  bisa melihat panorama Kuala Lumpur dari kejauhan. Tampak para penggapai puncak anak tangga tersenyum bahagia, saya juga demikian, setelah bergulat dengan lemak di badan yang membuat berat untuk menanjak, akhirnya saya berhasil sampai puncak.

Dinding gua sebagian di cat warna kuning dan merah marun. Sebagian lagi dibiarkan begitu saja apa adanya. Di lantai gua banyak kotoran burung dan kelelawar yang bercampur, bau anyir tipis tercium. Di mulut gua ada pedagang souvenir dengan lampu kerlap-kerlip warna-warni dan musik-musik India mengalun dari pengeras suara a la kadarnya. Di dalam gua ada beberapa patung dewa-dewa, Umat Hindu apalagi di India memang terkenal memiliki banyak dewa-dewa, ada mungkin lebih dari 1000 dewa dalam mitologi Hindu India. Di Batu Caves saya hanya tahu itu patung dewa, tapi tak tahu patung tersebut patung dewa siapa.

DSC_0482

DSC_0481

Ada beberapa altar dan juga tempat pemujaan di dalam relung gua, para Umat Hindu khusyuk berdoa disana, beberapa dipimpin oleh Brahmana, beberapa lagi berdoa sendiri-sendiri. Ada juga ada ibadah khusus di hari-hari tertentu yang dipimpin Brahmana. Bagusnya disini adalah ada pengaturan yang membuat sadar para turis yang berkunjung. Walau tempat wisata ini akan penuh sesak di akhir pekan, tidak akan ada yang mengganggu suasana peribadatan Umat Hindu. Bayangkan jika di Indonesia, Waisyak saja jadi tontonan seperti konser band metal. Di Batu Caves walau ramai tapi tidak ada kebisingan, walau gratis dan banyak turis mampir, tapi suasananya tenang, sepi dan syahdu. Hanya ada yang kurang dari Batu Caves, sampah dan vandalisme. Vandalisme menjangkit di dinding gua, mengurangi kecantikan Patung Dewa-dewa, sampah pun demikian, tampak di sudut-sudut gua ada banyak sampah plastik yang mengotori keindahan rumah para dewa ini. Sayang sungguh sayang jika tempat suci ini kemudian tidak dibersihkan dan mengonggok begitu saja.

Ini rumah para dewa, dengan beragam mimik muka dan warna-warni dewanya. Batu Caves memang menarik dan wajar jika turis seperti saya terpukau dengan cantiknya patung-patung di dalam gua, sementara Umat Hindu kesini dengan tujuan tertentu. Batu Caves pantas menjadi populer karena memang menarik, molek. Tak peduli umat Hindu Tamil, atau turis seperti saya rela mendaki tangga yang menjulang, demi bersua Dewa-dewa di Dinding Gua. Seketika angin semilir lembut mengingatkan saya agar segera turun, masih ada tujuan lagi yang harus disambangi. Lalu saya sadar saya harus menuruni ratusan anak tangga lagi, alamak. Maka saya berjanji sesudah turun nanti saya harus melahap habis Roti Canai di bawah nanti.

Tabik.

PS :

1. Batu Caves ini kompleks. Yang saya kunjungi adalah Gua Utama, masih ada Gua Hanoman yang terletak di sebelah kiri pintu masuk dari Stasiun, lalu ada juga Gua Gelap sebagai Gua Konservasi, untuk masuk ada ongkos masuknya. Yang paling menarik bagi saya di Batu Caves adalah deretan kedai masakan India yang menggoda.

2. Bindi adalah hiasan yang biasanya dipasang di dahi para perempuan India.

Follow Efenerr on WordPress.com

9 KOMENTAR

  1. Saya klo ke Batu Caves suka pagi hari jam 7an gitu, masih sepi hanya ada beberapa orang jogging, dan cuaca gak terik banget hehehe.

    Nah berhubung mereka dari Tamil jadi bahasa mereka bahasa Tamil bukan Hindi dan huruf yg kayak hanacaraka itu huruf Tamil hehehe.

    • iya mas alid..sepertinya saya salah waktu..pas terik-teriknya..
      oh gitu mas alid? saya ga bisa membedakan aksara Tamil dan Hindi, mungkin itu buku doa-doa ya?

  2. Mirip seperti Buddha besar yang ada di Hongkong itu ya, harus naik anak tangga banyak dulu. Lha Ibu juga naik sampai atas Kang? Kayaknya kok medannya berat buat lansia ya?

    btw saya agak penasaran dengan istilah kjokenmoddinger yang dulu kita baca di buku teks sejarah di sekolah. Itu aslinya bahasa Belanda untuk sampah yang membatu kan?

    • halo mas maw.
      nah saya belum pernah sampai Budha besar itu, semoga sesegera mungkin. amin. 🙂
      ibu ga ikut ke atas mas, beliau hanya menunggu di bawah. kasihan juga kalau harus ke atas. 🙂

      kjokkenmoddinger itu bahasa Skandinavia mas, itu artinya sampah dapur secara literal. 🙂

  3. […] Saya sedang memandangi gugus karst di sisi utara Kuala Lumpur dari jendela kereta yang laju. Gugus karst selalu mengingatkan saya pada awal mula peradaban, banyak cerita, banyak jejak bahwa manusia purba awalnya berteduh di relung-relung gua yang ada di gugus karst. Kemudian dari penggalian arkeologis di seluruh dunia, karst mungkin memang menjadi bukti awal mula […] Lebih Lanjut […]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here